Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.
Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.
Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama
Suatu hari di musim semi, Li Yunru sebenarnya tidak berniat membeli hewan peliharaan. Namun ketika melewati sebuah toko tua di sudut jalan, langkahnya tiba-tiba berhenti.
Di antara suara gonggongan anjing dan meongan kucing, seekor kelinci putih gemuk dengan pita merah di lehernya sedang menatap lurus ke arahnya. Ia pun akhirnya memutuskan untuk berbelok ke toko hewan peliharaan tua tersebut.
"Bos, berapa harga kelinci ini?" tanyanya.
Seekor kelinci putih gemuk dengan pita merah di lehernya, terlihat duduk manis di dalamnya. Bentuknya bulat, bulunya tebal dan matanya jernih—cukup untuk menarik perhatian siapa pun. Ia hanya bertanya santai pada pemilik toko karena benar-benar penasaran.
Seorang pria tua yang sedang sibuk memberi makan beberapa kucing dan anjing di sisi lain ruangan, menoleh begitu mendengar suara itu. Menyadari ada pelanggan, ia segera menghampiri.
"Nona, kamu mau beli hewan peliharaan yang mana?" tanyanya memastikan.
Li Yunru menunjuk kelinci gendut yang sedari tadi memandangnya tanpa banyak bergerak. Kelinci itu tampak sangat pendiam, tapi matanya seakan bersinar penuh harap.
"Yang ini, berapa harganya?" tanyanya tanpa menoleh pada penjual.
"Hmm …" Pria tua itu mengelus janggut panjangnya sambil menatap kelinci berpita merah itu. "Nona, apakah kamu yakin?"
"Tentu saja. Apa kelinci dengan pita di lehernya ini sudah ada pemiliknya?"
Baru kali ini Li Yunru menatap langsung pada penjualnya dan ia sempat terkejut. Pria tua itu mengenakan hanfu abu-abu tua dengan rambut putih panjang dan janggut menjuntai. Sekilas ia terlihat seperti sarjana kuno yang keluar dari lukisan.
Li Yunru sempat melirik seisi toko. Rak kayu, lampu tua dan dekorasi antik memenuhi ruangan. Apakah penjualnya sengaja berdandan seperti itu untuk menarik pelanggan?
Pria tua itu sempat terkejut mendengar pertanyaannya, sebelum kemudian tertawa ramah.
"Tidak, tidak, Nak. Aku hanya tidak menyangka kamu akan memilih dia," katanya sambil menggelengkan kepala.
Pria tua itu membuka kandang dan mengangkat si kelinci dengan hati-hati.
"Mengapa kamu ingin membeli kelinci ini? Dia satu-satunya yang tersisa di toko."
"Kurasa karena kelinci ini imut …," jawab Li Yunru jujur. "... Meskipun gendut."
Pria tua itu menatapnya cukup lama, seolah ingin memastikan sesuatu, lalu akhirnya menyerahkan si kelinci ke pelukan Li Yunru. Kelinci itu tampak langsung nyaman, kedua telinga panjangnya bergerak-gerak senang.
Bulu kelincinya sangat lembut saat disentuh, membuat Li Yunru semakin jatuh hati. "Berapa harganya?"
"Satu tael emas."
Li Yunru langsung diam. Tanda tanya besar seolah muncul di kepalanya. Setelah cosplay jadi sarjana kuno, sekarang bercanda soal harga?
"Tael … emas?" ulangnya tak yakin.
Pria tua itu menggeleng sambil tersenyum. "Tidak, ini gratis. Ambilah dan bawa pergi kelinci jantan itu. Kamu ditakdirkan dengannya."
"Hah? Gratis? Tidak, tidak! Katakan harganya. Kamu rugi kalau aku tidak membayar!"
"Lelaki tua ini tidak rugi sama sekali."
Nada suaranya terdengar tulus, bukan sekadar basa-basi. Ia justru terlihat lega—seolah beban lama akhirnya terlepas.
Sebelum Li Yunru sempat memprotes lagi, pria tua itu mengeluarkan sebuah kotak cendana merah kecil dari saku lengan bagian dalam hanfu-nya yang lebar.
Dia jelas menghargai perhatian Li Yunru terhadap orang yang lebih tua, namun ia tidak mengharapkan apa pun sebagai balasan. Ia tahu gadis itu tidak mungkin benar-benar memiliki tael emas dan ia tidak berniat menerima uang apa pun.
Akhirnya, ia menyerahkan kotak cendana merah itu. "Ini hadiah dari lelaki tua ini. Ho ho ho … Gadis muda, kamu pasti akan segera mendapatkan jodohmu."
“… Apa hubungannya membeli kelinci dengan mendapatkan jodoh?” gumam Li Yunru bingung.
Ini pertama kalinya ia bertemu penjual seaneh ini. Tidak cukup hanya berpakaian ala sarjana zaman kuno, ia malah memberikan kelinci gratis—plus hadiah tambahan.
Kotak cendana merah itu memang tidak terlihat mewah, bahkan sedikit terlihat kuno dan kampungan, tapi Li Yunru tidak meremehkannya. Ia menerima kotak kecil itu dengan sopan, lalu setelah mengucapkan terima kasih, ia segera kembali ke apartemennya dengan kelinci gendut di pelukan.
......................
Setibanya di apartemen, langit mulai gelap.
Apartemen yang ditinggali Li Yunru cukup luas. Dulu, tempat ini dibeli oleh orang tuanya sebagai hadiah ulang tahun.
Setelah kecelakaan mobil tahun itu—yang menewaskan orang tuanya, apartemen ini menjadi satu-satunya rumah yang membuatnya merindukan mereka.
