Kanaya "Naya" Larasati (24) adalah seorang ilustrator buku anak yang berjiwa bebas, sedikit ceroboh, dan sangat anti pada aturan yang kaku. Hidupnya jungkir balik ketika neneknya yang sedang sakit keras memiliki satu permintaan terakhir: melihat Naya menikah dengan cucu sahabat lamanya.
Dhandy "Dhan" Abimanyu (29) adalah seorang CEO perusahaan properti yang dingin, gila kerja, gila kebersihan (clean freak), dan hidupnya terjadwal hingga ke menit. Bagi Dhan, pernikahan adalah sebuah kontrak bisnis untuk menenangkan keluarganya agar ia bisa fokus bekerja.
Ketika dua kutub yang berlawanan ini dipaksa tinggal di bawah satu atap apartemen mewah di Jakarta Selatan, "Perang Dunia Ketiga" pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kopi, Kemeja Putih, dan Bencana
Jakarta hari ini memutuskan untuk menjadi drama queen. Langit yang lima menit lalu masih cerah benderang, tiba-tiba berubah menjadi abu-abu gelap, seolah menumpahkan kekesalan pada penduduk kota yang sudah cukup menderita dengan kemacetan di Jalan Senopati.
Kanaya Larasati, atau yang akrab dipanggil Naya, mengumpat pelan di balik helm ojek online-nya.
"Pak, bisa ngebut dikit nggak? Saya sudah telat banget ini!" seru Naya, suaranya berusaha mengalahkan deru angin dan klakson mobil.
"Waduh, Neng, ini macet total. Kalau saya punya sayap, kita sudah terbang dari tadi," sahut si Bapak ojol dengan santai, seolah kemacetan Jakarta adalah teman akrab yang menenangkan.
Naya mendesah frustrasi. Dia melirik jam tangan digital berwarna pink pastel di pergelangan tangannya. Pukul 13.45. Dia seharusnya bertemu klien untuk proyek ilustrasi buku dongeng pukul 14.00 tepat di "Kopi Aroma Senja", sebuah kafe hits di kawasan Gunawarman. Masalahnya, dia juga membawa tabung gambar berukuran besar di punggungnya yang berkali-kali menyenggol spion mobil orang saat motor meliuk di antara celah sempit.
"Turun di sini aja deh, Pak!" Naya menepuk bahu pengemudi.
Tanpa menunggu jawaban, Naya melompat turun begitu motor berhenti di pinggir trotoar, menyodorkan uang tunai, lalu berlari menerobos rintik hujan yang mulai turun. Sepatu sneakers putihnya—yang baru dicuci kemarin—langsung mencium cipratan genangan air keruh.
"Sempurna. Awal hari yang indah," gumamnya sarkastis.
Naya mendorong pintu kaca kafe dengan napas terengah. Aroma biji kopi yang dipanggang dan dinginnya AC langsung menyambutnya, memberikan sedikit kedamaian. Matanya menyapu seisi ruangan yang dipenuhi oleh kaum urban Jakarta: para pekerja start-up dengan laptop berlogo buah, selebgram yang sibuk memotret makanan, dan pasangan yang asyik berbisik.
Dia melihat arlojinya lagi. 13.55. Masih ada lima menit untuk memesan kopi agar otaknya bisa berfungsi.
Dengan langkah lebar, Naya menuju kasir. Namun, perhatiannya terpecah. Ponsel di saku celana kargonya bergetar hebat. Nama "Oma Ratih" terpampang di layar.
"Duh, Oma ngapain sih telepon jam segini?" gerutu Naya sambil merogoh saku, tangan kirinya memegang tali tabung gambar, matanya tidak melihat ke depan.
Dan di situlah bencana terjadi.
Saat Naya berbelok tajam di dekat pilar besar untuk menghindari antrean, dia tidak menyadari ada sosok tinggi tegap yang baru saja berbalik dari meja pick-up dengan membawa nampan berisi satu cangkir kopi panas dan sepotong croissant.
BRUK!
Hukum fisika bekerja tanpa ampun. Tabung gambar di punggung Naya menghantam siku pria itu. Keseimbangan hilang. Gravitasi mengambil alih.
"Awaaas!" teriak Naya, tapi terlambat.
Cangkir keramik itu melayang, isinya—cairan hitam pekat yang mengepul panas—tumpah ruah dengan artistik tepat di dada bidang pria itu. Membasahi kemeja putih licin yang terlihat sangat, sangat mahal.
Hening.
Seluruh kafe seolah menahan napas. Suara musik jazz yang mengalun pelan tiba-tiba terdengar begitu nyaring.
Naya mematung. Matanya membelalak ngeri melihat maha karya abstrak berwarna cokelat tua yang kini menghiasi kemeja putih pria di hadapannya.
Pria itu tidak berteriak. Dia tidak memaki. Dia hanya berdiri tegak, memejamkan mata sejenak, lalu menarik napas panjang melalui hidung. Rahangnya mengeras. Perlahan, dia membuka matanya.
