Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama
Pada suatu sore di pertengahan musim semi, Li Yunru sama sekali tidak berniat membeli hewan peliharaan. Namun ketika melewati sebuah toko tua di sudut jalan, langkahnya mendadak terhenti.
Di balik suara gonggongan anjing dan meongan kucing, seekor kelinci putih gemuk dengan pita merah di lehernya sedang melihat lurus ke arahnya.
Entah mengapa, Li Yunru merasa tatapan itu seperti sedang memanggilnya. Tanpa sadar, ia pun berbelok dan memasuki toko hewan peliharaan tua tersebut.
"Bos, berapa harga kelinci ini?" tanyanya.
Kelinci itu duduk tenang di dalam kandang. Tubuhnya bulat, bulunya tebal dan matanya yang jernih tidak pernah lepas dari Li Yunru. Siapa pun pasti akan menyukainya.
Seorang pria tua yang sedang sibuk memberi makan beberapa kucing dan anjing di sisi lain ruangan—menoleh begitu mendengar suara itu. Menyadari ada pelanggan, ia segera menghampiri.
"Nona, kamu mau membeli hewan peliharaan yang mana?" tanyanya.
Li Yunru menunjuk kelinci gemuk yang sejak tadi melihatnya tanpa banyak bergerak. Kelinci itu tampak sangat pendiam, tetapi sorot matanya seolah dipenuhi harapan.
"Yang ini, berapa harganya?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari si gemuk berbulu itu.
"Hmm ..." Pria tua itu mengusap janggut panjangnya sambil menatap kelinci tersebut. "Nona, apakah kamu yakin ingin membeli yang ini?"
"Tentu saja. Apa kelinci berpita merah ini sudah ada pemiliknya?"
Li Yunru kemudian benar-benar memperhatikan pemilik toko itu dan ada ekspresi keterkejutan di wajah cantiknya. Pihak lain memakai hanfu abu-abu tua, rambut putih panjang serta janggut yang menjuntai hingga dada—membuatnya tampak seperti seorang sarjana kuno yang keluar dari lukisan.
Ia lalu menyapu pandangannya ke seluruh isi toko. Rak-rak kayu, lampu tua dan berbagai dekorasi antik memenuhi ruangan. Apakah memang konsep tokonya memang seperti ini?
Pria tua itu tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaannya, tetapi tak lama kemudian ia tertawa ramah.
"Tidak, tidak, Nak. Aku hanya tidak menyangka kamu akan memilih dia," katanya sambil menggeleng pelan. Ia membuka kandang, lalu mengangkat si kelinci dengan hati-hati. "Mengapa kamu ingin membeli kelinci ini? Dia satu-satunya yang tersisa di toko," imbuhnya.
"Kurasa karena kelinci ini imut ...," jawab Li Yunru jujur. "... Meskipun gendut."
Pria tua itu menatapnya cukup lama, seolah sedang memastikan sesuatu. Pada akhirnya, ia menyerahkan si gemuk berbulu itu ke dalam pelukan Li Yunru.
Anehnya, kelinci itu langsung bersandar dengan tenang. Kedua telinga panjangnya bergerak-gerak pelan, seolah menunjukkan rasa senang. Li Yunru mengusap bulunya dengan lembut. Bulunya begitu halus hingga membuatnya semakin jatuh hati.
"Berapa harganya?"
"Satu tael emas."
Li Yunru langsung terdiam. Tanda tanya besar seolah muncul di atas kepalanya. Apa sekarang masih ada orang yang memakai mata uang tael emas?
"Tael ... emas?" ulangnya tidak yakin.
Pria tua itu menggeleng sambil tersenyum. "Tidak, ini gratis. Bawalah kelinci jantan itu. Kamu memang ditakdirkan bertemu dengannya."
"Hah? Gratis? Tidak, tidak! Katakan saja harganya. Kamu akan rugi jika aku tidak membayar!"
"Lelaki tua ini tidak rugi sama sekali."
Nada suaranya terdengar tulus, bukan sekadar basa-basi. Sebaliknya, ia justru tampak lega—seperti baru saja melepaskan beban yang telah dipikulnya selama bertahun-tahun.
