Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Mobil Adrian akhirnya memasuki gerbang pondok pesantren yang sudah sepi.
Sorot lampu mobilnya memotong kegelapan pelataran yang sunyi.
Begitu mesin mati, Adrian langsung berbalik ke arah Fatma.
Dengan gerakan kasar namun cepat, ia merenggut kain pembekap dari mulut wanita itu.
Sebelum Fatma sempat meraup napas atau berteriak, Adrian merogoh saku jasnya, menyalakan kamera ponsel, dan dengan satu tangan kekarnya, ia menarik tengkuk Fatma hingga wajah mereka terpaksa mendekat.
Cekrek.
Adrian mengambil foto dengan sudut melintang, membuat siluet wajah mereka di dalam mobil yang remang-remang terlihat seolah-olah ia sedang mencium bibir Fatma dengan mesra.
"Kita turun dan menemui orang tuamu sekarang," desis Adrian, memamerkan layar ponselnya yang menampilkan foto manipulatif tersebut tepat di depan mata Fatma yang membelalak horor.
"Jika kamu menolak, atau mengatakan hal yang aneh-aneh di dalam, foto ini akan tersebar ke seluruh santri dan warga desa dalam hitungan detik. Pikirkan nasib pesantren ini."
Tubuh Fatma bergetar hebat. Rasa takut, syok, dan terhina bercampur menjadi satu di dadanya.
"Pak, tolong, aku sungguh-sungguh tidak tahu hubungan Jamie dan calon istri Bapak. Demi Allah, aku tidak tahu!" tangis Fatma pecah, suaranya parau memohon belas kasihan.
"Basi!" ucap Adrian kejam.
Tanpa memedulikan air mata Fatma, Adrian keluar dari mobil dan membanting pintunya keras.
Ia melangkah memutari kap mobil, membuka pintu penumpang, dan menarik lengan Fatma agar ikut turun bersamanya menuju rumah utama di dalam komplek pesantren.
Suara bantingan pintu mobil dan derap langkah kaki di jam sepertiga malam itu menyapu keheningan pondok.
Tak berselang lama, pintu kayu rumah utama berderit terbuka.
Abah dan Umi muncul dari balik pintu dengan wajah yang guratan tidurnya seketika sirna, digantikan oleh raut cemas dan bingung.
Umi menutup mulutnya saat melihat putrinya pulang dalam keadaan menangis sesenggukan, digandeng paksa oleh seorang pria asing berpakaian berantakan yang matanya menyalang merah.
"Abah, ada apa ini?" tanya Umi dengan suara yang sedikit ketakutan, sambil mencengkeram lengan suaminya erat-erat.
Abah menenangkan istrinya sambil tersenyum tipis.
"Assalamualaikum, Abah... Umi..." ucap Fatma dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Dengan tubuh yang masih lemas, ia melangkah maju, meraih jemari kedua orang tuanya, dan mencium punggung tangan mereka dengan takzim. Air matanya luruh membasahi tangan sang ibu.
"Fatma, ada apa ini? Dan siapa beliau?" tanya Abah, matanya yang teduh menatap Adrian penuh selidik, sebelum beralih kembali pada putrinya yang tampak begitu terguncang.
"Lalu, bagaimana keadaan Jamie? Bukankah kamu tadi pergi karena mendapat kabar tentang dia?"
"A-Abah... Umi... perkenalkan, ini..." Lidah Fatma terasa kelu.
Ia menatap Adrian dengan pandangan memohon, namun yang ia dapati hanyalah tatapan sedingin es.
Sebelum Fatma sempat menyelesaikan kalimatnya, Adrian mengambil selangkah maju. Berdiri tegak dengan angkuh, ia memotong ucapan Fatma tanpa ragu.
"Saya Adrian," ucapnya tegas, suaranya terdengar berat dan berwibawa namun menyimpan ketegangan yang pekat.
"Dan saya di sini untuk menikahi putri Anda malam ini juga."
Mendengar kalimat yang begitu tiba-tiba dan lancang di sepertiga malam, wajah Umi seketika berubah pias.
