"Apa kurir makanan sudah datang?" tanya Regan yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Sudah, Pak."
"Baiklah. Aku akan pergi, jika ada yang mencariku kamu bisa menghubungi aku."
"Baik, Pak."
Regan pun melangkah meninggalkan Shea, untuk makan siang bersama dengan istrinya.
Shea yang melihat Regan berlalu, beralih memandangi makanan yang telah di pesankan oleh Regan. Senyum di sudut bibirnya terangkat sedikit, saat melihat makanan tersebut.
"Aku saja yang orang lain di perhatikan. Bagaimana dengan Kak Selly." Shea yang menyadari kebaikan Regan padanya, membuatnya membayangkan bagaimana Regan memperlakukan istrinya.
Melihat perhatian Regan, terkadang membuat Shea tergelitik memikirkan Bryan. Pria yang tidak jelas, yang masuk ke dalam hidupnya secara tidak di duga. "Bryan." Shea menyebut nama Bryan dengan bibirnya.
Pria yang selalu mengagungkan kebebasan. Mungkin itulah yang tepat Shea sematkan pada Bryan.
Mengingat bagaimana Bryan membawa wanita ke apartemen. Menandakan kebebasannya sudah terlampau tinggi. Bagaimana tidak, disaat dia memiliki status sebagai suami, dia membawa wanita ke dalam hubungannya.
Tapi buru-buru Shea menghilangkan pikirannya tentang Bryan. Dia harus fokus pada perjanjiannya, bahwa dia tidak akan menganggu kesenangan Bryan. Dan Shea tidak akan melakukan semua itu.
Tangan Shea kembali pada bungkusan box berisi makanan khusus, yang di pesan oleh Regan. Membukanya, Shea langsung memakan makanan yang berada di hadapannya.
**
Setelah pulang dari kantor, Shea menyempatkan diri untuk ke supermarket membeli buah segar. Rencananya Shea akan membuat salad buah. Karena kemarin dia hanya membeli apel saja, Shea berniat membeli buah lainnya sebagai pelengkap.
"Sore, Pak," sapa Shea pada petugas keamanan.
"Sore, Bu Shea."
"Ini ada sedikit makanan." Shea menyerahkan satu bungkus berisi buah pada petugas keamanan
"Terimakasih." Wajah petugas keamanan tampak senang saat mendapatkan makanan dari Shea.
"Saya permisi dulu." Dengan sopan Shea berpamitan.
Petugas keamanan pun mengiyakan, saat Shea dengan sopan. "Beruntung sekali Pak Bryan, mendapatkan wanita baik dan sopan seperti itu, tidak seperti perempuannya yang sering datang," gumam pertugas keamanan.
Sesampainya Shea di apartemen, Shea merapikan belanjaannya di lemari pendingin.
Berlalu ke kamarnya, Shea memilih membersihkan diri terlebih dahulu sebelum membuat makanan untuk dirinya.
Saat Shea keluar dari kamar, Shea melihat Bryan sudah datang, dan sedang bersantai di ruang tamu. Tampak Bryan sedang menikmati kepulan asap yang tercipta dari rokok yang di apit oleh jemarinya.
Melewati Bryan, Shea berlalu menuju ke dapur. Memotong-motong buah, Shea menyiapkan buah untuk salad miliknya.
"Buat apa kamu?" tanya Bryan yang sedang mengambil air minum.
Shea yang sedang mengupas buah di depan wastafel, tersentak kaget saat suara Bryan terdengar di dapur. Dengan cepat Shea membalik tubuhnya, melihat ke arah Bryan.
Melihat Shea berbalik, Bryan di kagetkan dengan pisau yang di bawa oleh Shea. Reflek Bryan langsung memundurkan tubuhnya. Kenapa dia hoby sekali bermain pisau, batin Bryan melihat Shea.
"Membuat salad," jawab Shea ketus.
"Apa salad buatanmu enak?" Pertanyaan penuh cibiran di berikan Bryan pada Shea.
"Aku rasa sama enaknya dengan steak dan scrambled eggs milikku kemarin," ucap Shea dengan nada penuh sindiran.
"Sayangnya steak dan scrambled eggs milikmu tidak enak."
Shea menatap tajam pada Bryan. "Tapi buktinya kamu memakannya." Shea merasa tidak terima saat makananya di cibir oleh Bryan.
"Ya itu karena terpaksa," ucap Bryan dengan memutar bola mata malas.
Terpaksa? batin Shea meronta-ronta saat mendengar kata terpaksa dari Bryan.
"Bagus kalau begitu, jangan pernah makan, masakan aku." Dengan nada tegas, Shea meluapkan kekesalannya.
"Iya, lagi pula malam ini aku akan makan dari restoran kesukaanku. Dan rasa masakannya sangatlah lezat." Bryan berucap seraya membayangkan makanan dari restoran favorite nya.
"Makan saja sana!" seru Shea.
Saat Bryan ingin menjawab ucapan Shea terdengar suara bel apartemen, dan menghentikan perdebatan sengit antara Shea dan Bryan. "Pasti itu kurir makanan aku."
Bryan langsung lalu berlalu menuju ke pintu, untuk menerima pesanan makanannya.
"Dengan Bapak Bryan?" tanya kurir makanan pada Bryan.
"Iya."
"Saya mengantarkan makanan pesanan, Pak Bryan," ucap kurir makanan.
"Mana?" Bryan meminta makanan yang di pesannya.
"Tapi terdapat kesalahan untuk ongkos pengiriman, pesanan Bapak. Jadi ini tambahan kekurangan ongkos kirimnya, Pak." Kurir makanan memberikan kertas berisi tagihan ongkos kirim makanan.