Mata itu tajam, dingin, dan menatap Naya seolah dia adalah serangga kecil yang mengganggu ekosistem.
"Astaga! Maaf! Maaf banget, Mas!" Naya panik. Dia refleks merogoh tas selempangnya, menarik segenggam tisu, dan dengan gerakan impulsif mencoba mengelap dada pria itu.
Tangan pria itu bergerak cepat, menepis tangan Naya di udara sebelum tisu itu menyentuh kemejanya.
"Jangan sentuh," suaranya rendah, baritone, dan penuh penekanan. "Tangan kamu kotor. Kamu cuma akan membuat nodanya menyebar."
Naya menarik tangannya kembali seperti tersengat listrik. "Sa-saya nggak sengaja. Sumpah. Tadi saya buru-buru, terus ada telepon, terus tabung gambar saya..."
"Saya tidak butuh kronologi kejadian," potong pria itu dingin. Dia meletakkan nampan yang sudah kosong ke meja terdekat, lalu mengambil sapu tangan kain dari saku celananya. Dengan gerakan elegan namun kaku, dia menepuk-nepuk noda itu, meski jelas sia-sia.
"Kemeja ini," pria itu menunjuk dadanya tanpa melihat Naya, "baru saya ambil dari dry cleaning pagi ini. Egyptian Cotton. Putih. Dan kamu baru saja menyiramnya dengan Long Black panas."
Naya menelan ludah. Dia tahu jenis kain itu. Dia tahu harganya mungkin setara dengan biaya hidupnya selama dua bulan.
"Saya ganti!" seru Naya cepat. "Mas kasih tahu aja mereknya apa, atau kirim bon laundry-nya ke saya. Ini kartu nama saya."
Naya mengaduk tasnya yang berantakan, mencari kartu nama di antara pensil mekanik, penghapus, struk belanjaan minimarket, dan permen karet.
Pria itu menatap isi tas Naya dengan tatapan jijik yang tidak ditutup-tutupi. Dia melirik arloji perak di pergelangan tangannya.
"Saya ada rapat penting dua puluh menit lagi," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Dan sekarang saya terlihat seperti peta buta."
"Saya benar-benar minta maaf, Mas. Saya..."
"Simpan maaf kamu," pria itu menatap Naya tajam. Kali ini tatapannya mengunci manik mata Naya. Ada aura intimidasi yang membuat nyali Naya menciut. "Dan simpan kartu nama kamu. Saya tidak punya waktu untuk mengurus ganti rugi receh dengan orang yang bahkan tidak bisa berjalan dengan benar di tempat umum."
Jleb.
Rasa bersalah Naya mendadak beralih menjadi sedikit tersinggung. "Eh, Mas, saya kan sudah minta maaf baik-baik. Kecelakaan kan bisa terjadi sama siapa aja. Nggak perlu menghina juga kali."
Pria itu tidak menjawab. Dia hanya memberikan satu tatapan terakhir—tatapan yang seolah berkata 'kamu buang-buang waktuku'—lalu berbalik badan dan berjalan keluar kafe dengan langkah lebar, meninggalkan kopi yang belum sempat diminumnya dan croissant yang dingin.
Naya berdiri terpaku di tengah kafe, menjadi tontonan pengunjung lain. Pipinya memanas.
"Dasar kulkas dua pintu!" gerutu Naya pelan, menendang lantai dengan kesal. "Ganteng-ganteng mulutnya pedes banget!"
Ponselnya bergetar lagi. Oma Ratih.
Naya mengangkat telepon dengan nada ketus. "Halo, Oma? Iya, Naya lagi di jalan. Apa? Nggak jadi ketemu klien? Langsung ke Restoran Bunga Rampai? Sekarang?!"
Satu jam kemudian, Naya duduk dengan gelisah di kursi kayu jati yang mewah di sebuah ruang privat restoran di kawasan Menteng.
Kontras dengan kafe tadi, tempat ini sangat tenang, berkelas, dan berbau bunga melati. Naya merasa salah kostum. Dia hanya mengenakan celana kargo hijau army, kaos putih polos yang ditutupi kemeja flanel kotak-kotak kedodoran, dan sneakers yang sedikit berlumpur. Rambutnya yang bergelombang sebahu dia ikat asal-asalan dengan karet gelang.
Di hadapannya, Oma Ratih duduk dengan anggun mengenakan kebaya encim modern berwarna peach. Wajah tua itu masih menyisakan guratan kecantikan masa muda, meski kini tertutup bedak tebal.
"Kamu ini, Naya," Oma Ratih menggelengkan kepala, menatap penampilan cucunya dari atas ke bawah. "Kita mau ketemu orang penting. Sahabat almarhum Kakek. Masa kamu pakai baju seperti mau naik gunung begitu?"
