Disuatu tempat disebuah Sekte terlihat bangunan besar dikelilingi berbagai gedung dan murid-murid yang sedang berlatih, seorang Pria paruh baya terkejut dengan fonemena petir dahsyat yang barusan terjadi dan langsung menuju salah satu ruangan besar mencari seseorang.
Setelah mencari beberapa lama, orang yang dirinya cari masih belum juga ketemu. Akhirnya diapun pergi dari tempat itu.
"Apakah Ketua sudah menemukan penerusnya?" Gumamnya sambil terbang dan menghilang begitu saja.
▪▪▪
Ditempat lain...
Seorang kakek sedang tertawa bahagia sambil menatap seorang pemuda sedang berdiri menggenggam batu kristal berwarna merah didepannya.
"Akhirnya.. Setelah sekian lama aku menemukan pewarisku dan akan menjadi seseorang yang terkenal dimasa depan nanti melibihi diriku" Ucapnya dalam hati.
Melihat kakek tua yang sedang terdiam dan tertawa tanpa sebab yang ada dihadapannya, pemuda tersebut langsung menegur kakek tua itu.
"Kakek, kenapa kakek bertingkah seperti itu? " tanya pemuda itu.
Dalam hati pemuda yang tak lain adalah Zhang En berkata didalam hatinya. "Apakah kakek tua ini merasa gila karena batu kristal langka ini akan menjadi milikku secara gratis ? jangan-jangan kakek tua ini membohongiku dan tak akan berniat memberi secara gratis"
Melihat raut wajah dan gerak-gerik pemuda dihadapannya, kakek tua itu langsung tersenyum dan menepuk bahunya.
"Ha..ha..haa.. Bagus anak muda. Tidak aku sangka kamu berhasil menjadi tuan dari batu kristal merah itu. sekarang itu sudah menjadi milikmu dan pergunakanlah untuk pelatihanmu."
Mendengar ucapan kakek tua Zhang En langsung tersenyum dan berterimakasih.
"Terimakasih kek.. Tetapi batu kristal ini seperti yang kakek bilang bahwa batu ini sangat langka dan bukan hanya menaikan tingkatan pelatihan seseorang tetapi juga memberikan kemampuan spesial "
"Benar nak.. Batu itu bukan hanya meningkatkan pelatihanmu bahkan batu kristal itu akan memberimu kekuatan yang melebihi diriku" balas kakek tua pengemis.
"Kekuatan melebihi kakek.? maksud kakek.?" tanya Zhang En.
"Kamu akan tau sendiri setelah menyerap batu kristal itu nanti"
Mendengar jawaban dari kakek tua dihadapannya Zhang En pun tak banyak bertanya dan langsung menyimpan Batu kristal kedalam cincin penyimpanannya.
Kakek tua yang melihat pemuda yang ditemuinya memiliki cincin pusaka penyimpanan merasa terkejut. Tetapi dia sendiri tidak terlalu menampakan nya kepada pemuda itu.
"Pemuda yang menarik pasti memiliki Guru yang hebat" kakek tua berkata sendiri didalam hatinya.
Sambil mengeluarkan sebuah lencana, sikakek melemparkan nya kepada Zhang En sambil menyimpan batu-batu kristal dan segera pergi dari situ.
"Ini lencana apa kek ?" tanya Zhang En.
"Simpan saja. Itu hadiah yang aku berikan untukmu dan segeralah untuk menemuiku. nanti kalau kau ingin menemuiku, jangan lupa tunjukkan lencana tersebut "
Saat melihat sikakek sudah memasukkan semua batu kristal, Zhang En langsung menanyakan siapa sebenarnya dirinya dan mengapa dia memberikan sebuah lencana.
" Kamu tidak perlu tau siapa diriku nak, nanti setelah kita bertemu kamu akan mengetahuinya "
"Baiklah kek.. Terimakasih banyak atas pemberiannya" sambil menjura memberi hormat.
Kakek melihat sikap Zhang En hanya tersenyum dan sedikit senang karena pemuda yang dia temui ini terlihat pada sikap dan tutur sapanya sangat menghormati setiap orang dan menghormati dirinya walaupun terlihat seperti pengemis.
Di ibu kota kekaisaran, biasanya hampir tidak ada orang yang peduli dan hormat terhadap orang-orang yang lebih tua seperti pengemis apa lagi terlihat miskin. Walaupun Kaisar Zhu seorang kaisar yang peduli, tapi masih banyak juga para bangsawan dan pemuda-pemuda dari kalangan atas yang menindas orang yang terlihat lemah dari mereka.
