Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
"Dian, Dian... Dimana kamu." Teriak pak Edo yang baru pulang kerja.
"Kenapa sih mas, datang-datang ribut begitu."
Pak Edo segera menceritakan kejadian sebenarnya pada bu Lani, istrinya. Keheningan datang setelah pak Edo selesai bercerita namun setelah itu suara pak Edo kembali terdengar memanggil Dian.
Sebenarnya Dian malas untuk turun namun, suara pak Edo yang sangat berisik itu sungguh menganggu nya.
"Iya pa, ada apa?"
"Malam ini kita ada pertemuan penting, kita bertiga akan makan malam bersama pak Joshua."
"Rekan bisnis baru papa itu, yang kata papa usianya masih muda? Ada acara apa dia mengundang kita untuk makan."
"Kami berencana akan menjodohkan kalian."
"Apa? Tidak mau."
"Saya tidak membutuhkan pendapatmu. Ikuti saja apa yang saya katakan."
"Pokoknya aku tidak mau. Kalau mau, jodohkan saja putri kalian dengan dia."
Bu Lani berjalan menghadap Dian dan tangannya langsung menampar wajah Dian.
"Ingat, itu sudah menjadi kewajiban mu untuk selalu menuruti kata-kata kami. Tidakkah kamu berpikir, bahwa kamilah yang sudah mengangkat mu dari tumpukan sampah, serta membantu hidupmu selama ini. Jadi jangan pernah menyebut putriku, dengan mulut kotormu itu. Karena kalian tidak sederajat." Kata bu Lani dengan emosi.
"Ingat Dian kamu sudah membuat kesepakatan dengan saya. Dan kamu harus menuruti apapun perkataan saya. Kalau tidak, kamu akan tahu apa akibat dari melawan perintah saya." Lanjut pak Edo.
"Ck, kalian hanya bisa mengancam. Aku juga sudah sangat membantu kalian. Bukan kah kita impas. Dan aku tidak ingin hidupku juga diatur sama kalian."
"Saya tidak peduli, pokoknya malam ini kamu harus ikut. Kalau kamu tidak mau, adikmu itu akan kami lempar ke jalanan."
"Hah," Dian menarik nafas berat.
"Sampai kapan kalian akan menyembunyikan putri kalian itu. Apa mungkin tunggu dia tua dulu, baru kalian akan mengungkap nya." Kata Dian dengan kesal, setelah itu dia kembali ke kamarnya tanpa mempedulikan teriakan mereka.
Bu Lani begitu kesal melihat tingkah Dian.
"Tuh kan pa, mama sudah bilang kalau anak seperti dia tidak pantas masuk ke dalam keluarga kita. Sudah di tolong malah bertingkah."
"Biarkan saja ma. Dia masih berguna buat kita. Lagian selama ini berkat dia perusahaan kita semakin jaya. Dan untuk itu, aku ingin bisa memiliki akses yang lebih besar lagi untuk perusahaan kita. Dan Joshua adalah seorang pengusaha muda nomor satu di kota ini, bahkan di luar negeri."
"Kalau kamu mau, kan kita bisa jodohkan dengan putri kandung kita."
"Ma, Anisa adalah putriku satu-satunya. Aku tidak mau dia sampai kenapa-napa. Apalagi kamu tahu sendiri kalau musuhku banyak, dan mereka pernah mengancam keselamatan putriku sewaktu dia masih kecil dulu. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi lagi."
Di dalam kamar Dian meratapi hidupnya. Sungguh sangat miris. Seandainya sewaktu kecil dia tidak termakan omongan dari kedua orang itu, mungkin dia akan hidup bebas bersama sang adik walaupun penuh kemiskinan. Ia teringat akan masa di mana dirinya baru berumur 10 tahun dan harus mengurus adiknya yang berusia sekitar 3 tahun 2 bulan. Ibunya meninggal karena terkena penyakit. Ia sendiri pun tidak tahu apa penyakit sang ibu, karena mereka tidak punya uang untuk bisa membawa sang ibu ke rumah sakit. Sedangkan sang ayah, memilih lepas tangan, dan meninggalkan mereka sewaktu adiknya masih di kandungan.
