NovelToon NovelToon
The Last Survivors

The Last Survivors

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

"Damian, lihat ke sana... Aku curiga itu manusia," ucap Jagad sambil menunjuk ke arah kejauhan, matanya tak lepas dari sosok yang bergerak di pinggir kerumunan.

Damian segera mengambil teropong dari tangan Jagad, mengarahkan lensanya ke arah gedung sekolah yang kini dikelilingi kawanan itu. Ia diam sejenak, menatap lekat-lekat, lalu rahangnya mengeras.

"Kau benar... Bukan makhluk biasa," gumamnya pelan namun tegas. "Mana ada zombie yang tahu cara membuka Dan menutup pintu besi seperti itu... atau memberi isyarat pada yang lain."

Hilda condong ke depan, jantungnya berdebar kencang. "Lalu... apa yang harus kita lakukan?"

"Kita tunggu dulu," jawab Damian tanpa mengalihkan pandangan. "Kita belum tahu siapa mereka, dan untuk apa mereka mengarahkan seluruh kawanan itu menyerbu gedung sekolah itu. Jangan bertindak gegabah."

Jagad mengerutkan kening, menatap sosok-sosok yang tampak mengatur arah gerakan para mayat hidup itu. "Aku yakin di dalam sana ada orang... orang yang mereka incar."

Hilda menatap gedung itu dengan tatapan tajam, "Ya aku juga merasakannya."

Mereka pun tetap bersembunyi di balik pepohonan, mengamati dari kejauhan. Di bawah sana, kegelapan semakin pekat, dan pertempuran di dalam gedung sekolah itu baru saja dimulai.

****

Di dalam gedung sekolah, kepanikan mulai merayap di dada setiap orang. Suara benturan makin keras — duk! duk! krak! — kawanan itu telah memenuhi halaman, tangan-tangan pucat menabrak jendela dan pintu tanpa henti, seolah tak kenal lelah.

Danu mengatur napas, berusaha tetap tenang walau hatinya berdebar kencang. Ia segera membagi tugas:

"Toni, Simon, Andri, Jodie — kalian tahan pintu utama! Jangan sampai terbuka sedikit pun!" perintahnya tegas. "Rafli, Natalia, Hendrik, dan aku — kita ke lantai dua, tembak mereka dari atas! Dimas, Amar, Aldo, Zacky — kalian ke lantai paling atas, jaga sisi lain! Nenek, Kakek, Shenna, dokter Rizal dan Mega — segera masuk ke ruang bawah tanah yang kita siapkan kemarin, berlindung di sana!"

Semua bergerak cepat. Suara tembakan meletus bersahutan, namun jumlah mereka tak berkurang.

"Danu..." suara Aldo terdengar cemas dari walkie-talkie. "Mereka terlalu banyak, halaman sudah penuh. Peluru kita hampir habis."

Danu menoleh ke arah Toni. "Toni, kau punya bazoka, kan?"

"Ada, tersimpan di ruang guru," jawab Toni cepat.

Tanpa buang waktu, Danu berlari mengambilnya, lalu membawa senjata berat itu naik ke lantai paling atas.

"Aldo, pakai ini!" seru Danu sambil menyerahkan senjata itu.

Aldo memandangnya ragu. "Tapi kalau kita tembakkan, bisa-bisa pintu dan dinding ikut hancur, Danu."

"Tak ada cara lain," ucap Danu, suaranya bergetar namun tegas. "Arahkan ke gerbang dan kerumunan di luar pagar, bukan ke arah gedung. Setelah meledak, kita turun ke bawah dan bergabung dengan yang lain."

Aldo mengangguk pelan. "Baik... Beritahu semua orang untuk menjauh."

Danu segera menekan tombol alat komunikasi, menghubungi Natalia yang sedang berjaga di bawah. "Natalia..."

"Ya Danu, bagaimana keadaan di atas?"

"Buruk... dan kami tak yakin apakah ini akan berhasil."

Natalia tenang walau suaranya terdengar cemas. "Aku yakin kita bisa lewat ini, Danu."

"Dengar, Nat... suruh semua orang segera masuk ke ruang bawah tanah. Tutup rapat pintunya. Kita akan meledakkan gerbang untuk menghalau mereka, tapi bahaya ledakan bisa menjangkau gedung juga."

