NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 TIKET SEKALI JALAN

Pagi itu langit di Gedangan cerah banget. Matahari naik pelan-pelan, nyinari jalan tanah kampung yang mulai rame sama orang-orang beraktivitas. Ada yang jalan kaki, ada yang naek motor, sebagian ke sawah, sebagian lagi berangkat kerja ke pabrik di kota. Pemandangan yang udah biasa Faris Arjuna liat tiap hari, tapi entah kenapa pagi ini rasanya beda, agak nyesek di dada.

Dari teras rumah kecilnya, Faris duduk di sana sambil pegang cangkir kopi hitam yang uapnya masih ngebul. Matanya ngeliatin orang-orang lewat, pikirannya melayang jauh. Umurnya udah dua puluh tiga tahun, tapi rasanya dia ketinggalan banget dibanding temen-temen sebayanya. Banyak yang udah punya kerjaan tetap, bahkan ada yang udah nikah dan punya anak. Sementara dia? Tiap hari bangun pagi, cari info lowongan, kirim lamaran, tes, wawancara, tapi hasilnya selalu sama: nggak lolos.

Udah hampir setahun dia berjuang kayak gini. Puluhan berkas dia kirim, berkali-kali dia coba, tapi kesempatan rasanya makin lama makin ngelakuk dari genggamannya. Lama-kelamaan rasa percaya dirinya ikut luntur, bukan karena dia malas, tapi karena rasanya dunia ini sempit banget buat dia yang cuma lulusan biasa dan nggak punya koneksi.

Lamunannya putus pas denger suara ibunya dari dalem rumah. Siti Khumairoh keluar bawa piring isi pisang goreng yang masih anget. Muka ibunya kelihatan capek, banyak garis usia yang nampak, tapi senyum lembutnya nggak pernah ilang. Taruh piring itu di meja kecil, terus natap anak sulungnya sayang banget.

"Sarapan dulu, Ris. Nanti keburu dingin."

Faris senyum tipis terus ngangguk. Masuk dalem, duduk di meja makan sederhana bareng bapak sama ibunya. Menu pagi ini sama kayak biasa: nasi anget, tempe goreng, tahu, sama sambal terasi buatan ibu. Makanan sederhana, tapi selalu mereka syukuri. Buat mereka, makan bareng-bareng itu nikmatnya jauh lebih mahal daripada makanan mewah mana pun.

Di depannya, Bambang Hidayat — bapaknya — lagi makan sambil baca koran bekas yang dia beli murah di pasar. Muka bapaknya kelihatan capek banget, padahal hari aja baru mulai. Kulitnya keriput, tangannya kasar bekas kerja keras bertahun-tahun. Tapi tiap Faris ngeliat bapaknya, yang dia liat bukan kelemahan, melainkan keteguhan yang luar biasa. Bapaknya nggak pernah ngeluh, nggak pernah nyerah, apa pun masalahnya.

"Ada kabar dari lamaran yang kemarin?" tanya Bapak pelan, suaranya datar.

Faris cuma geleng kepala. "Belum ada, Pak."

Bapak cuma ngangguk, terus lanjut makan. Nggak ada nada kecewa, nggak ada marah. Tapi sikap Bapak yang kayak gini malah bikin hati Faris makin berat dan sakit. Dia ngerasa gagal banget, udah gede tapi belum bisa ngasih apa-apa, belum bisa bantu meringankan beban orang tua yang udah banting tulang buat membesarkan dia dan adik-adiknya.

Abis sarapan, Faris bantu tetangga angkat karung pupuk ke gudang. Upahnya nggak seberapa, cuma cukup buat beli kebutuhan kecil sehari-hari. Pas dia lagi kerja, lewat beberapa temen lama naek motor, pake seragam perusahaan yang rapi dan bersih. Mereka berhenti sebentar, nyapa dia ramah.

"Masih cari kerja, Ris?"

"Iya nih," jawab Faris sambil tetep kerja, senyum biasa aja.

"Semangat terus ya! Rezeki nggak bakal ke mana kok."

"Makasih ya," jawab Faris lagi.

