Nayla, istri CEO dingin Arga, mendapat dua pukulan sekaligus: diagnosis kanker lambung dan foto kehamilan dari Chika, mantan kekasih suaminya. Tiga tahun menikah tanpa pengakuan publik, Nayla memilih pergi dan menandatangani cerai tanpa tuntutan. Arga yang tadinya acuh mulai panik saat tahu foto itu palsu. Ia ingin memperbaiki, tapi Nayla sudah terlalu lelah. Akankah Arga bisa merebut istrinya kembali, atau cinta mereka benar-benar mati sebelum Nayla melawan sakitnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1
Hari itu, Nayla keluar dari ruang dokter dengan langkah yang terasa bukan miliknya.
Koridor rumah sakit swasta di Kuningan itu bersih, dingin, dan terlalu terang. Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah lelah, ada yang menggenggam hasil lab, ada yang menuntun orang tua, ada yang memeluk anak kecil. Semua bergerak. Hanya Nayla yang seolah tertinggal di satu titik.
Kertas di tangannya bergetar.
Ia sudah membaca tulisan itu berkali-kali, tapi huruf-hurufnya tetap seperti pisau.
Karsinoma lambung stadium lanjut.
"Mbak Nayla," suara dokter tadi masih menempel di telinganya, pelan namun tak mungkin disalahpahami. "Kami menyarankan pemeriksaan lanjutan secepatnya. Jangan menunda. Semakin cepat ditangani, semakin baik."
Jangan menunda.
Bagaimana cara seseorang tidak menunda ketika hidupnya baru saja dijatuhkan dari lantai paling tinggi?
Nayla berdiri di depan lift cukup lama sampai seorang perawat menegurnya dengan sopan.
"Mbak, mau turun?"
Nayla tersadar. "Iya. Maaf."
Ia masuk ke lift. Di dalam, ada ibu hamil dengan suaminya. Pria itu memegang tas istrinya, sesekali mengusap punggung perempuan itu, lalu bertanya, "Mual lagi?"
Perempuan itu mengangguk manja. "Sedikit."
"Nanti kita beli bubur dulu, ya. Dokter bilang kamu jangan telat makan."
Nayla menunduk.
Tangannya yang menggenggam hasil pemeriksaan terasa makin dingin.
Tiga tahun menikah dengan Arga, tak pernah sekali pun lelaki itu bertanya dengan nada seperti itu.
Arga Pradipta, CEO Pradipta Group, suami yang namanya hanya tercatat di buku nikah dan beberapa dokumen keluarga. Di kantor, Nayla adalah asisten eksekutifnya. Di rumah, ia istri yang menunggu pulang, menyiapkan jadwal, mengingatkan obat maag, memilihkan dasi, menutup pintu kamar ketika Arga bekerja sampai pagi.
Di luar, tak ada yang tahu.
Nayla pernah bertanya, sekali saja, setahun setelah mereka menikah.
"Mas, kapan aku boleh dikenalkan sebagai istrimu?"
Arga waktu itu sedang membaca laporan. Ia bahkan tidak mengangkat wajah.
"Belum waktunya."
"Kapan waktunya?"
"Kalau semua sudah aman."
Aman.
Kata itu menjadi pagar yang mengurungnya selama tiga tahun.
Lift berhenti di lantai dasar. Nayla keluar dengan kepala ringan. Ia tidak sanggup menunggu sopir. Ia berjalan keluar rumah sakit, melewati pintu kaca otomatis, lalu duduk di bangku dekat halte kecil di depan gedung.
Jakarta siang itu panas. Klakson terdengar berlapis-lapis dari jalan. Di kejauhan, penjual kopi keliling berhenti di bawah pohon, menawarkan minuman pada satpam.
Nayla menatap hasil lab lagi.
Ia baru dua puluh tiga tahun.
Baru dua puluh tiga, tapi tubuhnya sudah seperti menandatangani surat pamit.
Ponselnya bergetar.
Nayla mengira itu Arga.
Untuk sepersekian detik, harapan bodoh itu naik begitu saja. Mungkin Arga akhirnya ingat ia izin ke rumah sakit hari ini. Mungkin Mas Arga bertanya hasilnya. Mungkin, untuk sekali ini, ia boleh menjadi istri yang dikhawatirkan.
Namun nama yang muncul bukan Arga.
Chika Larasati.
Nayla menatap layar lama.
Nama itu tidak pernah disimpan olehnya. Nomor itu pernah menghubunginya sekali, beberapa bulan lalu, saat Chika baru pulang dari luar negeri. Perempuan itu bicara sopan, terlalu sopan, meminta jadwal kosong Arga seolah Nayla hanyalah pegawai yang memegang kalender.
Pesan masuk lagi.
Chika mengirim foto.
Nayla membukanya.
Hasil pemeriksaan kehamilan.
Nama pasien: Chika Larasati.
Usia kehamilan: 7 minggu.
Di bawah foto itu, pesan lain masuk.
Chika:
Mbak Nayla, aku tahu ini mengejutkan. Tapi aku rasa Mbak berhak tahu.
Pesan berikutnya menyusul.
Chika:
Mas Arga sudah tahu. Dia ingin anak ini lahir. Selama ini Mbak pasti paham kenapa pernikahan kalian tidak pernah diumumkan. Tolong jangan mempertahankan sesuatu yang memang sejak awal tidak ingin dia akui.
Nayla tidak berkedip.
Chika:
Aku tidak ingin mempermalukan Mbak. Aku cuma ingin anakku punya ayah. Kalau Mbak masih punya harga diri, lepaskan Mas Arga baik-baik.
