"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akar Spiritual Kelas Rendah
Malam itu begitu sunyi. Rembulan pucat menggantung tinggi di hamparan langit malam, memancarkan cahaya keperakan yang dingin menyapu atap-atap megah kediaman Klan Lin. Angin malam berembus tajam, mengguncang dedaunan di halaman utama dengan suara mendesis yang janggal.
Di depan sebuah kamar berpintu kayu jati yang tertutup rapat, seorang pria paruh baya—yang tak lain adalah Kepala Klan Lin—sedang berjalan mondar-mandir. Wajahnya dipenuhi guratan kecemasan, dan sepasang tangannya bergetar samar di balik jubah sutranya.
Dari balik pintu, suara rintihan pilu seorang wanita memecah keheningan malam.
"Aaaah...! Sakit...!" Suara itu parau, disertai bunyi kain selimut yang dicengkeram dengan mengerikan akibat menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"Tahan, Nyonya! Sedikit lagi, dorong lebih kuat!" Suara panik para pelayan terdengar bersahutan, bercampur dengan aroma anyir darah dan uap air hangat yang samar-smar menguar hingga ke luar pintu.
Oeeek... Oeeek...!
Detik berikutnya, sebuah tangisan melengking memotong deru angin malam. Pintu kamar segera terbuka sedikit, memperlihatkan seorang pelayan dengan wajah berseri-seri penuh peluh. Dengan hati-hati, dia menangkup sesosok bayi mungil yang masih basah ke dalam kain hangat.
"Selamat, Tuan Besar! Nyonya telah berhasil. Bayinya lahir dengan selamat dan sangat sehat!"
Ketegangan di wajah Kepala Klan Lin seketika runtuh, digantikan oleh binar kebahagiaan yang meluap. Tanpa membuang waktu, dia melangkah lebar menerobos masuk ke dalam kamar. Langkah kakinya yang berat bergaung di lantai kayu yang hangat. Dia menerima bayinya dari tangan pelayan, menatap wajah mungil yang masih menangis itu dengan mata berkaca-kaca.
"Ini adalah penerus kita..." ucapnya lirih, suaranya bergetar oleh emosi.
Di atas ranjang, sang istri terbaring kuyu dengan wajah pucat tanpa darah dan rambut yang basah oleh keringat. Namun, sebuah senyuman lembut terukir di bibirnya yang kering. "Benar, Suamiku... ini adalah darah daging kita."
"Nama apa yang akan kita berikan pada anak ini?" pria itu bertanya, menatap istrinya dengan pandangan penuh harap.
"Karena dia lahir di bawah cahaya bulan yang murni, dan akan menjadi harapan besar bagi klan kita untuk menuju puncak keabadian... mari kita namai dia Lin Ling."
Kepala Klan Lin mengangguk puas. Senyumnya mengembang lebar. Namun, sebagai seorang kultivator, instingnya secara refleks menggerakkan jemarinya untuk menyentuh pergelangan tangan kecil bayinya, mencoba merasakan aliran Qi dan memeriksa bakat bawaannya.
DEG.
Seketika itu juga, senyuman di wajah Kepala Klan Lin membeku. Warna darah di wajahnya menyusut drastis, menyisakan pucat yang mengerikan.
"Suamiku... ada apa?" Wanita di atas ranjang menangkap perubahan drastis itu. Jantungnya berdesir buruk.
Kepala Klan Lin mengertakkan giginya hingga mengeluarkan suara berderit yang memilukan. Hatinya terasa seperti dihantam batu besar. "Anak kita... dia hanya memiliki Akar Spiritual Kelas Rendah (Low-Grade Spiritual Root). Bakat seperti ini... jangankan menjadi kebanggaan klan, dia bahkan tidak akan pernah memiliki kualifikasi untuk mengetuk gerbang Sekte Bangau Abadi."
Mendengar kata 'Kelas Rendah', dunia seolah runtuh bagi sang ibu. Harapan besar yang baru saja membubung tinggi seketika terhempas ke dasar jurang terdalam. Pandangannya berputar, dadanya sesak, sebelum akhirnya kegelapan merenggut kesadarannya. Tubuhnya terkulai lemas di atas ranjang.
"Nyonya! Nyonya pingsan! Cepat panggil tabib!" Aula yang semula penuh sukacita itu seketika berubah menjadi kekacauan yang dingin.
Malam yang penuh tragedi tersembunyi itu pun berlalu dengan cepat.
Empat tahun kemudian.
