NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

​Bagi dunia, Taritzuya Hazal Paradise (Zoya/20) memiliki segalanya. Namun dibalik semua itu, jiwa Zoya mati rasa. Setiap pencapaian luar biasa yang ia raih demi senyuman sang ayah dan perhatian ibunya, justru menyisakan kehampaan yang mencekik. Ia tidak tahu tujuan hidupnya dan mengapa ia harus melakukannya? Dan berharap dari orang yang tidak menjadikan-nya prioritas.

Lalu ia berpikir ia harus punya mimpi, karena mimpi adalah arti manusia hidup di dunia ini.

Ketika mimpi terbesarnya untuk menjadi aktris terbaik ditentang keras, Zoya memilih satu-satunya jalan keluar: Melarikan diri, membuang nama besarnya, dan hidup sebagai gadis biasa.

​Di tengah pelariannya, takdir mempertemukannya dengan Arlodiat Sadjatmiko... seorang profesor muda jenius yang sedingin es. Zoya mengerahkan segala trik rayuan untuk mencairkan hati sang Profesor.

​Namun, ketika rayuannya mulai membuahkan cinta yang tulus, kenyataan menghantamnya tanpa ampun, kenyataan apa itu? Mari simak ceritanya 🫣

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1

Seorang wanita berdiri tak bergerak, tubuhnya terperangkap dalam dekapan dingin sosok di belakangnya. Laras pistol yang menempel di pelipisnya membuat kepalanya sedikit miring, seolah dipaksa tunduk pada keadaan.

Cahaya senja menembus melalui celah ruangan, jatuh tepat ke wajahnya yang pucat… terlalu pucat, hingga hampir menyatu dengan warna dinding di belakangnya.

Tak ada suara yang keluar dari bibirnya yang membiru. Nafasnya tertahan, nyaris tak meninggalkan jejak di udara.

Matanya terbuka lebar.

Pupilnya yang gelap dan pekat itu tampak bergetar pelan, berpadu dengan warna cokelat muda di bagian tengah irisnya. Bulu matanya sangat panjang dan lentik, namun entah mengapa justru membuat sorot matanya terlihat semakin rapuh di bawah tekanan yang mencekam itu.

Dengan pelan, tatapannya bergerak.

Ke belakang.

Dinding di balik meja resepsionis dilapisi panel kayu vertikal, dengan logo Bank XX terpampang di tengahnya. Di depannya, meja panjang berwarna putih dengan aksen kayu membentang rapi, terbagi menjadi empat loket layanan dengan komputer yang masih menyala.

Di balik meja itu, empat petugas perempuan berseragam berusaha menyembunyikan diri. Tubuh mereka meringkuk, seolah semakin kecil akan membuat mereka tak terlihat.

Di sisi lain, deretan kursi tunggu berwarna hijau muda tampak berantakan. Beberapa orang bersembunyi di baliknya, tubuh mereka gemetar.

Sebagian bahkan tak mampu bertahan… seseorang terlihat telah pingsan, tergeletak di lantai yang dilapisi keramik putih mengkilap.

Udara di ruangan itu terasa menyesakkan. Tak ada yang berani bersuara, bahkan suara napas pun terdengar ditahan sekuat mungkin.

Sesekali terdengar bunyi benda jatuh dari arah meja pelayanan, membuat beberapa orang refleks menutup mulut mereka sendiri agar tidak menjerit.

Tiba-tiba, sorot mata wanita itu berubah.

Ketakutan yang semula memenuhi wajahnya seakan membeku di tengah jalan… lalu perlahan menghilang, digantikan sesuatu yang jauh lebih dingin.

Dalam satu gerakan cepat, tubuhnya berputar ke samping sambil menangkap pergelangan tangan pria di belakangnya. Jemarinya mencengkeram kuat, lalu memutar lengan itu ke arah berlawanan hingga sendi bahunya tertarik paksa.

Pria Itu bahkan belum sempat bereaksi ketika tubuhnya didorong ke depan. Pada saat yang sama, kaki pria itu disapu keras dari belakang lututnya.

Bugh!