Setelah kepergian sang ibu, hidupnya dan sang adik selalu berpindah-pindah. Karena mereka diusir dari kontrakan yang pernah ditempati. Bahkan saat akan memulung dia selalu membawa adiknya bersama dalam gendongnya. Tiba-tiba suatu hari saat adiknya mengalami sakit yang parah dan pingsan di jalan. Dalam keadaan bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, seorang pria asing menawarkan bantuan untuk dibawa ke rumah sakit. Merasa bahwa Tuhan telah menolongnya lewat pria tersebut, Dian menerima ajakannya tanpa berpikir panjang. Sang pria memang membantu biaya rumah sakit serta menebus obat, tetapi ia menghasut Dian dengan sebuah tawaran untuk menjadi anak angkatnya. Dian yang sempat menolak dibujuk dengan iming-iming akan membantu menemukan keluarga yang bisa membantu adiknya. Mengingat dirinya telah kehilangan sang ibu yang menderita sakit tanpa perawatan, akhirnya ia menerima tawaran tersebut karena takut adiknya mengalami hal yang sama.
Orang tersebut membawanya menghadap pak Edo dan sang istri. Istri pak Edo menatap sinis pada Dian yang saat itu usianya juga masih kecil. Bu Lani sempat menolak saat mengetahui pak Edo akan mengangkat nya menjadi anak mereka di publik, menggantikan Anisa. Namun pak Edo bersikeras, jadi mau atau tidak bu Lani harus menerima keputusan suaminya itu.
Pak Edo akhirnya membantu Dian menemukan sebuah keluarga untuk adik laki-laki nya. Bahkan ia diminta untuk menyeleksi sendiri, dan ia menemukan satu keluarga yang pantas, karena mereka tidak mempunyai anak sama sekali. Jadi mereka menerima dan mencintai adik Dian dengan sepenuh hati. Hanya sayang, sang adik di bawah keluar negeri, dan sampai sekarang ia tidak pernah bertemu dengannya.
Kini Dian duduk bersama pak Edo dan bu Lani beserta Joshua di sebuah restoran mahal dan terkenal di kota tersebut.
"Pak Joshua, kenalkan ini putri saya." Kata pak Edo memberi isyarat pada Dian untuk berjabatan tangan.
"Hai. Joshua." Joshua mengulurkan tangannya mengajaknya berkenalan.
"Dian." Kata Dian datar.
"Salam kenal pak Joshua." Dian membalas jabatan tangan tersebut dengan memasang senyum palsunya.
"Tidak perlu memanggil saya pak, panggil Joshua saja. Apalagi sebentar lagi saya akan menikah dengan kamu."
Dian sedikit geli mendengar perkataannya.
Siapa yang mau menikah dengan mu. Aku dipaksa.
"Oh baiklah,"
"Dian mau makan apa?" Tanya Joshua.
"Terserah saja." Jawaban ketus Dian membuat pak Edo dan bu Lani gugup.
"Begini Joshua, terserah saja mau dipesankan apa, soalnya Dian sudah makan dari rumah tadi."
"Oh begitu, sayangnya. Tapi nggak apa-apa kok kalau Dian sudah kenyang dan nggak mau makan lagi."
"Aku akan makan, jadi pesan saja."
Joshua memanggil pelayan untuk menyiapkan makanan. Berbagai macam menu disuguhkan padahal mereka cuman 4 orang saja. Dian merasa sangat suntuk berada di ruangan tersebut, karena pembahasan kebanyakan mengenai masalah kantor meskipun Joshua sempat menanyakan tentang aktivitas maupun hobby Dian. Saat pamit pulang Dian begitu tak sabaran, karena ingin terlepas dari mereka.
"Sampai ketemu lagi Dian."
"Ah iya." Dian terlihat seperti orang bodoh, mencoba untuk tersenyum tapi hatinya tak ingin.
Saat dalam mobil pak Edo marah-marah pada Dian, karena sikapnya.
"Hampir saja, kamu membatalkan perjodohan kalian."
"Ya, baguslah kalau begitu."
"Dian!" Teriak pak Edo tak terima.
"Makin lama kamu makin ngelunjak ya. Saya memang memberikan kebebasan untuk kamu, tapi ingat saya ini tuan kamu, jadi kamu harus patuh pada setiap perkataan saya."
Pak Edo menghentikan mobilnya.
"Turun kamu, saya tidak ingin berada satu ruang denganmu." Kata pak Edo didukung oleh istrinya.
"Saya juga tidak mau, dasar munafik tahu begitu di tempat tadi kalian ngomong kayak gini."
Dian keluar lalu membanting pintu mobil dengan sangat keras.
"Pergi sana!"
Bu Lani sempat melirik nya dengan tatapan yang masam, sebelum akhirnya mobil mereka meninggalkan Dian di pinggir jalan yang sepi.