"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.
Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.
Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.
Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 01 - Hadiah Itu Bukan Untukku
Pukul satu lewat tiga belas menit.
Lilin di atas kue sudah terlalu pendek untuk dinyalakan. Krim putih di pinggirnya mulai mengeras, dan tulisan kecil berwarna emas di tengah kue itu terlihat semakin menyedihkan.
Selamat ulang tahun, Alina.
Selamat ulang tahun pernikahan kelima.
Alina Prameswari duduk sendirian di meja makan yang terlalu panjang untuk satu orang. Di depan matanya ada rendang daging yang sudah dingin, sup buntut yang permukaannya berlemak, tumis buncis yang mulai layu, dan sepiring kecil pudding mangga kesukaan Arka.
Semua itu ia masak sejak sore.
Bukan karena rumah itu tidak punya asisten. Rumah keluarga Wicaksono di Pondok Indah memiliki dua ART, satu sopir, satu tukang kebun, dan satu pengasuh cadangan untuk Arka. Tapi Adrian tidak suka makanan rumah yang dimasak orang lain.
"Masakanmu lebih pas," begitu katanya dulu, lima tahun lalu, ketika mereka baru menikah.
Kalimat itu pernah membuat Alina merasa dipilih.
Malam ini, kalimat yang sama terasa seperti lelucon.
Ponselnya bergetar.
Alina menunduk. Di layar muncul notifikasi dari Instagram. Bukan pesan. Bukan telepon dari Adrian. Bukan suara Arka yang mengantuk bertanya apakah Mama masih menunggu.
Itu unggahan Close Friends dari Vania Safira.
Alina tidak pernah tahu sejak kapan ia masuk daftar Close Friends wanita itu. Mungkin sejak Vania ingin memastikan setiap luka sampai tepat ke orang yang dituju.
Ia menekan.
Foto pertama muncul.
Vania duduk di sebuah restoran taman di Kemang, mengenakan dress putih gading, rambutnya ditata sederhana. Wajahnya pucat, tapi senyumnya manis. Di sampingnya, Adrian berdiri dengan kemeja hitam, satu tangan berada di sandaran kursi Vania. Arka duduk di pangkuan wanita itu sambil tertawa, pipinya menempel ke bahu Vania.
Caption-nya pendek.
Terima kasih, Pak Adrian dan Arka kecil, untuk hadiah paling manis malam ini.
Alina menggeser layar.
Foto kedua membuat napasnya berhenti.
Sebuah kalung.
Liontin kecil berbentuk bintang, dengan batu biru tua di tengahnya.
Alina mengenali kalung itu secepat ia mengenali wajah ibunya sendiri.
Kalung itu milik mendiang ibunya. Satu-satunya benda yang tersisa dari perempuan yang melahirkannya, perempuan yang meninggal sebelum sempat melihat Alina menikah.
Kalung itu hilang di rumah sakit pada hari Alina melahirkan Arka. Saat itu tubuhnya lemah, kepalanya pusing, dan Adrian berjanji akan mencarinya.
"Aku akan menemukannya," kata Adrian waktu itu, dingin tapi tegas. "Tenang saja."
Ternyata ia memang menemukannya.
Lalu memberikannya kepada Vania.
Alina menggeser lagi.
Foto ketiga adalah cangkir keramik buatan tangan. Warnanya biru muda, berantakan di beberapa sisi, jelas dibuat oleh anak kecil. Di permukaannya tertulis dengan cat merah yang tidak rata:
Selamat ulang tahun, Mama.
Di bawahnya, ada jejak tangan kecil Arka.
Jari Alina membeku di layar.
Hari ini ulang tahunnya.
Arka membuat cangkir bertuliskan Mama, tapi cangkir itu berada di tangan Vania.
Ada suara tawa pendek dari unggahan video berikutnya. Alina menekannya tanpa benar-benar sadar.
"Tante Vania suka?" suara Arka terdengar ceria.
"Suka sekali," jawab Vania, suaranya lembut. "Ini hadiah ulang tahun paling indah yang pernah Tante terima."
"Papa bilang Tante Vania harus bahagia," kata Arka lagi. "Kalau Tante Vania bahagia, Papa juga bahagia."
Kamera bergerak ke arah Adrian.
Pria itu hanya tersenyum tipis, tapi matanya lembut. Tatapan seperti itu hampir tidak pernah ia berikan kepada Alina, tidak sejak malam pertama pernikahan mereka, mungkin bahkan tidak pernah.