"Apa?! Dinikahi malam ini? Tapi—"
Umi yang akan protes dan menuntut penjelasan langsung dihentikan oleh Abah yang mengangkat sebelah tangannya secara tenang namun tegas.
Abah menatap Adrian dengan saksama, lalu menoleh pada istrinya.
"Umi, masuk ke kamar. Biar Abah yang bicara dengan mereka."
"Tapi, Abah..." Umi menatap Fatma dengan cemas, berat hati meninggalkan putrinya dalam kondisi seperti itu.
"Masuklah, Umi. Biar Abah yang urus," ulang Abah lembut namun tak terbantah.
"Iya, Abah," ucap Umi patuh. Dengan sisa rasa cemas yang menggelayut, Umi melangkah masuk kembali ke dalam rumah, menyisakan keheningan yang mencekam di teras.
Setelah pintu tertutup, Abah membalikkan badannya menghadap Fatma.
Tatapannya melunak, penuh kasih sayang seorang ayah yang tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan putrinya.
"Fatma, putriku, ada apa sebenarnya?" tanya Abah dengan suara yang sangat lembut.
"Apa benar dia calon suamimu? Dan bagaimana dengan Jamie?"
Fatma merasa dadanya sesak seperti dihantam batu besar.
Di tengah keputusasaannya, Adrian sengaja memutar posisi ponselnya sedikit di samping pinggang, memperlihatkan sekilas layar yang menampilkan foto manipulatif mereka di dalam mobil tadi.
Ancaman itu begitu nyata di mata Fatma—kehormatan Abah, Umi, dan pondok ini sedang dipertaruhkan.
Sambil menahan isak tangis yang nyaris pecah, Fatma terpaksa berbohong.
"I-iya, Abah. Mas Adrian calon Fatma," ucap Fatma terbata-bata, tenggorokannya terasa begitu perih.
Ia menelan salivanya sebelum melanjutkan kalimat tersulit dalam hidupnya.
"Jamie... Jamie pergi dengan wanita lain, Abah. Mas Adrian yang menolong Fatma tadi di jalan."
Abah terdiam sejenak. Sebagai seorang ayah dan pengasuh pondok, ia bisa menangkap keganjilan dari tatapan mata putrinya.
Namun, melihat ketakutan dan luka yang mendalam di mata Fatma saat membahas Jamie,
Abah mencoba memahami situasi dengan bijak. Ia menarik napas panjang, lalu menatap Fatma lurus-lurus.
"Lalu, apakah kamu setuju untuk menikah dengan Adrian malam ini juga?" tanya Abah, memastikan kemantapan hati putrinya.
Fatma melirik Adrian sekali lagi, melihat rahang pria itu yang mengeras menunggu jawaban.
Dengan hati yang hancur berkeping-keping dan air mata yang mengalir tanpa suara, Fatma akhirnya mengangguk pasrah.
"I-iya, Abah. Fatma setuju."
Abah menatap Fatma sekilas, lalu beralih kepada Adrian.
Sorot mata orang tua itu tampak begitu dalam, seolah bisa membaca bahwa ada badai yang sedang disembunyikan di balik ketenangan yang dipaksakan ini.
"Adrian, Abah ingin berbicara dengan putri Abah sebentar di dalam," ujar Abah, meminta ruang dengan nada yang tetap tenang namun berwibawa.
Adrian sempat tertegun sejenak, namun ia segera menguasai ekspresinya.
"Inggih, Abah. Monggo," jawab Adrian pendek sambil menganggukkan kepala sekilas.
Sebelum berbalik mengikuti langkah Abah masuk ke dalam rumah, Fatma sempat melirik ke arah Adrian.
Detik itu juga, Adrian sengaja meraba saku jasnya tempat ponsel itu berada—sebuah isyarat tak kasat mata bahwa ia tidak akan segan-segan mengirimkan foto fitnah tersebut jika Fatma berani bicara jujur kepada Abahnya.
Ancaman dingin itu membuat kuduk Fatma meremang.
Di dalam kamar yang tenang, Fatma duduk di tepi ranjang dengan jemari yang saling bertautan erat.