Matahari siang menyengat pelataran batu di depan Aula Leluhur Klan Lin. Udara terasa gerah dan menyesakkan. Di tengah halaman yang luas itu, seorang anak kecil berusia empat tahun berdiri dengan kedua tangan diangkat tinggi-tinggi ke atas kepala.
Rambutnya yang berwarna putih bersih tampak kontras dengan tubuhnya yang dipenuhi memar kebiruan akibat hantaman rotan. Pakaiannya lusuh, dan peluh bercampur debu mengalir di pelipisnya.
Di koridor aula, beberapa murid klan berjalan melintas sambil berbisik-bisik, tatapan mereka penuh dengan penghinaan dan cemoohan.
"Hei, lihat. Bukankah itu putra sulung Kepala Klan? Kudengar dia terlahir sebagai sampah yang hanya memiliki Akar Spiritual Kelas Rendah."
"Cih, pantas saja dia dihukum setiap hari. Jangankan mengharumkan nama klan, keberadaannya hanya menjadi noda hitam bagi wibawa Tuan Besar."
"Ssst, pelankan suaramu! Jika terdengar oleh Tetua, kau bisa ikut dihukum."
Lin Ling kecil mendengar semua gunjingan itu, namun sepasang mata hitamnya tetap menatap lurus ke depan dengan dingin, seolah kata-kata tajam itu hanyalah desau angin kosong. Namun, tubuh fananya tidak bisa berbohong. Kakinya yang mungil gemetar hebat.
"Huft... Huft... melelahkan sekali," gumam Lin Ling dengan napas yang terputus-putus. "Dari terbit fajar hingga siang hari... aku hanya ingin duduk sebentar..."
Pandangannya tiba-tiba mengabur, langit di atasnya seolah berputar, dan tubuh ringkihnya ambruk ke atas lantai batu yang panas.
PLAK!
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya yang mungil, meninggalkan bekas merah yang berdenyut menyakitkan. Lin Ling tersentak, perlahan membuka matanya yang bengkak.
Kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul saat sesosok wanita anggun berpakaian sutra mewah berdiri di depannya dengan wajah yang dipenuhi kemurkaan. Itu adalah ibunya sendiri.
"Bocah sialan! Siapa yang mengizinkanmu berbaring?!" suara wanita itu melengking tinggi penuh kebencian. "Kau seharusnya berdiri di sini sampai matahari terbenam untuk merenungi takdir sampahmu yang membuatku malu di depan klan besar!"
"Tapi Ibu... aku..." Lin Ling mencoba membuka mulutnya yang kering untuk menjelaskan bahwa tubuhnya sudah mencapai batas.
"Diam! Mulai hari ini, aku tidak ingin melihat wajah sialmu lagi di kediaman utama! Penjaga, seret dia ke Paviliun Penyesalan! Biarkan dia membusuk di sana sendirian!" Wanita itu berbalik dengan kasar, mengibaskan jubahnya dan pergi tanpa sekali pun menoleh ke arah anak kandungnya yang sedang merangkak di atas tanah.
Lin Ling menatap punggung ibunya yang menjauh. Di dalam hati bocah berusia empat tahun itu, sebuah senyuman sinis yang tidak sesuai usianya perlahan terukir.
"Orang-orang ini... benar-benar kejam," bisik Lin Ling lirih, menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Hanya karena bakatku rendah, aku bahkan tidak lebih berharga dari seekor anjing penjaga di mata mereka."
Dia menghela napas panjang, meredam seluruh rasa sakit di tubuhnya. "Tapi, menjadi pelampiasan emosi mereka tidak terlalu buruk... setidaknya, di tempat terpencil itu mereka tidak akan repot-repot membunuhku. Selama aku masih hidup, itu sudah cukup."
Dengan sisa tenaganya, Lin Ling bangkit berdiri, menyeret langkah kakinya yang berat menuju ke arah Paviliun Penyesalan—sebuah tempat pembuangan yang sunyi di sudut paling belakang klan.
Dua tahun kembali berlalu dalam kesunyian.
Di aula utama Klan Lin, suara tawa renyah dan ucapan selamat bergaung memenuhi ruangan yang dihias megah. Beberapa tetua dari sekte luar berkumpul dengan wajah penuh sanjungan.
"Haha! Selamat, Kepala Klan Lin! Sungguh berkah yang luar biasa! Putri kedua Anda yang baru lahir ini benar-benar seorang jenius yang hanya muncul sekali dalam seratus ribu tahun! Bakat Akar Spiritualnya berada di Kelas Super (Super-Grade Spiritual Root)!"