Motor mereka melaju ninggalin debu jalanan. Faris ngeliatin sampe mereka ilang di tikungan. Dia seneng banget ngeliat temen-temennya berhasil, tapi di dalem hati ada rasa iri halus dan pertanyaan yang nggak ada jawabnya: Kapan giliran gue? Kapan gue bisa bawa kabar baik buat Bapak sama Ibu?

Sore harinya Faris pulang dengan badan yang pegal-pegal. Pas masuk halaman rumah, langkahnya mendadak pelan banget. Di bawah pohon mangga di samping rumah, dia ngeliat Bapak lagi duduk sambil benerin sandal jepit yang talinya putus. Sandal itu udah usang banget, solnya aja udah tipis, tapi Bapak tetep benerin dengan teliti banget.

Pemandangan itu bikin dada Faris sesak banget. Dia tahu harga sandal baru itu murah, nggak mahal-mahal banget. Tapi keadaan ekonomi keluarga bikin Bapak milih buat nambal yang lama daripada beli yang baru. Faris nunduk, nahan air mata yang mau jatuh. Semakin dia ngeliat pengorbanan orang tuanya, semakin kuat tekadnya buat ngubah nasib keluarga ini.

Malam itu hujan turun rintik-rintik, suasananya adem dan sepi. Abis makan malem, Bapak manggil Faris duduk bareng di teras rumah. Mereka duduk berdampingan, ngeliatin halaman rumah yang makin basah kena air hujan. Cuma ada suara hujan yang kedengeran, hening banget tapi tenang.

"Ris..." panggil Bapak pelan.

"Iya, Pak?" jawab Faris siap dengerin.

Bapak ngeluarin amplop cokelat dari saku baju lusuhnya, terus ngasih ke Faris. Muka Faris bingung banget, dia terima amplop itu terus buka pelan-pelan. Pas dia ngeliat isinya uang yang jumlahnya lumayan banyak, matanya langsung melotot kaget.

"Pak... ini uang apa? Kok banyak banget?"

"Tabungan Bapak, dikumpulin sedikit-sedikit dari lama," jawab Bapak santai.

"Terus buat apa dikasih ke saya, Pak? Kan Bapak sama Ibu juga butuh..."

Bapak natap mata Faris dalam-dalam, terus ngomong kalimat yang bakal ngerubah hidup anaknya selamanya.

"Pergilah ke Jakarta."

Faris diam, kaku banget, beberapa detik dia nggak bisa ngomong apa-apa. Jakarta? Kota yang cuma dia liat di tipi, kota gede yang katanya penuh peluang tapi juga keras dan kejam. Kota yang jauh banget dari kampungnya, tempat di mana dia nggak punya sanak saudara, nggak punya kenalan, sama sekali nggak tahu jalan.

"Tapi Pak... saya nggak punya siapa-siapa di sana. Takutnya saya malah susah, malah bikin malu keluarga."

Bapak senyum tipis, senyum yang tenang tapi penuh keyakinan.

"Dulu waktu Bapak muda merantau, Bapak juga nggak punya siapa-siapa. Mulai dari nol, makan nasi sama garam aja pernah. Tapi Bapak bertahan."

"Terus... gimana kalau saya gagal, Pak? Gimana kalau saya pulang kosong?" tanya Faris ragu.

Bapak nepuk pundak anaknya pelan, terus bilang tegas:

"Orang yang gagal itu bukan orang yang jatuh, Ris. Tapi orang yang udah jatuh terus dia berhenti buat bangkit lagi. Selama kamu mau berusaha dan jaga diri, Bapak sama Ibu percaya sama kamu."

Kalimat itu nempel banget di kepala dan hati Faris. Malam itu dia nggak bisa tidur. Dia tiduran di kasur tipisnya, natap langit-langit kamar, mikirin masa depannya. Jakarta rasanya jauh banget dan menakutkan, tapi di sisi lain, mungkin itu satu-satunya jalan buat dia dapetin apa yang dia cari selama ini: harapan dan masa depan yang lebih baik.

Sekitar jam dua pagi, Faris bangkit pelan-pelan biar nggak bangunin orang lain. Dia buka lemari kecil di pojok kamar, ngambil tas ransel tua yang udah agak robek di bagian ujungnya. Dia masukin baju secukupnya, jaket hitam kesayangannya, dompet, HP, sama satu buku catatan kecil yang selalu dia bawa ke mana-mana. Nggak banyak barangnya, karena dia tahu dia pergi buat berjuang, bukan buat jalan-jalan.

Sebelum tidur lagi, dia buka buku catatan itu, terus nulis satu kalimat pake pulpen biru yang tintanya udah mulai pudar: "Aku bakal pulang ke sini nanti, bukan cuma sebagai orang yang berhasil, tapi sebagai kebanggaan buat Bapak sama Ibu."

Keesokan harinya, rumah mereka rame banget tapi suasananya campur aduk. Ibu bangun jauh sebelum subuh buat siapin bekal makanan buat perjalanan, adik-adiknya bantu beres-beres barang. Nggak ada yang nangis teriak-teriak, nggak ada yang ngomong sedih-sedih, tapi semua orang tahu: hari ini Faris bakal pergi, ninggalin rumahnya, ninggalin kampung halamannya, buat nyari nasib ke tempat yang jauh banget.

Abis salat subuh bareng-bareng, mereka berangkat ke terminal bis. Sepanjang jalan, Bapak terus ngasih nasihat: soal cara kerja yang jujur, cara ngadepin orang, cara jaga diri dan jaga nama baik keluarga. Faris dengerin baik-baik, nyimpen tiap kata di dalem hati, karena dia tahu itu semua pelajaran berharga hasil pengalaman hidup Bapak selama puluhan tahun.

Sampai di terminal, suasananya rame banget. Bis datang pergi, pedagang teriak nawarin dagangan, penumpang bawa tas gede-gede. Jantung Faris deg-degan kencang banget, campur aduk rasanya. Pertama kali dalam hidupnya, dia bakal pergi jauh banget, ninggalin tempat yang dia kenal baik seumur hidupnya.

Pas bis tujuan Jakarta akhirnya dateng, Ibu langsung peluk Faris kenceng banget, sampe napasnya agak sesak. Air mata Ibu nembus keluar meskipun dia udah berusaha banget buat kelihatan kuat. Faris juga nahan banget biar nggak nangis, dia balas pelukan ibunya seerat-eratnya.

"Jaga diri baik-baik ya, Nak. Jangan lupa salat, jangan lupa makan yang teratur, kalau ada apa-apa langsung kabari," bisik Ibu gemetar.

"Iya, Bu. Faris janji bakal hati-hati," jawab Faris pelan.

Terus Bapak maju, nepuk pundak anaknya dengan kuat, natap dia tajam tapi penuh kasih sayang.

"Pergi sana. Cari masa depanmu, buktiin kalau kamu bisa. Bukan cuma usaha doang, tapi buktiin."

Faris ngangguk kuat, nelan ludah yang rasanya berat banget. "Siap, Pak. Faris bakal buktiin."

Itu pesan terakhir yang dia bawa sebelum naek ke atas bis. Dari kursi dekat jendela, dia ngeliat Bapak sama Ibu masih berdiri di sana, melambaikan tangan ngeliatin dia sampe bis jalan ninggalin terminal. Muka mereka makin kecil, makin jauh, sampe akhirnya ilang ketutupan bangunan dan debu jalanan.

Bis melaju kencang, ninggalin kampung halaman, ninggalin Gedangan, ninggalin segala yang dia tahu selama ini. Faris natap keluar jendela, ngeliatin pemandangan yang terus berubah. Dia nggak tahu apa yang bakal dia temuin di Jakarta nanti: kesuksesan yang dia impikan, atau penderitaan yang jauh lebih berat dari yang dia bayangin. Tapi satu hal yang dia yakinin: dia nggak bakal nyerah, apa pun yang terjadi.

Dia nggak tahu, kalau langkah kecil yang dia ambil hari ini bakal ngerubah seluruh hidupnya, bakal ngebawa dia ketemu sama orang-orang yang bakal ngasih dia tujuan hidup yang jauh lebih besar dan berat dari sekadar nyari kerjaan. Takdir gede sebenernya udah nungguin dia di ujung jalan sana, siap nunggu dia dateng dan hadapin.

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!