NovelToon NovelToon
HERE I AM "GHOST"

HERE I AM "GHOST"

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: chiechie kim

Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.

Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.

Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Pintas yang Tak Terduga

Pagi itu matahari baru saja memancarkan sinarnya, tapi Park Soo-jin sudah berjalan tergesa-gesa menyusuri trotoar. Napasnya terengah-engah, tas ransel tergantung longgar di bahunya, dan matanya terus melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Tidak boleh terlambat di hari kedua ini… tidak boleh,” gumamnya sendiri.

Dari kejauhan, ia melihat bus nomor 12 yang biasa ia tumpangi berhenti sebentar di halte. Wajahnya langsung berseri-seri, lalu ia mulai berlari sekuat tenaga. “Tunggu! Tolong tunggu sebentar!” teriaknya sambil melambaikan tangan.

Namun sopir bus rupanya tidak mendengar. Pintu tertutup rapat, dan kendaraan itu melaju perlahan meninggalkan halte, meninggalkan Soo-jin yang terhenti di tengah jalan dengan wajah kecewa. Ia menghela napas panjang, merasakan kepanikan mulai menyelinap. Jika terlambat, ia akan mendapat teguran, dan itu bukan hal yang baik untuk siswi baru yang masih ingin beradaptasi.

Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari jalan lain yang bisa dipakai. Di antara deretan bangunan tua di pinggir jalan, matanya tertuju pada sebuah gang sempit yang sepi, tertutup sebagian oleh tanaman rambat dan terlihat jarang dilalui orang. Papan petunjuk kecil yang hampir pudar tergantung di mulut gang: “Jalan pintas menuju kawasan sekolah”.

Tanpa berpikir panjang lagi, Soo-jin memutuskan untuk mencobanya. Ia melangkah masuk ke dalam gang itu, yang terasa lebih gelap dan dingin dibandingkan jalan raya utama. Suara langkah kakinya bergema di antara dinding-dinding bangunan yang berdekatan. Ia terus berlari, sesekali menyibakkan dahan atau daun yang menghalangi jalannya, berharap jalan ini benar-benar bisa mempersingkat waktu perjalanannya.

Belum jauh ia melangkah, sosok yang berdiri membelakangi cahaya di tengah jalan membuatnya terkejut. Ia hampir berteriak, sampai sosok itu berbalik dan menampakkan wajah yang dikenalnya. Ternyata itu adalah teman sekelasnya—seorang siswa laki-laki yang sering duduk di bangku belakang.

“Kamu kenapa ada di sini?” tanya siswa itu lebih dulu, tampak terkejut melihat kehadiran Soo-jin.

Soo-jin mengatur napasnya sebentar sambil menepuk dadanya yang berdebar. “Aku ketinggalan bus tadi. Sudah tidak ada cara lain, jadi aku masuk lewat gang ini.”

Siswa itu tersenyum kecil sambil mengangguk paham. “Oalah… Begitu ya. Kamu sering lewat jalan ini?”

“Baru pertama kali,” jawab Soo-jin. “Kamu sendiri?”

“Ya, ini jalan andalanku kalau terlambat sekolah. Lebih cepat dan tidak macet,” jawabnya santai.

Wajah Soo-jin langsung berseri mendengarnya. “Baguslah! Hayo, arahkan jalannya untukku, oke kawan!”

Sambil tertawa kecil, Soo-jin menepuk bahu temannya itu dan melanjutkan, “Ngomong-ngomong, aku belum sempat menanyakan namamu secara resmi. Siapa namamu?”

“Aku Lee Min-woo,” jawabnya sambil melangkah lebih dulu ke depan. “Ayo ikuti aku, sebentar lagi kita sampai di gerbang belakang sekolah.”

Lee Min-woo melangkah lebih cepat, menyibakkan ranting dan daun yang menjuntai menghalangi jalan. “Ikuti saja langkahku, jangan sampai tersandung ya,” ucapnya sambil menoleh sebentar.

Soo-jin mengikuti di belakangnya dengan napas yang masih teratur. Jalan setapak itu memang sempit dan agak licin di beberapa bagian, tapi ternyata lebih pendek dari yang ia bayangkan. Di sepanjang perjalanan, mereka hanya mendengar suara angin berdesir dan kicau burung dari pepohonan di atas dinding.

“Jangan khawatir, kita pasti sampai sebelum bel berbunyi,” kata Min-woo seolah membaca kegelisahan di wajah Soo-jin.

“Terima kasih banyak, Min-woo. Kalau tidak ada kamu, aku pasti sudah terlambat dan dapat teguran dari guru,” jawab Soo-jin dengan lega.

Tak lama kemudian, cahaya matahari mulai terasa lebih terang. Di ujung gang, terlihat sebuah pintu besi tua yang tertutup sebagian oleh tanaman rambat. Min-woo mendorongnya perlahan, dan pintu itu terbuka dengan bunyi berderit pelan.

