NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi / Iblis
Popularitas:786
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1.

15 tahun lalu, di sebuah kota yang bersalju.

"Vince, ikhlaskan saja cinta pertamamu itu pergi. Kasihan Naura, daripada terus hidup dalam penderitaan karena menjadi tawanan Raja Vampir. Kita tahu, jika sebelum menjadi raja vampir, Liam tidak sejahat itu. Tapi kan kamu tahu, kita juga tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Naura," ujar Daniel yang berdiri di samping Vince, merasa ikut berduka atas nasib cinta pertama sahabatnya.

"Bahkan aku sendiri juga harus mengikhlaskan Cherly untuk hidup bersama dengan Aron, cinta pertama nya," batin Daniel, menahan air matanya. Saat berbicara tentang Cherly, semua kenangan indah bersamanya sebagai pasangan suami istri langsung bermunculan dalam pikiran Daniel, terasa begitu dekat dan menyakitkan, seperti lukisan yang hangus terbakar.

"Aku tahu, Naura harus menerima nasibnya sebagai tawanan dan sekarang ia benar benar sudah pergi dari dunia ini. Tapi, apa yang harus ku lakukan sekarang? Bagaimana cara aku menyalurkan rasa sedih dan duka ini?" batin Vince.

Mereka berdua, ditinggalkan oleh cinta pertama mereka, menghadapi perasaan yang sama: kehilangan, harapan, dan penerimaan yang sulit. Hidup memang penuh dengan keputusan sulit dan terkadang takdir yang tak bisa mereka pilih. Vince dan Daniel, dua sahabat yang harus saling menguatkan dalam menghadapi keadaan yang tidak bisa mereka ubah dan merelakan pergi orang yang pernah sangat mereka cintai.

"Aku benar-benar bingung, Niel! Bagaimana cara melupakan Naura dan bayang-bayangnya yang selalu menghantui pikiranku? Aku sudah mencintainya sejak kita masih SMP, dan selalu menunggunya menerima cintaku. Naura memang seorang gadis cerdas, pintar, dan populer, banyak laki-laki yang mencoba mendekatinya. Namun, tak ada satu pun yang berhasil menjadi pacarnya. Lalu tiba-tiba aku mendengar berita tragis: kedua orang tuanya meninggal, dan dia dijodohkan dengan Liam. Rasanya hatiku remuk! Apakah kamu tahu, Niel? Dulu aku rela menahan diri, aku bahkan menjaga ciuman pertamaku hanya untuk Naura. Aku ingin itu menjadi sesuatu yang spesial, tapi ironisnya, aku malah berciuman dengan Ronald, sahabatku sendiri, tepat di depan Naura. Sungguh sesuatu yang sangat aku sesalkan, rasanya malu dan menyesal bercampur jadi satu. Tapi sekarang, bahkan menunggunya menjadi janda pun tak mungkin, karena Naura telah tiada. Aku merasa begitu diremehkan oleh takdir. Kenapa Tuhan begitu tidak adil kepadaku?" ujar Vince dengan senyuman getir, sambil air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya.

Daniel hanya bisa mengusap-usap punggung Vince. "Kita itu sama, Vince, sama-sama menyedihkan urusan cinta! Aku menikahi Cherly karena trauma dan kasihan, akibat pembullyan parah di sekolahnya. Namun, cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu dan kebersamaan yang kita jalani sebagai pasangan suami istri."

Sejenak hati Daniel terasa sesak saat mengingat kisahnya, "Tapi... takdir berkata lain. Cherly yang akhirnya tahu dan tidak terima jika aku lah yang menghamili adiknya. Sejak itu hubungan kami renggang, ditambah lagi adik Cherly yang terus datang dan menganggu hubungan kami." Daniel merasa pilu saat mengenang masa lalu itu, lalu ia melanjutkan, "Membahasnya pun percuma, Vince. Malah akan membuat hatiku semakin terasa sakit." Dia meremas dadanya yang terasa sesak, mencoba menahan rasa sakit itu.

Vince mengangguk, merasa mengerti apa yang dirasakan sahabatnya. "Kamu benar, Niel. Hidup tetap harus terus berjalan, entah ada atau pun tanpa Naura di hidupku!"

