Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1.
Di penghujung senja, Matahari mulai berkemas di ufuk barat. Kehangatan kian sirna, cahayanya memudar, meninggalkan jejak kuning ke emasan.
Di balik gedung megah asrama, pada sebuah taman yang tak pernah sepi oleh manusia.
Sekumpulan remaja saling berdiskusi, berbagi informasi, sampai bergosip ria. Di bawah pohon bunga tabebuya. Dedaunan terguncang halus, mendengarkan pesan rahasia.
"Guys katanya di sekolah kita bakalan ada murid pindahan lho"
"Cih, palingan si udik yang baru dapat beasiswa"
"Atau anak pejabat yang bergaya sok sosialita"
"Hahaha...."
"Hus, sembarangan. Yang jelas ini dari kalangan terpandang. Dia itu anak dari pemilik sekolah ini yang baru pindah dari luar negri"
"Hah...! Se serius? Cowok atau cewek nih?"
"Mana gue tau"
"Lah gimana sih?"
"Lo dapat info dari mana?"
"Adalah pokoknya"
"Huuuuuu..."
Di tengah keriuhan yang ada, mata mereka menangkap sosok asing berjalan melewati gerbang utama.
Seorang gadis berambut sebahu, dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya. Ia terlihat begitu kerepotan dengan ransel besar di punggung, serta dua koper besar yang diseret secara bersamaan.
"Eh, siapa dia? Apa dia anak pemilik sekolah ini?"
"Terlalu sederhana sih, kalo beneran dia anak konglomerat"
"Mungkin dia merendah, liat ajah! Barang-barangnya, pakaiannya, semuanya branded guys"
"Fiks, dia orangnya. Ayo!"
Beberapa siswa berbondong-bondong mendekati si gadis asing. Memasang topeng palsu, bersiap menjilat seseorang yang mereka anggap si konglomerat.
"Ternyata mereka ramah-ramah, ngga seburuk yang aku pikirkan" ucap si gadis asing itu dalam hati. Wajah yang semula tertunduk, mulai terangkat penuh percaya diri.
Tiiiin.... Tiiiiiin....
Suara klakson panjang mengalihkan fokus semua orang. Termasuk gadis asing yang terpaksa langkahnya terhenti, untuk menepi.
Semua mata beralih pada sebuah mobil yang melintasi. Lajunya terhenti, tepat ditengah kerumunan yang diselimuti keheningan.
Klik
Pintu mobil terbuka, menampakkan gadis muda dengan tinggi kisaran 155cm, berbalut gaun bunga-bunga.
Gadis asing ke dua dengan wajah tak kalah memesona. Rambutnya panjang terurai, terlihat begitu anggun walau tanpa senyum.
Bisik-bisik kembali tercipta, saat gadis itu mulai melangkah perlahan. Saling membandingkan untuk menentukan. Mereka beropini sendiri, tanpa ada yang berani mengajukan pertanyaan.
"Stttt...!"
"Menurut lo, mana yang anak konglomerat asli?"
"Yang pertama barang-barangnya branded semua"
"Tapi yang kedua auranya keliatan lebih berkelas"
Melangkah melewati jalanan yang dihiasi bunga tabebuya, tanpa mempedulikan orang di sekelilingnya. Angin lembut menyapa, menerbangkan rambut indah panjangnya.
Di bawah langit senja, semua pasang mata hanya tertuju padanya.
Gadis berparas cantik berjalan dengan wajah angkuh. Tanpa senyuman, atau sapaan. Melewati kerumunan siswa yang masih terperangah.
Kehebohan kembali tercipta, ketika bayangan gadis asing ke dua telah sirna.
Fokus mereka kembali pada gadis asing pertama, yang dibalas dengan wajah cengonya.
"Hai semuanya" ucapnya mencoba mencairkan suasana. Membuang kecanggungan, menghadirkan keramah-tamahan. Ia mulai berbaur, menanggapi pertanyaan apa saja yang di lontarkan.
..."Katanya, anak baru dari pemilik sekolah ini ngga mau identitas nya terbongkar. Jadi kita pura-pura ngga tau ajah yah" bisik salah satu murid yang ada di kerumunan....
...****************...
"Gimana sayang? Udah nyampe asrama?" ucap seorang wanita di seberang telepon.
"Udah Mih"
"Gimana, kamu suka kamarnya?"
"Ya, lumayan lah"
"Mamih sengaja request kamar VVIP buat kamu, kamar terbaik supaya kamu nyaman tinggal disana"
"Iyah" jawabnya malas. Gadis itu berjalan ke tepi jendela, posisinya tepat menghadap halaman asrama yang dipenuhi pohon bunga tabebuya.
Satu kata dalam benaknya "Indah", senyumnya mengembang dengan mata berbinar. Sorot mata penuh kekaguman pada impian masa kecilnya. Ia sampai mengabaikan mamih nya yang ada diujung telepon sana.
"Hallo, Nay sayang. Kamu masih disana?"
