Setelah perdebatan sengit tadi, Bryan pergi meninggalkan apartemen.
"Apa kamu tidak bosan melihatku di kantor, dan sekarang dirimu datang kemari?" Seraya mengambil soft drink Felix menatap pada Bryan.
"Aku benar-benar gila tinggal bersama wanita itu." Dengan menyugar rambutnya, Bryan meluapkan rasa frustrasinya.
"Shea maksudmu?" Felix duduk di sofa tepat berada di hadapan Felix.
"Iya, siapa lagi." Rasanya Bryan malas sekali memanggil nama Shea.
"Memang apa lagi yang terjadi antara kalian." Tatapan penuh penasaran terpancar dari sorot mata Felix. Semenjak Bryan tinggal bersama Shea, Felix seakan mendapat hiburan dari cerita Bryan. Kekesalan temannya itu, sudah menjadi tontonan mengasikkan bagi Felix.
"Dia mengatai aku CEO miskin." Bryan merasakan kekesalan yang amat luar biasa, saat mengingat bagaimana Shea mengatainya.
Gelak tawa langsung terdengar menggema di apartemen Felix. "Apa dia tidak sadar mengatai pemilik Adion Company miskin?" Felix berucap dengan di iringi tawa. Tawa bahagia, dimana akhirnya ada wanita yang tidak luluh pada pesona seorang casanova seperti Bryan.
Bryan semakin mendengus kesal, saat mendengar pertanyaan Felix yang di iringi tawa. "Aku kemari tidak untuk ditertawakan." Tatapan tajam tak menyurut dari pandangan Bryan.
"Oke, maaf." Felix langsung berhenti tertawa. "Apa yang membuatnya mengatai dirimu miskin?" Terbesit rasa penasaran di hati Felix, saat mendengar cerita Bryan.
Rasanya Bryan malas sekali harus memutar ingatannya, pada kejadian sebelum dirinya ke tempat Felix. "Aku memesan makanan untuk makan malam, dan kurir makanan, mengatakan ada tambahan ongkos kirim. Karena aku tidak punya uang cash, aku meminjam pada Shea."
Ingin rasanya Felix tertawa, tapi apa daya, tatapan Bryan begitu mengintimidasi dirinya. "Aku sudah bilang beberapa kali, simpan uang cash di dompetmu." Felix memang tahu sekali kebiasaan dari Bryan, yang jarang mengambil uang, dan menyimpan di dompet.
"Iya," jawab Bryan malas. Bryan memang menyadari, Felix selalu memberitahu dirinya, tapi dirinya tidak peduli dengan ucapan Felix.
Felix masih melihat wajah frustrasi Bryan yang belum surut setelah menceritakannya. "Besok gantilah, selesai masalah," ucap Felix memberikan solusi.
"Masalahnya bukan itu."
"Apa lagi?" Felix mengerutkan dahinya. Entah masalah apa lagi yang di hadapi Bryan, Felix merasa bingung.
"Aku sudah memakan steak miliknya, dan dia tidak terima."
Felix membulatkan matanya, dan sedikit memajukan kepalanya. "Maksudnya, kamu memakan makanan Shea? Shea marah?" Felix memperjelas ucapan dari Bryan.
"Iya."
"Lalu apa yang salah?"
"Iya salah, karena aku memakannya tanpa izin."
Rasanya Felix ingin bersorak senang saat Bryan mengakui kesalahannya. "Ajak saja dia makan di restoran, untuk menganti steak yang kamu makan, selesai," ucap Felix memberikan solusi.
Bryan memijat keningnya, merasakan kepalanya berdenyut. Kalau dia bisa melakukan hal itu, tidak akan dirinya susah payah mengatakan pada Felix. "Dia tidak mau."
"Kenapa?"
"Mana aku tahu," ucap Bryan seraya menaikan bahunya.
"Kamu tidak merayunya?"
Degusan terdengar dari Bryan pelan saat mendengar pertanyaan Felix. "Kalau merayu untuk dibawa ke ranjang aku bisa," ucap Bryan.
Felix hanya bisa memutar bola mata malas mendengar ucapan Bryan. "Buktinya kamu juga tidak bisa merayunya, untuk dibawa ke ranjang." Ucapan Felix penuh dengan nada sindiran.
"Itu ...." Bryan mengingat bagaiamana dirinya memaksa Shea untuk menuntaskan hasratnya di ranjang. Dan itu pertama kalinya, Bryan memaksa wanita. Karena biasanya wanita dengan suka rela naik ke ranjangnya. "Bukannya kamu sendiri yang mengatakan bahwa Shea berbeda."
Felix mengangguk, tanda mengiyakan, bahwa dirinya pernah mengatakan hal itu pada Bryan. "Apa kamu menyukainya?" Felix terdorong untuk menanyakan hal itu pada Bryan.