Membubung oleh rasa bangga yang luar biasa, Kepala Klan Lin mengelus janggutnya yang panjang sambil tertawa lebar. "Akhirnya...! Klan Lin-ku memiliki harapan mutlak untuk bangkit dan menguasai wilayah ini!"
Dia menoleh ke arah istrinya yang sedang menggendong bayi perempuan yang cantik berselimut kain sutra emas. "Istriku, kali ini giliranmu untuk memberikan nama yang agung baginya."
Wanita itu tersenyum sangat cerah, kebahagiaan yang hilang empat tahun lalu kini kembali sepenuhnya. "Karena dia memancarkan aura bagaikan permata surgawi, mari kita namai dia Lin Yao."
"Bagus! Lin Yao! Mulai hari ini, seluruh sumber daya klan akan dipusatkan untuknya!"
Sementara itu, jauh dari kemegahan aula utama, di dalam Paviliun Penyesalan yang sunyi dan berdebu.
Lin Ling yang kini berusia enam tahun sedang merebahkan tubuh kecilnya di atas dipan bambu yang keras. Sebuah buku tua yang halamannya sudah menguning terbuka di atas wajahnya. Dia menghela napas pelan, menikmati keheningan yang telah menemaninya selama dua tahun terakhir.
Sejak ibunya melahirkan adik perempuannya yang jenius, perhatian seluruh klan beralih total. Lin Ling sepenuhnya dilupakan, terbebas dari siksaan fisik dan caci maki. Baginya, diabaikan seperti ini adalah anugerah terbesar.
Merasa bosan, Lin Ling bangkit dari dipan. Dia menyisipkan selembar daun hijau di sela bibirnya, memberikan kesan acuh tak acuh dan malas pada wajahnya yang halus. Dia melangkah keluar paviliun untuk mencari udara segar.
Angin pagi yang sejuk menerpa rambut putihnya yang panjang. Lin Ling berjalan santai menyusuri jalan setapak yang dipenuhi lumut, hingga langkahnya terhenti saat mendengar bisikan dua orang pelayan di balik semak-semak.
"Hei, kau sudah tahu? Nyonya Kepala Klan melahirkan seorang jenius tak tertandingi! Kudengar jika diasuh oleh sekte besar, adik dari Tuan Muda Sampah itu pasti akan menjadi seorang Immortal (Mahluk Abadi)!"
"Ah, aku benar-benar iri. Mengapa bakat seperti itu tidak jatuh kepadaku saja? Haha!"
Lin Ling yang berdiri di balik bayangan pohon terperanjat. Daun di bibirnya terjatuh. 'Aku... memiliki seorang adik perempuan?'
Sebuah perasaan asing yang hangat tiba-tiba bergejolak di dalam dada bocah yang selama ini hidup dalam kesendirian itu. Matanya yang biasanya dingin kini bersinar penuh semangat. Tanpa berpikir panjang, tubuh kecilnya langsung berbalik dan berlari kencang menuju Istana Giok Emas—tempat kediaman utama adik bayinya.
"Huft... Huft... Akhirnya sampai..." Lin Ling bertumpu pada lututnya di depan gerbang megah Istana Giok Emas, napasnya terengah-engah dan keringat membanjiri wajahnya. Namun, senyum di wajahnya tidak luntur saat dia melangkah hendak melewati gerbang depan.
SRET! Clang!
Dua tombak besi berujung dingin tiba-tiba menyilang tepat di depan dadanya, menahan langkahnya dengan kasar.
Lin Ling mendongak, menatap dua penjaga bertubuh besar yang menatapnya dengan pandangan dingin tanpa emosi. "Apa yang kalian lakukan? Aku ingin masuk."
Kedua penjaga itu saling melirik sekilas, sebelum salah satu dari mereka mendengus pelan dengan nada meremehkan. "Maaf, Tuan Muda Lin Ling. Siapa pun tidak diizinkan masuk ke tempat ini tanpa izin khusus. Ini adalah perintah langsung dari Tuan Besar demi menjaga ketenangan Nona Muda Lin Yao."
"Apakah benar-benar tidak bisa? Aku hanya ingin melihat adikkku sebentar saja," Lin Ling menatap mereka dengan pandangan memohon, sepasang tangan kecilnya mencengkeram jubahnya sendiri.
Namun, kedua penjaga itu tetap bergeming bagaikan patung batu, menggelengkan kepala mereka dengan tegas. Bahu Lin Ling seketika merosot. Dengan perasaan kecewa yang mendalam, dia membalikkan tubuh ringkihnya, berjalan gulai kembali menuju Paviliun Penyesalan yang dingin.
