NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 — Ruang Tengah Diperiksa

Surat pemeriksaan datang sebelum aku selesai membaca daftar empat belas perkara.

Logo Perkumpulan Mediator Keluarga Indonesia tercetak di bagian atas. Isinya hanya dua halaman, tetapi rasanya setiap kalimat menutup satu pintu lagi.

Dewan etik membuka pemeriksaan awal atas dugaan konflik kepentingan, penerimaan rujukan tersembunyi, dan kemungkinan mediasi dilakukan berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Ruang Tengah diberi waktu tujuh hari untuk menyerahkan daftar perkara terkait, sumber pembiayaan, prosedur pemeriksaan konflik, serta seluruh komunikasi dengan yayasan Kalyana.

Selama pemeriksaan berlangsung, aku masih boleh bekerja.

Klien baru harus diberi tahu bahwa lembagaku sedang diperiksa.

Aku membaca surat itu di ruang rapat bersama Damar, Tara, dan para staf. Tidak ada yang bicara sampai halaman kedua selesai.

Bagas yang pertama mengangkat tangan. Kebiasaan itu seharusnya lucu karena kami bukan sedang mengikuti kelas.

“Apakah kantor akan ditutup?” tanyanya.

“Belum,” jawabku.

“Belum itu artinya bisa?”

“Bisa.”

Lila memeluk map di dadanya.

“Kalau izin mediasi dicabut?”

“Yang diperiksa sekarang lembaga dan prosedur rujukan. Lisensi pribadiku akan diperiksa terpisah kalau ditemukan pelanggaran yang kulakukan.”

Aku sengaja memakai kata kulakukan, bukan kita lakukan. Mereka tidak boleh menanggung kesalahan yang belum terbukti hanya karena bekerja di tempat yang kubangun.

Tara duduk paling jauh dariku. Sejak menyerahkan bukti pembayaran, ia datang hanya untuk urusan yang kuizinkan. Hari ini aku memanggilnya karena audit operasional tidak mungkin dilakukan tanpa orang yang selama ini mengelola sebagian besar kontrak.

“Aku perlu mengatakan sesuatu kepada semua orang,” kataku.

Tidak ada yang bergerak.

“Sedikitnya empat belas perkara kita pernah menerima dana atau rujukan dari jaringan yang terhubung dengan keluarga Kalyana. Tiga diarahkan Rendra. Sebelas lainnya diduga dikirim melalui Surya Kalyana tanpa sepengetahuan kami.”

Bagas mengerutkan dahi.

“Tanpa sepengetahuan kita atau tanpa sepengetahuan Ibu?”

Pertanyaan itu tepat.

“Aku tidak tahu siapa di kantor yang pernah menerima informasi tambahan,” jawabku. “Jadi jangan anggap siapa pun pasti bersih hanya karena kita saling kenal.”

Tatapan beberapa orang bergerak ke arah Tara.

Ia tidak menunduk.

“Aku sudah menyerahkan catatan dan siap diperiksa,” katanya. “Jangan berhenti di aku hanya karena kesalahanku paling dulu terbuka.”

Lila tampak ingin menjawab, tetapi Damar mengambil alih percakapan.

“Mulai sekarang seluruh dokumen tidak boleh dihapus, dipindahkan, atau dibawa keluar tanpa pencatatan. Kata sandi akan diganti. Akses lama dibekukan. Auditor independen akan memeriksa rekening, rujukan, surel, dan penyimpanan fisik.”

Bagas menatapku.

“Auditor dari siapa?”

“Bukan dari Kalyana,” jawabku. “Aku sudah memilih firma yang tidak pernah bekerja untuk keluarga Rendra.”

Tara membuka laptop.

“Biayanya besar.”

“Aku akan membayar dari rekening pribadiku.”

“Kantor masih punya dana darurat.”

“Dana kantor juga sedang diperiksa.”

Tara mengangguk dan tidak berdebat.

Salah satu staf hukum mengangkat tangan.

“Bagaimana dengan kerahasiaan klien? Auditor tidak boleh membaca seluruh isi perkara hanya karena kita ingin membersihkan nama.”

“Benar,” jawab Damar. “Pencocokan awal memakai nomor perkara, sumber dana, tanggal, dan pihak yang terhubung. Isi mediasi hanya dibuka kalau ada indikasi informasi ditahan atau hasil dipengaruhi. Klien akan dimintai persetujuan lebih dulu sejauh hukum memungkinkan.”

Aku menambahkan, “Tidak ada orang yang boleh kehilangan privasinya demi memperbaiki reputasiku. Kalau audit membutuhkan akses lebih jauh, kita jelaskan alasan dan risikonya kepada mereka.”

Bagas mengangguk, tetapi wajahnya masih tegang.

“Kalau klien menolak?”

“Penolakannya dihormati. Kita cari bukti dari rekening, kontrak, dan komunikasi lain.”

Dulu, aku mungkin akan menerima tawaran Rendra karena timnya bisa bergerak lebih cepat, membuka server lebih luas, dan menyelesaikan masalah sebelum kantor kehilangan klien.

Kecepatan yang dibayar dengan ketergantungan baru bukan penyelesaian.

Itu hanya pintu lama yang dicat ulang.

Ponsel Damar bergetar. Ia membaca pesannya, lalu menyerahkan layar kepadaku.

Rendra menawarkan tim forensik perusahaan, akses penuh terhadap server Kalyana, dan biaya audit tanpa syarat pembayaran kembali.

Aku bahkan belum selesai membaca ketika Damar berkata, “Saya sudah menduga jawabannya, tapi secara hukum saya tetap harus menyampaikannya.”

“Tidak.”

“Semua bantuannya?”

