NovelToon NovelToon
LOLIPOP MANIS

LOLIPOP MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?

Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.

MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?

NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 ' TANTANGAN '

BAB 1 — TANTANGAN

Hujan menghantam atap seng bangunan tua itu seperti amukan orang putus asa.

_Duk. Duk. Duk._

Setiap dentumannya menghantam gendang telinganya sampai ke ulu hati.

Air menetes dari celah langit-langit, jatuh ke lantai semen retak dan membentuk genangan kotor yang memantulkan lampu redup. Sepatu Eirina sudah basah kuyup, kaos kakinya dingin dan lengket. Tapi kakinya terasa mati rasa.

Udara di sini menusuk tulang. Bau besi berkarat bercampur debu tua dan... bau kegagalan. Dua tahun dikejar utang, rasanya seperti ini. Pengap. Sesak. Tidak ada jalan keluar.

Di tengah ruangan kosong itu, Eirina berdiri membeku.

Jantungnya menabrak dada. `Drr... drr... drr...` Napasnya naik turun, tersengal seperti habis lari marathon. Kedua tangannya mengepal erat sampai kuku menancap ke telapak dan menimbulkan rasa perih. Kalau dia pingsan sekarang, siapa yang bayar utang 2 Miliar itu? Mama di rumah sakit masih butuh biaya. Adiknya masih sekolah.

Dia tidak boleh lemah. Tidak boleh.

"Eirina..."

_BRAKK!_

Sebuah pisau perak melesat membelah udara dan menancap tepat di tembok, hanya berjarak beberapa sentimeter dari kepalanya. Anginnya sampai membuat beberapa helai rambut keemasannya beterbangan.

"Akh!"

Jerit itu tertahan di tenggorokan. Yang keluar cuma desis ketakutan.

Tubuh gadis itu menegang. Bola mata merah mudanya membelalak lebar. Darah di wajahnya rasanya habis seketika. Napas tercekat di dada. Selisih sedikit saja, benda tajam itu pasti sudah menembus pelipisnya dan mengakhiri semuanya malam ini.

Di hadapannya, berdiri seorang pria tinggi. Jas hitam mahal melekat di tubuhnya, basah kuyup oleh hujan. Air menetes dari ujung rambut maroonnya, jatuh ke lantai satu persatu dengan suara yang memekakkan di tengah keheningan.

Tapi Eirina tidak melihat jasnya. Dia melihat matanya.

Mata biru sedingin es. Kosong. Mati. Tatapan yang biasa melihat nyawa manusia sebagai angka di atas kertas.

Dadanya mencelos. Ada sesuatu yang familiar dari sorot itu. Sesuatu yang pernah dia lihat 10 tahun lalu di teras rumah kecilnya. Waktu seorang anak laki-laki berjanji sambil menggenggam tangannya erat. `Aku akan selalu melindungi.`

Tidak. Itu tidak mungkin. Itu pasti halusinasi karena takut. Mahendra Axlarta tidak mungkin kenal dia. Orang itu CEO termuda. Pemilik setengah kota. Sedangkan dia... hanya anak penanggung utang.

Sudut bibir pria itu terangkat. Sebuah seringai tipis muncul, tidak sampai ke matanya.

"Heh..."

Tawa pelan keluar. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan. Tapi tawa itu membuat seluruh bulu kuduk Eirina berdiri. Lebih dingin dari hujan yang mengguyur di luar.

Keheningan menggantung. Hanya ada suara hujan yang menghantam atap dan detak jantungnya sendiri yang berpacu seperti genderang perang.

Langkah kaki terdengar. _Tok. Tok. Tok._

Pelan. Pasti. Menggetarkan lantai semen yang retak.

Setiap langkah mendekat membuat dada Eirina semakin sesak. Lututnya gemetar. Dia ingin lari. Tapi kemana? Pintu sudah dikunci dari luar. Dia sudah dijebak.

Hingga akhirnya jarak berhenti hanya sejengkal. Cukup dekat untuk merasakan hawa dingin dari tubuh pria itu. Cukup dekat untuk mencium wangi cologne mahal yang bercampur bau hujan.

"Keluargamu punya hutang."

Suara berat itu memecah keheningan. Setiap katanya menekan seperti palu godam yang menghantam dadanya.

Kepala Eirina menunduk. Bahunya bergetar.

Kalimat itu sudah terlalu sering terdengar selama dua tahun terakhir. Surat tagihan. Penagih berbadan besar. Ancaman. Semua karena satu lembar kertas utang peninggalan orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan.

"Dan sekarang," lanjutnya, napasnya yang dingin terasa di kulit pipinya, "seluruh tanggung jawab itu jatuh ke tanganmu."

