Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Malam itu hujan ringan membasahi kota, sebuah mobil berisi sepasang suami istri tengah membelah jalanan yang sedikit licin
"Mas lihat!" Hanna yang sibuk melihat tetesan air di jendela tidak sengaja melihat sosok wanita yang berlari dan dibelakangnya seorang pria mengejar
"Berhenti mas! Sepertinya dia perlu bantuan!" Hanna menepuk lengan suaminya
"Kita sebaiknya tidak ikut campur urusan orang lain sayang! Biarkan saja" Rizal hendak menginjak pedal gas namun Hanna mencegahnya
"Kita liat dulu mas! Sepertinya itu orang jahat" Hanna berusaha menghentikan suaminya "Mas, dia bawa anak kecil"
Rizal tidak bisa mengabaikannya, mobil menepi dan orang-orang itu menghampiri mobil mereka, Hanna terkejut saat wanita itu mengetuk kaca mobil mereka
Wanita itu terlihat kacau, wajahnya terdapat lebam dan tangannya tengah menggenggam tangan seorang anak kecil
Hanna hendak membuka pintunya namun sang suami mencegah "Kamu sedang hamil, tetap disini! Biar mas yang lihat"
Hanna menurut, ia tidak ingin terjadi sesuatu bagi kandungannya. Rizal keluar dan wanita itu menghampirinya
"Tolong saya mas!" Ucapnya dengan wajah ketakutan, tangannya mengatup didepan dada
"Sini Lo jala___ mau kemana lo hah?" Teriak pria berbadan besar dan membawa sebuah balok itu berteriak sambil menunjuknya dengan balok sepanjang setengah meter itu
"Ada apa ini?" Suara Rizal terdengar tenang
"Minggir Lo! Jala___ ini istri gue!"
"Anda kasar dengan seorang perempuan? harusnya sebagai suami anda menjaga mereka"
Pria itu terlihat kesal, ia melayangkan balok tersebut kearah istrinya namun Rizal menahannya dengan tangannya membuat Hanna yang berada didalam mobil berteriak
"Mas!"
Wanita dan anak kecil itu menutup mata, dengan mengendap Hanna keluar dari mobilnya sementara Rizal tengah memberi pelajaran bagi pria kurang ajar itu
"Mbak" Hanna bersuara pelan. Ia meminta wanita serta anaknya itu untuk masuk kedalam mobil
Ia lebih dulu memberikan sebotol air mineral pada wanita malang itu, dengan tangan gemetar wanita itu meraihnya. Dengan isak tangisnya ia lebih dulu memberikannya pada sang putra yang juga terlihat ketakutan
Setelah memastikan dua orang itu dalam keadaan baik, Hanna kembali melihat pada sang suami yang tengah berkelahi
Hanna terus berdoa agar suaminya baik-baik saja. Disana Rizal tengah melayangkan tinjunya secara bertubi-tubi pada pria yang bertubuh lebih besar darinya
"Hey!" Rizal mengumpat saat laki-laki itu berlari meninggalkannya. Harusnya ia mencegahnya agar membawanya kekantor polisi
Rizal masuk kedalam mobilnya, Hanna yang sudah ketakutan sejak tadi segera memeluk suaminya
"Kamu gak pa-pa mas? Apa ada yang terluka?" Cecarnya
"Mas baik-baik saja, kamu gak apa-apa kan? Apa bayinya baik-baik saja" Rizal mengusap perut istrinya yang sudah menginjak usia kehamilan tujuh bulan
"Kita pulang sekarang!"
"Emm.." Hanna menoleh pada ibu dan anak yang duduk dikursi belakang "Mbak sebaiknya ikut kami dulu! Takutnya nanti suaminya balik lagi!"
"Sa-saya ti-tidak ingin merepotkan" Suara wanita itu tersendat karena takut
"Tidak masalah mbak, mbak ikut kami dulu malam ini. Nanti kita pikirkan semuanya! Yang penting mbak sama anaknya bisa istirahat dulu!"
Tak ada pilihan lain, wanita malang itu setuju dengan tawaran dari wanita cantik yang baru saja menolongnya
"T-terima kasih mbak"
Hanna tersenyum menatap kebelakang "Tidak masalah mbak, siapapun pasti akan menolong mbak tadi"
Mobil melaju, sekitar dua puluh menit barulah mobil yang dikemudikan Rizal berhenti didepan sebuah rumah
Rumah dua lantai bergaya minimalis, Rizal tinggal bersama keluarga kecilnya. Istri serta seorang putra berusia enam tahun. Dirumah ini juga ada seorang asisten rumah tangga serta seorang supir
Hanna turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang dimana wanita malang yang baru saja ia tolong bersama putranya berada
"Ayo mbak!" Hanna tersenyum ramah
Wanita itu turun dengan perasaan takut, sementara itu Rizal telah berjalan lebih dulu untuk membuka pintu
Ini sudah larut malam, ia tidak ingin mengganggu waktu istirahat asisten rumah tangganya
"Sayang!" Serunya pada sang istri "Ayo!"