Orang-orang di halte masih bergerak. Seorang ibu memarahi anaknya karena berlari terlalu dekat ke jalan. Seorang ojek online bertanya alamat pada calon penumpang. Dunia tetap normal, seolah dada Nayla tidak sedang dibelah.
Ia memperbesar foto itu.
Nama Chika jelas.
Tanggal jelas.
Logo klinik jelas.
Nayla menatap hasil pemeriksaannya sendiri, lalu foto yang dikirim Chika.
Ia tertawa pelan.
Suara itu keluar begitu saja. Kering, pendek, dan asing.
Ternyata begini caranya Tuhan bercanda.
Hari ini ia diberi tahu bahwa hidupnya mungkin tidak lama lagi. Di hari yang sama, cinta lama suaminya memberi tahu bahwa ia sedang mengandung anak Arga.
Tiga tahun ia hidup di rumah yang namanya tidak pernah sungguh-sungguh menjadi rumah. Tiga tahun ia menelan semua gosip kantor, semua tatapan merendahkan, semua pertanyaan kenapa seorang asisten muda selalu ikut CEO sampai larut. Tiga tahun ia menyembunyikan cincin, menyembunyikan nama keluarga, menyembunyikan dirinya sendiri.
Dan balasan untuk semua itu adalah satu foto.
Satu foto yang mengatakan: kamu bukan siapa-siapa.
Ponsel Nayla bergetar lagi.
Chika:
Aku harap Mbak tidak membuat Mas Arga semakin membencimu. Dia sudah cukup lama menahan diri.
Nayla membaca kalimat itu berkali-kali.
Menahan diri?
Jadi selama ini Arga menahan diri darinya?
Ia menekan nomor Arga.
Nada sambung berbunyi lama.
Tidak diangkat.
Ia menelepon lagi.
Masih tidak diangkat.
Pada panggilan ketiga, akhirnya tersambung. Suara Arga datang datar, seperti biasa.
"Ada apa?"
Nayla membuka mulut, tapi suara tidak langsung keluar.
"Nayla?" Arga terdengar sedikit tidak sabar. "Aku sedang rapat."
Sedang rapat.
Tentu saja.
Selalu ada rapat. Selalu ada urusan lebih penting. Selalu ada dunia yang menempatkannya di pinggir.
"Mas," kata Nayla pelan. "Aku dari rumah sakit."
Hening sebentar.
"Kenapa?"
Satu kata.
Hanya satu kata, tapi Nayla hampir menangis karena akhirnya ia mendengar nada itu. Kecil. Hampir tidak ada. Mungkin ia hanya membayangkannya.
"Aku mau bicara malam ini."
"Kalau soal izin sakit, kirim saja ke HR. Kamu tahu prosedurnya."
Nayla menggenggam ponsel lebih erat. "Aku bicara sebagai istrimu."
Di seberang, Arga diam.
Diamnya lebih dingin daripada udara rumah sakit.
"Malam ini," ulang Nayla. "Pulanglah lebih cepat."
"Aku belum tentu bisa."
"Mas Arga."
Suara Nayla pecah sedikit.
Mungkin Arga mendengarnya. Mungkin tidak.
Lelaki itu hanya berkata, "Nanti aku kabari."
Panggilan terputus.
Nayla menurunkan ponsel perlahan.
Nanti aku kabari.
Kalimat itu terdengar seperti pintu yang ditutup dari dalam.
Ia menatap jalanan. Matanya panas, tapi air mata tidak turun. Ada sesuatu yang lebih kering daripada tangis di dalam dirinya.
Setelah beberapa menit, Nayla berdiri.
Ia menyelipkan laporan kanker ke dalam tas. Foto Chika masih terbuka di layar ponselnya, tapi ia tidak menatapnya lagi.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, Nayla tidak ingin menunggu Arga pulang.
Ia ingin pulang untuk mengambil napas terakhir dari rumah itu.
Lalu pergi.
Di taksi menuju rumah, Nayla membuka lagi layar ponselnya.
Tidak ada panggilan balik dari Arga.
Ia hampir menertawakan dirinya sendiri. Bahkan setelah diagnosis itu, bahkan setelah foto Chika, bagian paling bodoh dari hatinya masih menunggu satu tanda kecil dari laki-laki itu. Satu pesan. Satu kalimat. Satu bukti bahwa tiga tahun ini bukan hanya ia yang menganggap pernikahan mereka nyata.
Sopir bertanya lewat kaca spion, "Mbak, AC-nya terlalu dingin?"
Nayla baru sadar tangannya gemetar.
"Tidak, Pak. Sudah cukup."
Ia menyimpan ponsel ke tas, tepat di sebelah dua laporan yang saling menghancurkan: satu mengatakan ia mungkin akan mati, satu lagi mengatakan pernikahannya memang sudah mati lebih dulu.
Di lampu merah, Nayla melihat pasangan muda menyeberang sambil tertawa di bawah payung kecil.
Dulu ia pernah menginginkan hal sesederhana itu.
Bukan rumah besar.
Bukan nama Pradipta.
Hanya seseorang yang berjalan di sebelahnya tanpa membuatnya merasa disembunyikan.
Saat lampu berubah hijau, taksi bergerak lagi. Nayla menyandarkan kepala ke kaca dan membiarkan Jakarta lewat sebagai garis kabur.
Di dalam tasnya, ponsel kembali bergetar.
Kali ini hanya notifikasi bank, bukan Arga.
Nayla menutup mata.
Ia akhirnya berhenti berharap untuk satu perjalanan pulang itu.
tuh chika apa lgi yg kau pikirkan..singkirkan obsesimu