NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Kecupan Rahasia Di Balik Senja

Senja mulai turun ketika Dante kembali ke mansion. Langit di luar jendela kamar Ara berwarna merah keemasan. Cahaya matahari yang semakin rendah menyelinap melewati celah tirai, jatuh dalam garis tipis di atas lantai dan ujung ranjang.

Ara masih tertidur. Setelah beberapa hari menjalani hukuman yang melelahkan, tubuhnya seperti menyerah pada rasa lelah. Ia tidur menyamping dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya. Rambutnya sedikit berantakan, beberapa helai jatuh di pipi.

Pintu kamar terbuka perlahan. Dante masuk. Dari kepala pelayan, ia tahu Ara masih tertidur. Kepala pelayan itu berkata Ara mulai masuk kamar jam 2 siang setelah jam makan siang. Pelayan yang lain juga berkata jika nyonya mereka tertidur lelap. Mungkin nyonya benar-benar terlalu lelah. Karenanya ia mengubah kebiasaan, ia tidak langsung pergi ke ruang kerja, begitu sampai rumah. Ia masuk ke kamar tidur mereka. Langkahnya berhenti ketika melihat Ara masih tertidur.

Dante berdiri beberapa saat berdiri di dekat pintu. Wajahnya tetap dingin. Perlahan ia berjalan mendekati ranjang. Tidak ada suara selain dengung pendingin ruangan dan napas Ara yang teratur.

Dante berhenti tepat di sisi ranjang. Tatapannya jatuh pada wajah istrinya. Ara yang biasanya tidak pernah berhenti memasang wajah kesal ketika melihatnya, sekarang terlihat jauh lebih tenang, mirip malaikat.

Dante menunduk sedikit. Tanpa suara, ia mendekatkan wajahnya. Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Ara. Hanya sesaat.

Dante langsung kembali berdiri tegak.

Namun gerakan kecil itu membuat Ara menggeliat. Keningnya berkerut. Ia bergerak sedikit sebelum perlahan membuka mata. Pandangan Ara masih kabur. Ia melihat sosok tinggi berdiri di sisi ranjang. Beberapa detik ia hanya menatap nanar. Kemudian matanya menyipit. “Dante?”

Dante membuka jam tangannya dan mengabaikan panggilan Ara.

Ara mengusap wajahnya. Tangannya berhenti di kening. Ada sesuatu yang terasa sedikit lembap.

Ara mengusap keningnya dengan ujung jari. Ia melihat jarinya. Ia beralih menatap Dante. Matanya terbuka lebih lebar. Rasa kantuknya mendadak hilang.

“Apa yang baru kau lakukan barusan?” tanya Ara memastikan.

“Tidak ada.” Dante menjawab pertanyaan Ara dengan dingin. Ia melirik sekilas tubuh Ara yang masih dalam selimut.

Ara menatapnya curiga. “Tidak ada?”

“Tidak ada!" tegas Dante mengeraskan rahangnya. Ia berjalan ke walking closet. Ia melepaskan baju kantornya dan berganti dengan kaos yang lebih longgar. Entah kenapa ia merasa sedikit gerah. Ia juga memanggil kepala pelayan untuk mengambil keranjang baju kotor mereka.

Ara kembali menggosok keningnya. Ia menahan diri tidak berkata apapun. Begitu kepala pelayan pergi, ia baru kembali membuka mulut. “Tapi keningku sedikit basah.”

Dante menatapnya tanpa ekspresi. “Kau baru bangun tidur.”

“Terus?” protes Ara mendesak.

“Mungkin kau berkeringat.” Suara Dante terdengar enteng saat mengatakannya.

Ara menatapnya lama. “Keringat?”

“Ya.”

Ara menyipitkan mata. “Kau tadi sepertinya mendekat ke sini?”

"Aku baru datang dan hanya menaruh jam tangan di sebelah tempat tidur."

“Bukan itu yang kutanya.”

Dante pura-pura tidak mengerti.

Ara perlahan bangkit dan bersandar pada kepala ranjang. Matanya mengikuti wajah Dante. “Kau mencium keningku?” tebaknya.

“Tidak," sangkal Dante. Kenapa kau berpikir aku mencium kening mu? Apa barusan kau memimpikannya?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan! Kenapa kita jadi membicarakan mimpi?"

"Kau mengatakan aku mencium keningmu. Bukankah itu mimpimu?"

"Aku tidak." Jeda. Ara menarik nafas dalam-dalam, sebelum lanjutnya, "Bukan itu maksudku. Aku bertanya apa yang baru kau lakukan saat mendekat ke sisi ranjangku?"

"Kenapa kau harus berbelit-belit Ara?" cetus Dante mendekat. Ia tiba-tiba duduk di sisi ranjang tempat Ara masih bersandar pada papan ranjang.

“Kau melakukannya?" tuduh Ara sembari menunjuk keningnya.

“Kau ingin aku melakukannya?" Dante bukannya menjawab malah mendekatkan wajahnya ke Ara.

Ara menjauhkan wajahnya dari Dante. Ia bergeser sedikit lebih jauh ke sisi ranjang lainnya, sisi tempat biasa Dante tidur.

"Jika kau mau, aku tidak keberatan mencium keningmu yang berkeringat."

"Aku yang keberatan. Menjauhlah dariku." Ara makin bergeser ke sisi satunya.

“Kau benar-benar mengigau. Kau bermimpi tetapi menganggap mimpi itu nyata.”

Ara langsung melotot. “Aku tidak mengigau dan tidak bermimpi. Aku masih merasakan jejaknya."

Dante hanya menggeleng dingin. Ia bangkit, berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.

Ara menatap punggungnya dengan wajah tidak percaya. “Dante, aku belum selesai bicara.”

Pria itu terus berjalan. "Aku sudah! Aku mau mandi."

“Kau benar-benar pria menyebalkan sedunia!” runtuk Ara merasa teraniaya.

Dante membuka pintu kamar mandi. Ia sudah terbiasa mendengar kata-kata makian atau kutukan dari istrinya.

Ara meraih bantal di sampingnya. Tanpa berpikir panjang, ia melemparkannya. “Dasar pembohong!” Ara kesal Dante jelas-jelas sudah mengambil keuntungan saat dirinya masih tertidur, tetapi ia tidak mengakuinya.

Bantal melayang. Namun Dante lebih cepat bergerak menyamping. Bantal itu melewatinya dan jatuh menghantam pintu kamar mandi.

Dante berhenti. Ia menoleh perlahan. Tatapannya dingin.

Ara masih duduk di atas ranjang dengan wajah kesal.

“Kenapa menghindar?”

Dante berbalik menghadapi Ara. Ia mengambil bantal itu dan menaruhnya kembali ke atas ranjang.

“Lemparanmu buruk," ejek Dante meremehkan.

Ara langsung mengambil bantal satunya. Ia hendak melempar lagi, tetapi tidak jadi. Ia menurunkan bantal itu dengan enggan.

"Jika kau berani melemparnya, aku benar-benar akan mengecup keningmu sekarang!" ancam Dante memperingatkan. Suaranya mendominasi.

Ara memalingkan muka. Ia tidak mau melihat wajah Dante beberapa saat.

Dante menyeringai. Ia memanggil kepala pelayan lagi. Ia meminta kepada kepala pelayan untuk mengganti bantal dan sprei dengan yang baru. Karena nyonya mereka telah bertingkah dan membuat salah satu bantal jadi kotor.

Ara merasa dikambinghitamkan di hadapan kepala pelayan. Padahal salah siapa. Siapa yang mulai duluan. Siapa yang menghindari lemparannya dan bukan menerima atau menangkap bantalnya.

Ara mendengus makin kesal. Ia terusir secara halus dari ranjang. Ia terpaksa bangun dan turun ke lantai dasar. Ia pergi ke ruang makan menunggu kedatangan Dante. Ia akan mandi usai makan saja.

Pintu kamar mandi tertutup. Dante masuk ke dalam.

Ara masih mengusap-usap keningnya lagi. Saking sering diusap lama-lama jadi kemerahan kening Ara. Meskipun Ara yakin, Dante telah melakukannya, tapi tanpa pengakuan Dante apa gunanya. Wajahnya masih masam ketika Dante menuruni tangga.

Rambut Dante masih setengah basah. Ia mengacak-acak sendiri rambutnya dengan handuk kering.

"Bawakan nyonya hairdryer. Aku ingin nyonya mengeringkan rambutku dulu sebelum makan malam!" perintah Dante yang duduk di kursi biasa tempat ia duduk.

Kepala pelayan bergegas memenuhi permintaan tuannya. Beberapa pelayan menyambungkan kabel hairdryer itu ke stop kontak terdekat yang ada di ruang makan.

Ara menelan ludah dan berdiri. Ia membentangkan kain handuk di punggung suaminya. Setelah ia menerima hairdryer dari pelayan, ia mengatur suhunya, mencoba nya dulu pada tangannya, baru kemudian mulai mengeringkan rambut Dante.

Dalam hati, ia mendumel sendiri. Ia seperti terhukum. Ia yang jadi korban, tapi justru ia yang dihukum. Apakah di dunia ini keadilan benar-benar ada??--batinnya sedikit sesak.

Begitu rambut Dante kering, kepala pelayan mengambil handuk basah dan hairdryer dari tangan Ara. Sementara pelayan-pelayan lain menyajikan hidangan makan malam satu per satu.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!