Untungnya warisan yang ditinggalkan mereka cukup untuk membiayai hidup dan pendidikannya sampai ia lulus SMA tahun lalu.
“Kamu diamlah di sini dulu,” katanya sambil menurunkan kelinci itu ke sofa.
Ia duduk di samping si kelinci, lalu membuka kotak cendana merah kecil. Di dalamnya terdapat sebuah cincin perak berbentuk naga yang melingkar. Cincinnya tampak berat, berkualitas, dan memantulkan cahaya lembut.
“Apakah ini perak asli?” gumamnya, berbicara pada diri sendiri.
Hidung si kelinci berkedut beberapa kali saat melihat Li Yunru memperhatikan cincin. Dengan lincah ia menaikkan kedua kakinya ke pangkuan gadis itu, seolah meminta perhatian.
“Ada apa?” Fokus Li Yunru bergeser pada si kelinci.
Kelinci itu menyundul lengannya beberapa kali, matanya terus menatap cincin tersebut.
“Kamu ingin aku pakai ini?” Li Yunru bertanya, merasa aneh karena tiba-tiba bicara dengan seekor kelinci.
Yang membuatnya merinding, kelinci putih itu mengangguk. Benar-benar mengangguk seperti mengerti maksudnya.
Tubuh Li Yunru langsung kaku. Matanya berkedip beberapa kali untuk memastikan sesuatu. Tidak ... Tidak mungkin. Bagaimana mungkin seekor kelinci baru saja mengangguk padanya?
Gadis itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu menatap kelinci itu lagi. "Aku terlalu lelah ... kan?"
Meski lelah, rasa penasarannya jauh lebih kuat, jadi ia memakai cincin itu di jari manis tangan kirinya.
Begitu cincin menyentuh kulitnya, ukiran naga perak itu mendadak terasa hidup. Mata naga kecil di permukaannya seolah memancarkan cahaya merah samar.
Tak lama kemudian, sensasi dingin menjalar dari ujung jarinya. Walau hanya sesaat, Li Yunru merasa mendengar suara napas berat yang sangat jauh. Seolah-olah ada sesuatu yang baru saja terbangun.
Tetapi Li Yunru mengabaikan semua itu karena ia merasa dirinya terlalu lelah hari ini, sehingga beberapa keanehan hanya dianggap ilusi.
“Apakah ini bagus, kelinci gendut?” tanyanya sambil mengangkat tangan, memperlihatkan cincin naga perak itu.
Si kelinci turun dari sofa, lalu berputar-putar di lantai sambil mengayunkan telinganya. Ia terlihat sangat senang, bahkan nyaris seperti sedang menari.
Gerakannya yang lucu membuat Li Yunru terhibur. Ia mulai merasa bahwa kelinci putih gemuk itu agak spiritual. Entahlah siapa pemilik sebelumnya yang rela menjual kelinci selincah dan sepintar itu.
“Kalau begitu, aku akan memberimu beberapa wortel. Aku juga harus memasak untuk makan malam nanti,” katanya sambil hendak melepas cincin.
Namun ketika mencoba menarik cincin itu, ia tertegun. Cincin naga perak itu tersangkut.
Li Yunru panik dan segera bangkit, berjalan cepat menuju dapur. Ia berniat mencari minyak goreng—mungkin cincin itu bisa lepas jika diberi minyak agar licin.
Namun belum sempat melangkah jauh, kepalanya mendadak terasa pusing luar biasa. Dunia berputar, penglihatannya kabur dan tubuhnya limbung hingga ia jatuh tersungkur ke depan.
Segalanya menjadi gelap.
Di tengah rasa pusing yang berputar-putar, ia merasakan hembusan angin panas menyapu tubuhnya lalu berganti dengan hawa dingin yang menusuk kulit.
Seharusnya jatuh ke lantai pasti akan terasa sakit. Tapi ia malah merasakan sesuatu yang hangat namun dingin.
“Uhh … Di mana ini?”
Ia memegang kepalanya yang masih berdenyut. Begitu penglihatannya kembali jelas, ia terkejut bukan main.
Di hadapannya, ia bertatapan langsung dengan seorang pria berambut putih panjang dengan mata merah darah yang menawan namun terlihat jahat.
Untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan, Li Yunru tertegun. Pria itu tampak seperti pangeran dari zaman kuno—atau karakter utama gim otome dengan desain berbahaya tingkat dewa.
Apa ini mimpi setelah ia jatuh pingsan?
Ia mengangkat tangannya, hendak menyentuh wajah tampan yang terasa tidak nyata itu. Tapi baru saja jarinya hampir menyentuh kulit pria tersebut, seekor kelinci gemuk tiba-tiba terlempar dari udara kosong dan menghantam kepala Li Yunru.
Hal tersebut membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga tak sengaja bersentuhan dengan bibir pria tampan berambut putih itu. Bahkan pihak lain juga terkejut hingga matanya sedikit terbelalak.
Ciuman! Ciuman pertamanya!
Otak Li Yunru langsung mengeluarkan sirene tanda bahaya. Ia menjauh dengan cepat, wajahnya memanas hingga ke telinga.
“Ma-maaf! Aku tidak sengaja!” serunya panik.
Pria itu menopang tubuhnya dengan siku kiri, lalu menyentuh bibirnya yang tak sengaja dicium. Tatapan mata merahnya terlihat dingin, namun ada aura berwibawa yang terlihat jelas di seluruh tubuhnya.
“Manusia, kamu sangat berani untuk mencium raja ini,” katanya datar tanpa ekspresi.
ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih