NovelToon NovelToon
Read Zone

Read Zone

Status: tamat
Genre:Patahhati / Permainan Kematian / Teen School/College / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Tamat
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Litlerose

Kisah ini tentang aksi seorang anak laki-laki yang bernama Annas. Ia ingin membalaskan dendam almarhum ayahnya dengan cara menjadi seperti dirinya. Menegakkan keadilan. Meskipun dia masih menginjak usia 17 tahun di bangku kelas 2 SMA, tapi bagi dirinya, tidak ada kamus ketakutan, selama jalan yang ia ambil demi mengungkap kebenaran.

Seperti saat ini, ketika di sekolahnya terjadi sesuatu yg mencurigakan, dia tidak bisa diam saja. Bahkan dia mengincar kedudukan ketua OSIS demi mendapat akses penuh untuk mencari tahu siapa dalang yang sebenarnya.

Tak disangka, dia juga dipertemukan dengan seorang gadis yang mampu membaca pola kasus yang sama di setiap tahunnya ketika disadarkan oleh pemuda yang selalu mengejarnya sejak dulu. Sama seperti dirinya, dia mampu membaca pola aksi pelaku.

Selain itu, Annas juga bekerja sama dengan seorang pemuda tengil yang pandai sekali di bidang TIK. Tak usah diragukan lagi, semua rencana dan strateginya adalah hasil kedua otak pemuda ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Litlerose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang Kacau

"Astaghfirullah!"

CHIIIIIIT!!!!!

​Itu suara decit ban yang memekakkan telinga disusul dengan aroma karet terbakar. Motor itu berhenti mendadak, ujungnya hanya berjarak beberapa senti dari seorang gadis yang berdiri mematung di tengah zebra cross.

​Fadhil, yang mengetahui saudaranya hampir menabrak anak orang langsung melompat turun dari jok belakang.

"E-eh, maaf, Feb! Sumpah, nggak sengaja!"

​Gadis itu hanya diam. Tangannya masih memeluk erat tumpukan buku di dadanya. Tapi matanya menatap tajam ke arah si pengendara.

"Nas! Buruan turun dan minta maaf. Kan lo yang bawa motornya!"

Cowok yang dipanggil ​Annas itu membuka helmnya perlahan. Matanya langsung terkunci pada gadis di depannya. Tidak ada kata maaf, tidak ada ekspresi panik. Hanya tatapan lurus yang sulit diartikan.

​Fadhil yang merasa serba salah mencoba lagi.

"Serius, Feb. Tadi kita kesiangan, jadi—"

​"Lain kali kalau mau cari mati, jangan ajak-ajak orang!"

​Potong Febby, tatapannya tidak beralih sedikit pun dari Annas.

Setelah melontarkan kalimat itu, ia membenarkan letak kacamatanya, lalu berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

​"E-eh, Feb! Maaf ya sekali lagi!" teriak Fadhil pada punggung gadis itu yang semakin menjauh. Ia kemudian menoleh pada Annas yang masih diam di atas motornya.

​"Gila lo, Nas! Itu Febby, sekretaris kita sendiri! Mau bikin rapat OSIS besok jadi canggung, hah?!"

​Annas akhirnya mengalihkan pandangannya dari sosok Febby yang menghilang di gerbang sekolah. "Buruan naik."

​"Nih bocah terbuat dari apa sih hatinya, nggak ada perasaan bersalah sama sekali!"

​Annas tidak merespon kalimat Fadhil, tangannya dengan gesit menyalakan mesin motornya lagi.

"Mau gue tinggal?"

"Sabar, weh!"

​Fadhil buru-buru naik ke jok belakang.

Dan ​Motor pun kembali melaju, kali ini dengan kecepatan normal.

​"Serius, Nas. Lo kenapa sih? Nggak ada niatan minta maaf gitu?" tanya Fadhil.

​"Dia nggak apa-apa."

​"Ya emang nggak apa-apa! Kalau kenapa-kenapa, urusannya panjang! Bisa-bisa jabatan ketua OSIS lo dicopot!"

​Annas tidak menjawab. Dan ​Fadhil hanya bisa menghela napas pasrah.

"Punya saudara gini amat rasanya." gumam Fadhil sambil memalingkan pandangannya ke arah teman-temannya yang mulai berdatangan di depan gerbang sekolahnya.

***

"Tumben kamu datang sekolah mepet-mepet gini, Feb?" tanya seorang gadis yang tingginya hampir sama dengan Febby. Ia sambil melirik jam dinding di kelas mereka.

"Iya An, tadi ada urusan bentar. Kamu udah selesai PR Bahasa Jawanya?"

"Sudah." Ani mengangguk antusias. "Aku diajarin sama tunanganku. Hehe. Dia 'kan orang Jawa tulen."

"Beruntung kamu—"

"Selamat pagi Febby."

Suara hangat yang selalu menyambutnya terdengar lagi pagi ini.

