Shea membuka matanya perlahan. Mengedarkan padangan, Shea melihat kamar dengan cat warna putih. Terlihat asing saat dia melihatnya. Walaupun sama-sama putih Shea yakin ini bukan rumah sakit. Kepalanya yang masih berdenyut, masih di rasa sangat menyiksa oleh Shea. Perlahan Shea mengingat, bagaimana dirinya bisa di tempat ini. Akhirnya ingatannya sampai di saat dirinya berada di dapur, membantu Selly untuk memasak puding.
"Apa Anda baik-baik saja?" tanya seorang wanita paruh baya.
Shea yang mendengar, pertanyaan dari wanita di hadapannya Shea masih kebingungan.
"Saya akan panggilkan Pak Regan dan Bu Selly." Asisten rumah tangga itu keluar dari kamar, dan mencari majikannya.
Saat keluar dari kamar, asisten rumah tangga melihat nampak sudah ramai orang yang datang. Asisten rumah tangga menghampiri Regan dan Selly, dan memberitahu bahwa Shea sudah bangun.
"Biar aku yang menemuinya, kamu temani keluarga kita saja," ucap Regan sedikit berbisik pada Selly. Regan menyadari, bahwa Selly adalah pusat utama dari acara yang di adakan. Jadi dia memilih untuk dirinya saja yang menemui Shea. "Kalau Erik datang, tolong suruh dia langsung masuk saja," tambahnya, dan Selly mengangguk.
Regan berlalu menuju ke kamar tamu, untuk menemui Shea. Membuka pintu kamar tamu, Regan masuk ke dalam kamar. Dari kejauhan, Regan melihat Shea yang sedang memijat pelipisnya. "Kamu sudah siuman?" tanya Regan.
Shea yang memijat pelipisnya, untuk mengurangi sakit di kepalanya tersentak, saat suara dingin yang sering di dengarnya, memberikan pertanyaan. "Maaf Pak saya merepotkan," ucap Shea seraya bangkit dari tidurnya.
"Tidurlah! Kamu butuh istirahat." Regan melangkah menghampiri Shea, dan melarangnya untuk bangkit dari tempat tidur.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Regan yang masih berdiri di samping tempat tidur.
"Saya hanya merasa pusing, dan sedikit mual, mungkin karena asam lambung, Pak."
Regan mengingat diagnosa dari Erik, bahwa Shea hamil. Tapi rasanya Regan masih belum bisa memastikan bahwa Shea benar-benar hamil, karena Erik belum juga datang. Dan mendapat jawaban dari Shea, akhirnya membuat Regan tergelitik untuk bertanya. "Apa kamu sudah punya pacar?"
Shea terkesiap saat mendengar pertanyaan dari Regan. Dalam hatinya, kenapa Regan menanyakan hal itu padanya. "Tidak," ucap Shea disertai gelengan.
Bola mata warna biru milik Regan, menatap ke dalam bola mata Shea, mencari kebenaran dari ucapan Shea. Dan Rasanya, Regan tidak mendapatkan kebohongan dari mata Shea.
Di saat bersamaan terdengar ketukan pintu. Mata Regan dan Shea langsung beralih ke arah pintu, untuk tahu siapa yang akan masuk ke dalam kamar.
Shea yang melihat pria asing dari balik pintu, hanya menatap bingung. Dirinya tidak tahu siapa pria tersebut. Berada di dalam ruangan dengan dua pria asing, membuat dirinya takut. Tapi saat dia sadar, bahwa di rumah ini sedang ada acara tidak mungkin hal buruk terjadi padanya.
Erik yang baru saja selesai mengecek sample darah dari Shea kembali ke rumah Regan. Saat di ruang tamu, Erik bertemu dengan Selly, dan dia menyuruh Erik untuk masuk ke dalam kamar, karena Regan sedang berada disana. "Rupanya kamu sudah siuman," ucap Erik, seraya melangkah mendekat pada Shea dan Regan.
