NovelToon NovelToon
Kepincut CEO Judes

Kepincut CEO Judes

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:74.3k
Nilai: 5
Nama Author: Othsha

"Matilah aku!" Bora segera menggetuk kepalanya dan berusaha ingin kabur karena tendangan mautnya baru saja berhasil bersarang pada kaca belakang mobil mewah yang baru saja melewati dirinya.

Penasaran dengan kisah cinta Bora si tomboi dan Auriga CEO Judes yang unyu-unyu sekaligus nyeselin?!

Buruan pantengin kisahnya di sini manteman...


With luv


Othsha ❤❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Othsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KCJ - 01

"KAMU DIPECAT!" ujar seorang lelaki paruh baya kepada bawahannya.

Bora Adhisti, sang karyawan menatap sang atasan dengan mata yang membulat karena tak menyangka bahwa Brama Sentosa pemilik perusahaan dimana ia bekerja akan memecatnya dengan semena-mena.

"Apa alasan bapak memecat saya, padahal kinerja saya sangat baik selama bekerja dan itu sudah dibuktikan dari nilai appraisal saya selama ini!" ujar Bora membela diri.

Sang CEO tertawa keras yang membuat Bora berang dan mengepalkan tangan sembari menahan emosinya yang mulai memuncak.

Dasar b*ndot tua! Lelaki uzur mata keranjang! Batin Bora yang ingin sekali menonjok wajah atasannya dengan tinju mautnya.

"Bora..., Bora sayang, kamu tau alasan saya. Saya adalah hukum di kantor ini. Siapa yang berani melawan saya? Kamu menolak permintaan kecil saya, jadi..., yah, secara tak langsung kamu sudah melawan atasan. Simple bukan?!" Brama mengeluarkan seringai liciknya yang membuat Bora ingin muntah.

Baiklah karena toh sudah akan dipecat, kenapa tidak kita ramaikan saja! Batin Bora sembari membalas seringaian licik Brama dengan senyum sinisnya.

"Pak Brama yang terhormat, ahhh, tidak lelaki tua tak tahu diri yang berani mengajak kencan karyawatinya secara terang-terangan. Dan memecat sang karyawati hanya karena menolak ajakannya. Shame of you!" Bora menyiram kopi yang ada di meja Brama tepat ke atas kepalanya dan langsung melenggang pergi dari tempat itu dengan santai. Tetapi sedetik kemudian ia berbalik, sembari memberikan peringatan kepada Brama.

"Jangan berani memanggil keamanan b*ndot tua. Karena aku sudah merekam pembicaraan kita tadi, begitu juga sewaktu anda memaksa saya untuk berkencan dengan anda!"

Pintu ruangan Brama tertutup.

"BORA!!!!"

****

Bora menyusun barangnya secepat kilat, dan berlalu dari perusahaan itu dengan secepatnya. Degup jantungnya sangat perpacu seiring jalannya yang setengah berlari.

"Bora b*goooo, gayamu! Kenapa tadi engga berlutut aja mohon supaya tetap dipekerjakan. Apa salahnya kencan sekali dengan pria kesepian itu, supaya dapurmu tetap ngepul!" Bora merutuki dirinya sendiri karena melakukan tindakan berani tapi tanpa pemikiran sehat itu. Kini ia kehilangan pekerjaannya yang selama ini penopang hidup utamanya.

Ia menggusar rambutnya dengan kasar hingga rambutnya menjadi berantakan. Ia memikirkan uang kos yang harus segera dibayarkan, belum lagi uang bantuan yang biasa ia kirimkan tiap bulan ke panti asuhan dimana ia dibesarkan.

Uang listrik, air, makan, argh!!! Matilah kau, Bora! Selamat menjadi pengangguran! rutuk Bora dalam hatinya. Ia menendang batu yang dilihatnya dengan kencang dan... GOL!!!

Prangg!!!

Suara pecahan kaca terdengar begitu jelas di telinga Bora yang membuat ia membelalakkan matanya.

"Matilah aku!" Bora segera menggetuk kepalanya dan berusaha ingin kabur karena tendangan mautnya baru saja berhasil bersarang pada kaca belakang mobil mewah yang baru saja melewati dirinya.

Mobil itu berhenti, sedangkan Bora membeku di tempatnya. Ia ingin menyembunyikan diri di selokan, tetapi selokan di tempat itu sudah ditutupi semen trotoar. Bora menghela nafas berat dan memilih pasrah dengan kesialan yang menghampirinya hari itu. Ia sudah bersiap menghadapi hal buruk yang akan kembali menimpanya karena yang terburuk sudah ia lalui hari itu, yaitu hari pemecatan dirinya.

Supir mobil mewah itu keluar dan menemui Bora yang masih berdiri mematung di tempatnya.

"KTP, nomor hape!" ujar sang supir. Bora memberikan kedua hal yang diminta tanpa bertanya. Ia sudah tak memiliki opsi untuk membela diri. Supir itu pergi setelah memberikan sebuah kartu nama kepadanya.

****

"Boraaaaaaa, kenapa nasibmu sial kali?!" ujar Bora sembari memukul bantal yang ada di kamar kosnya. Ia menangis sesegukan karena merasa nasibnya begitu malang. Kehilangan pekerjaan dan harus bersiap mengganti rugi kaca mobil mewah yang dipecahkannya tadi siang.

Bora baru beranjak dari kasur miliknya menjelang tengah malam karena perutnya sudah bergemuruh minta diisi. Ia memeriksa lemari kecil yang ada di dekat kasur miliknya.

"Endomi lagi, endomi lagi! Nikmati hari-harimu dengan mie instan terbaik di dunia, sayangku!" ujar Bora berusaha mensyukuri apa yang ia miliki.

Tiba-tiba ketukan di kamar Bora terdengar yang membuat gadis itu melirik jam yang ada di dinding kamarnya.

Jam tengah 12 malam, batin Bora sembari mengerutkan dahinya bertanya-tanya siapa yang ingin menemuinya di waktu semalam itu.

"Siapa?" tanya Bora sedikit ragu. Ia takut mendapatkan kesialan ketiga malam itu. Sudah cukup dua kesialan merusak hari, lebih tepatnya hidup Bora di sepanjang hari itu. Ia tidak ingin menerima kejutan lagi, terutama penampakan makhluk yang bisa membuatnya mati berdiri.

"Agnia, Mak!" seru sang tamu yang membuat Bora menghela nafas lega. Bora segera membuka pintu kamarnya.

"Ayam goreng dan soft drink?" tawar Agnia yang membawa plastik tentengan di tangannya yang membuat Bora bertepuk tangan riang. Ternyata malam itu Tuhan juga menunjukkan kemurahannya sebagai pengobat lara yang menimpa dirinya hari itu.

"Hari baik apa ini kok tumben kamu bawa traktiran?" tanya Bora dengan mata sembabnya.

"Aku naik jabatan, Mak!" balas Agnia riang yang membuat Bora mengerutkan keningnya dan menangis beberapa detik kemudian. Hal itu membuat Agnia terkejut dan tak tahu harus berbuat apa.

"Mamak dipecat, Nak!" Bora menangis dengan keras yang membuat Agnia menutup mulutnya yang menganga karena terkejut.

"DIPECAT?! Omo..., Omo..., OMG..., hel..., to, the ho...!" seru Agnia histeris yang membuat Bora menutup telinganya karena suara nyaring Agnia.

"Woyyy, bisa dilempari tetangga kita kalo suaramu kayak, Nyai kunti begitu!" tegur Bora di sela tangisannya. Bora menceritakan kisah kemalangannya secara lengkap, spesifik dibumbui dengan ekspresi khas anak teater yang digeluti oleh Bora hingga kini.

Agnia tak tahu dia harus ikut menangis atau tertawa malam itu, karena ekspresi kocak Bora menghalangi Agnia untuk bersedih. Ia berusaha menahan tawanya demi rasa solidaritas dan peripertemanan yang sangat ia junjung tinggi. Ia mendengarkan cerita Bora dengan saksama demi kenyamanan sahabatnya itu.

"Jadi pemilik mobil mewah itu belum nelpon dirimu, Mak?" tanya Agnia penuh dengan rasa penasaran. Bora menggeleng lemah, ia mengetukkan kepalanya ke meja yang ada di depannya beberapa kali hingga akhirnya ia menggusar rambutnya hingga berantakan. Agnia bergidik ngeri saat melihat penampakan Bora.

Ia menggeser rambut Bora yang menutupi wajahnya.

"Mak jangan kambuh tengah malam, seram tau!!!" bisik Agnia yang membuat Bora memelototi dirinya. Mereka melanjutkan obrolan mereka hingga menjelang pagi. Karena keesokan harinya adalah hari Sabtu, Agnia bisa menemani Bora bergadang sambil mendengarkan semua curhatan sahabatnya itu.