"Bagaimana bisa salah," gerutu Bryan
"Maafkan kesalahan petugas kami, Pak."
Bryan sangat malas harus berdebat dengan kurir makanan. Akhirnya dia memilih masuk ke dalam apartemen, dan menuju ke kamarnya.
Mencari dompetnya, Bryan berniat membayar kekurangan ongkos kirim makanan. "Mana ada kesalahan ongkos kirim, bilang saja minta tip," grutu Bryan saat mencari dompetnya.
Saat membuka dompetnya, Bryan membulatkan matanya saat melihat tidak ada uang cash di dalam dompetnya. "Aku lupa, kalau aku tidak pernah punya uang cash."
Bryan memutar otaknya, bagaimana dirinya bisa membayar pada kurir makanan. Senyum di sudut bibir Bryan terangkat, saat mengingat siapa yang bisa memberinya.
Melangkah keluar kamarnya. Bryan menuju ke dapur. "Shea," panggil Bryan.
Shea yang baru saja menyelesaikan kegiatannya membuat salad, menoleh pada Bryan, saat pria itu memanggilnya. "Apa?" tanya Shea dengan sedikit menaikan dagunya.
"Apa kamu punya uang cash?"
Shea mengerutkan dalam keningnya saat mendengar Bryan menanyakan uang padanya. "Untuk apa?"
"Ada tambahan ongkos pengiriman makananku. Dan kurir menunggu di luar."
Shea hanya memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya seorang CEO perusahaan terkenal, tidak punya uang untuk membayar kurir makanan.
"Jangan berpikir aku tidak punya uang. Aku punya banyak uang," ucap Bryan yang melihat wajah Shea yang tampak merendahkan. "Aku hanya tidak terbiasa menyimpan uang cash." Bryan mencoba membela diri.
"Bagaimana aku bisa percaya, sedangkan kenyataannya berkata lain," cibir Shea seraya melangkah menuju ke kamarnya, untuk mengambil dompetnya.
Bryan yang berlalu ke kamarnya, tidak perduli dengan ucapan Shea.
"Berapa?" tanya Shea sesaat keluar dari kamar.
Tanpa bertanya Bryan, meraih dompet Shea, dan mengambil beberapa lembar uang dari dompet Shea. Setelah mendapatkan uang, Bryan menghampiri kurir yang sejak tadi menunggu dirinya.
Shea yang melihat aksi Bryan hanya bisa tercengang. Tangan Bryan yang dengan cekatan mengambil uang di dompetnya, tidak mampu membuat dirinya menolak atau pun melarang.
Bryan yang baru saja menyelesaikan pembayaran pada kurir, membawa makanannya ke dalam apartemen, dan menuju ke meja makan.
Melewati Shea yang masih berdiri di tempat dia meninggalkan, Bryan meletakkan makanannya. "Kenapa kamu masih disana?"
Shea hanya mendengus kesal saat Bryan menegurnya. Bagaimana dirinya tidak berdiam diri merasakan kaget. Saat mendapati Bryan dengan seenaknya mengambil uang di dompetnya.
Melangkah ke meja makan, Shea melanjutkan makannya. "Aku rasa kamu adalah CEO miskin," cibir Shea pada Bryan.
"Apa kamu bilang?" tanya Bryan kaget, saat membuka bungkusan makanannya.
"CEO miskin!" Suara Shea yang tegas dengan penuh cibiran.
"Bagaimana bisa kamu mengatai aku miskin?" Bryan menatap tajam pada Shea.
"Bagaimana aku tidak mengatai kamu miskin, kalau uang cash saja kamu tidak punya, dan kemarin kamu memakan masakan milikku, tanpa izin." Shea membalas Bryan dengan tatapan tajam, dan meluapkan kekesalannya.
Bryan yang mendengar ucapan Shea menjadi salah tingkah. Bagaimana juga, memang dirinya telah memakan makanan Shea kemarin. "Tapi bukan berarti aku miskin." Bryan masih mengelak dengan ucapan Shea.
Shea hanya mendengus kesal mendengar ucapan Bryan. Dia benar-benar malas menanggapi ucapan Bryan.
"Tenanglah aku akan menganti uangmu," ucap Bryan.
"Lalu dengan makananku?" tanya Shea.
Bryan tidak bisa menjawab ucapan Shea yang membahas tentang masakannya. "Kalau masalah masakanmu, aku tidak bisa menggantinya dengan masakan juga. Karena aku tidak bisa memasak. Tapi aku akan ganti dengan mengajakmu makan steak di restoran saja."
"Siapa yang mau pergi denganmu," ucap Shea melirik tajam.
"Lalu kamu mau apa?" Bryan mulai frustasi, mendengar penolakan Shea.
Shea yang di tanya mau apa pun juga merasa bingung. Tadi niatnya hanya mencibir Bryan. Tapi perdebatan mereka melebar kemana-mana. "Sudahlah lupakan." Shea langsung menundukkan kepalanya, untuk melanjutkan makannya.
Bryan gantian mendengus kesal. "Dasar wanita," gumamnya. Dalam hati Bryan hanya bisa berkata, inilah yang di benci Bryan dengan wanita. Tidak tau apa maunya. Dan dirinya harus memahami.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like🥰
Besok ikut Shea makan steak yang di ganti Bryan ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
gia nasgia
CEO miskin 🤣🤣
2024-03-04
1
Diana diana
kamu belum tau aj , BRI
wanita itu adalah misteri yg sukar untuk d mengerti . .
2024-02-11
0
Aidah Djafar
wanita tidak jelas kata Bryan 🤔 tapi doyan tidurin wanita 🤦🤔
dasar Casanova 🤣🤣🤣
2023-02-20
1