Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang Penuh Tawa
Langit pagi masih berwarna jingga udara pagi dengan sedikit embun yang masih terlihat membasahi tanah di halaman rumah, Sulis membuka jendela rumahnya dengan perlahan. Udara segar masuk bersama aroma embun dan suara burung yang saling bersahutan dari pepohonan depan rumah. Senyum kecil terbit di bibirnya saat melihat halaman rumah yang mulai diterpa cahaya matahari pagi membangkitkan semangat sulis di pagi yang cerah itu.
Dari dapur terdengar pelan suara minyak goreng mendesis aroma masakan yang menggugah selera membuat Sulis bergegas menuju dapur. Didapur Irwan sedang sibuk menggoreng telur untuk menu sarapan,sambil sesekali Ia mengaduk nasi goreng di wajan.
“Mas, hati-hati nanti gosong loh!” teriak Sulis sambil tertawa kecil.
“Tenang aja, ma. Suami kamu ini mantan koki hotel bintang lima.”
“Hotel warteg kali hehehe.”jawab sulis sambil tertawa sedikit meledek Irwan
Irwan langsung menoleh sambil memasang wajah yang pura-pura kesal.
“Wah, bahaya nih pagi-pagi udah menghina suami sendiri awas kamu ya...”
Gelak tawa seketika memenuhi rumah sederhana itu.
Di ruang tengah,terdengar riuh kedua bocah,yaitu anak mereka yang sedang berlarian kecil sambil berebutan remote televisi. Rara sang adik yang baru berusia enam tahun menangis karena mainannya direbut oleh kakaknya, Dito.
“Mamaaa... Kak Dito nakal!” teriak Rara sambil sedikit merengek
“Bohong! Rara duluan yang nyubit aku!” balas Dito tak mau kalah.
Sulis hanya bisa menghela napas panjang, namun wajahnya tetap harus dipenuhi dengan kehangatan.Keadaan rumah itu memang tidak pernah bisa benar-benar tenang. Selalu ada suara tangisan, tawa, atau keributan kecil anak-anak Sulis dan Irwan.
Namun disitulah justu membuat rumah mereka terasa begitu benar-benar hidup.
Irwan keluar dari dapur membawa dua piring nasi goreng. Kaos oblong abu-abu yang dipakainya sedikit terkena noda minyak, namun pria itu tetap terlihat tampan di mata Sulis.
“Udah mainnya, kalian sarapan dulu sini. Nanti telat sekolah loh,” ujar Irwan sambil mengusap kepala Dito.
Seketika kedua anak itu duduk dengan rapi di meja makan.
Sulis memperhatikan gerak-gerik suaminya secara diam-diam. Sudah hampir sepuluh tahun mereka menikah, tetapi Irwan masih sama seperti dulu,Ia adalah pria yang pekerja keras dan selalu mengutamakan keluarganya.
Ketika baru awal-awal menikah dulu, hidup mereka sangat sulit. Irwan hanya bekerja sebagai tukang pasang reklame keliling dengan penghasilan tak menentu. Bahkan pernah suatu malam mereka hanya makan mi instan berdua karena uang di dompet tinggal dua puluh ribu rupiah.
Namun Sulis tidak pernah menyesal menikah dengannya,lelaki yang kini selalu ada untuknya dan anak-anak.Baginya, Irwan adalah rumah.
“Loh,kok malah bengong.”
Suara Irwan membuyarkan lamunannya.
Sulis tersenyum kecil. “Emmmmm nggak apa-apa.”
Irwan menarik kursi di samping istrinya lalu duduk.
“Kamu capek ya ngurus anak-anak terus?”
“Enggak kok mas.”
“Kalau capek bilang ya sayang. Nanti aku bantu sebisa aku.” Ucap Irwan sambil mengusap tangan Sulis.
Sulis menatap mata suaminya beberapa detik. Hangat. Selalu hangat. Tatapan itu yang membuatnya bertahan melewati masa-masa sulit dulu.
“Mas...” ucap Sulis pelan.
“Hm?”
“Makasih ya.”
Irwan mengernyit bingung.
“Makasih buat apa?”
“Buat semuanya.”Ucap sulis sambil menatap Irwan penuh kesungguhan
Irwan tertawa kecil lalu mencubit pipi istrinya gemas.
“Tumben romantis.”
“Ihhhh....apaan sih.”
“Eh tapi serius...” Irwan menggenggam tangan Sulis di bawah meja makan.
“Aku janji bakal bikin kalian hidup lebih enak lagi.”
Sulis tersenyum haru.
Ia selalu percaya pada perkataan suaminya, tak ada sedikitpun keraguan dalam hatinya.
Siang harinya, Irwan terlihat tengah sibuk di depan rumah memeriksa desain reklame dari klien ketika itu seorang tetangga lewat sambil bersiul kagum melihat Irwan yang sedang fokus bekerja.