Menjelang pagi, saat kedua gadis itu mulai memasuki alam mimpinya, tiba-tiba ponsel milik Bora berbunyi yang membuat ia mengerang kesal karena harus bangkit lagi dari kasurnya.

Datang ke alamat di kartu nama tiga hari lagi!Jangan coba melarikan diri!

Sebuah pesan yang membuat kantuk Bora lenyap seketika.

****

1
Bilqies
mampir lagi Thor
Othsha: makasih kakak...❤️
total 1 replies
Bilqies
aku mampir nih kak, salam kenal yaa ..
mampir juga yaa di karyaku.....
terima kasih /Smile/
Othsha
Hai kakak.... wahhh, makasih banget buat semua dukungannya untuk Bora dan Auriga ya... Othsha terhura, eh, terharu karena kakak sahabat Othsha pertama dengan berkenan membaca dan mengomentari karya ini hampir di setiap babnya.

Othsha berterima kasih banget buat dukungannya. Semoga dimana pun kakak berada tetap sehat, bahagia dan sukses ya.

Mohon dukungannya untuk karya Othsha lainnya bila berkenan ya....

Sekali lagi mamaci banyak. Maaf juga engga bisa balas komennya satu per satu ya..🥰🥰🥰🥰
Mimik Pribadi
Boraaaa,,,,,itu kode dari siJutek kutub 🤭💪
Mimik Pribadi
Kejutaaaann,,,,,
Apakah itu Auri,yng manggil Bora???
Mimik Pribadi
😭😭😭 kpn mereka berdua akan dipertemukan lgi thor??
Mimik Pribadi
Nahh!! Ada rahasia apaan lgi nich dngn mama nya Chitra 🤔🤔🤔🤔
Mimik Pribadi
Hahhh!! Sediiih bngt thor knpa hrs secepat ini kebongkar,,,,,
Pantas saja Auriga tidak menyukai Harjun,,,,,bnyk hal yng membuat bertanya2 ttng sepak terjang Harjun yng bisa bermusuhan dngn Auriga
Mimik Pribadi
Ini calon mamer knpa dtng mulu sih?? 😅
Mimik Pribadi
Aku ikut was2 bayangin saat perjanjian itu berakhir,,,,,semoga saja sblm masa kontrak pacar palsu itu berakhir,Auriga udh mulai merasa nyaman bahkan jatuh cinta beneran sm Bora,,,
Mimik Pribadi
Haseekk!!,,,,pelukaaan 😍🤭🤭
Mimik Pribadi
So sweet 😍 akhirnya bongkahan es si Judes kutub mulai mencair 💃💃
Mimik Pribadi
Hahaaa,,,,Si kutub Auri kynya sandiwara,tinggal iyain aja sih Boz keinginan Bora,utk nunda keberangkatanmu ke Bali toh itu jga demi kesembuhanmu,,,,stlh kamu ngasih kputusan Nunda,girang kan wajah Bora,,,,apa gak Adem selama di RS ada yng nungguin,dan ngurusin
Mimik Pribadi
Hahaaa,,,,cinta terkadang bikin emosi,bikin sumpek,dan smpe2 rasanya kpngn ngunyah orng y Bor, apalgi pria yng dihadapi ky Boz Auri,,,bikin gondhok 🤣🤣🤣🤣
Mimik Pribadi
Auriga beneran dtngkah???,,,,
Andai iya,,,untung cpt diajak pergi sblm semuanya bubrahh!!
Mimik Pribadi
Msh susah ser2an dan jedug2 jantungnya sih 😅😅
Mimik Pribadi
Cari mslh nich si Chitra,,,,Auri sdh memperingatkan kamu Chitra,jngn smpe mancing singa tidur,udh gak bisa memiliki Auri karier kamu jga hancur,,,,entah nnt caranya seperti apa nnt saat Auri ingin menghancurkan kamu,klo ternyata kamu mlh bikin ulah lagi sama Bora,,,
Mimik Pribadi
Nahh!! Lhooo,,,,gimana tuh pertanggung jawaban atas ucapan Bora,terhadap Mami Auri,,,,😆😆
Mimik Pribadi
Mngkn hrs terungkap kali y hubungan kontrak mereka,,,,
Mimik Pribadi
Jngn smpe Harjun menceritakan ttng Bora thor,,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!