"Baik, akan kulakukan sekarang!" jawab Natalia sigap, lalu segera memanggil yang lain untuk menuju tempat berlindung.

Di atas, Danu dan Aldo bersiap. Matanya tertuju pada kerumunan yang terus mendesak, berdoa dalam hati agar keputusan ini tak justru membawa malapetaka...

"Kalian bertiga... segera turun dan bergabung dengan yang lain. Kami akan menyusul," perintah Danu tegas.

"Tapi kalian..." Dimas ragu melangkah.

"Jangan khawatir, kami langsung menyusul setelah meledakkan ini," jawab Danu. Ketiga lelaki itu pun segera berlari turun, meninggalkan atap menuju tempat perlindungan di bawah tanah.

"Aldo... siap. Lakukan!"

Aldo membidik tepat ke arah gerbang yang sudah nyaris roboh, lalu menarik pelatuk. Wussshhh! Roket melesat membelah udara, dan sesaat kemudian — Duar!

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh gedung. Pagar dan gerbang hancur berkeping-keping, api menyala tinggi menerangi halaman yang penuh makhluk itu. Danu dan Aldo segera berlari turun menuju lantai bawah, melangkah serentak menjauhi pintu yang kini mulai terbuka perlahan — brak... brak... dorongan dari luar semakin kuat.

Mereka tiba di pintu masuk ruang bawah tanah, namun para zombie sudah mulai masuk dan mendekat. Aldo berhenti di belakang, menembaki mereka satu per satu agar tak mendekat. Saat pintu perlahan terbuka, ia mendorong Danu lebih dulu.

"Ayo masuk, Aldo!" teriak Danu.

"Masuk duluan, Danu! Aku tahan mereka sebentar!"

"Jangan! Mereka terlalu banyak, masuklah... Ayok!"

Aldo tersenyum getir, lalu menarik pin granat di tangannya. "Maaf, Danu..."

Ia berbalik dan berlari lurus ke arah kerumunan yang mendesak masuk.

"Tidak! Aldo, tidak!" Danu berusaha mengejar, namun Toni segera menariknya masuk ke ruang bawah tanah, menutup dan mengunci pintu rapat-rapat.

Detik berikutnya terdengar suara ledakan yang mengguntur — Duaarrrr!!! — tiga granat meledak di tengah kerumunan itu. Suara itu bergema hingga ke telinga semua orang yang berlindung di bawah tanah. Mereka terdiam, saling pandang, tak mampu berkata apa-apa. Danu terjatuh duduk di lantai yang dingin, menunduk, air mata jatuh tanpa suara. Ia tahu... itu Aldo.

Di kejauhan, di balik pepohonan, Damian, Hilda, dan Jagad juga mendengar ledakan itu.

"Ledakan kedua... kalian dengar?" tanya Damian tegang.

"Jelas sekali," jawab Jagad. "Kita harus menolong mereka, Damian!"

Damian menatap gedung sekolah yang bagian depannya kini hancur berasap. "Aku ingin, Jagad. Tapi kelompok kita terlalu sedikit. Menyerbu kerumunan itu sama saja dengan bunuh diri."

Hilda tiba-tiba menyahut, matanya berbinar penuh harap. "Bagaimana kalau kita meminta bantuan pasukan lain? Mereka punya helikopter, kan?"

Damian tersentuh, lalu segera mengangkat walkie-talkie-nya. "Benar..." Ia menekan tombol panggil. "Kepada markas, kami butuh bantuan segera. Bawa beberapa bazoka ke gedung sekolah Lembang. Pasukan zombie jumlahnya ratusan, mereka mengepung tempat itu. Kirim bantuan sekarang!"

Suara jawaban terdengar dari seberang. "Siap, Damian. Kami segera berangkat."

Damian menoleh ke arah mereka. "Mereka sedang bergerak."

Di bawah tanah, di tengah kesedihan dan ketakutan, harapan perlahan tumbuh kembali. Namun pertanyaannya — apakah bantuan itu akan tiba sebelum pertahanan mereka benar-benar runtuh?.

Bersambung

1
Abyyasdemons
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!