Tubuhnya masih bergetar sisa dari ketakutan dan syok yang bertubi-tubi malam ini.
Abah duduk di kursi kayu di hadapannya, menatap putri tunggalnya dengan pandangan teduh namun penuh selidiki.
Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara jangkrik dari luar jendela.
"Nduk, bicara jujur sama Abah. Ada apa ini sebenarnya?" tanya Abah lembut, memecah kesunyian.
"Abah tahu sifatmu. Tidak mungkin kamu memutuskan hal sebesar ini dalam sekejap mata. Apa benar kamu setuju menikah dengan lelaki itu?"
Pertanyaan Abah terasa seperti sembilu yang menyayat hati Fatma.
Rasanya ia ingin bersimpuh di kaki Abah, menangis sejadi-jadinya, dan menceritakan bahwa pria di luar sana adalah orang asing yang sedang kalap karena dikhianati. Ia ingin berteriak bahwa dirinya adalah korban.
Namun, bayangan foto manipulatif itu kembali melintas di benaknya.
Jika foto itu tersebar, bukan hanya reputasinya sebagai ustadzah yang hancur, tapi nama baik Abah, Umi, dan pondok pesantren yang dibangun dengan darah dan air mata ini akan ikut tercoreng oleh fitnah keji.
Fatma tidak akan pernah sanggup melihat orang tuanya menanggung malu akibat ulah Adrian.
Sambil menelan paksa semua kebenaran dan rasa perih di dadanya, Fatma menguatkan hati.
Ia mendongak, menatap mata sepuh Abah dengan sisa-sisa ketegaran yang dipaksakan.
"Inggih, Abah. Fatma setuju," ucap Fatma dengan suara bergetar namun terdengar mantap.
"Fatma ikhlas menikah dengan Mas Adrian malam ini."
Abah menarik napas panjang, mencoba mengalirkan keikhlasan ke dalam dadanya yang sebenarnya dipenuhi tanda tanya.
Sebagai seorang ayah, hatinya berat, namun ia memilih untuk memercayai kalimat yang keluar dari mulut putrinya sendiri.
Abah bangkit dari duduknya, lalu mengajak Fatma keluar kembali ke teras rumah.
Di luar, Adrian berdiri bersedekap dengan wajah datar, menunggu dengan ketegangan yang coba ia sembunyikan.
Begitu melihat langkah Fatma yang gontai di belakang Abah, Adrian menurunkan tangannya, menatap lurus pada pria sepuh di hadapannya.
"Nak Adrian, setelah mendengar penjelasan dari Fatma. Abah setuju untuk menikahkan kalian malam ini," ucap Abah, suaranya terdengar berat namun tetap berwibawa.
Adrian diam-diam mengembuskan napas lega yang tertahan di tenggorokan.
Rencana nekatnya selangkah lagi akan terwujud.
"Abah akan memanggil beberapa pengurus pondok dan warga sekitar untuk menjadi saksi pernikahan kalian yang mendadak ini. Kita tidak bisa melaksanakan akad tanpa saksi yang sah," lanjut Abah lagi.
"Inggih, Abah," ucap Adrian pendek, mengangguk takzim tiruan demi menjaga formalitas di depan calon mertuanya.
Abah kemudian menoleh ke arah Fatma, lalu mengusap lembut bahu putrinya yang masih sedikit bergetar.
"Biarkan calon istrimu masuk kembali untuk berdandan dan bersiap-siap, Nak Adrian.
Pernikahan, seberapa pun mendadaknya, harus tetap dihadapi dengan keadaan terbaik."
"Inggih, Abah. Silakan," jawab Adrian dengan nada dingin yang tersamar.
Fatma membalikkan badan dengan langkah yang terasa seberat timah.
Di dalam kamar nanti, ia tidak akan berdandan untuk menyambut hari bahagia. Ia akan membasuh sisa air matanya, merapikan hijabnya, dan mempersiapkan mental untuk memasuki sangkar emas yang dibangun oleh amarah dan dendam seorang Adrian.
lanjut thor🙏
bikin jengkel aja thor 😡😡