Sebelum Li Yunru sempat memprotes lagi, pria tua itu mengeluarkan sebuah kotak cendana merah kecil dari balik lengan hanfunya yang lebar. Ia menghargai niat Li Yunru yang tetap ingin membayar. Tetapi sejak awal, ia memang tidak berniat menerima uang apa pun.
Pria tua itu menyerahkan kotak cendana merah tersebut. "Ini hadiah dari lelaki tua ini. Ho ho ho ... Gadis muda, kamu pasti akan segera bertemu jodohmu."
"... Apa hubungannya membeli kelinci dengan mendapatkan jodoh?" gumam Li Yunru kebingungan.
Ini pertama kalinya ia bertemu penjual seaneh ini. Tidak hanya berpakaian seperti sarjana zaman kuno, pria tua itu bahkan memberikan seekor kelinci secara cuma-cuma, lengkap dengan hadiahnya.
Kotak cendana merah itu memang tidak terlihat mewah. Bentuknya sederhana, bahkan terkesan kuno. Meski begitu, Li Yunru tidak meremehkannya. Ia menerimanya dengan sopan, lalu mengucapkan terima kasih sebelum kembali ke apartemennya sambil menggendong kelinci gemuk itu.
.........................
Setibanya di apartemen, langit mulai gelap. Apartemen yang ditempati Li Yunru cukup luas—yang merupakan hadiah ulang tahun terakhir dari kedua orang tuanya.
Sejak kecelakaan mobil yang merenggut nyawa mereka, apartemen itu menjadi satu-satunya tempat yang selalu mengingatkannya pada kedua orang tuanya. Untungnya, warisan yang mereka tinggalkan cukup untuk membiayai hidup dan pendidikannya hingga lulus SMA dua tahun lalu.
"Kamu diam di sini dulu," katanya sambil menurunkan kelinci gemuk itu ke atas sofa.
Li Yunru duduk di sampingnya, lalu membuka kotak cendana merah kecil pemberian pria tua tadi. Di dalamnya terbaring sebuah cincin perak berbentuk naga yang melingkar. Benda itu tampak kokoh dan berkualitas.
"Apakah ini perak asli?" gumamnya pada diri sendiri.
Hidung si kelinci berkedut beberapa kali saat melihat Li Yunru memperhatikan cincin itu. Dengan lincah, ia mengangkat kedua kaki depannya ke pangkuan gadis tersebut, seolah sedang meminta perhatian.
Fokus Li Yunru pun beralih kepadanya. "Ada apa?"
Si gemuk berbulu itu menyundul lengannya beberapa kali, sementara tatapannya terus tertuju pada cincin di tangan Li Yunru.
"Kamu ingin aku memakai ini?" tanyanya. Sesaat kemudian, ia tersenyum kecil. "Aneh ... Kenapa aku malah mengajak seekor kelinci bicara?"
Tetapi senyumnya langsung membeku ketika kelinci putih gemuk itu mengangguk pelan. Benar-benar mengangguk, seolah memahami setiap kata yang diucapkannya.
Tubuh Li Yunru langsung menegang. Matanya berkedip beberapa kali, seolah ingin memastikan apa yang baru saja dilihatnya. Bagaimana mungkin seekor kelinci baru saja mengangguk kepadanya?
Gadis itu menoleh ke kiri dan ke kanan, mencubit pipinya cukup keras dan ternyata sakit. Lalu kembali memandangi kelinci tersebut.
Ia menarik napas panjang. "Sepertinya aku memang terlalu lelah," gumamnya pelan.
Meski begitu, rasa penasarannya jauh lebih besar daripada kebingungannya. Ia pun mengenakan cincin itu di jari manis tangan kirinya.
Begitu logam perak itu menyentuh kulitnya, ukiran naga yang melingkar di permukaan cincin seolah hidup. Mata naga kecil pada cincin memancarkan cahaya merah redup. Cahaya merah itu hanya muncul sesaat, namun cukup membuat hawa di seluruh ruangan sedikit aneh.
Tak lama kemudian, hawa dingin merambat dari ujung jari Li Yunru hingga ke pergelangan tangan. Hanya sesaat, tetapi gadis itu mendengar embusan napas yang berat dari tempat yang sangat jauh. Seolah-olah ada sesuatu yang baru saja terbangun.