“Wah, Wan... sekarang makin sukses aja ya.”
Irwan tertawa kecil. “Doain aja terus ya, Pak.”
“Katanya proyek dari kota lagi banyak?”
“Yahhhh Alhamdullilah lumayan pak.”
“Hebat kamu. Dulu masih naik motor butut keliling kampung, sekarang udah punya mobil pikap sendiri.”
Irwan hanya bisa tersenyum merendah.
Di balik semua itu, Sulis tahu betapa keras suaminya bekerja. Hampir setiap hari Irwan pulang larut malam demi memenuhi pesanan reklame yang mulai berdatangan dari berbagai toko dan perusahaan kecil.
Meski sibuk bekerja, Irwan tidak pernah lupa membawa sesuatu untuk istri dan anak-anaknya.
Kadang roti,kadang es krim,kadang boneka kecil hasil menang permainan capit capit pinggir jalan.
Hal sederhana, namun cukup membuat Dito dan Rara menganggap ayah mereka adalah pahlawan terbesar di dunia.
Menjelang sore,awan perlahan gelap serta hujan turun perlahan membasahi jalanan depan rumah. Sulis duduk di teras sambil melipat pakaian, sementara Rara tertidur di pangkuannya.
Tak lama kemudian suara mobil pikap terdengar memasuki halaman.
“Papa pulang! Papa pulang!” teriak Dito dengan .
Irwan turun perlahan dari dalam mobil sambil membawa sekotak ayam goreng.
“Siapa yang mau makan enak?”tanya Irwan sambil tersenyum melihat tingkah anak-anak yang senang menyambut kepulangannya
“Akuuu!” ucap kedua ananya serentak
Dito langsung memeluk kaki ayahnya.
Sulis hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Hatinya terasa penuh,tangki cintanya selalu dipenuhi oleh suaminya.
Malam itu mereka makan bersama sambil bercanda. Tak terdengar suara bentakan,tidak ada air mata serta tak ada pula rahasia diantara mereka,hanya keluarga kecil yang saling mencintai.
“Pa, ayam gorengnya enak sekali, dito jadi pengen makan tiap hari.”
“Boleh asal ada satu syarat yang harus dipenuhi!”
“Apa pa?” tanya Dito penasaran
“Kamu gak boleh nakal kalau dirumah harus dengerin mama.”
“Ooohhh, kalau cuma itu sih kecil.” Kata Dito sambil menjentikkkan jarinya.
Sambil tersenyum,Sulis memandangi wajah suami dan kedua anaknya secara bergantian. Dalam hati ia berdoa semoga kebahagiaan itu bertahan selamanya.
Makan malam terasa nikmat, setelah makan sulis membersihkan meja dan berberes di dapur,sementara Irwan membawa kedua anaknya kekamar mandi untuk bersi-bersih sebelum tidur, membasuh wajah mereka,mencuci tangan dan kaki, serta tak lupa mengosok gigi kedua anaknya tersebut.
Malam semakin larut, Irwan membacakan dongeng untuk anak-anaknya, keduanya baring di masing-masing sisi Irwan, tak butuh waktu lama Dito dan rara pun terlelap, pelan-pelan irwan meninggalkan kedua anaknya di kamar tidur mereka.Irwan kembali kekamarnya menghempaskan tubuhnya seketika,pekerjaan hari ini cukup melelahkan bagi Irwan, ketika hendak masuk kekamar Sulis melihat Irwan sudah terlelap, ia menyelimuti kaki suaminya yang terasa dingin. Ia memandangi wajah suaminya yang terlihat lelah, mengelus tangan suaminya yang terasa kasar, ia berbalik kekanan dan kekiri menatap plafon rumahnya lama, hingga akhirnya ia pun bisa terlelap.
Dalam hati Sulis senantiasa berharap rumah tangga mereka senantiasa akan selalu seperti ini,namun manusia hanya bisa berharap.
Tak ada yang tahu bahwa perlahan-lahan, bahwa bisa saja retakan kecil bisa saja menjadi penghancur rumah tangga mereka.

PERINGATAN UNTUK PEMBACA !!!
Cerita ini adalah karya fiksi.
Seluruh tokoh, nama, tempat, dan peristiwa dalam novel ini merupakan hasil imajinasi penulis. Jika terdapat kemiripan dengan kejadian nyata, hal tersebut hanyalah kebetulan.
Harap bijak dalam membaca.
Novel ini mengandung konflik rumah tangga, perselingkuhan, KDRT, dan trauma psikologis yang tidak dimaksudkan untuk ditiru atau dibenarkan.
Dilarang menyalin, mengunggah ulang, mengubah, atau memperjualbelikan!!!
Selamat membaca.
Semoga kalian dapat menyelami setiap rahasia, luka, dan kisah yang tersimpan dalam novel ANAK HASIL PERSELINGKUHAN.
NeyNaa 🫶🏻
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .