NovelToon NovelToon
Madu Untuk Amira

Madu Untuk Amira

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:608.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aina syifa

Setelah usia lima belas tahun pernikahan, Farhan suami Amira berpaling ke lain hati. Dia berniat untuk menikah lagi.

Amira tak ada pilihan lain selain mengizinkan suaminya menikah lagi. Dia yakin kalau suaminya akan berlaku adil pada ke dua istrinya.

Namun poligami tak seindah apa yang Amira bayangkan. Setelah menikah dengan gadis itu, Farhan berubah. Dia lebih mengutamakan istri ke duanya itu. Apakah Amira sanggup menjalani kehidupan rumah tangganya yang sekarang. Atau dia lebih memilih hidup sendiri dengan membawa anaknya pergi dari kehidupan suaminya.

.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aina syifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

POV Amira

"Abi mau nikah lagi Mi. Apa Umi ngizinin Abi nikah lagi?"

"Apa! menikah lagi?" bola mataku membulat sempurna saat suamiku meminta izin untuk menikah lagi.

Bak tersambar petir di siang bolong. Aku terkejut saat tiba-tiba saja suamiku mengatakan kalau dia mau menikah lagi. 

Mas Farhan menatapku lekat dan tersenyum.

"Itu sih, kalau Umi ngizinin. Kalau Umi nggak ngizinin, Abi juga nggak akan maksa," lanjut Mas Farhan.

"Abi nggak serius kan sama ucapan Abi? Umi yakin, kalau Abi cuma bercanda." Aku masih tidak percaya dengan ucapan Mas Farhan.

"Abi serius Mi. Abi memang punya niatan untuk punya dua istri. Jika Abi menikah lagi, Abi janji Abi akan adil dengan ke dua istri Abi nanti."

Selama ini aku menganggap suamiku adalah lelaki yang sangat baik. Lelaki yang jujur dan setia. Tapi aku tidak menyangka dengan apa yang sudah dia ucapkan.

Aku fikir, Mas Farhan cuma main-main saja dengan ucapannya. Namun yang kulihat dari raut wajahnya, dia sepertinya memang serius dengan ucapannya.

Aku yang sejak tadi masih menyusui anakku, hanya bisa menahan sakit di dada. Jika Mas Farhan sudah mengatakan ucapan itu, itu artinya hatinya sudah terbagi untuk wanita lain. 

Lalu, siapa wanita yang sudah membuat suamiku jatuh cinta?

"Siapa wanita yang akan kamu nikahi Bi?" tanyaku menatap Mas Farhan lekat. 

Mas Farhan diam. Dia tidak menjawab langsung pertanyaan dariku. Dia justru  bangkit dari duduknya dan menatapku. 

"Mi. Udah adzan. Abi mau ke mesjid dulu ya. Apa Umi mau ikut ke mesjid? mumpung Fauzan tidur," ucap Mas Farhan sebelum pergi.

"Kalau Umi ke mesjid, lalu siapa yang mau jagain Fauzan Bi?"

"Ya kamu titipkan Fauzan ke Laila."

"Aku nggak tega nitipin Fauzan ke Laila. Mendingan, kamu ajak saja Laila ke mesjid dan Umi tunggu di rumah."

"Abi udah ajak Laila tadi Mi. Tapi dia nggak mau."

"Ya udah kalau gitu, Abi sendiri aja yang ke mesjid. Umi mau sholat di rumah aja."

"Ya udah. Abi berangkat dulu ya Mi. Assalamualaikum."

"Wa'alakiumsalam." 

Mas Farhan berlalu pergi meninggalkan rumah untuk sholat jamaah di mesjid. 

Seperti rutinitasnya setiap hari. Dia selalu menjadi imam di mesjid dekat rumah kami.  Karena kebetulan rumah kami juga dekat dengan Mesjid.

Sudah lima belas tahun aku menikah dengan Mas Farhan. Kami menikah karena perjodohan ke dua orang tua. Dan selama itu, kami sudah dikaruniai dua orang anak, Laila dan Fauzan. 

"Laila..." seruku memanggil Laila anak sulung ku.

Laila yang dipanggil, segera keluar dari kamar dan mendekat ke arahku. 

"Iya Umi. Ada apa?" gadis remaja cantik 12 tahunan itu sudah berdiri di depanku.

"Bisa tolong Umi Nak." Aku menatap lekat Laila.

"Tolong apa Umi?" 

"Fauzan tidur. Umi mau letakan dia di boks bayi. Tolong kamu beresin boks bayinya ya Nak."

Laila mengangguk. "Iya Umi." 

Tanpa banyak bicara, Laila  pergi  ke kamarku untuk membereskan boks bayinya Fauzan. Sementara aku menunggunya di ruang tengah. 

"Umi. Semuanya sudah beres." Dengan sekejap anak remajaku sudah berdiri di depanku dengan mengulas senyum.  

"Makasih ya Laila."

"Iya Umi."

Aku bangkit berdiri sembari menggendong tubuh kecil Fauzan. 

Aku masuk ke dalam kamar.  Aku langsung  meletakkan tubuh kecil Fauzan ke boks bayi. Aku tersenyum saat melihat anak bungsu ku sudah terlelap. Aku kemudian berjalan dan  duduk di sisi ranjang. 

Tes. 

Setetes air mataku terjatuh dari pelupuk mataku. Sebenarnya hatiku menangis saat mendengar ucapan Mas Farhan tadi. 

Namun aku tak ingin menangis apalagi di depan Laila. Aku tidak mau berbagi kesedihan dengan orang lain. Apalagi dengan anakku sendiri.

Aku buru-buru menyeka air mataku.  

"Umi, Umi nangis?" tanya Laila menatapku lekat. 

Aku tersenyum dan balik menatap Laila. 

"Laila, Umi nggak apa-apa. Laila belum makan kan? nanti kita makan malam ya, setelah Abi pulang dari mesjid."

Laila tersenyum. 

"Iya Umi."

Aku bangkit berdiri. Setelah itu aku mendekat ke arah Laila yang masih berdiri di dekat pintu kamar.

"Fauzan sudah tidur. Jangan ganggu dia. Ayo kita keluar saja Laila!" Aku mengajak Laila keluar. 

"Umi mau sholat dulu ya La. Titip Fauzan barang kali nanti dia nangis."

"Iya Umi."

Aku pergi ke belakang untuk mengambil wudhu dan menunaikan shalat maghrib.

****

Aku dan Laila saat ini  sudah berada di ruang makan. Makanan di meja makan sudah aku siapkan untuk Mas Farhan dan Laila.

"Laila, ke mana Abi kamu? Kenapa dia belum pulang. Lama sekali dia ke mesjid. Sudah jam delapan lebih ini Laila," ucapku yang masih resah menunggu Mas Farhan. 

"Umi. Mungkin Abi lagi  mengajar ngaji di mesjid," ucap Laila.

"Laila, ini kan malam Jum'at. Nggak ada santri yang ngaji. Dan Abi kamu kan ngajar ngaji nggak sampai malam begini, ini udah malam Laila."

"Mungkin di mesjid Abi lagi ada urusan Umi sama teman-teman Abi."

"Ya udahlah, kita makan dulu saja Laila. Nungguin Abi kamu juga kelamaan. Keburu kita kelaparan. 

"Iya Umi. "

Setelah hampir satu jam aku dan Laila menunggu Mas Farhan di ruang makan, akhirnya kami memutuskan untuk makan tanpa Mas Farhan. 

"Mi, masakan Umi enak. Besok masak kayak gini lagi ya Mi," ucap Laila. Dia kemudian kembali melahap ayam rica-rica buatanku. 

Aku tersenyum. 

"Mi, pokoknya Umi itu ibu paling the best. Ibu yang paling sempurna untuk Laila," puji Laila. 

Aku tersenyum. 

'Aku ibu yang sempurna untuk Laila. Namun aku bukan istri yang sempurna untuk suamiku. Karena Mas Farhan ingin nikah lagi, itu artinya dia sudah bosan denganku.' batinku. 

Sejak suamiku mengatakan hal itu aku selalu berfikir, mungkinkah selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik untuknya. Sehingga dia memilih untuk berpaling pada wanita lain.

Selesai makan, aku menyuruh Laila masuk ke dalam kamarnya. 

"Laila. Besok kamu harus sekolah. Kamu harus bangun pagi. Sekarang, kamu ke kamar dan tidur. Jangan banyak begadang Nak."

Laila menatapku dan tersenyum. 

"Iya Mi." 

Laila kemudian berjalan untuk pergi ke kamarnya. Sementara aku masih setia duduk di ruang makan. Aku menatap semua makanan yang ada di atas meja. 

"Abi mau makan apa nggak sih. Udah malam kenapa dia nggak pulang-pulang.  Apa aku bereskan saja ya makanan ini," ucapku. 

Aku kemudian berdiri dan mengambil satu persatu piring-piring kotor yang ada di atas meja makan. Aku bawa semua piring-piring itu ke dapur. 

Aku simpan nasi dan lauk pauk yang tersisa. Setelah itu aku pun mulai mencuci piring-piring yang kotor itu. 

"Assalamualaikum." Suara salam dari luar rumah terdengar. 

Aku tersenyum saat mendengar suara suamiku. 

"Akhirnya Abi pulang juga," ucapku. 

Beberapa saat kemudian, Mas Farhan sudah berada di belakangku dan mendekatiku. 

"Mi. Abi udah makan Mi tadi. Abi mau langsung ke kamar aja ya Mi. Maaf Mi, Abi nggak bisa bantuin Umi." 

Aku menatap suamiku lekat. 

"Abi nggak usah bantu apa-apa. Umi bisa kerjakan pekerjaan Umi sendiri."

"Ya udah. Abi ke kamar duluan ya Mi."

"Iya."

****

1
falea sezi
hmm uda lah amira lu aja jg gatel cari suami. yg tua dikit. lu itu uda punya anak perawan woy
falea sezi
gatel jg ne bocah q kira apa an larang emaknya nikah ma gus ehh tau nya
falea sezi
mending ma Galih sih agak sangsi ma gus gus itu tp gmna layla emakmu uda gatel pengen yg muda an/Curse/
Evy
penghasilan tidak mencukupi....tapi berpoligami... gimana ini ustadz...
Evy
wah...Mas Galih.. walaupun sudah cerai tapi kan masih ada anak yang jadi tanggung jawabnya...masa setengah gaji dikasih sama ipar..jatah anak kandung mu lho juga harus...
Evy
Zia kok jadi serakah... pingin miliki suami bersama sendirian..
YUANLU
Luar biasa
Linda Yohana
thoor ceritanya udah tamat belum
masih nunggu karena ceritanya gantung
semangat ya thoor
Qilla
terlalu naif
Qilla
balasan madunya semanis kurma ,ada istri kehilngan suami dan anak kehilangan ayah balasanya tak sebading
Widi Widurai
wkakak ealaa eala anake naksir to. makane ga boleh 😅
Widi Widurai
iyaalah pas mreka terpuruk, galih ada buat laila.
Widi Widurai
najong syekali
Widi Widurai
soalny lagi apes. coba aja toko dia ga bangkrut, anaknya ga mati, zianya ga gila. mana inget dosa dia. malah mungkin mau nambah lowongan cewe yg mau di"bantu"
Widi Widurai
sok sok an. tp ga liat dompet. slama ini dah bsa nyenengin istrinya belum, so so an nambaj
Dewi Shalomytha
Hidup masih kere aza so poligami,, berkedok ustad cm nyalurin hasrat adohhh mlh darah tinggi bacanya ini 😂
Imas Siti Rokayah
lanjut thor...
up...up
Xzip_92
LANGSUNG MASUK KAMAR AJA JANDA KALO MEMEKNYA UDAH TERLANJUR GATAL
Xzip_92
HAUS BELAIAN SI JALANG LANCAR BANGET NGOMONG LUPAIN BERONDONG TERCINTA
Xzip_92
PREEET. NGOMONG APA SI TANTE GIRANG HAUS BELAIAN
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!