Terasa dalam hati keduanya ada rasa empati dan kesedihan yang saling berbagi, menemukan kekuatan bersama untuk menghadapi cinta yang tak selalu berpihak pada mereka.

"Kita harus berhenti meratapi perpisahan ini, sekarang lebih baik kita fokus melanjutkan pendidikan kita! Bukankah kita berdua masih memiliki cita-cita yang belum tercapai? Mungkin di universitas nanti kita akan menemukan wanita yang cocok. Memangnya aku dan kamu ini bukan lelaki jelek, 'kan? Kamu tampan dan pintar, Vince. Ingat saat di SMA Nusa Bangsa dulu, kamu bahkan sempat menjadi cowok tertampan dan terpintar sekaligus! Apalagi kamu berasal dari keluarga yang kaya raya. Aku yakin kita berdua pasti bisa menemukan perempuan yang lebih baik dari Naura," ungkap Daniel sembari menatap awan-awan bersalju dari jendela apartemen milik Vince.

Saat itu, Daniel datang untuk memberitahukan kabar duka tentang kematian Naura setelah melahirkan anaknya.

***

**

*

[Maura sayang bangun!]

[Maura, Mamih cuman mau ingetin. Jangan terlambat, nanti kamu kena hajar lagi sama Mamah Stela]

Cherly terlihat mengirimkan beberapa pesan untuk Maura, anak angkatnya.

"Cherly, kamu kenapa sih sayang? Lagi sarapan kok terus megang hape, bukannya makan sarapannya!" tegur Aron, suami Cherly, yang terlihat khawatir.

"Aron, aku itu lagi ngirim pesan ke Naura. Eh, lupa lagi, maksudku Maura!" sahut Cherly sembari menepuk jidatnya. Ia merasa panik karena khawatir dengan keadaan Maura, anak angkatnya yang selalu mendapatkan perlakuan buruk dari ibunya, Stela.

"Maura? Memangnya kenapa? Kok kamu sepanik itu! Apa jangan-jangan Maura dipukul Stela lagi, atau semalaman nggak dibolehin makan dan dikunci di dalam kamar mandi!" Aron terlihat memasang ekspresi wajah geram.

Amarah Aron semakin memuncak saat teringat akan perlakuan Stela terhadap anaknya sendiri, Maura yang masih berumur 15 tahun.

Dalam hatinya, Cherly ingin melindungi Maura dari kekejaman Stela, tetapi tidak tahu harus berbuat apa. "Tidak tega rasanya melihat Maura mendapatkan hukuman seperti itu, padahal dia masih muda dan berhak hidup bahagia seperti anak-anak lainnya," gumam Cherly dalam hati. Sambil berusaha mengirim pesan untuk Maura.

"Sayang, tolong jangan ingetin perihal kelakuan buruk Stela pada Maura. Kalau keinget itu aku sangat sedih, udah hak asuh anak gak bisa ketangan kita. Aku teringat janjiku pada Naura yang akan selalu menjaga Maura anaknya dengan baik." Cherly nampak sedih.

"Sabar sayang, aku juga sedang mencari cara untuk membuat Stela itu kapok menghajar anak kita. Liam sendiri sebagai ayah kandung juga tidak bisa apa apa, Stela memang licik. Dia mengancam Lian akan membeberkan masa lalu sebelum Naura ( Ibu kandung Maura ) meninggal, dan akan menceritakan perihal silsilah vampir bahkan ramalan Naura yang akan menjadi ratu vampir yang kejam dan juga jahat seperti ayahnya yang lain yaitu Liam. Naura memang tidak boleh tahu masa lalunya kelam, karena di takutkan akan memicu kemarahan yang membuat jiwa dan kekuatan ratu vampirnya itu kembali."

"Makanya itu, aku juga gak bisa berbuat apa apa sampai sekarang. Melihat banyak luka lebam yang ada di tubuhnya, kadang hal itu sungguh membuat ku sedih dan juga tidak rela. Tapi gimana lagi?"

"Terus apa yang sekarang ini kamu khawatir kan sayang?" tanya Aron. "Aku pasti akan segera mencari cara agar Stela itu kapok menyakiti Maura."

"Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah! Maura itu kan memang anaknya manja, aku takut karena liburan kelulusan SMP dia kan gak biasa bangun pagi. Aku takut kalau sampai tidak ada yang membangunkan nya. Aku hubungi dari tadi belum ada balasan."

"Sayang tenanglah! Mungkin saja Maura sedang bersiap siap untuk berangkat ke sekolah, atau mungkin sekarang ini dia sedang sarapan." Aron berusaha menenangkan istrinya.

"Tapi —" ucapan Cherly nampak terhenti, kala Aron membungkam bibirnya itu dengan jari telunjuknya.

"Ssstttt, coba tunggu balasan dari Maura."

Tak berselang lama, Cherly pun mendapatkan balasan dari Maura anak angkatnya.

Cherly malah terlihat semakin panik, bahkan ia juga terlihat bertukar telepon dengan Maura.

Beberapa saat kemudian.

"Gimana nih? Maura belum di daftarin sekolah sama Stela," kata Cherly sembari memasang wajah panik.

"Maaf sayang, hari ini aku hari berangkat kerja. Tapi ada sekolah yang baru di buka di daerah Jalan merpati. Coba kamu daftar saja kesana, aku bantu nanti!" Aron kembali menenangkan istrinya, sembari mencium dahi istrinya itu.

"Jalan merpati," gumam Cherly teringat sesuatu. Aron sendiri terlihat terburu buru, karena hape yang berada di tangannya itu terus berbunyi.

****

***

**

"Maafin Maura Mih, Maura di tipu sama Mamah Stela. Padahal katanya dia mau daftarin sekolah untuk Maura," ucap Maura sedih.

"Nggak sayangku ... si cantik Maura anak Mamih. Mamih hari ini gak sibuk. Kalau memang gak di terima, biar Mamih nanti yang menyogok pihak sekolah, agar  Naura sayang diterima," ucap Cherly sembari menarik tangan Maura untuk mengikuti langkah kakinya.

Cherly merasa tidak asing dengan bangunan dan lokasi sekolah saat ini.

"Mamih kok manggil aku Naura terus. Aku Maura Mih, bukan Naura," ucap Maura kesal.

"Maafin Mamih sayang, soalnya wajah kamu itu cantik seperti.. akh sudahlah itu kita sudah sampai di ruang kepala sekolah."

Tok

Tok

Ceklek

"Pak tolong terima anak saya masuk ke sekolah ini," ucap Cherly tanpa permisi terlebih dahulu pada dua orang pria berpakaian dinas yang seumuran dengannya.

Dua pria itu sedang duduk di sofa kepala sekolah dan sedang sibuk membahas sesuatu sembari terus melihat ke atas kertas yang ada di meja sofa.

"Tapi pendaftaran di sekolah ini sudah tutup." tutur salah satu pria itu dengan ketus, tapi pandangannya tetap menatap ke arah kertas yang ada dimeja.

"Tolong lah pak, kasihan anak saya nangis ini lo!" ucap Cherly sembari memberi kode pada Maura agar berpura pura menangis.

"Huaaaaaaa," bukanya menangis, Maura malah menjerit.

"Tidak tidak, kami sudah tidak menerima murid baru," ucap pria tadi sembari mendongakkan wajahnya.

"Cherly," ucapnya.

"Daniel," panggil Cherly lirih.

"Cherly? .. bukan kah elo dah cerai sama dia. Udah nikmati aja masa duda Lo," ucap pria sebelahnya dengan nada mencibir.

"Vince itu Cherly kesini sama Naura, coba lihatlah!" pinta Daniel sembari menyenggol tangan Vince.

Vince pun menurut dengan mendongakkan wajahnya.

Melihat Naura yang menangis kencang, Vince pun lantas berdiri dan langsung memeluk Maura, karena dia menyangka jika gadis yang mirip bahkan nyaris sama dengan cinta pertamanya itu Naura.

"Mih, aku kok di peluk peluk om tua. Aku masih 15 tahun belum pernah di peluk peluk siapapun selain Papih dan Ayah. Om lepasin aku hanya pura pura nangis," ucap Maura sembari mendorong tubuh Vince dengan keras.

"Naura, sampai sekarang aku menunggumu!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!