Hanna mengangguk, ia berjalan sambil menuntun wanita yang baru saja ia selamatkan. Wanita itu juga menggendong tubuh kurus anaknya yang sudah terlelap
"Kamu duluan ke kamar saja mas! Aku mau bawa mereka kekamar tamu sebentar!"
Rizal mengangguk, membiarkan istrinya mengurus wanita itu dulu. Tangannya juga sakit karena menahan balok kayu tadi
Sementara itu dikamar tamu, Hanna tengah membersihkan luka pada wajah wanita itu. Hanna juga memberikan pakaian miliknya serta milik putranya pada dua orang itu
"Mbak istirahat dulu! Saya juga sudah bawakan makanan, dimakan dulu mbak!"
"Terima kasih yaa mbak, saya tidak tahu bagaimana jadinya kalau tadi mbak sama masnya tidak ada" Ucapnya dengan tulus
"Oh iya mbak, saya Hanna!" Hanna mengulurkan tangannya
"Saya Arum"
"Ya udah mbak Arum, mbak istirahat dulu! Saya tinggal yaa"
Wanita bernama Arum itu mengangguk, sementara Hanna kembali ke kamarnya. Ia akan bertanya masalah Arum besok saja
Hanna membuka pintu dengan perlahan, ia pikir jika suaminya telah terlelap. Namun Rizal masih menunggu istrinya itu untuk kembali
"Sudah?" Tanya Rizal dan istrinya itu mengangguk
"Aku bersih-bersih dulu!" Hanna masuk kedalam kamar mandi lebih dulu. Ia tidak lama mengingat dirinya yang tengah berbadan dua
"Gimana tangan kamu mas?" Hanna ingat jika tangan suaminya terkena balok kayu yang tidak bisa dikatakan kecil
"Baik-baik saja, sedikit sakit sih" Rizal memperlihatkan tangannya yang sedikit bengkak
"Biar aku lihat dulu!" Hanna memeriksa tangan suaminya yang lebam "Ini bengkak mas"
"Biarin aja! Sebaiknya kamu istirahat! Kamu lagi hamil" Rizal hendak menarik tangannya lagi namun Hanna mencegahnya
"Biar aku kompres dulu!"
Hanna meletakkan handuk kecil yang sebelumnya telah direndam di baskom berisi air es
"Gimana?"
Rizal tersenyum, ia biarkan Hanna melakukan pekerjaannya lalu dirinya menatap wajah cantik itu
"Sudah! Sebaiknya kita istirahat! Besok mas ada pekerjaan yang penting. Ini juga sudah malam! Kamu juga harus tidur"
Hanna meletakkan kembali baskom itu diatas nakas, setelah itu barulah ia berbaring yang diikuti oleh Rizal
Pria itu memperbaiki selimut yang menutupi tubuh keduanya. Seperti biasa, Rizal akan mengusap perut yang sudah membuncit itu
"Selamat malam sayang" Rizal mengecup kening istrinya lalu memeluknya
"Selamat malam mas"
***
Seperti biasa, Hanna akan bangun sangat pagi untuk menyiapkan keperluan anak serta suaminya
Ia terkejut karena ternyata Arum telah berada disana. Wanita itu sibuk dengan kegiatannya memasak
"Arum? Kamu lagi ngapain?" Tanya Hanna, wanita yang sebelumnya sibuk dengan wajan itu menoleh
"Mbak Hanna, maaf yaa mbak. Saya pake dapurnya untuk siapin sarapan!" Ujarnya tidak enak hati
"Tidak apa-apa, saya pikir kamu harusnya masih istirahat Rum, kamu kan lagi sakit" Hanna dapat melihat jika usianya sedikit lebih tua dibandingkan wanita ini, mungkin hanya satu atau dua tahun
"Saya sudah lebih baik, ini juga karena mbak Hanna yang sudah merawat saya!" Arum benar-benar berterima kasih pada Hanna dan suaminya, jika mereka tidak ada, mungkin ia sudah lenyap ditangan suaminya sendiri
semoga byk yg baca