Tenggorokan Eirina terasa tercekat seperti dicekik. Dengan suara bergetar yang hampir tidak terdengar, kalimat itu keluar. "Se-sedang berusaha melunasi..."

"Berusaha?"

Tawa kembali terdengar. Kali ini lebih keras. Lebih mengejek. Lebih menyakitkan dari pisau tadi.

"SRETT!"

Pisau itu tercabut dari tembok dengan satu tarikan. Kilatan tajamnya memantulkan cahaya lampu redup, menyilaukan mata. Ujungnya perlahan terangkat. Bergerak naik, hingga berhenti tepat di bawah dagu Eirina. Kulitnya terasa dingin oleh sentuhan logam.

Napas Eirina tertahan. Tubuhnya tidak berani bergerak sedikit pun. Satu sentakan, lehernya bisa sobek. Air matanya hampir jatuh, tapi dia gigit bibir sampai terasa darah. Jangan nangis. Jangan lemah di depannya.

"Ada dua pilihan."

Ketenangan dalam suara itu justru lebih menakutkan daripada teriakan.

Jantung Eirina serasa berhenti.

"Pilihan pertama: melunasi seluruh hutang. 2 Miliar. Lunas malam ini juga."

Jeda. Lama. Menyiksa.

Eirina bisa mendengar suara darahnya sendiri yang berdesir. 2 Miliar. Tabungannya tidak sampai 10 juta. Gaji sebulan hanya 2 juta. Bahkan kalau dia jual ginjal pun tidak akan cukup.

"Pilihan kedua: menerima tantangan."

Keheningan kembali. Hanya suara hujan yang semakin deras di luar, seperti ikut menertawakan nasibnya.

Air mata akhirnya menggenang. Bukan karena takut mati. Tapi karena tidak ada jalan lain. Tidak ada.

Dengan sisa keberanian yang ada, Eirina memaksa dirinya mengangkat kepala. Bertemu dengan mata biru itu dari jarak sedekat ini. Dan untuk sepersekian detik, dia yakin melihat sesuatu berkedip di sana. Luka?

Bibirnya bergetar sebelum akhirnya mengeluarkan suara. "Me-menerima... tantangan itu."

"Bagus."

_BRAKK!_

Pisau kembali dilempar. Menancap di tembok sisi lain dengan suara menggelegar yang menggema dan membuat jantungnya melompat.

"Eirina Karamyka Aldrick."

Nama lengkapnya disebut dengan penekanan di setiap suku kata. Suara itu berat, seakan mencicipi namanya.

"Dengan ini, secara resmi kau menerima tantangan dari Mahendra Axlarta."

Dunia Eirina serasa runtuh. Nama itu. Nama yang selama ini hanya ada di berita, di majalah bisnis, di bisik-bisik karyawan. CEO termuda Grup Axlarta. Pemilik setengah kota. Dan orang paling kejam di industri.

Kaki Eirina lemas. Lututnya hampir menyerah. Dia berpegangan ke tembok agar tidak jatuh.

"Ta... tantangan apa...?"

Pertanyaan itu keluar dengan susah payah. Suaranya serak.

Mahendra tidak menjawab. Dia hanya berbalik. Punggung lebarnya menghadap. Jas hitamnya yang basah membuat siluetnya terlihat seperti malaikat pencabut nyawa.

Langkahnya menuju pintu besi yang berkarat.

Berhenti di ambang pintu. Tangannya menggenggam gagang pintu. Tanpa menoleh, kalimat terakhir terucap dengan dingin.

"Lusa."

Pintu terbuka. _Kriiit..._

Suara engsel tua yang berkarat terdengar nyaring.

Lalu tertutup dengan bunyi _BRAKK_ yang memekakkan telinga dan membuat debu berjatuhan dari langit-langit.

Ruangan kembali sunyi. Sunyi yang lebih bising dari ribuan suara.

Hanya tersisa seorang gadis yang terduduk lemas di lantai dingin. Dada masih naik turun. Jantung belum juga tenang. Tangannya masih gemetar.

Apa sebenarnya yang diinginkan Mahendra Axlarta darinya?

Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban, berputar-putar di kepalanya seperti pisau yang tadi.

Eirina memejamkan mata. Air mata yang dari tadi dia tahan akhirnya jatuh juga. Satu. Dua.

Dan tidak ada yang menyadari...

bahwa 10 tahun yang lalu, di sebuah rumah kecil dengan atap bocor, seorang anak laki-laki bernama Mahendra Axlarta itu pernah berjanji dengan suara bergetar sambil mengusap kepala Eirina kecil:

"Aku akan selalu melindungi. Janji ya."

Janji yang kini terkubur. Tertutup oleh jas mahal, hutang 2 Miliar, dan sebuah tantangan yang belum diketahui bentuknya. Tantangan yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!