Shea masih menatap bingung, dengan pria yang baru saja datang.
"Dia dokter Erik. Dia yang tadi memeriksamu." Regan yang menyadari kebingungan Shea mencoba menjelaskan.
Kelegaan langsung terasa dalam hati Shea. Ternyata pria yang baru saja datang, adalah seorang dokter.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Regan.
Erik menatap sejenak pada Regan, seolah meminta izin memberikan hasil sample darah pada Shea. Bagaimana juga, sebagai pasiennya, Shea harus tahu lebih dulu.
Melihat dua pria yang sedang berbicara, Shea merasa sangat bingung. Sampai saat pria yang baru saja datang itu, memberikan amplop pada Shea.
"Ini hasil test sample darah yang saya ambil dari kamu tadi," ucap Erik.
Dalam hati Shea hanya berpikir, apa sebegitu parah sakitnya, sampai harus menjalani test darah. Perasaan takut mulai melingkupi hati Shea, membayangkan penyakit-penyakit aneh dideranya. Dengan rasa berdegup di dalam hatinya, Shea membuka amplop yang di berikan oleh Erik.
Mata Shea membaca dengan jeli setiap data yang ada. Sebenarnya Shea bingung membacanya, tapi dia berusaha menyelesaikan membaca laporan dari test darah yang dia jalani. Sampai saat Shea menemukan tulisan di akhir hasil test, tertera 'menyatakan bahwa Olivia Shea positif hamil'.
Shea langsung membeku saat melihat isi dari hasil test yang dilakukannya. Pikirannya melayang mengingat kejadian sebulan yang lalu, dimana Bryan memperkosanya. "Ini tidak benar bukan?" Manik mata abu milik Shea menatap dalam pada Erik. Seoalah dia berharap, Erik akan memberikan jawaban, bahwa semua yang di lihat Shea tidak benar.
Erik melihat dengan jelas, wajah terkejut dari wanita yang ada di hadapannya. Matanya menatapnya meminta jawaban dari semua apa yang di lihatnya. "Sebagai dokter, aku menyampaikan bahwa yang kamu lihat adalah benar," ucap Erik. "Kamu hamil," tambahnya lagi.
Tubuh Shea seketika lemas mendapatkan jawaban dari Erik. Dadanya mulai sesak, saat harus menerima kenyataan bahwa dirinya hami dari orang seperti Bryan. "Tidak, ini tidak mungkin," ucap Shea. Bulir-bulir air mata, mulai membasahi pipinya. "Katakan bahwa ini bohong." Shea masih benar-benar berharap bahwa semua yang terjadi padanya bukanlah kenyataan.
Regan melihat dengan jelas, bagaimana terkejutnya Shea mendapati dirinya hamil. Nampak jelas kalau Shea tidak menerima kenyataan ini.
"Ini benar. Kamu memang benar hamil." Erik memperjelas kembali ucapannya.
Shea langsung menangkup wajahnya. Merasakan sakit saat harus menerima kenyataan. "Aku tidak mau mengandung pria kurang ajar itu. Aku tidak mau," ucap Shea. Air matanya semakin deras mengalir di pipinya.
Regan melihat Shea yang nampak tidak terima dengan hasil test miliknya. Ada perasaan tidak tega saat melihat wanita di hadapannya itu. Ingatan Regan kembali pada kejadian tadi pagi dimana Shea muntah, dan itu sama persis dengan Selly. Tapi dirinya tidak menyangka bahwa Shea akan hamil seperti Selly.
Erik menatap bingung dengan wanita di hadapannya, saat mendapati dirinya hamil. Sebagai dokter dia sering melihat pasiennya, datang untuk mengecek kandungan, dan saat menerima hasilnya mereka semua merasa senang.
Sejenak Regan dan Erik hanya saling pandang, sedikit merasakan bingung menghadapi wanita yang menangis di hadapannya.
"Shea," panggil Regan. Regan ingin berusaha untuk menenangkan Shea.