Keseimbangannya langsung hilang. Lututnya menghantam lantai dengan suara keras, sementara lengannya masih terpelintir di belakang punggung. Erangan tertahan keluar dari mulutnya karena rasa nyeri yang menusuk.

Pria itu menatapnya dengan tajam, amarah menyala di matanya.

“Apa yang kamu lakukan?!” bentaknya.

“Cut!” teriak sutradara, memecah ketegangan seketika.

Keheningan langsung menyebar di lokasi syuting.

Pria yang terjatuh itu masih meringis, sementara beberapa kru saling berpandangan, jelas tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.

Adegan itu tidak ada di naskah.

Seharusnya wanita itu hanya terjatuh… bukan melawan.

Namun yang membuatnya terdiam bukan hanya karena kesalahan itu… melainkan cara gadis itu melakukannya. Gerakannya begitu elegan, mengalir tanpa ragu, dan tegas di setiap titik.

Itu bukan gerakan spontan biasa… melainkan seperti seseorang yang benar-benar terlatih dalam bela diri.

Semua kru dan aktor lain menatap dengan kaget, saling bertukar pandang penuh heran.

Tapi… bukankah seharusnya dia sedang berperan sebagai wanita lemah yang akan ditembak mati?

Lalu apa barusan itu?

Gerakan yang terlalu cepat, terlalu rapi, dan… terlalu keren!

Sutradara mengerutkan kening, jelas tidak puas.

“Zoya,” suaranya tegas, “bukankah sudah dijelaskan? Kamu hanya perlu melawan sebentar, lalu jatuh. Adegan itu berakhir dengan tembakan.”

Ia berhenti sejenak, menahan napas.

“Kenapa kamu melakukan itu tadi?”

Zoya masih berdiri di tempatnya mengerutkan kening. Wajahnya yang dirias dengan tone kuning kusam tampak semakin berkerut, membuat ekspresinya terlihat kurang nyaman dipandang.

Ehem…

Sutradara langsung memalingkan wajah sejenak, tak tega melihat hasil riasan yang kurang rapi itu, lalu kembali bertanya,

“Ada apa denganmu?”

Karena sebelumnya Zoya adalah seorang influencer, dan ini merupakan pengalaman syuting pertamanya, sutradara masih berusaha bersikap sabar dan cukup ramah padanya.

Zoya menatap aktor yang baru saja dibantu berdiri itu, lalu berkata tanpa ragu,

“Dia meraba-rabaku.”

Seketika suasana menjadi hening.

Sutradara: “…”

Dunia hiburan memang dikenal tidak selalu bersih. Di balik sorotan kamera, insiden “memanfaatkan adegan” seperti itu bukan hal baru… sering terjadi, terutama pada wanita pendatang baru yang belum memiliki jaringan kuat.

Banyak artis memilih diam, menahan diri demi menjaga kelancaran karier.

Namun Zoya berbeda.

Ia berdiri di sana tanpa ragu, tanpa mencoba menutupi apa yang baru saja terjadi… sesuatu yang jarang dilakukan orang di posisinya.

Di balik layar, kenyataan itu sering kali lebih kejam daripada yang terlihat.

Bahkan ketika ada yang berani bersuara, respons publik tidak selalu berpihak. Alih-alih didengar, justru banyak yang menyerang balik di media sosial.

>“Kalau kamu tidak menggodanya, kenapa dia harus melecehkanmu?”

>“Kalau kamu sendiri memakai pakaian seksi, mana mungkin hal seperti itu terjadi?”

>“Di zaman sekarang, banyak perempuan sengaja cari perhatian lalu bermain korban.”

>“Jangan cuma menyalahkan laki-lakinya, pasti ada alasannya dia berani begitu.”

>“Kalau memang benar jadi korban, kenapa baru berani bicara sekarang?”

>“Dia sendiri yang terlalu ramah, jadi jangan heran kalau disalahartikan.”

>“Kalau benar trauma, mana mungkin masih bisa tampil tenang seperti itu?”

Komentar-komentar seperti itu dengan cepat menyebar, mengaburkan inti persoalan dan mengalihkan kesalahan pada korban… terlebih jika yang dituduh adalah sosok senior yang punya pengaruh besar di industri.

