NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bangkitnya si Bodoh di Tubuh si Lemah

​Darah segar menyembur dari mulut Ji Huang saat tubuh kurusnya terhempas menghantam batang pohon ek kuno. Rasa sakit yang teramat sangat, seperti didera ribuan jarum membara, langsung menjalar dari dadanya ke seluruh saraf. Di sana, tiga bekas cakar menganga lebar, merobek pakaian linen murahnya hingga memperlihatkan daging yang termutilasi.

​“Sialan… sakit sekali,” batin Ji Huang, napasnya memburu, meninggalkan kepulan uap tipis di udara hutan yang lembap.

​Di depannya, semak-semak lebat bergoyang hebat. Sesaat kemudian, seekor Serigala Belati Bermata Tiga melangkah keluar. Binatang buas tingkat rendah itu berukuran sebesar anak lembu, dengan dua taring mencuat dari rahang atas bagai sepasang pedang pendek, dan satu mata vertikal di dahinya yang memancarkan aura merah haus darah. Air liurnya menetes ke tanah, membakar rumput dengan asam korosif.

​Bagi monster itu, pemuda di depannya hanyalah makan malam yang empuk.

​Ji Huang mencoba menggerakkan tangan kanannya, namun rasa lemas yang luar biasa justru membuatnya ingin mengumpat. Saat dia memeriksa kondisi internalnya, dia hampir saja tidak percaya. Meridian tubuh ini sekecil sedotan, tersumbat oleh kotoran kultivasi, dan dantian-nya—pusat energi spiritual—kering kerontang seperti tanah dilanda kemarau seratus tahun.

​“Tunggu dulu. Ini bukan tubuh dewa pedangku,” pikirnya bingung. “Kenapa aku ada di dalam rongsokan daging yang bahkan bergerak pun susah?”

​Mata ketiga sang serigala tiba-tiba berkilat. Binatang itu menekuk kaki belakangnya, bersiap melakukan terkaman mematikan.

​Di detik ketika monster itu melompat ke udara, memamerkan taring belatinya yang berkilauan, waktu di sekitar Ji Huang seolah-olah melambat drastis. Ini bukan sihir ruang-waktu, melainkan Domain Persepsi dari jiwanya yang berada di tingkat dewa. Di tengah ancaman kematian yang kedua kalinya ini, ingatan Ji Huang justru melayang mundur, kembali ke beberapa jam yang lalu. Ke momen paling gemilang sekaligus paling memalukan dalam seluruh sejarah Benua Langit.

​Beberapa jam sebelumnya, dia adalah Saint Ji Huang. Dewa Pedang tak terkalahkan yang berdiri di puncak dunia kultivasi. Selama seribu tahun, hidupnya hanya diisi oleh meditasi, menempa pedang, dan bertarung. Dia tidak punya teman, tidak punya kekasih, dan tidak pernah tahu rasanya bersenang-senang. Dia sangat kesepian, namun semua itu terbayar ketika dia berhasil menciptakan jurus pedang pamungkasnya: Segel Pedang Abadi Pembalik Langit.

​Hari itu, di atas puncak Gunung Kosmik, Saint Ji Huang berdiri dengan jubah putihnya yang berkibar ditiup angin badai. Dia tertawa jemawa, menatap langit malam yang dipenuhi petir petaka.

​“Hari ini, jurusku sempurna! Langit dan bumi akan tunduk!” serunya dengan bangga.

​Berniat menguji daya hancur luar biasa dari segel tersebut, dia mengayunkan pedang kedewataannya, mengumpulkan seluruh esensi hukum alam ke satu titik. Namun, karena terlalu bersemangat dan sedikit teledor, Ji Huang salah menghitung arah pembalikan energi spiritual pada segel lapis kesembilan. Aliran Qi yang seharusnya melesat ke depan dan membelah angkasa, justru berputar balik, membentuk pusaran hitam yang mengunci ruang di sekitarnya.

​Jurus ciptaannya sendiri berbalik menyegel dirinya.

​“Eh?” Hanya itu kata yang sempat keluar dari mulut sang Dewa Pedang saat rantai cahaya keemasan muncul dari ruang hampa, melilit tubuh manusianya, dan menghancurkan inti kedewataannya dalam hitungan detik.

​Saat jiwanya terkoyak dan ditarik masuk ke dalam celah dimensi, Saint Ji Huang tidak merenungi esensi ilmu pedang. Dia tidak menangis karena kehilangan kultivasinya. Dia justru meratapi nasibnya dengan penuh kejengkelan: “Sialan! Aku mati sekonyol ini?! Aku bahkan belum sempat mencicipi arak madu dari Benua Selatan yang katanya sangat manis itu! Seribu tahun hidupku cuma buat latihan, dan aku mati karena jurus sendiri? Dewa macam apa aku ini?! Kalau aku bisa hidup lagi, aku bersumpah tidak akan mau repot-repot latihan sampai mati!”

​Wusss!

​Waktu kembali berputar normal. Serigala Belati Bermata Tiga sudah berada hanya setengah meter di depan wajahnya. Bau busuk dari paruh monster itu tercium menyengat.

​"Berisik sekali, mengganggu lamunanku saja," gumam Ji Huang dengan wajah datar, sama sekali tidak memperlihatkan ketakutan seorang remaja yang berada di ambang maut.

​Meskipun tubuh barunya ini sampah, dan meskipun dia tidak memiliki setetes pun energi Qi di dalam dantiannya, Ji Huang adalah seorang Dewa Pedang. Baginya, pedang bukanlah tentang seberapa besar energi yang kamu miliki, melainkan tentang pemahaman terhadap titik lemah dunia.

​Tangan kanannya yang gemetar meraba tanah, jemarinya menyentuh sebilah ranting pohon kering sepanjang tiga puluh sentimeter. Ranting itu rapuh, berlumut, dan tampak siap patah kapan saja.

​Namun di tangan Ji Huang, ranting itu mengeluarkan suara berdengung halus.

​Tanpa mengubah posisi duduknya yang bersandar di pohon, Ji Huang mengayunkan ranting pohon itu dengan gerakan yang sangat malas, seolah-olah dia hanya sedang mengusir lalat yang mengganggu tidur siangnya. Gerakannya terlihat lambat, namun memiliki akurasi yang mengerikan. Ranting itu melesat melompati celah di antara dua taring belati sang serigala, meluncur lurus tanpa hambatan, dan Jlep!

​Ranting kering itu menembus tepat di tengah mata ketiga sang serigala, menembus tengkoraknya yang keras bagai baja, dan keluar dari belakang kepalanya.

​Mata merah monster itu langsung meredup. Tubuh besarnya kehilangan semua momentum, ambruk ke tanah dengan keras tepat di samping kaki Ji Huang, menumpahkan darah hitam yang kental.

​Ji Huang melepaskan pegangannya dari ranting yang kini telah hancur menjadi abu karena tidak kuat menahan tekanan niat pedangnya. Dia menghela napas panjang, menatap bangkai serigala itu dengan pandangan polos tanpa dosa.

​"Binatang bodoh. Lemah sekali," ejek Ji Huang blak-blakan. "Padahal aku cuma pakai satu persen dari niat pedangku. Tapi..." Dia meringis kesakitan sambil memegangi dadanya yang robek. "Uh, tubuh ini benar-benar rongsokan. Baru bergerak sedikit saja rasanya jantungku mau copot."

​Sembari menahan rasa sakit, seberondong ingatan asing tiba-tiba menghantam kepalanya bak air bah. Ji Huang memejamkan mata, membiarkan memori dari pemilik tubuh asli menyatu dengan jiwanya.

​Nama bocah ini juga Ji Huang. Umurnya enam belas tahun, seorang murid dari Cabang Keluarga Huang yang terletak di pusat Kota Amerta. Di dunia yang mengagungkan kekuatan ini, Ji Huang versi asli adalah sebuah aib. Dia malas, bakat kultivasinya sangat buruk, dan selalu berada di tingkat paling bawah di antara generasi muda keluarga. Karena sifatnya yang dianggap "sampah tak berguna", dia sering menjadi sasaran perundungan.

​Hari ini, dia dijebak oleh sepupunya sendiri, Huang jian, yang berpura-pura mengajaknya mencari ramuan obat di Hutan Kabut Hitam. Namun begitu sampai di wilayah terdalam, Huang Jian mendorongnya ke sarang Serigala Belati dan melarikan diri sambil tertawa. Ji Huang yang asli mati ketakutan dan terluka parah sebelum jiwa sang Dewa Pedang mengambil alih.

​"Ah, jadi namanya sama," Ji Huang bergumam sendiri, matanya berkedip polos. "Dan dia mati karena dijebak? Kasihan sekali. Tapi bagus juga, kamarnya sekarang jadi milikku. Di ingatannya, kasur di kamarnya cukup empuk."

​Ji Huang tidak merasakan dendam yang membara atau keinginan berapi-api untuk menegakkan keadilan bagi pemilik tubuh lama. Dia terlalu malas untuk memikirkan hal-hal berat seperti itu. Yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana cara agar dia bisa tidur siang dengan tenang tanpa ada serigala atau sepupu menyebalkan yang mengganggunya.

​Dia merangkak mendekati bangkai serigala, lalu tanpa ragu menusukkan jari telunjuknya ke dada monster itu. Dengan sedikit sisa niat pedangnya, dia membedah dada serigala dan mengeluarkan sebuah batu kristal kecil berwarna merah redup—Inti Monster.

​"Kotor, tapi lumayan untuk mengobati luka ini," ucapnya jujur.

​Tanpa memedulikan tata krama kultivasi yang mengharuskan seseorang bermeditasi berjam-jam untuk menyerap inti monster, Ji Huang langsung meremas kristal itu hingga hancur. Serpihan energinya diserap secara paksa melalui pori-pori kulitnya. Aliran energi liar yang panas itu dipaksa tunduk oleh kehendak jiwa Dewa Pedang, mengalir ke dadanya dan mulai menutup luka cakar yang menganga.

​Meskipun rasanya perih, wajah Ji Huang tetap datar. Setelah luka-lukanya berhenti berdarah dan sebagian tenaganya pulih, dia berdiri dengan perlahan, menepuk-nepuk debu dari celananya yang robek.

​Dia menatap ke arah luar hutan, di mana Kota Amerta berada.

​"Dulu di kehidupan pertama, aku menghabiskan seluruh waktu untuk berkultivasi sampai-sampai mati konyol tanpa sempat menikmati hidup. Sekarang, karena takdir memberiku tubuh si malas ini, aku akan menjalani hidup dengan santai. Aku mau makan makanan enak, minum arak terbaik, dan tidur sampai siang setiap hari," Ji Huang tersenyum kecil, memikirkan rencana pensiunnya yang indah.

​Namun, senyum itu perlahan berubah menjadi seringai dingin yang agak sadis saat dia mengingat wajah Huang Jian dan para tetua keluarga yang selalu menindas tubuh ini.

​"Tapi sebelum aku bisa tidur siang dengan tenang, aku harus membereskan tikus-tikus yang berisik. Siapa tadi nama bocah yang mendorongku? Huang Jian? Ya, aku rasa aku perlu mematahkan kedua kakinya terlebih dahulu agar dia tidak mengganggu waktu bersantiku."

​Dengan langkah santai, tangan dimasukkan ke dalam saku, dan baju yang penuh lumuran darah, Dewa Pedang yang malas itu mulai berjalan keluar dari hutan, siap menggegarkan Kota Amerta dengan kepolosannya yang mematikan.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!