Shea merasa seseorang memangil namanya, menengadah. Padangannya tertuju pada Regan, karena dia tahu, suara Regan lah yang memanggilnya.
Mata Shea langsung menajam. Terbesit rasa benci pada Regan, saat mengingat Regan lah yang menyuruhnya mengantar berkas. "Semua ini gara-gara Anda," rancau Shea. Shea kembali menangis mengingat dari mana awal semua terjadi.
Regan terperanjat mendengar mendengar tuduhan Shea. Dirinya tidak tahu, kenapa Shea menuduhnya begitu saja. Regan tahu pasti bahwa dirinya tidak melakukan apa pun pada Shea.
"Apa kamu menghamilinya?" Pertanyaan berbisik datang dari Erik, saat mendengar Shea menuduh sepupunya itu.
Mata Regan langsung menajam, saat Erik tiba- tiba mengajukan pertanyaan yang menurutnya sangat bodoh. "Kamu pikir aku seburuk itu," ucapnya pada Erik.
Erik hanya menarik senyum tipis, saat melihat Regan yang sedikit marah. Sebenarnya Erik tahu betul, Regan tidak tahu akan melakukannya, mengingat dia sangat mencintai Selly. Tapi saat mendengar ucapan Shea, dirinya tergelitik untuk bertanya.
"Shea coba jelaskan, kenapa kamu menuduhku?" Dengan nada sedikit kesal, Regan bertanya pada Shea.
Shea masih terus menangis. "Andai saja Bapak tidak menyuruh saya mengantarkan berkas, semua ini tidak akan terjadi." Shea benar-benar menyesali semuanya.
Regan terperangah mendengar ucapan Shea. Berkas? batin Regan. Sejenak pikiran Regan kosong, dirinya tidak mengerti apa yang di ucapkan Shea. Tapi akhirnya dia mengingat, bahwa sebulan yang lalu dia meminta Shea menyerahkan bekas pada pihal Adion Company.
Tanpa bertanya lagi pada Shea, Regan langsung melangkah keluar dari kamar. Tempat pertama yang ditujunya adalah ruang keluarga, dimana sedang ada keluarga yang merayakan kehamilan Selly.
Mata Regan langsung tertuju pada satu orang. Dilihatnya, pria itu sedang duduk dengan keluarganya. Dengan penuh emosi, Regan langsung melangkah menghampiri, dan menarik kerah bajunya.
"Sayang," panggil Selly. Selly begitu kaget melihat Regan yang begitu penuh emosi.
"Kak, apa yang kakak lakukan?" tanya Felix yang mendapat perlakuan kasar dari Regan.
"Apa kamu yang menghamili Shea?" tanya Regan. Regan benar-benar menahan geramnya pada Felix. Sebulan yang lalu, saat keluar dari kantor, Regan melihat mobil Felix berhenti di halte bus. Tadinya Regan tidak tertarik dengan apa yang di kerjakan oleh Felix. Tapi saat melihat Felix menghampiri Shea, dirinya berubah pikiran.
Regan yang penasaran, akhirnya mengikuti kemana Felix mengajak Shea. Regan tahu betul, bahwa Felix tidak jauh beda dengan Bryan. Dan saat melihat Felix mengajak Shea ke restoran, ada perasaan lega, saat Felix tidak melakukan hal buruk pada sekertarisnya itu.
"Shea hamil?" tanya Felix memastikan.
"Iya." Tangan Regan masih mencengkram keras baju milik Felix. "Dan kamu harus mempertangungjawabkan jawabkan," lanjut Regan.
"Aku?" Felix mengerutkan keningnya mendengar ucapan Regan.
"Iya, siapa lagi kamu pikir? Aku menyuruh Shea mengantar berkas padamu, dan kamu berani-beraninya melakukan hal itu padanya."
"Sayang bisakah kita bicara baik-baik." Selly yang melihat emosi Regan mencoba menenangkan.
Suara lembut yang di dengar Regan, seketika meluluhkan hatinya. Regan langsung melepas cengkeramannya dengan kasar pada Felix.