“Ini dia—gerbang belakang SMA Haneul,” katanya sambil melangkah keluar.

Begitu melangkah masuk ke halaman sekolah, mereka mendengar suara bel pertanda masuk kelas berbunyi tepat pada waktunya.

TING TONG TING TONG

Mereka berdua saling pandang, lalu tertawa lega. “Lihat kan? Pas sekali waktunya,” ujar Min-woo sambil memperbaiki kerah seragamnya.

Soo-jin menghela napas panjang sambil tersenyum lebar. “Benar-benar jalan penyelamat. Terima kasih sudah menuntunku.”

Mereka berdua segera berjalan cepat menuju gedung kelas. Saat melintasi koridor yang mulai dipenuhi siswa lain, Soo-jin merasa ada sesuatu yang membuatnya penasaran. Ia melihat sekilas ke arah papan pengumuman di ujung lorong—ada secarik kertas yang tertempel di sana, tertutup sebagian oleh pemberitahuan lain.

Namun belum sempat ia melihat lebih jelas, suara guru yang memanggil dari depan kelas membuatnya segera melupakan rasa penasarannya itu untuk sementara waktu. Hari di sekolah pun dimulai dengan aman, meski di dalam hatinya, perasaan bahwa hari ini belum selesai terus terasa samar.

Jam pelajaran terakhir pun berakhir. Suasana kelas mulai riuh saat siswa-siswa berkemas pulang. Soo-jin berjalan santai menuju lorong utama, matanya tak sengaja tertuju pada papan pengumuman yang tadi sempat menarik perhatiannya.

Ia mendekat, lalu menyibakkan kertas-kertas pemberitahuan lain yang menutupi bagian atasnya. Tertulis dengan huruf tebal yang agak pudar, namun tetap terbaca jelas:

LOWONGAN ANGGOTA TIM PENGAWAS KHUSUS

Wilayah tugas: Seluruh area SMA Haneul dan lingkungan sekitarnya

Tugas: Menjaga ketenangan serta menangani gangguan tak wajar

Bayaran: Sangat besar, dibayarkan setiap minggu tanpa potongan

Bagi yang berminat, hubungi nomor di bawah ini...

Jantung Soo-jin berdegup kencang. Gaji yang tertera dalam keterangan itu nilainya jauh di atas pekerjaan paruh waktu biasa—jumlah yang bisa menutupi biaya sekolah dan obat ayahnya selama berbulan-bulan. Tanpa ragu, ia segera mengeluarkan buku catatan dan pulpen, bersiap menuliskan nomor telepon yang tertera di bagian bawah.

Namun sebelum ujung pulpennya menyentuh kertas, sebuah tangan tiba-tiba menjulur dari samping dan dengan cepat merobek lembaran pengumuman itu tepat di depan matanya.

KRAK!

Soo-jin terkejut dan menoleh. Ternyata itu adalah Lee Min-woo, yang berdiri di sampingnya dengan wajah serius, tidak lagi terlihat santai seperti tadi pagi.

“Min-woo? Kenapa kamu merobeknya? Aku belum sempat mencatat nomornya!” seru Soo-jin dengan nada kecewa dan bingung.

Min-woo menggenggam potongan kertas itu di tangannya, matanya menatap lurus ke mata Soo-jin dengan pandangan yang tegas namun mengandung peringatan.

“Jangan pernah melamar pekerjaan ini, Soo-jin,” ucapnya pelan namun tegas. “Ini bukan pekerjaan biasa yang bisa diambil sembarangan orang. Bayarannya memang terlihat sangat menggiurkan, tapi resikonya jauh lebih besar daripada apa pun yang bisa kamu bayangkan.”

Soo-jin mengerutkan kening, perasaannya semakin penasaran sekaligus kesal. “Tapi kenapa? Apa sebenarnya pekerjaan ini? Tulisan di situ hanya menyebutkan menangani gangguan tak wajar. Itu artinya apa?”

Min-woo melirik sekelilingnya untuk memastikan tidak ada siswa lain yang mendengar, lalu mendekatkan badannya sedikit. “Nanti kamu akan tahu sendiri jika terlalu mendekatinya. Percayalah padaku—jangan cari nomor itu, dan jangan pernah berpikir untuk mendaftar. Pekerjaan ini disebut menjadi pemburu hantu sekolah, dan tidak semua orang bisa keluar darinya dengan selamat.”

Ia melangkah pergi meninggalkan Soo-jin yang masih terpaku di tempat, menyisakan potongan kecil kertas yang tertinggal menempel di papan pengumuman. Soo-jin menatap sisa kertas itu, rasa penasarannya justru semakin membesar, ditambah kebutuhan biaya yang terus mendesak. Apa sebenarnya bahaya yang disembunyikan di balik gaji besar itu?

1
chie_bapeer
❤️❤️❤️
chie_bapeer
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!