Belum lagi tekanan dari para penggemar mereka yang ikut menyerang, mengirim pesan bernada ancaman, hingga meneror kehidupan pribadimu.

Di sisi lain, ada juga risiko balasan dari aktor yang dituduh… terutama jika ia memiliki pengaruh besar di industri. Perlahan, jalur karir mu bisa dibuat sulit: kehilangan peluang kerja, nama yang sengaja dibatasi di proyek tertentu, hingga pintu-pintu audisi yang tiba-tiba tertutup tanpa penjelasan.

Di dunia entertain ini, keberanian untuk berbicara sering kali datang dengan harga yang sangat mahal.

Opini publik yang ekstrim seperti itu bukan hal baru… dan sudah berkali-kali terbukti dalam berbagai kasus. Korban seringkali justru berubah menjadi bahan konsumsi publik, dibedah, dihakimi, lalu dilupakan begitu saja setelah sensasi mereda.

Di tengah kondisi seperti itu, banyak artis…. bahkan yang saat ini sudah lama berada di puncak karier… akhirnya memilih diam. Bukan karena tidak tahu benar atau salah, tetapi karena sadar ada konsekuensi yang bisa menghancurkan karir mereka perlahan.

Itulah sebabnya, sosok seperti Zoya terasa begitu berbeda.

Menurut rumor, Zoya dikenal sebagai wanita yang lembut dan cenderung tenang… lebih sering terlihat kalem di depan kamera maupun di balik layar.

Tapi barusan…

Cara dia bergerak sama sekali tidak cocok dengan citra itu. Cepat, presisi, dan tanpa keraguan… seperti seseorang yang terbiasa menghadapi situasi fisik secara langsung.

Itu membuat banyak orang di lokasi syuting mulai bertanya-tanya…

1
Filan
Thor, kayaknya ga bisa terus disembunyikan ala-ala sinetron. Udah jelas terlalu ganjil hubungan mereka bertiga kalau nggak ketahuan juga.
Filan
aduh orangnya denger tuh 😆
Filan
itu terlalu aneh... /Sweat/
Filan
kalau Zoya kan maklum lagi menghindari dukungan keluarga. Kalau Arlo... nama dosen biasanya lengkap. Zoya jelas akan langsung tahu kalau dia tunangannya melalui namanya.
fhallenopsis amabilis: kebetulan dia gak pernah tahu nama Arlo... masuk kuliah saja pas ujian aja. Kalo saja arlo di panggil prof. sadjatmiko. mungkin ngeh dia..
total 2 replies
Filan
kok Arlo ga pakai nama keluarganya sendiri
Filan
jarang dilihat seksama ya
fhallenopsis amabilis
plesetan dari Zuya
Filan
aduh arlo sangat awam ya kalau masalah hubungan
Filan
apa ini namanya? zoya dari mana?
Filan
mau apa lagi dia.
Filan
orang introvert terlalu banyak mikir
Filan
the power of background
Filan
kenapa dipanggil tuan muda saksomo, panjang bener. Jaidan aja kenapa?
fhallenopsis amabilis: Thankyou udah ingetin 👍🥰
total 2 replies
Filan
tidak terlalu menonjol bagaimana?
Rahil Ziazun: Tidak sengaja liat comment orang cause gabutt. author ini lelet kali Lo updatenya 😭 terpaksa aku bolak-balik bab, sedieww. Dan dulu aku juga mikir kyk KK nya, tapi bab selanjutnya jaiden tidak terlalu menonjol kan diri, cuma 1x dia muncul di kelas, abis itu sembunyi.. ga tau deh bab selanjutnya
total 4 replies
Filan
oke para gadis, saatnya tergila-gila /Determined/
Filan
rektor kayak penjilat.
Filan
Itu mahasiswa ditinggal prof...
Filan
dia punya adik yang mau dijodohkan sama Arlo?
Filan: kirain 🤣
total 2 replies
Filan
perhatian khusus kayak apa? justru gara-gara si Jaiden ini, Alro jadi takut mendekati Zoya
fhallenopsis amabilis: iya benar 🤭
total 1 replies
Filan
Dia kan canggung karena udah terikat pertunangan. coba kasih tahu kalau mereka tunangan. makin kloplah mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!