Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Murka Sang Penguasa Petir
Di dalam Aula Utama Sekte Pedang Petir yang terletak di puncak Gunung Petir, suasana malam yang tenang seketika pecah oleh getaran energi spasial yang liar.
Aula yang dibangun dari batu granit hitam itu dihiasi oleh pilar-pilar besar berukir petir. Di kursi singgasana utama, duduk seorang pria paruh baya dengan tubuh tinggi besar dan rambut abu-abu yang berdiri tegak. Aura di sekelilingnya berderak-derak mengeluarkan percikan listrik biru tipis—ia adalah Lei Tianba, Ketua Sekte Pedang Petir, seorang ahli di puncak Tahap Pembentukan Fondasi tingkat lanjut!
Lei Tianba sedang menyesap teh spiritualnya sambil menunggu kabar kemenangan dari putranya, Lei Kuang, yang pergi ke lelang untuk merebut fosil naga dan memberi pelajaran pada seorang pengembara arogan.
BZZZTTT!
Tiba-tiba, ruang di tengah aula robek secara paksa. Cahaya merah darah yang menyilaukan meledak, memancarkan bau anyir darah yang pekat.
BRUK!
Sesosok tubuh manusia terlempar keluar dari robekan spasial itu dan jatuh tersungkur di lantai pualam aula.
Lei Tianba terperanjat. Cangkir teh di tangannya hancur berkeping-keping, cairannya tumpah membasahi jubahnya. Dengan kecepatan kilat, ia menghilang dari singgasana dan muncul di samping sosok yang baru saja jatuh.
"Kuang'er?!" teriak Lei Tianba dengan suara bergetar yang belum pernah ia tunjukkan seumur hidupnya.
Sosok itu adalah Lei Kuang. Namun, keadaannya saat ini jauh melampaui kata mengenaskan. Lengan kanannya hilang dari siku (karena hancur total saat benturan), dadanya melesak dalam, meridian di seluruh tubuhnya putus total, dan sisa-sisa energi Api Roh Emas Ungu milik Ye Chen masih membakar kulitnya dari dalam, mengeluarkan asap tipis.
Jimat Pelarian Darah memang menyelamatkan nyawanya, tapi harga yang harus dibayar adalah siksaan fisik yang mengerikan dan kehancuran total pada kultivasinya. Lei Kuang kini telah menjadi orang cacat permanen.
"A-Ayah..." isak Lei Kuang dengan darah yang terus mengalir dari mulutnya. Napasnya tersengal-sengal, matanya menyiratkan kepedasaan yang luar biasa. "S-sakit... Ayah, selamatkan aku..."
Melihat satu-satunya putra mahkota dan pewaris sah sekte yang selama ini ia banggakan kini terkapar di ambang kematian dengan tubuh hancur lebur, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya meledak dari dalam dada Lei Tianba.
BOOOMMM!
Aura Tahap Pembentukan Fondasi tingkat lanjut meledak dengan liar. Seluruh pilar granit di aula utama retak seketika, dan kaca-kaca jendela pecah berkeping-keping akibat tekanan emosi yang meluap-luap dari sang Ketua Sekte. Para penjaga di luar aula langsung jatuh berlutut, menahan napas karena ketakutan yang luar biasa.
"SIAPA?!" raungan Lei Tianba mengguncang seluruh puncak gunung, membangunkan puluhan murid dan tetua yang sedang tidur. "SIAPA YANG BERANI MELAKUKAN INI PADA ANAKKU?!"
Suara itu dipenuhi oleh niat membunuh yang begitu pekat hingga udara di dalam aula terasa seperti membeku.
Beberapa detik kemudian, para tetua sekte berbondong-bondong berlari masuk ke dalam aula dengan panik. Begitu melihat kondisi Lei Kuang yang sekarat, wajah para tetua sekte seketika berubah pucat pasi.
"Tuan Muda! Apa yang terjadi?! Siapa yang memiliki keberanian meremukkan kultivasi Tuan Muda?!" seru Tetua Kedua dengan mata melotot ngeri.
"A-Ayah..." Lei Kuang mencengkeram jubah ayahnya dengan tangan kirinya yang tersisa, darah mengotori pakaian mewah Lei Tianba. "Dia... dia menyebut dirinya... Iblis Berpedang Hitam... Dia menggunakan pedang raksasa... dan... dan api ungu keemasan..."
"Iblis Berpedang Hitam...?" gigi Lei Tianba bergemeretak keras hingga mengeluarkan suara berderit. Urat-urat di leher dan wajahnya menonjol keluar seperti cacing kepanasan. "Bahkan jika kau berubah menjadi abu, aku akan merobek jiwa bajingan itu menjadi jutaan serpihan!"
Lei Tianba buru-buru mengeluarkan Pil Penyembuh Jiwa tingkat tinggi dari cincin penyimpanannya dan memasukkannya ke mulut Lei Kuang untuk menstabilkan detak jantung putranya yang nyaris berhenti. Setelah memastikan putranya tertidur dalam kondisi kritis, ia berdiri perlahan.
Tatapan Lei Tianba menyapu para tetua sekte yang berdiri ketakutan di hadapannya.
"Dengar baik-baik perintahku," suara Lei Tianba sangat tenang, namun justru kesunyian itu menandakan badai kemurkaan yang mengerikan. "Kirimkan burung pembawa pesan ke seluruh cabang Sekte Pedang Petir di wilayah perbatasan! Kerahkan seluruh pasukan bayangan dan tiga Tetua Utama!"
"Ketua... apakah kita akan mengerahkan kekuatan penuh untuk memburu satu orang pengembara?" tanya Tetua Keempat dengan nada ragu.
Lei Tianba menoleh, menatap Tetua Keempat dengan sorot mata merah penuh darah yang membuat sang tetua langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"Dia menghancurkan masa depan pewarisku! Dia menginjak-injak harga diri Sekte Pedang Petir!" teriak Lei Tianba murka. "Aku tidak peduli apakah dia pengembara, keturunan klan besar, atau murid sekte raksasa! Kumpulkan kepalanya dan bawa ke hadapanku, atau jadikan seluruh wilayah tempat ia bersembunyi sebagai lautan darah!"
"BAIK, KETUA!" jawab para tetua serentak dengan suara bergetar.
Malam itu, di saat Ye Chen sedang duduk bersila di dalam gua tersembunyi, bersiap menyerap esensi dari Cakar Naga Bumi untuk menaikkan kekuatannya ke tingkat yang lebih tinggi, sebuah mesin pembunuh raksasa dari Sekte Pedang Petir telah dilepaskan untuk memburunya.