Bryan menatap tajam pada Felix. "Jangan gila, aku tidak akan pernah menyukainya. Aku hanya merasa harus bertangung jawab karena makannya aku makan saja."
Felix menatap Bryan dengan wajah tidak percaya. Baginya mengenal Bryan, bukanlah satu atau dua hari. Dan perubahan kecil ini menandakan adanya Shea membawa Bryan pada perubahan.
"Jangan menatapku seperti itu." Bryan mengambil rokok dan pematik. Menyalakan rokoknya, Bryan menghisap dalam-dalam rokok miliknya
"Apa kamu tidak pulang?"
"Kamu mengusirku?" Bryan menatap Felix seraya menghembuskan kepulan asap rokoknya.
"Sudah dua hari ini kamu kemari, apa dirimu tidak punya kegiatan lain?" Sama dengan Bryan, Felix mulai mengambil rokok dan pematik.
Bryan mengingat bahwa sudah dua hari ini dia ke tempat Felix. Kegiatan? Rasanya pertanyaan itu sedikit mengelitik pikirannya. Kegiatan panas yang biasa dilakukannya, berhenti sejak dua hari yang lalu.
Pikirannya melayang memikirkan apa yang membuatnya berubah. Terakhir dia melakukannya dengan wanitanya, dan rasanya tidak ada kenikmatan. Saat dia tidak punya kegiatan, Bryan memilih ke tempat Felix.
"Aku sedang malas." Bryan tahu pertanyaan tentang kegiatan yang di maksud oleh Felix, adalah kegiatan panasnya.
"Apa punyamu sudah tidak berfungsi?" Felix tertawa seraya menghembuskan kepulan asap.
"Sial! Punya ku masih berfungsi dengan baik."
"Lalu kenapa?"
"Kamu tahu bukan, wanitaku selalu tidur di kamar sebelah, dan saat kamar di pakai oleh Shea. Aku harus segera mengusirnya setelah puas melakukanya. Dan aku malas berdebat dengan mereka." Mereka yang dimaksud oleh Bryan adalah wanita-wanitanya. Mengingat kejadian, waktu Bryan mengusir wanitanya, Bryan harus berdebat terlebih dahulu, untuk mengusir mereka.
"Apa itu tandanya kamu akan berhenti?"
Bryan langsung tertawa. "Berhenti? Pertanyaan konyol apa yang kamu berikan."
Felix hanya mengangkat bahunya, menjawab pertanyaan Bryan.
"Aku tidak akan berhenti," ucap Bryan dengan penuh keyakinan. Baginya ada atau tidak Shea dalam hidupnya, tidak akan mengubah apa pun. Kebiasaan itu sudah sangat mengakar dalam dirinya. Dan tidak akan ada yang bisa mengubahnya.
**
Pagi ini Shea merasa mual, saat bangun tidur. Memuntahkan semua isi perutnya, Shea merasakan kelegaan. Tapi rasa lemas tiba-tiba menghampiri Shea, setelah muntah. Ingin rasanya Shea melanjutkan untuk beristirahat, tapi dirinya masih punya tanggung jawab pada pekerjaan, dan itu membuat Shea urung melakukannya.
Dengan memberi semangat pada dirinya sendiri, Shea bangkit dan bersiap-siap untuk ke kantor. Dalam benaknya, selalu dia tanamkan, bahwa dia harus semangat demi anaknya.
Shea membalut tubuhnya dengan kemeja dan rok di bawah lutut. Perut Shea yang belum terlalu besar, membuat dirinya masih nyaman untuk memakai rok ketat. Di tambah dengan Blazer, Shea tampil sempurna untuk pergi ke kantor.
Melangkah keluar, Shea menuju dapur. Pikirnya, dia akan sarapan roti saja, mengingat dirinya sedang sangat malas untuk memasak.
Tapi saat menuju dapur, Shea melihat Bryan masih tertidur di sofa. Shea ingat betul, semalam setelah makan malam, Bryan pergi keluar. Tapi Shea tidak tahu, kapan Bryan kembali ke apartemen.
Melanjutkan langkahnya, Shea menuju meja makan. Menarik kursi, Shea mendudukkan tubuhnya, di atas kursi di meja makan. Mengambil selembar roti, Shea mengolesi dengan selai coklat.
Setelah selesai memakannya rotinya, Shea berdiri dan bersiap untuk berangkat berkerja. Mata ekor Shea, melirik sedikit pada Bryan yang asik tidur di sofa, saat Shea menuju ke pintu apartemen.
Sejenak Shea mengingat, bahwa hari ini dirinya ada jadwal bertemu dengan Adion Company, dan itu berarti dia akan bertemu dengan Bryan. Tetapi melihat Bryan yang masih asik dengan dunia mimpinya, Shea sangsi akan ada pertemuan antara Maxton Company dengan Adion Company.