Alina mematikan layar.
Ruangan kembali sunyi.
Jam dinding berdetak keras.
Ia menatap kue di meja, lalu makanan yang sudah dingin, lalu piring kecil Arka yang ia siapkan karena anak itu biasanya tidak suka sambal terlalu pedas.
Mungkin ia harus marah.
Mungkin ia harus menelepon Adrian dan menuntut penjelasan.
Tapi yang muncul hanya rasa lelah.
Lelah yang begitu dalam sampai air mata pun seperti tidak punya tenaga untuk jatuh.
Pintu utama terbuka pukul satu lewat empat puluh.
Suara langkah sepatu Adrian terdengar lebih dulu, pelan dan terukur. Setelah itu suara kecil Arka, menguap sambil menyeret sandal.
Alina tidak bergerak dari kursinya.
Adrian Wicaksono muncul di ruang makan. Wajahnya masih rapi, seolah ia baru pulang dari rapat, bukan dari merayakan ulang tahun perempuan lain bersama anak dan hadiah milik istrinya.
Ia berhenti ketika melihat Alina.
"Kamu belum tidur?"
Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.
Bukan selamat ulang tahun.
Bukan maaf.
Bukan aku pulang terlambat.
Alina menatapnya lama. "Aku menunggumu."
Adrian melirik meja makan. Ada jeda singkat di matanya, seolah baru mengingat sesuatu. Tapi jeda itu segera hilang.
"Aku lupa bilang. Kondisi Vania tadi kurang baik. Dia minta ditemani makan sebentar."
"Sebentar?"
Adrian melepaskan jam tangannya. "Kamu tahu kondisinya."
Ya. Alina tahu.
Semua orang di rumah ini tahu.
Vania Safira, cinta pertama Adrian, kembali ke Jakarta enam bulan lalu setelah bertahun-tahun tinggal di Singapura. Ia sakit. Penyakit langka, kata Adrian. Hidupnya mungkin tidak lama. Ia tidak punya keluarga dekat yang bisa mengurusnya.
Sejak hari itu, nama Vania menjadi alasan untuk semua hal.
Adrian terlambat pulang.
Vania sedang drop.
Adrian membatalkan makan malam.
Vania perlu ditemani ke dokter.
Adrian melewatkan ulang tahun Arka di sekolah.
Vania takut sendirian.
Dan malam ini, Adrian melewatkan ulang tahun istrinya.
Vania hanya ingin bahagia sebentar.
Arka berjalan melewati Alina dengan mata setengah tertutup. Lalu ia berhenti, seperti baru ingat sesuatu.
"Mama."
Hati Alina bergerak sedikit.
Anak itu menoleh, wajahnya polos, masih mengantuk. "Selamat ulang tahun."
Alina membuka mulut, tapi Arka sudah melanjutkan.
"Arka sama Papa bukan sengaja lupa. Tante Vania cuma punya waktu sebentar. Mama masih punya banyak ulang tahun lagi."
Sesuatu di dada Alina retak dengan suara yang tidak terdengar.
Adrian tidak menegur Arka.
Ia hanya berkata, "Arka, naik ke kamar. Besok sekolah."
Arka mengangguk, lalu berlari kecil ke tangga. Sebelum naik, ia menoleh lagi.
"Mama jangan marah sama Tante Vania, ya. Kasihan Tante."
Alina menatap punggung kecil itu sampai menghilang.
Setelah Arka pergi, Adrian menarik kursi dan duduk di seberang Alina. "Aku tahu kamu kecewa. Tapi Vania benar-benar tidak punya banyak waktu."
Alina tertawa pelan.
Adrian mengerutkan kening. "Apa yang lucu?"
"Tidak ada."
"Kalau soal hadiah, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu."
"Kalung ibu saya?"
Adrian terdiam.
Alina membuka ponsel, menyalakan layar, lalu meletakkannya di meja dengan foto kalung itu terbuka. "Yang ini?"
Mata Adrian turun ke layar. Wajahnya tidak berubah banyak. Ia memang selalu pandai menjaga ekspresi. Pria yang dibesarkan untuk memimpin Wicaksono Group tidak mudah terlihat bersalah.
"Itu hanya kupinjamkan."
"Kepada Vania."
"Dia menyukai bentuknya. Aku pikir beberapa hari tidak masalah."
Alina menatapnya. "Itu peninggalan ibu saya."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa kamu bisa memberikannya pada dia?"
