NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG

Mentari pagi itu terasa menyengat saat jatuh di pundak Ary Prambudi yang sedang merapikan kemeja birunya di samping jendela kamar. Dosen Manajemen Keuangan di Universitas Swasta kecil itu berpikir ia akan pulang lebih cepat hari itu karena...

Ary melirik istrinya yang sedang merapikan selimut di pinggir ranjang dengan wajah cemberut.

...Karena istrinya lagi ngambek.

Sudah tiga hari, Arumi, Istrinya, mendiamkannya. Tidak ada obrolan hangat sebelum tidur, tidak ada candaan ringan saat sore. Arumi hanya bergerak efisien, menyiapkan kebutuhannya dan keperluan anak-anak mereka, lalu kembali ke dalam mode diamnya.

Dan Ary tidak tahu sebabnya.

Walau pun ia bisa menduganya.

Pagi ini, pantulan dirinya di cermin lemari besar tidak membuatnya puas. Biasanya ia memikirkan dengan detail mengenai baju apa yang akan ia gunakan, gaya rambut rapi yang praktis, aksesoris yang membuatnya terlihat tetap berwibawa. Tapi saat ini yang bisa ia pikirkan hanyalah Arumi dan ‘silent mode on’ nya.

Arumi yang cantik. Di usianya yang ke 32 tahun, kulit putihnya bersinar bagaikan mutiara memantulkan cahaya matahari, daging di tubuhnya masih kencang, dan wajahnya yang indah itu bagaikan rancangan desainer AI. Sejak Ary melihatnya di kampus 10 tahun lalu, mereka bertemu dalam kondisi ‘Dosen Pembimbing dan Mahasiswinya’, Ary langsung merasa sedang berhadapan dengan tokoh khayalan dunia game.

Cantik dan memikat, namun misterius.

Ia merasa sangat beruntung bisa memiliki Arumi sebagai seorang istri, sepeninggal istri pertamanya akibat kanker payudara. Arumi bahkan dengan telaten dan sabar mengurus anak-anak Ary, Rian dan Aryo yang kala itu masih kecil-kecil dan sering tantruman. 10 tahun pernikahan mereka tidak dikaruniai anak karena Ary telah menjalani vasektomi sejak istri pertamanya divonis terkena kanker. Pun begitu, Arumi tampaknya nyaman-nyaman saja dengan kehidupan mereka.

Tapi ada satu hal yang membuat Ary khawatir.

Kecantikan istrinya memang bisa memikat pria mana pun, tapi nyatanya kharisma Ary jauh lebih dahsyat kalau dihadapkan dengan perempuan-perempuan cantik di kampus.

Dosen muda dengan wajah seperti Ary jarang ada. Dan saat ini Ary merasa kalau ‘diamnya’ Arumi pasti ada hubungannya kepopulerannya di kampus.

Belakangan, sejak ia menghadiri acara reuni salah satu almamater, makin banyak saja yang tiba-tiba mengiriminya text mesra.

Ary menghela napas. Ia tidak tahan lagi. Sebagai pria yang mengajarkan analisis risiko, ia tahu membiarkan masalah berlarut-larut adalah risiko terbesar dalam rumah tangga. Apalagi ini sudah hari ketiga, batas toleransi pertikaian suami-istri ideal versi Ary.

"Dek," panggil Ary pelan. Suaranya rendah dan bariton.

Arumi yang sedang merapikan tempat tidur hanya bergeming. Ia menarik sprei dengan kencang, seolah sedang meluapkan kekesalannya pada benda mati itu.

Ary membalikkan badan, berjalan mendekat, dan menangkap pergelangan tangan istrinya dengan lembut.

“Apa sih?!” gerutu Arumi sambil menepis tangan Ary.

“Kalau aku ada salah, aku minta maaf duluan. Apa pun salahku. Coba kamu bilang, nanti kita selesaikan pelan-pelan, daripada kita diam-diaman begini.” Kata Ary dengan lembut dan mendayu untuk merayu istrinya.

“Ck.” Terdengar decakan Arumi. Telinga wanita itu memerah karena menahan tangis.

“Ayolah Dek, terakhir kamu ngambek sama aku waktu aku menolak skripsimu. Itu sudah 10 tahun lamanya. Aku bisa-bisa nggak jadi ngajar loh ini.”