"Kalo kamu memang ngga suka, biar nanti Mamih atur ulang deh, buat pindah ke sekolah yang lain "
"Suka, Nay suka disini Mih. Udah yah Mih, Nay mau liat-liat kebawah dulu"
"Tunggu dulu sayang"
"Apa lagi sih Mih?"
"Apa yah, Mamih lupa tadi mau ngomong apa"
"Apaan sih Mamih ngga jelas banget deh"
"Nanti deh, kalo udah inget Mamih kasih tau lewat pesan"
"Iyah, udah dulu yah Mih. Bye"
Tuuuut.....
...****************...
Naysilla Violetta, gadis cantik berusia 16 tahun yang saat ini duduk di kelas dua SMA. Ia merupakan pelajar pindahan dari sekolah luar negri.
Gadis yang sebenarnya tak suka belajar apalagi pelajaran hitung-hitungan. Tapi sialnya ia dipaksa orang tuanya untuk mengambil jurusan IPA.
Seni adalah jiwanya. Salah satu hobi yang menjadi bakatnya. Di mana pun ia berada, kertas dan pena akan selalu mengikutinya.
Seperti saat ini.
"Cantik banget" ucapnya dengan mata berbinar, merasa puas dengan hasil lukisan tangannya .
Ia berjalan memutar di antara ratusan bunga tabebuya yang berguguran. Dengan lukisan basah yang ia angkat tinggi-tinggi, tanpa mempedulikan sekitar. Lalu tiba-tiba....
Bruk...
"Aduh... sakit!" merintih gadis berambut sebahu. Ia terjatuh tepat mengenai batu.
"Eh... ya ampun, Olivia. Lo nggak apa-apa?"
"Ya ampun sampai berdarah gitu lututnya"
"Heh, Lo gimana sih ? Liat tuh si Olivia sampe jatuh berdarah-darah gitu!"
"Sorry, sorry, gue ngga sengaja" Naysilla membuang lukisannya asal, lantas mendekat, berniat ingin membantu tapi malah di tepis kasar.
"Maaf lo bilang? Lo mau apa deket-deket, pasti sengaja kan pengen celakain Olivia?"
"Gue beneran ngga sengaja, oke gue bakalan tanggung jawab" Naysilla membuka dompetnya, tapi sialnya ia hanya menemukan uang lima ribu rupiah dan beberapa lembar dolar. Ia terpaksa memberikan semua lembaran yang ada, tapi lagi-lagi ditepis kasar sampai lembaran itu berhamburan.
"Ngga usah sok kaya deh, ini namanya penghinaan yah. Lo pikir uang lima ribu bisa buat berobat gitu? Dasar miskin"
"Cuma itu yang ada di dompet, gue ngga punya uang cash, kecuali dollar itu" mengatur pernapasan, menekan emosi. Naysilla memungut kembali dollarnya yang berhamburan di tanah, dan lagi-lagi orang itu mengganggunya.
"Lo pikir kita ngga tau kalo itu dolar palsu?"
"Iya ih, dasar norak. Gue jadi penasaran, kira-kira dia bisa masuk ke sekolah ini lewat jalur mana yah"
"Udah teman-teman, semuanya udah. Aku nggak apa-apa kok" dengan susah payah, Olivia berdiri, bersandar pada batang pohon bunga tabebuya.
"Hai, kenalin nama aku Olivia. Kamu anak baru juga kan? Kita sama nih" ia menyodorkan tangannya dengan senyum ceria khasnya.
"Olivia, lo ngapain? Dia kan yang udah jahat dan bikin lo luka gini"
"Ngga apa-apa teman-teman, aku udah maafin kok. Oh Iyah nama kamu siapa?"
"Naysilla"
Bruk
"Aaahh.... Sialan! Siapa yang lempar gue pake bola?" Pekik salah satu gadis berambut pirang . Tak lama dari itu, seorang cowok berpenampilan cupu tergopoh-gopoh mendekat.
"Oh, jadi lo ya cupu yang udah nimpuk kepala gue pake bola?"
"Sorry"
"Sorry apaan, makan nih sorry"
Satu botol minuman dingin ia guyurkan di atas kepala. Lantas gadis itu mendorong si cupu hingga ponselnya terlempar persis di bawah kaki Naysilla.
"Udah yok, cabut. Kita anterin Olivia dulu ke Rumah sakit"
Naysilla memungut ponsel yang sudah retak di bawah kakinya. Menyodorkan persis didepan cowok cupu yang tengah menunduk dengan kedua tangan yang mengepal, begitu erat.
"Lo nggak apa-apa?" Ucap si cupu yang mengangkat wajahnya tiba-tiba.
"Hah, kok gue? Harusnya gue yang tanya ke elo. Lo nggak apa-apa?"
Ting
Naysilla membuka ponselnya. Menilik notifikasi pesan baru dari Mamihnya. Saat pandangannya kembali ke depan, yang ada hanya kekosongan.
"Ck... Dasar cupu aneh" gerutunya pelan, lantas kembali ke kamar asrama, dengan ponsel retak di tangannya.
cupu tuh apaan ?