"Hadeh. Mulai dah drama paginya." Ani melirik malas ke segerombolan pria yang berdiri melingkari bangku mereka.

Satria, dengan senyum andalannya, mencondongkan tubuh ke meja Febby. Di tangannya, ada sebungkus nasi kuning yang masih hangat.

"Udah sarapan, Feb?"

"Udah."

Jawaban singkat itu tidak akan menghentikan Satria. Ia meletakkan bungkusan itu di atas buku Febby yang baru saja dikeluarkan dari tas.

"Bohong. Aku tahu kamu belum sarapan. Nih, spesial buat sekretaris OSIS paling rajin."

"Sikat, Feb! Mumpung gratis!" sahut salah satu temannya dari belakang.

"Biasa, modus paginya si Bos!" timpal yang lain sambil tertawa.

Tapi Febby masih tetap fokus pada buku di hadapannya, seolah gerombolan itu tidak ada di sana. Ia bahkan membuka halaman bab tiga, bersiap untuk pelajaran pertama.

"Ayolah, Feb. Dicobain dulu." Satria masih berusaha. "Ini bikinan ibuku, lho."

Ani yang melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

KRIIING!

Bel masuk berbunyi nyaring, menyelamatkan Febby dari drama yang lebih panjang. Gerombolan itu langsung bubar, berlarian ke bangku masing-masing. Tapi Satria, masih tetap berdiri depan bangku Febby.

"Jangan lupa dimakan, ya." ujarnya dengan nada lembut. Setelah itu ia berlari ke tempat duduknya di barisan belakang. Dan Nasi kuning pemberiannya masih tergeletak di sana, di antara buku paket Bahasa Daerah dan Pepak Bahasa Jawa.

Ani, tiba-tiba menyenggol lengan sahabatnya. "Feb, nasi kuningnya bisa buat aku nggak? Kebetulan aku belum sarapan, nih."

"Makan aja, An."

"Wih, makasih, Feb!"

Ani langsung menyambar nasi kuning itu, dan memasukkannya ke laci bangkunya.

Tak lama kemudian, Pak Guntur, guru Bahasa Daerah mereka datang. Pria paruh baya dengan kumis tebal itu tersenyum lebar di ambang pintu.

​"Sugeng enjang, lare-lare!"

​Sontak seisi kelas menjawab sambil menahan tawa, "Enjang, Paaak!"

​"Ayo, PR Basa Jawanipun dikempalaken," kata Pak Guntur. "Sinten ingkang dereng nggarap? Maju ngajeng, mboten sah isin-isin."

​Hening sejenak. Para siswa yang merasa sudah mengerjakan tugas hanya diam di bangku mereka.

Sedangkan ​Satria, yang tidak mengerti apa pun, menyenggol lengan Bayu.

"Bapaknya ngomong apaan barusan?"

​Bayu menghela napas pasrah. "Yang belum ngerjain PR, disuruh maju ke depan."

​Bukannya terlihat malu, sebuah senyum lebar justru terbit di wajah Satria. "Oh, panggilan kehormatan, toh."

​Dengan dagu terangkat, ia berdiri dan menepuk bahu teman-temannya yang lain.

"Ayo, guys! Panggung kita sudah menanti."

​Dengan langkah santai seolah akan menerima penghargaan, Satria, Bayu, dan dua teman mereka yang lain berjalan ke depan kelas. Mereka berbaris rapi, sama sekali tidak menunjukkan dosa.

​Wajah Pak Guntur langsung berubah. "SATRIA NANDA WIRATAMA! Kowe meneh, le!"

​Satria langsung menyenggol Bayu yang berdiri di sebelahnya. "Bay, artinya apaan?"

​"Bapak bilang, 'kamu lagi, nak'," bisik Bayu cepat.

​"Oh."

​"Nopo toh, le? PR gampang ngoten mawon kok mboten digarap!" omel Pak Guntur lagi.

​"Artinya?" desak Satria.

​"Katanya PR gampang gitu aja kok nggak dikerjain," jawab Bayu.

​"Sekarang, mbalik badan! Madhep papan tulis!" perintah Pak Guntur dengan telunjuk mengacung ke arah papan.

​"Dia bilang apa lagi, Bay?"

​"Kita disuruh balik badan, menghadap ke papan tulis."

​Satria tersenyum jahil. "Bilangin ke bapaknya, kalau kita balik badan, nanti pemandangannya jadi kurang indah."

​Mata Bayu langsung terbelalak. "Gila lo? Gue yang kena nanti!"

​"Udah, bilangin aja. Pake bahasa Jawa alus biar sopan!"

​Dengan ragu-ragu dan suara gemetar, Bayu mengangkat tangan. "Nyuwun sewu, Pak..."

"Nopo?!"

-BERSAMBUNG

1
icaaaa
😭
Vena
Masih sempet" nya ya
Vena
Awal yang menyedihkan tor
Vena
Tuh kannnnn
Vena
Hmmm seperti ada firasat buruk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!