Adrian menarik napas, mulai tidak sabar. "Alina, jangan membesar-besarkan. Kalung itu akan kembali."
"Kapan?"
"Nanti."
"Saat dia selesai memakainya? Saat dia sembuh? Saat dia meninggal?"
"Alina."
Nada Adrian mengeras.
Dulu nada seperti itu cukup membuat Alina berhenti. Ia akan menelan sakitnya, meminta maaf, lalu meyakinkan dirinya bahwa Adrian hanya lelah.
Malam ini, ia tidak ingin berhenti.
"Cangkir itu juga hanya dipinjamkan?"
Adrian memijat pangkal hidung. "Arka membuatnya di sekolah. Dia ingin memberikannya kepada Vania karena Vania ulang tahun minggu ini."
"Hari ini ulang tahun saya."
"Aku bilang aku lupa memberi tahu. Jangan membuat ini menjadi drama."
Alina menatap pria di depannya.
Lima tahun.
Ia pernah mencintai Adrian dengan cara yang bodoh dan keras kepala. Ia pernah percaya bahwa pria dingin pun bisa mencintai dalam diam. Ia pernah berpikir selama ia cukup sabar, cukup baik, cukup mengerti, suatu hari Adrian akan menoleh dan melihatnya.
Ternyata Adrian memang bisa menoleh.
Hanya bukan kepada dirinya.
Alina berdiri.
Adrian mendongak. "Kamu mau ke mana?"
"Mengambil sesuatu."
Ia berjalan ke ruang kerja kecil di samping dapur. Di laci paling bawah, ada map cokelat yang sudah ia siapkan tiga minggu lalu, setelah Adrian membatalkan janji membawa Arka ke dokter gigi karena Vania menangis di apartemennya.
Alina membawa map itu kembali ke meja makan.
Adrian melihatnya dengan alis sedikit berkerut.
Alina meletakkan map itu di hadapannya.
"Apa ini?"
"Surat gugatan cerai dan draf kesepakatan awal."
Ruangan itu mendadak sunyi.
Adrian tidak langsung menyentuh mapnya. Ia hanya menatap Alina, seperti sedang mencoba memahami bahasa asing.
"Apa maksudmu?"
"Aku mengajukan cerai."
Adrian tertawa kecil. Bukan tawa senang. Tawa dingin, tidak percaya.
"Karena malam ini?"
"Karena lima tahun."
"Alina, kamu lelah. Besok kita bicarakan."
"Aku sudah bicara dengan pengacara."
Kali ini wajah Adrian berubah.
Hanya sedikit. Tapi Alina melihatnya.
"Kamu serius?"
"Sangat."
Adrian berdiri. Tubuhnya tinggi, bayangannya jatuh ke meja makan. "Kamu pikir setelah bercerai kamu mau hidup dengan apa? Kamu tidak bekerja selama bertahun-tahun. Semua rekening rumah tangga aku yang urus."
"Itu urusanku."
"Dan Arka?"
Nama itu menusuk, tapi Alina tidak mundur.
"Arka sudah memilih."
"Dia anak kecil."
"Benar. Tapi kamu orang dewasa. Dan kamu membiarkannya melukai ibunya sendiri."
Adrian menatapnya tajam. "Jangan menyeret anak kita ke permainanmu."
"Aku tidak sedang bermain."
Alina mengambil ponselnya, lalu mematikan lilin yang bahkan belum sempat menyala. Gerakannya pelan, hampir lembut.
"Selamat ulang tahun untukku," katanya lirih.
Adrian terdiam.
Alina mengangkat wajah.
"Mas Adrian, tanda tangani kalau kamu sudah siap. Kalau Vania ingin menjadi bagian dari keluarga ini, aku akan memberi jalan."
Mata Adrian semakin gelap.
"Kamu akan menyesali ini."
Untuk pertama kalinya malam itu, Alina tersenyum.
Tipis. Tenang. Lelah.
"Tidak. Yang kusesali hanya karena aku menunggu selama ini."
Ia berbalik meninggalkan meja makan.
Di belakangnya, kue ulang tahun tetap utuh.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Alina tidak merasa perlu membereskan apa pun.
Baca Maraton tapi takut kehilangan makna
psikopat sinting tolololllll down normal otak nya massa kurang satu kwintal 🔪🔪🔪🔪🖕🖕
pelakor Jahannam semoga tersemogakan cepat mampossss🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🔪🔪