"Oma yang mendadak ganti jadwal," bela Naya sambil meminum es teh leci-nya dengan rakus. "Lagian siapa sih sahabat Kakek? Kok Naya harus ikut? Naya kan banyak deadline gambar, Oma."
Oma Ratih memasang wajah sendu andalannya. Taktik nomor satu: Guilt Trip.
"Oma ini sudah tua, Naya. Dokter bilang jantung Oma makin lemah. Oma cuma pengen menyambung silaturahmi sebelum... yah, sebelum Oma dipanggil Yang Di Atas."
Naya memutar bola matanya, tapi hatinya luluh juga. Oma Ratih memang ratu drama, tapi dia satu-satunya keluarga yang Naya miliki sejak orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat sepuluh tahun lalu.
"Iya, iya. Naya minta maaf. Naya temenin deh."
"Nah, gitu dong. Mereka keluarga baik-baik. Keluarga Abimanyu. Mereka punya anak laki-laki yang seumuran... eh, sedikit lebih tua dari kamu. Siapa tahu cocok."
Naya tersedak es batu. "Uhuk! Maksud Oma? Ini perjodohan?"
"Bukan perjodohan, Sayang. Perkenalan," koreksi Oma dengan senyum penuh arti. "Zaman sekarang mana ada paksa-paksa. Cuma... kalau kamu nggak mau, Oma mungkin akan sedih terus kepikiran, terus tensi naik, terus..."
"Oke, stop! Naya ngerti," potong Naya cepat. "Naya akan sopan. Naya akan senyum. Tapi nggak janji bakal suka, ya."
Pintu ruang privat terbuka. Seorang pelayan mempersilakan tamu masuk.
"Ah, itu mereka!" seru Oma Ratih, wajahnya langsung cerah. Dia berdiri menyambut.
Masuklah sepasang suami istri paruh baya yang terlihat sangat terhormat. Pak Brata Abimanyu dan Ibu Soraya. Mereka tersenyum ramah, menyalami Oma Ratih dengan hangat.
"Wah, ini cucunya Ratih? Kanaya ya?" Ibu Soraya menatap Naya dengan lembut.
Naya buru-buru berdiri, menyalim tangan mereka dengan sopan. "Iya, Tante. Panggil Naya aja." Setidaknya orang tuanya ramah, batin Naya lega.
"Putra kami sedang di toilet sebentar, ganti baju," kata Pak Brata sambil tertawa kecil. "Katanya tadi ada insiden kecil di kafe sebelum ke sini. Kemejanya ketumpahan kopi. Untung dia selalu bawa baju cadangan di mobil. Anak itu memang perfeksionis sekali."
Darah Naya berdesir.
Insiden di kafe? Ketumpahan kopi?
Jantung Naya mulai berdetak tidak karuan. Tidak mungkin. Jakarta itu luas. Ada jutaan orang di sini. Tidak mungkin dia...
Pintu ruangan terbuka lagi.
"Maaf saya terlambat, Pa, Ma. Tadi macet parah setelah..."
Suara baritone itu.
Naya membeku. Dia mengenal suara itu. Suara yang baru satu jam lalu menghinanya di Gunawarman.
Naya mendongak perlahan, berharap ini semua hanya mimpi buruk akibat kebanyakan kafein.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria dengan setelan jas abu-abu tua yang pas badan (fit body), rambut yang ditata rapi ke belakang tanpa satu helai pun yang keluar dari jalur, dan wajah tampan yang sayangnya terlihat sangat kaku.
Pria itu menatap orang tuanya, lalu menatap Oma Ratih, memberikan senyum tipis yang sopan.
"Perkenalkan, ini putra kami, Dhandy Abimanyu," kata Pak Brata bangga.
Dhandy mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang berdiri di samping Oma Ratih.
Senyum sopan di wajah Dhandy lenyap seketika. Matanya membelalak sedikit—reaksi emosi terbesar yang pernah dia tunjukkan hari ini. Dia menatap Naya, lalu turun ke sneakers berlumpur itu, lalu kembali ke wajah Naya yang pucat pasi.
Naya ingin sekali menghilang. Dia ingin menjadi butiran debu atau menyublim menjadi gas.
"Kamu..." desis Dhandy pelan, tapi cukup keras untuk didengar Naya.
Naya memaksakan senyum kaku, melambaikan tangan dengan canggung. "Halo... Mas Kulkas... eh, Mas Dhandy."
Oma Ratih menepuk tangan dengan gembira, tidak menyadari ketegangan setebal tembok beton di antara kedua anak muda itu. "Wah! Kalian sudah saling kenal? Bagus dong! Kalau begitu rencana pernikahan kalian akan jadi lebih mudah!"
"APA?!" teriak Naya dan Dhandy bersamaan.
Suara mereka menggema di seluruh ruangan, menandakan dimulainya perang dunia ketiga—atau mungkin, awal dari bencana romantis yang paling kacau dalam sejarah keluarga mereka.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca📖
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️