Melihat Felix sudah lepas dari cengkeraman Regan. Selly beralih pada Felix. "Apa benar kamu yang menghamili Shea?" tanya Selly.
"Aku tidak menghamilinya, Kak." Felix masih berusaha mengelak.
"Kalau bukan kamu, memangnya siapa lagi," potong Regan.
"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Daniel Adion-Papa dari Selly.
"Sebulan yang lalu aku menyuruh sekertarisku mengantar berkas, dan sehari setelah itu aku melihat Felix mengajak sekertarisku ke restoran. Dan sekarang sekertarisku hamil." Dengan emosi yang masih melingkupi hati Regan, dia menjelaskan.
"Apa benar itu Felix?" tanya Daniel.
"Tidak Paman. Aku tidak menghamilinya. Tapi ...." Felix terhenti saat mengingat nama orang yang menghamili Shea. Siapa lagi jika bukan atasan sekaligus temannya.
"Tapi apa?" tanya Regan menatap tajam pada Felix.
"Sayang, tenanglah dulu." Selly benar-benar tidak tahu, kenapa suaminya begitu emosi.
Felix berpikir keras, bagaiamana dirinya menjelaskan. Dengan emosi Regan Felix bisa menebak, bahwa Bryan dalam bahaya. tapi mendengar tuduhan dari Regan bahwa dirinyalah yang menghamili, rasanya di tidak bisa.
Di saat yang bersamaan Bryan masuk ke dalam rumah. Bryan yang baru saja pulang dari luar negeri, langsung ke rumah kakaknya, saat kakaknya mengabari, bahwa dia akan mengada makan malam keluarga, untuk merayakan kehamilannya.
"Hai, apa aku terlambat?" tanya Bryan sesaat saat masuk ke dalam rumah.
Semua orang yang baru saja dalam ketegangan, mengalihkan pandangan pada Bryan.
"Kamu sudah pulang, sayang," ucap Melisa Adion-Mama dari Bryan dan Selly Adion.
"Iya ma, tadi pesawat delay." Bryan langsung mencium pipi mamanya, dan ikut duduk di sofa bersama papa, kakak, dan kedua orang tua Regan. "Apa kabar, Paman, Bibi?" tanya Bryan Pada Andrew dan Lana Maxton.
"Baik, Nak," ucap Lana pada Bryan.
Bryan beralih pada Selly. "Selamat Kak, atas kehamilan Kakak," ucap Bryan, seraya memeluk tubuh kakaknya.
Bryan tahu betul bahwa kakaknya, sudah dua tahun ini menantikan buah hati. "Selamat, Kak," ucap Bryan. Bryan mengulurkan tangan pada Regan.
Regan yang masih kesal, menerima uluran tangan dari Bryan. "Terimakasih."
Fokus mereka sejenak teralihkan pada kedatangan Bryan.
"Ayo lanjutkan ucapanmu?" Regan mengalihkan kembali fokusnya pada Felix.
Bryan yang melihat ucapn Regan pada Felix, menjadi sangat bingung. Entah apa yabg terjadi pada Felix. "Ada apa ini?"
"Felix menghamili seorang wanita," ucap Melisa.
"Kamu menghamili wanita?" tanya Bryan, dengan nada sedikit meledek pada Felix.
Felix yang mendengar ledekan dari Bryan, merasa kesal. Rasa tidak terima langsung menghampiri Felix. "Bukan aku yang menghamili. Tapi Bryan yang menghamili." Dengan tegas Felix mengungkapkan semuanya.
.
.
.
.
Jangan lupa like🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Anna Annawaliana
bilang aja Felix ,,Bryan yg sudah memperkosa shea
2024-10-11
0
azka myson28
kangen shea dan bryan balik baca lagi😍😍
2024-07-29
0
sakura🇵🇸
bisa2nya dia ngledekin felix...kena ulti kan jadinya😅
2024-05-07
0