“Bukti dari server Kalyana tetap harus diserahkan. Tim dan uangnya tidak.”

“Kenapa?” tanya Bagas sebelum sempat menahan diri.

“Karena kita sedang diperiksa atas ketergantungan tersembunyi kepada keluarga itu. Menerima mereka sebagai penyelamat audit akan mengulang masalah yang sama.”

Aku membalas melalui Damar:

Serahkan data yang menjadi kewajiban hukum. Ruang Tengah akan memilih dan membayar auditnya sendiri.

Jawaban Rendra datang singkat.

Baik.

Tidak ada peringatan tentang biaya. Tidak ada pesan bahwa firma pilihanku mungkin salah.

Tidak ada apa-apa.

Aku menaruh ponsel kembali.

“Mulai hari ini,” kataku kepada tim, “kita tidak menyelamatkan nama kantor dengan menyembunyikan bagian yang buruk. Semua perkara yang terpengaruh akan diperiksa ulang. Klien yang mungkin dirugikan akan diberi tahu melalui pengacara independen.”

“Kalau mereka menggugat?” tanya salah satu staf hukum.

“Mereka berhak.”

“Kalau kantor bangkrut?”

Pertanyaan itu datang dari Lila.

Aku menatap ruangan yang dibangun dari meja bekas, pinjaman, dan keyakinan bahwa tempat ini bisa membantu orang mengambil keputusan tanpa tekanan.

Gagasan bahwa Ruang Tengah mungkin berdiri karena reputasiku sengaja dibangun orang lain terasa seperti kehilangan sesuatu yang belum sempat kupahami.

Mempertahankannya dengan cara yang sama akan membuat kantor ini tidak pantas diselamatkan.

“Kalau kita hanya bisa bertahan dengan menahan kebenaran,” kataku, “berarti kantor ini sudah bangkrut sebelum rekeningnya kosong.”

Menjelang siang, aku mengadakan konferensi pers kecil melalui siaran daring. Tidak ada latar mewah. Hanya dinding hijau ruang konsultasi dan logo Ruang Tengah yang tergantung sedikit miring karena Bagas salah memasang sekrup dua tahun lalu.

Aku membaca pernyataan sendiri.

Aku mengakui adanya rujukan dan dana yang tidak kuketahui sumber lengkapnya. Aku tidak menyatakan seluruh hasil mediasi salah. Aku juga tidak meminta publik memercayai perkataanku tanpa pemeriksaan.

Ruang Tengah menunjuk auditor independen.

Empat belas perkara akan ditinjau.

Hasil audit akan diberikan kepada dewan etik dan pihak yang terdampak.

Aku menolak bantuan finansial, hukum, atau operasional dari keluarga Kalyana selama proses berlangsung.

Pertanyaan pertama wartawan berbunyi, “Apakah Anda menyalahkan suami Anda?”

Aku menarik napas sebentar.

“Aku menyalahkan setiap orang berdasarkan tindakannya, termasuk diriku sendiri kalau ditemukan aku mengabaikan tanda yang seharusnya kulihat.”

“Apakah Anda akan bercerai?”

“Itu proses terpisah.”

“Apakah karier Anda dibangun oleh Rendra Kalyana?”

Pertanyaan itu menahan suaraku sesaat.

“Kesempatan awal tertentu memang diarahkan kepadaku,” jawabku. “Pekerjaan di dalam ruang mediasi kulakukan sendiri. Keduanya akan diperiksa tanpa menghapus salah satunya.”

Setelah siaran selesai, tanganku gemetar begitu hebat sampai aku gagal menutup laptop pada percobaan pertama.

Tara bergerak hendak membantu, lalu berhenti sebelum menyentuhnya.

“Boleh?” tanyanya.

Aku mengangguk sekali.

Ia menutup layar.

Kami tidak berpelukan atau saling menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Saat itu, menghormati izin terasa lebih berguna daripada mencoba menghiburnya.

Firma audit tiba pukul dua. Dipimpin seorang akuntan forensik bernama Arum Prabasari, mereka membawa alat penyimpanan sendiri dan membuat salinan setiap data di depan Damar. Tidak satu pun perangkat tersambung ke jaringan kantor sebelum diperiksa.

Arum membagi pekerjaan menjadi empat: rekening, rujukan, akses data, dan arsip fisik.

Aku memberikan kunci seluruh lemari.

Tara memberikan daftar vendor.

Bagas menyerahkan akun sistem perkara.

Lila membawa buku kas kecil, catatan pos, dan arsip pengiriman yang selama ini disimpan di meja administrasi.

“Semua?” tanya Arum.

“Semua,” jawab Lila.

Audit berlangsung sampai malam.

Empat transaksi tambahan ternyata hanya penggantian biaya sah. Dua donasi anonim berasal dari mantan klien yang tidak terhubung dengan Kalyana. Beberapa rujukan memang datang dari yayasan lain tanpa masalah.

Selama beberapa jam, aku mulai percaya kerusakannya punya batas.

Lalu Arum meminta kami kembali ke ruang rapat.

Ia meletakkan satu cetakan transaksi di tengah meja.

Pembayaran dilakukan setiap tiga bulan selama hampir lima tahun. Sumbernya perusahaan logistik yang berakhir pada yayasan milik Surya.

Penerimanya bukan Tara.

Bukan Gilang.

Bukan Dr. Mira.

Penerimanya salah satu pegawai aktif Ruang Tengah.

“Untuk apa?” tanyaku.

Arum menunjuk kolom keterangan.

Transaksi itu hanya memakai satu kata.

TAHAN.

Aku melihat nama di atasnya.

Lila Prameswari.

Di sampingku, sebuah map jatuh dari tangan Lila ke lantai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!