Akhirnya Shea memutar tubuhnya menghampiri Bryan. Pikirnya lebih baik dia membangunkan Bryan, agar jadwal Regan hari ini tidak akan berantakan.
"Bryan," panggil Shea dari kejauhan. Tidak ada pergerakan sama sekali, saat Shea memanggil Bryan. Melangkah beberapa langkah lebih dekat, Shea mencoba memanggil kembali. "Bryan."
Shea masih melihat tidak ada pergerakkan dari Bryan. Mungkin malah Bryan semakin nyenyak tertidur.
Melihat letak sofa yang membelakanginya, Shea mengintip dari balik belakang sandaran sofa. Dia melihat Bryan yang masih sangat tertidur pulas. Melihat ada pembatas, sandaran sofa, Shea memberanikan diri menyentuh Bryan. "Bryan," panggil Shea dengan menyentuh lengan Bryan.
Bryan hanya terdengar melenguh saat Shea membangunkannya. Dia masih asik melanjutkan mimpinya.
Rasanya, kesabaran Shea mulai habis, saat melihat Bryan tidak bangun sama sekali. "Kebakaran, kebakaran," teriak Shea. Ide itu lah yang terlintas di pikiran Shea, saat membangunkan Bryan.
Bryan yang mendengar teriakan kebakaran, langsung bangkit dari sofa. "Mana kebakaran?" tanyanya seraya melihat ke sekeliling dengan wajah bingung.
Shea hanya tertawa dalam hatinya, melihat apa yang kepanikan Bryan, tetapi Shea tidak menampilkan tawanya, di hadapan Bryan. "Tidak ada kebakaran," ucap Shea datar.
Kesadaran Bryan belum kembali sempurna, walaupun dirinya sudah berdiri sempurna. Sejenak, Bryan menatap pada Shea saat Shea mengatakan tidak ada kebakaran. Bryan pun mencerna baik-baik ucapan Shea. "Apa kamu sedang menipuku?" tanya Bryan dengan tatapan tajam.
Shea hanya menaikan bahunya, saat mendengar pertanyaan Bryan. "Aku hanya membangunkan dirimu," elak Shea.
"Apa kamu tidak bisa membangunkan dengan lebih lembut?" Tatapan tajam, belum menyurut dari sorot mata Bryan.
"Aku sudah melakukannya." Dengan nada tidak bersalah, Shea menjawab ucapan Bryan.
Bryan hanya mendengus kesal, mendapati jawaban Shea. "Kenapa kamu membangunkan aku, apa dirimu tidak punya kerjaan?"
Rasanya Shea malas sekali membangunkan pria di hadapannya ini, kalau dia tidak mengingat bahwa dia dan Regan ada jadwal meeting dengan Bryan. "Justru aku mempermudah pekerjaanya. Karena hari ini aku dan Pak Regan ada pertemuan denganmu. Jadi aku membangunkan kamu, agar pertemuan kami hari ini tidak gagal, karena kamu yang masih tertidur pulas."
Bryan mengingat perlahan-lahan tentang meeting yang di bicarakan Shea. Seketika ingatan Bryan, kembali pada ucapan Felix semalam, yang memintanya pulang karena hari ini dirinya dan Felix ada meeting dengan Regan.
"Kamu pikir aku bodoh, tidak ingat jadwal pekerjaanya." Bryan mencoba menutupi kesalahannya, yang melupakan meeting dengan Regan.
"Oh ya?" tanya Shea dengan senyum mencibir. "Aku pikir selain dirimu CEO miskin, dirimu juga CEO bodoh!"
"Apa kamu bilang?" Bryan sudah kehilangan kesabarannya. Bryan merasa Shea benar-benar sedang menguji kesabarannya.
"Pikir saja sendiri," ucap Shea, "sebaiknya aku pergi lebih dulu, agar aku tidak terlambat." Shea mengabaikan Bryan yang masih diliputi kekesalan.
Bryan yang melihat Shea pergi begitu saja, hanya mengeram kesal. Dalam hatinya, sampai kapan dirinya harus tinggal dengan wanita menyebalkan itu. Terbiasa melihat wanita yang bersikap manis padanya, membuat Bryan kesal saat Shea tidak bisa bersikap lebih manis padanya.
"Lihat saja, aku akan membuatmu bersikap manis padaku."
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
gia nasgia
yg ada Bry pengidap penyakit darah tinggi 🤣
2024-10-10
0
gia nasgia
Tanpa sadar Dad Bry sdh msk di nareka nya Mom shea 🤣🤣
2024-03-04
0
Diana diana
hahahaha . . makan tuch kebakaran
2024-02-11
0