Hidup Lylac yang datar tapi penuh perjuangan karena orangtuanya yang miskin, berubah total ketika tak sengaja ia bertemu hantu cantik Mika, di gudang sekolah saat ia ingin sendiri.
Mika terus merengek pada Lylac untuk mendekati Evan, Anak basket yang populer. Itu idolanya dulu saat masih hidup. ini membuat Lylac harus berhadapan dengan Angel geng cewek cantik dan populer yang merasa kesal melihat Lylac ada disekitar Evan dan Evan meresponnya. Padahal Lylac hanya disuruh Mika, hantu cantik itu.
Baca dan lihat bagaimana Lylac yang malas mengurusi orang malah bertemu dengan geng cowok dan cewek paling populer itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1 Kantin
Kantin SMA 27 di jam istirahat kedua.
Di siang hari yang terik adalah waktu yang pas untuk menyeruput es. Apalagi ditambahi makanan berat untuk mengisi perut yang lagi kosong. Bikin mata mereka yang tadi melek merem sekarang cengar.
Namun untuk Lylac, gadis berusia tujuh belas tahun itu tidak menikmati es dan baksonya. Ia juga tampak seperti anomali di tengah banyak anak-anak yang sibuk bersosialisasi.
Wajahnya tegas dan manis. Sangat alami, karena sama sekali tidak tersentuh oleh bedak maupun polesan lipstik jenis apa pun. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai sedikit berantakan, membingkai wajahnya yang ditekuk masam.
Matanya yang tajam lurus menatap layar ponsel di genggamannya. Namun, jika ada yang jeli memperhatikan, layar ponsel itu tidak benar-benar dilihat.
"Lylac, ih! Kamu dengerin aku nggak, sih? Lihat deh, itu Evan baru aja duduk! Ya ampun, ya ampun... lihat keringat di dahinya pas habis main basket itu! Mengkilapnya pas kena sinar dari cahaya matahari. Buruan samperin, Lylac! Kasih tisu atau minimal botol minum gitu!"
Suara itu melengking tinggi, tepat di sebelah telinga kiri Lylac.
Dia anak SMA?
Ya.
Dia cantik?
Ya.
TAPI DIA BUKAN MANUSIA. DIA HANTU.
Namanya Mika, sosok hantu gadis SMA yang mengenakan seragam dari angkatan satu tahun lalu.
Kontras dengan Lylac yang super cuek, Mika adalah definisi dari makhluk yang kelewat aktif. Dia melayang-layang dengan posisi jungkir balik, rambut tergerai indah seperti habis dari salon bergoyang-goyang bebas di udara.
Suara Mika hanya bisa didengar oleh Lylac, dan frekuensinya benar-benar lebih merusak telinga kalau sedang bawel.
"Diem, Mika," desis Lylac sangat pelan. Rahangnya mengeras, berusaha sekuat tenaga agar bibirnya tidak terlihat bergerak oleh murid-murid di meja sebelah.
"Enggak mau! Enak aja suruh diam! Kamu udah janji minggu lalu mau bantuin aku, ya! Jangan amnesia mendadak deh," cerocos Mika lagi.
Kini dia melayang turun, memosisikan wajah pucatnya yang sebenarnya cukup imut dan centil itu tepat beberapa sentimeter di depan wajah Lylac.
"Ayo dong, Lylac sayang... cuma kasih salam doang kok. Kamu tinggal jalan ke sana, pasang muka senyum. Intinya samperin aja, terus bilang, 'Hai Evan, permainan basket kamu keren banget deh hari ini'. Gitu aja! Gampang, kan?" Mika kasih tutorial.
Lylac menarik napas dalam-dalam. Lalu menghembuskan perlahan.
"Aku lagi makan. Jangan pancing emosi," pinta Lylac.
"Makan apa? Orang dari tadi bakso kamu cuma diaduk-aduk doang sampai kuahnya dingin!" Mika mencibir, lalu terbang melesat mendekati meja panjang di tengah kantin, tempat Evan dan anggota tim basketnya berkumpul.
"Ly! Dia lagi minum tuh! gila... ganteng banget! Cepat! Sekarang waktu yang pas sebelum dia dikerumuni sama geng cewek centil yang lain! Kalau kamu nggak gerak sekarang, aku bakal nyanyi."
Mika kembali melayang cepat ke arah Lylac, mendarat dengan posisi duduk di atas meja, tepat di samping mangkuk bakso Lylac yang menganggur.
Hantu itu mulai mengambil ancang-ancang, menghirup udara gaib dalam-dalam, dan membuka mulutnya lebar-lebar siap mengeluarkan lengkingan maut yang paling dibenci Lylac karena berisik.