“Uh,” Arumi mulai menangis, tapi ia menunduk. Ary menunggu beberapa saat, sampai akhirnya istrinya itu mengangkat wajahnya.

Matanya yang cantik nampak sedikit sembab, ada kilat luka di sana. Tanpa suara, ia merengkuh ponselnya dari atas nakas, mengutak-atik layar sebentar, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Ary.

Itu adalah sebuah tangkapan layar—screenshot pesan WhatsApp dari sebuah nomor dengan nama Bintang Angk.2016.

"Pak, saya kangen. Bisa kita bertemu di kampus hari ini? Sarapan bareng yuk? Seperti yang sering kita lakukan dulu."

Ary tertegun. Ia menarik napas panjang, sebuah embusan yang terasa berat. Ia sudah menduga hal ini.

Ini sih WA dari Bintang, kurang ajar banget langsung bilang ‘kangen’. Padahal selama ini nggak kubalas semua pesannya. Begitu pikir Ary.

Mantan mahasiswinya yang ia temui di acara reuni kampus beberapa minggu lalu memang mulai menunjukkan gelagat yang tidak beres. Wanita itu, yang dulu ia kenal sebagai mahasiswi berprestasi, kini berubah drastis—berpakaian terlalu terbuka, bicara dengan nada manja ala LC, dan mulai mengirimkan pesan-pesan yang tidak pantas pada jam-jam yang tidak masuk akal.

“Aku harus ngomong apa lagi?” begitu kata Arumi di tengah suaranya yang terdengar gemetar.

Arumi sudah mengorbankan banyak hal sejak menikahi Ary. Ia tahu suaminya populer, setiap deraan masalah ia tahan. Setiap kecemburuan ia sembunyikan, belum harus menghadapi para perempuan-perempuan yang seenaknya mengklaim Ary sebagai ‘milik’ mereka. Ia menerima kenyataan kalau ia tak akan bisa memiliki anak sendiri. Ia bersabar dengan kondisi keuangan yang semakin mencekik tatkala penghasilan Ary menurun karena kampusnya kini sedang terkena masalah hukum, sementara kedua anak sambungnya sedang butuh banyak pengeluaran, dan orang tua mereka juga butuh bantuan.

Bukan satu dua kali Ary dikirimi text mesra dari mahasiswi. Tapi melihat nama yang tertera di layar ponsel itu, Bintang, yang Arumi ingat adalah rivalnya yang sering menjegalnya di kampus dulu, merebut semua karya-karyanya, mengakui semua jerih payahnya, merayu semua pacar-pacarnya, bahkan merebut semua teman-teman Arumi dengan fitnah berkepanjangan, entah mengapa Arumi jadi mellow.

Bintang tahu kalau Ary sudah jadi suami Arumi, mereka menikah diam-diam karena tak ingin banyak orang tahu, juga karena ini pernikahan kedua Ary dimana istrinya baru meninggal kurang dari 3 bulan. Mereka takut penilaian orang lain akan mempengaruhi mental Arumi.

Orang lain tak tahu kalau menjelang akhir hidupnya, Almarhum istri justru yang memilih Arumi sebagai pendamping Ary dan menjaga anak-anaknya. Tapi masyarakat pasti ada saja yang menghakimi macam-macam. Terutama Bintang ini yang langsung menyebar gosip kalau Ary dan Arumi berselingkuh di balik istri sah yang tersiksa karena penyakit. Drama China banget judulnya.

Jadi kini melihat nama itu di ponsel Ary, membuat Arumi tak tahan, ia merasa wajib ngambek.

Arumi memukul dada Ary sekali. Pelan, seperti khasnya cewek ngambek. Tapi entah kenapa merasa menusuk ke jantung Ary.

Ary langsung merasa ia seperti laki-laki tidak berguna.

Arumi mundur selangkah, suaranya bergetar. "Aku ini mantan mahasiswamu juga, Mas. Aku tahu bagaimana cara kamu memperlakukan mahasiswi kesayanganmu. 'Seperti yang sering kita lakukan dulu'? Apa maksudnya, Mas? Apa dulu kamu pacaran juga sama dia? Sarapan bareng itu berarti kalian menginap?"

“Ya nggak lah Dek, sarapan kan bisa di kampus. Kita berdua juga sering sarapan bareng di kampus kan sama anak-anak? Kamu jangan mudah terpancing sama Jin Dasim dong. Kamu sendiri juga tahu seperti apa teman kamu dulu.”

“Aku sering cerita tentang Bintang, kenapa kamu masih menemuinya saat reuni? Kesempatan banget ya Mas? Karena aku nggak datang? Kamu kan tahu aku nggak datang ke reuni karena aku malas jadi bahan pertunjukan fitnah anak-anak. Eh kamunya malah bertingkah!” Arumi sedikit mendorong Ary dan berniat berjalan ke luar kamar untuk mengerjakan hal lain.

Ary tidak membiarkan Arumi menjauh. Dengan gerakan tegas namun penuh kasih, ia menarik Arumi ke dalam pelukannya. Kali ini ia memegang kedua lengan Arumi, mengunci tatapan istrinya agar melihat kejujuran di matanya.

“Dek, lihat aku.” Ary berbisik. “Tidak sekalipun aku tertarik dengan perempuan lain. Aku hanya mencintaimu. Hanya kamu. Pesan dari cewek yang bernada menggoda tak pernah sekalipun kubalas. Lihat baik-baik Dek. Periksa historynya, kamu boleh bongkar hapeku semau kamu.”

Arumi hanya menunduk di depannya.

Wanita itu sudah melihat yang dikatakan Ary. Tak ada balasan sama sekali dari pria ini. Tapi perempuan-perempuan itu tidak dibalas malah semakin gencar, semakin penasaran. Pun Ary tetap pada pendiriannya, hanya membalas yang berhubungan dengan pekerjaannya saja.

Ary mengelus kedua lengan istrinya, mencoba meredakan getaran amarah di sana. Ia menunduk, mengecup kening Arumi dengan durasi yang lama, seolah ingin menyalurkan seluruh ketulusannya melalui kecupan itu.

"Sepuluh tahun ini, hanya kamu yang ada di benakku. Kepentingan yang lain nomor dua, termasuk anak-anak dan ibu. Kamu pusat duniaku, Dek," Ary berucap lirih namun mantap. "Logikanya sederhana saja, aku ini dosen keuangan. Aku tahu hitung-hitungannya. Semua gajiku masuk ke rekeningmu. Semua aset rumah ini, kendaraan, semuanya atas namamu. Kalau aku selingkuh, aku ini bodoh. Aku bakal berakhir tinggal di kolong jembatan karena kamu bisa mengusirku kapan saja."

Arumi tertegun. Argumen pragmatis suaminya selalu berhasil meruntuhkan pertahanannya.

"Kamu adalah tempatku pulang dan satu-satunya tujuanku bekerja keras setiap hari," lanjut Ary lagi, kini jempolnya menghapus air mata yang mulai luruh di pipi Arumi. "Jangan biarkan pesan sampah dari wanita yang kehilangan arah merusak apa yang kita bangun selama ini."

Arumi terenyuh. Ia tahu suaminya bukan pria yang suka mengobral janji. Ary adalah pria yang membuktikan cinta lewat tindakan dan kepatuhan finansial yang luar biasa. Ia mengangguk lemah, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Ary, menghirup aroma parfum maskulin yang selalu menenangkannya.

"Aku percaya, Mas... tapi aku sakit hati," gumam Arumi di balik dada Ary. "Aku mau labrak si Bintang habis ini.”

Ary terkekeh, suara tawanya yang renyah memenuhi kamar. Ia merasa gemas. Ia menjauhkan sedikit tubuh istrinya, lalu mencubit kecil pipi Arumi yang merah merona karena marah. “Itu namanya kamu cari masalah sendiri. Udah enak-enak tenang-tenang aja biar saja dia kebakaran jenggot memikirkanku. Aku akan post status WA pas kita anniversary 10 tahun saja. Gimana?”

Mata Arumi langusng berbinar. “Benar mas? Post story WA? Hihihi, boleh!” sahutnya bersemangat.

Ary menunduk untuk mencium bibir Arumi, namun kegiatan romantis mereka terganggu dengan...

“MAH!!”

Brak! Rian (17) membuka pintu kamar. Anak sulung sambungnya ini menatap kedua orang tuanya dengan wajah panik, “Kaos kakiku nggak ada!! Padahal tadi aku pegang dua-duanya, meleng dikit, satunya ilang!!”

Lalu bunyi seseorang menuruni anak tangga.

Dug! Dug! Dug!