Namun, Li Yunru mengabaikan semua keanehan itu. Ia menganggap dirinya hanya terlalu lelah sehingga mulai berhalusinasi.
"Bagaimana? Bagus, kan, kelinci gendut?" tanyanya sambil mengangkat tangan kiri, memperlihatkan cincin naga perak tersebut.
Si kelinci melompat turun dari sofa, lalu berputar-putar di lantai sambil mengayunkan kedua telinganya. Ia tampak sangat gembira, bahkan gerakannya nyaris menyerupai tarian.
Tingkah lucunya membuat Li Yunru tersenyum. Semakin lama, ia merasa si putih gemuk itu sedikit berbeda dari kelinci biasa. Entah siapa pemilik sebelumnya yang tega menjual hewan peliharaan sepintar dan selincah ini.
"Kalau begitu, aku akan memberimu beberapa wortel. Aku juga harus memasak untuk makan malam," katanya sambil mencoba melepaskan cincin itu.
Namun saat menarik cincin naga perak tersebut, Li Yunru langsung tertegun. Cincin itu tidak bergerak sedikit pun. Ia berusaha menariknya lagi, tapi gagal setelah mencobanya berulang kali.
"Mengapa tiba-tiba tidak bisa dilepas? Jariku tidak segemuk itu," gumamnya seraya mencoba memutar cincinnya perlahan agar mudah dilepas, tapi masih tidak berhasil juga.
Barulah kemudian Li Yunru mulai panik. Ia segera bangkit dan berjalan cepat menuju dapur. Mungkin sedikit minyak goreng bisa membuat cincin itu lebih mudah dilepaskan. Tapi baru beberapa langkah sebelum masuk dapur, kepalanya mendadak dilanda pusing yang luar biasa.
Dunia di sekelilingnya berputar. Pandangannya perlahan buram, sementara tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Bruk!
Tubuhnya terjatuh ke depan. Dalam sekejap, pandangannya berubah menjadi gelap gulita.
Di tengah rasa pusing yang terus berputar, Li Yunru merasakan embusan angin panas menyapu tubuhnya, lalu berganti dengan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Seharusnya tubuhnya membentur lantai dengan keras. Namun, yang ia rasakan justru sesuatu yang hangat tapi juga dingin.
"Uhh ... Di mana ini?" gumamnya sambil mencoba bangkit seraya memegangi kepalanya yang masih berdenyut. Begitu penglihatannya kembali fokus, napasnya seketika tertahan.
Di hadapannya, seorang pria berambut putih panjang dengan sepasang mata merah darah sedang menatapnya. Wajahnya begitu tampan, tetapi memancarkan aura dingin dan berbahaya yang sulit dijelaskan.
Li Yunru terpaku. Pria itu tampak seperti pangeran dari zaman kuno—atau karakter utama gim otome dengan rute pelarian paling berbahaya.
Apa ini mimpi setelah aku pingsan? Pikirnya.
Tanpa sadar, ia mengangkat tangan dan berniat menyentuh wajah tampan yang terasa begitu tidak nyata itu. Namun tepat saat ujung jarinya hampir menyentuh pipi pria itu—Duk! Seekor kelinci putih gemuk tiba-tiba jatuh dari udara kosong dan menghantam kepalanya.
"Ah!"
Benturan itu membuat tubuh Li Yunru kehilangan keseimbangan. Sebelum sempat bereaksi, tubuhnya sudah jatuh ke depan hingga bibirnya tanpa sengaja menyentuh bibir pria berambut putih itu. Keduanya sama-sama membelalak.
Ciuman pertamanya! Otak Li Yunru seolah berhenti bekerja. Ia buru-buru menjauh, sementara wajahnya memerah seperti tomat.
"Ma-maaf! Aku tidak sengaja!" serunya panik.
Pria itu tetap tenang. Bertumpu pada siku kirinya, ia mengangkat tangan dan menyentuh bibirnya sendiri. Tatapan mata merahnya tetap dingin, sementara wibawa yang terpancar dari seluruh tubuhnya sama sekali tidak berkurang.
"Manusia," ucapnya datar. "Kamu sangat berani mencium raja ini. Apakah kamu tidak takut mati?"
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