Meski begitu, Lin Ling tidak menyerah.
Keesokan harinya, dia kembali datang ke Istana Giok Emas dengan harapan yang sama, namun dua tombak dingin itu kembali menyambutnya dengan penolakan yang sama.
Hari ketiga, Lin Ling tidak datang dengan tangan kosong. Dia membawa sebuah mangkuk tanah liat kecil yang ditutup rapat. Aroma harum gandum samar-samar keluar dari sela-selanya. "Ini... ini adalah bubur hangat yang kubuat sendiri dengan susah payah sejak subuh. Bolehkah aku masuk untuk memberikannya?"
Kedua penjaga itu melirik mangkuk lusuh tersebut dengan tatapan jijik. "Tuan Muda, jangan mempersulit kami. Sampah dari luar tidak boleh dibawa masuk ke dalam Istana Giok Emas."
Hati Lin Ling mencelos. Rasa kecewa dan sedih yang luar biasa membuat matanya menghangat. Tepat saat dia membalikkan badan dengan bahu bergetar, sebuah suara parau namun penuh wibawa terdengar dari balik pintu istana yang perlahan terbuka.
"Biarkan dia masuk."
Mendengar suara sang ayah, Lin Ling seketika menoleh. Rasa sedihnya menguap, digantikan oleh binar kebahagiaan yang lugu. Dia segera melangkah cepat, mengekor di belakang penjaga melewati koridor Istana Giok Emas yang sangat megah. Pilar-pilar bangunan ini dilapisi emas, dan lantainya terbuat dari batu giok putih yang memantulkan bayangan tubuh kecilnya yang kontras dan lusuh.
Pintu aula dalam yang tinggi terbuka. Di sana, duduk Kepala Klan Lin bersama istrinya yang sedang menimang bayi perempuan. Lin Ling segera berlutut dan menangkupkan kedua tangannya dengan hormat yang paling dalam.
"Salam, Ayah. Salam, Ibu."
Dia meletakkan mangkuk buburnya di atas lantai dengan hati-hati. "Anakmu membawa sedikit hadiah untuk Adik. Ini adalah bubur gandum yang kubuat sendiri..."
Kepala Klan Lin menatap mangkuk itu, lalu mengelus janggutnya sambil mengangguk pelan, setidaknya ada sedikit rasa puas melihat kesetiaan anak sulungnya. "Haha, bagus. Kau tahu cara menghormati adikmu."
Namun, sang istri segera memeluk bayinya lebih erat, menatap Lin Ling dengan pandangan penuh kewaspadaan seolah Lin Ling adalah pembawa wabah penyakit. "Nak, adikmu Lin Yao terlahir dengan tubuh spiritual yang sangat suci dan kulit yang sensitif. Orang fana tanpa kultivasi sepertimu... tidak boleh menyentuh atau menggendongnya."
Lin Ling memaksakan sebuah senyuman di wajah kecilnya, menahan rasa sesak yang kembali mencubit dadanya. "Tidak apa-apa, Ibu... aku hanya ingin tahu, apakah dia seorang adik laki-laki atau perempuan?"
"Dia... seorang perempuan," jawab ayahnya pendek. Mendengar itu, kegembiraan murni kembali menyerbu hati Lin Ling. Ket ketakutan dan luka batinnya seolah sirna dalam sekejap. "Adik perempuan... sekarang aku memiliki seorang adik perempuan yang harus kulindungi!" gumamnya dengan mata bersinar riang.
Setelah beberapa patah kata yang terasa canggung, Lin Ling akhirnya berpamitan untuk kembali ke Paviliun Penyesalan.
Sore itu, angin berembus dengan sangat lembut, membawa hawa dingin yang perlahan mulai menusuk kulit. Matahari tenggelam sepenuhnya di ufuk barat, menyeret warna merah jingga dan menggantinya dengan kegelapan malam yang pekat. Rembulan malam itu bersinar sangat redup, tertutup oleh gumpalan awan hitam yang tebal.
Lin Ling berjalan kembali ke pondok bumbunya dengan hati yang dipenuhi kehangatan, sama sekali tidak menyadari bahwa keheningan malam yang sunyi ini... adalah awal dari badai berdarah yang akan menghancurkan seluruh sisa hidupnya.
Keesokan paginya, sebuah teriakan histeris yang memekakkan telinga memecah kedamaian Istana Giok Emas, menggetarkan seluruh kediaman Klan Lin.