“Buku pe-er ku ada yang liat nggaaaaak? Bukunya merah ukuran A5 didalamnya ada pulpen kejepit!? Suara Aryo (15), si anak bungsu yang juga sedang heboh.

“Ada setan kali ya di rumah? Aku inget banget aku pegang dua-duanya loh!!” seru Rian.

“Dimana seh!? Udah jam segini nggak usah cari masalah deh! Harusnya emang dikeluarin undang-undang No. PR-PR ya!!” Aryo mengomel sendiri tapi sambil bikin seisi rumah berantakan karena mencari buku PRnya.

Akhirnya Aryo hanya bisa menghela nafas pendek dan mengecup kening Arumi dengan lembut. “Berangkat dulu ya Dek,”

“Hmmmh kenapa nggak cuti ajaaa?” rajuk Arumi, ditengah-tengah anak-anaknya yang masih teriak-teriak heboh.

Ary mencubit ujung hidung Arumi, “Ya sudah, nanti aku Pulang Cepat. Oke?”

Ia berjalan ke arah motornya yang terparkir di ruang tamu.

“Nggak naik mobil aja mas?” tanya Arumi.

“Biar lebih cepat. Kalau naik mobil kapan sampainya? Hari ini ada kelas pagi. Kan malu kalau malaikatku datang lebih dulu.”

“Eh? Malaikat?”

Ary terdiam, lalu mengernyit. “Eh? Mahasiswa.” Ia terkekeh menyadari kesalahannya. “Ini gara-gara efek 3 hari dicemberutin malaikat di rumah.” Ia mencubit pipi Arumi.

“Ih... si Mas-“

“Kita ruqyah aja rumah ini kali?!” seru Rian sambil mencoba mencari kaos kakinya.

Arumi mencibir sambil menatap Rian dan Aryo. “Yan, kamu nggak sadar kamu pake kaos kaki dua di kaki kanan hah?! Hey Aryo! Kamu cari buku di dalam ricecooker? Nggak kepikiran cari di atas kulkas? Kamu yang taro sendiri waktu kamu cari beng-beng di dalam freezer!”

Hening sesaat karena dua kakak beradik itu fokus ke lokasi yang dimaksud. Lalu, “Hehehehehe!” keduanya menyeringai berbarengan saat menemukan barangnya.

“Makanya jangan hape terooos!” seru Arumi kesal sambil menoyor dahi Rian.

“Apa hubungannya-“

“Ssst!” Ary langsung menghentikan protes anak-anaknya sambil menggelengkan kepalanya menyeringai. “Udah sana berangkat, nanti gerbangnya keburu ditutup.”

“Oke Ayaaaaah!” sahut mereka sambil mencium tangan Ary.

1
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
aku jadi Arumi mending cuma tau duit nya ajalah🤣🤣🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
kok bisa ya bintang kayak gitu, trauma apa yg membentuk dia seperti itu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
bintang gak selamanya jadi bintang kan..
Lempongsari Samsung
makasih upnya maddam❤❤❤❤❤❤
HilVi Tanurahardja💋
tonyyyy, no no no no ya☝🏻
HilVi Tanurahardja💋
😆😆😆😆
HilVi Tanurahardja💋
betul, guru jg begitu
HilVi Tanurahardja💋
semoga GK ketemu 2 lagi ya rum, ngeri banget ih
mamaqe
mamaq mumet tau duit ajalah😅🤣🤣
Atala Putri
hadir madam💪 tak tunggu up mu
Naftali Hanania
26thn dah melesat kayak komet 😍👍
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖
Miss F
Rangga pelukable loh rum,,MW rasain g??🤣🤣
Leni Pur indah sari
sudah tergoda belum mba arumi??🤭🤭
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
weew ... selalu emejing tulisan madam 🤩🤩🤩🤩
Reni
Gimana Rum, Rangga emang se mempesona itu, gk heran banyak demit ganjen berkeliaran di kantor kan? tuh, biang demitnya si Bintang baru aja di amankan🤭
Siti Rohmah
mantap
Eni Istiarsi
kalo mau cari bacaan yang all in ya disini. ini udah kayak ruang publik yang one stop service.dapet hiburan, dapet ilmu, dapet realita hidup
Eni Istiarsi
mulai bergeser penilaian Arumi ke Rangga🤭
Dede Maesaroh
lanjut madam😍
virdarizki / ig vindy yuliana1
recomend banget semua novel kamu ka beda dari yg lain, ga bosen² baca nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!