"Aku tau, kamu pendatang disini dan salah satu peserta yang akan mengikuti turnament yang segera akan diadakan.. Pergilah kepusat kota disana kamu akan melihat pintu gerbang masuk ke kerajaan kaisar. disana kamu bisa mendaftarkan dirimu " kata kakek tua.
"Kakek tau dari mana aku akan mengikuti turnament itu? " tanya Zhang En penasaran.
"Nak.. aku hanya menebak saja." jawabnya datar.
Zhang En sedikit kesal dengan jawaban kakek tua dihadapannya. Tetapi dirinya tidak mempersalahkan nya.
"Baiklah kek, aku pamit dan undur diri"
Zhang En pun berbalik dan segera meninggalkan tempat itu.. tetapi tiba-tiba dia berbalik karena dia melupakan kemana dia harus menemui kakek tua yang barusan bertemu dengannya.
"Eh.. kemana kakek tadi ?" sambil mencari-cari zhang en tidak menemukannya.
"Baru sebentar saja berbalik sudah hilang" ucapnya dalam hati.
"Yasudahlah, nanti aku akan mencari tau dimana aku bisa menemuinya".
Selama dalam perjalanan, Zhang En masih bertanya-bertanya siapa kakek tua itu sambil melihat lencana yang diberikan sikakek.
Lencana yang didapatkan oleh Zhang En tenyata terbuat dari emas serta bentuk nya bulat dan terlihat ditengah-tengahnya ukiran seekor Naga. Zhang En semakin penasaran kenapa sikakek meminta menemuinya dan menunjukkan lencana pemberiannya sebelum menemuinya.
"Akupun tidak tau harus menemui kakek dimana" keluh Zhang En sambil menyimpan lencana emas ukiran Naga.
Disuatu tempat▪▪▪
Seorang pria terlihat sedikit tua tetapi bisa dibilang pria setengah baya sedang duduk menunggu seseorang.
"Tetua Agung, sedang apa disini?"
ternyata pria yang sedang berdiri itu adalah tetua agung.
Tiba-tiba seorang pria tua seperti kakek-kakek memiliki peringai yang tenang, alis yang lancip serta dibawah dagunya terihat jenggot setengah panjang.
Kakek tua itu berpenampilan memggunakan kain serba putih dan wajahnya terlihat berwibawa mendekati seorang pria paruh baya sedang ada dipintu sebuah gedung yang lumayan besar.
Melihat kedatangan pria tua kearahnya, Pria paruh baya itu langsung berdiri dan memberi hormat.
"Maaf ketua, dari tadi aku menunggu kedatangan ketua karena ingin menanyakan sesuatu hal".
"Ha.haa.haaa. Tetua Agung, kita kedalam dulu untuk berbicara" sambil menuju salah satu ruangan.
"Silahkan duduk Tetua"
Mereka berdua akhirnya duduk sambil berbicara-berbicara beberapa hal. tidak lama kemudian, pria tua itu pun langsung bertanya.
"Aku yakin, tetua datang kesini bukan menanyakan hal yang barusan.. Pasti Tetua punya sesuatu hal yang lain untuk ditanya!"
"Hahahaaa...Memang benar, dari dulu ketua selalu bisa menebak semuanya"
"Tetua.. Mohon maaf sebelumnya, Apakah ketua melihat fenomena petir yang terjadi tadi?" tanya pria paruh baya itu dengan serius.
"Kenapa tetua bertanya seperti itu ?" jawab nya santai.
"Bukankah Ketua sendiri pernah mengatakan kepada kami bahwa dari dulu ketua mencari penerus sendiri dengan syarat harus bisa memiliki batu kristal merah? barang siapa yang bisa memiliki batu kristal merah akan menjadi penerus ketua dimasa depan. Saat batu kristal itu menemukan pemilik sebenarnya, disaat kepemilikan itu terpilih ditandai dengan Petir Dahsyat" jelas Tetua Agung.
"HA...HAA.HHAAAA ! tenyata Tetua Agung masih mengingat hal itu" balas Ketua Sekte
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 750 Episodes
Comments
Shaiya_Eet
tunjukkan pada siapa kah? terasa misterius kalimat ini.
2024-04-08
0
Shaiya_Eet
Thor maaf sekedar saran, kata pemuda sebaiknya ditulis sebagai pengganti untuk seseorang yang belum diketahui namanya (or belum author perkenalkan)...sukses kak, dan ini vote hari ini semoga dapat juga diserap oleh Zhang En bersamaan menyerap batu merah dari sang kakek.
2024-04-08
0
DEBU KAKI
next.
2023-01-20
0