Batas kesabaran Lylac yang setipis tisu itu akhirnya runtuh. Seluruh pertahanan dirinya hancur berantakan tepat saat Mika baru saja mengeluarkan suku kata pertama dari nyanyiannya. Emosi yang sudah tertahan sejak jam pelajaran pertama meledak tanpa bisa dibendung lagi.
"TIDAK!"
Suara Lylac menggelegar dahsyat, membelah kebisingan kantin SMA 27 seperti hantaman petir di siang bolong. Volume suaranya begitu tinggi hingga mengalahkan dentum musik dari pengeras suara.
Seketika itu juga, kantin mendadak sunyi senyap.
Suasana yang tadinya mirip pasar malam langsung berubah seperti kuburan dalam hitungan detik. Gerakan puluhan murid yang sedang mengunyah bakso mendadak terhenti di udara.
Di meja tengah, Evan yang baru saja hendak meneguk air mineralnya mematung dengan botol yang masih menempel di bibir. Matanya melirik. Cowok cakep itu berkedip bingung, saat memalingkan wajahnya ke arah sumber suara.
Ratusan pasang mata kini tertuju lurus pada meja di pojok belakang. Semua orang menatap Lylac dengan kombinasi tatapan antara terkejut, bingung, dan ngeri.
Lylac bisa mendengar bisik-bisik yang mulai merayap di antara keheningan itu.
Sialan.
"Dia... teriak sama siapa?" tanya Angel di meja tengah merasa terusik. Dia siswi populer disekolah. Anaknya cantik dan kaya.
"Nggak tahu. Kan dari tadi dia duduk sendirian di situ." Uli mencibir.
"Hiii... serem. Fix, makin aneh aja itu cewek. Mirip orang stres, sering ngomong sendiri," imbuh Nia.
"Iya, dia kan si cewek aneh itu," pungkas Wiwik.
Lylac merengut, merasakan sensasi panas yang menjalar di sekitar telinga dan wajahnya. Dia malu luar biasa!
Ujung matanya melirik tajam. Memberikan tatapan membunuh ke arah Mika. Namun, hantu tidak tahu diri itu justru sedang menutup mulut dengan kedua tangannya sendiri, berakting dengan mata membulat seolah-olah dia juga ikut terkejut dengan teriakan Lylac tadi.
"Wah, gila... suara kamu kencang banget, Ly," bisik Mika tanpa dosa.
Tanpa membalas ucapan Mika, Lylac langsung berdiri tegak. Membuat beberapa orang tersentak mundur ketika berpapasan dengannya.
Tanpa memedulikan nampan berisi bakso dan es teh manisnya yang bahkan belum sempat dicicipi, Lylac melangkah lebar meninggalkan area kantin.
Aura di sekeliling tubuhnya begitu pekat dan menyeramkan, membuat murid-murid yang kebetulan berdiri di jalur jalannya langsung buru-buru menepi, memberi jalan seolah takut tersenggol oleh singa yang sedang mengamuk.
Di belakangnya, Evan sempat menurunkan botol minumnya. Mata elang sang kapten basket itu menatap punggung Lylac yang menjauh hingga menghilang di balik pintu kantin, menyisakan kerutan samar di dahinya yang penuh rasa penasaran.
"Dasar cewek aneh," ejek Jay.
"Jangan begitu, dia hanya lagi stres." Nuno menimpali.
"Kalian kenal?" tanya Evan karena teman-temannya tahu tentang gadis itu.
"Dia gadis hantu," ucap Niki. "Anak-anak sering menyebutnya begitu karena dia sering ngomong sendiri."
Evan mengangguk mengerti.
...----------------...
Lylac sampai di koridor gudang yang jarang dipakai. Hanya berisi kursi dan barang-barang usang yang belum dibuang.
Brak!
Lylac kesal akhirnya memukul pintu itu.
Debu-debu tebal yang menempel di engsel pintu beterbangan ke udara.
"Uhuk-uhuk!" Hantu sialan itu malah batuk-batuk.
Tempat ini adalah wilayah terlarang yang jarang dilewati murid lain karena mitosnya yang angker-pilihan sempurna bagi Lylac yang butuh privasi untuk meluapkan amarahnya.
Begitu memastikan situasi benar-benar aman dan sepi, Lylac berbalik dengan cepat. Jari telunjuknya teracung lurus, tepat mengarah ke hidung Mika yang baru saja menembus pintu kayu tanpa permisi.
"Kamu. Mau. Apa. Sih. Sebenarnya?!" Suara Lylac kali ini ditekan rendah, namun sarat dengan getaran amarah yang menuntut jawaban serius.