Wajah Tanpa Identitas

Pak Jaya terengah-engah, tangannya yang mati rasa hampir tidak bisa bergerak saat Darma melepaskan ikatannya. Seketika, tubuhnya jatuh ke lantai gudang yang dingin. Dia ingin merangkak menjauh, tapi lututnya lemas. Matanya menatap Darma yang kini berjalan ke arah kaca besar di sudut gudang.

Darma tidak berbicara sepatah kata pun. Dengan satu pukulan kuat dari gagang cerulitnya, kaca besar itu retak dan pecah, jatuh berserakan menjadi ribuan serpihan tajam di lantai. Kilauan pantulan cahaya dari pecahan itu menciptakan atmosfer menyeramkan di dalam gudang tua itu.

Pak Jaya hanya bisa menatap penuh ketakutan. "D-Darma... t-tolong... gue udah kasih tau segalanya..."

Darma tidak menggubrisnya. Dia menatap pecahan kaca itu sebentar, lalu dengan gerakan perlahan, dia merapikan serpihan-serpihan itu ke satu tumpukan kecil di lantai, seolah sedang menyiapkan sesuatu.

Pak Jaya semakin panik. Dia merangkak mundur, tubuhnya gemetar hebat. "Lo... lo mau ngapain?"

Darma akhirnya menatapnya. Mata kosong itu kini dipenuhi kebencian.

"Gue bisa bunuh lo sekarang." Suara Darma rendah dan dingin. "Tapi itu terlalu mudah."

Dia berjongkok, menarik kerah Pak Jaya dengan kasar dan menyeretnya lebih dekat ke tumpukan kaca. Pak Jaya menjerit, berusaha melawan, tapi kekuatannya sudah habis. Tangannya mencakar-cakar lantai, namun tak ada yang bisa dia lakukan.

"L-Lo gila! Lo udah gila, Darma!"

Darma tidak bereaksi. Dengan satu gerakan cepat, dia menekan kepala Pak Jaya ke bawah, tepat ke atas serpihan kaca.

"AARGHHH!!"

Jeritan Pak Jaya menggema di seluruh ruangan. Darma tidak berhenti. Dia menekan lebih kuat, menggosok wajah Pak Jaya ke atas kaca yang tajam itu. Darah mulai bercipratan ke lantai. Setiap gerakan membuat lebih banyak luka terbuka, serpihan kaca menempel di daging, merobek kulit, dan menghancurkan wajahnya sedikit demi sedikit.

Pak Jaya menendang liar, tubuhnya bergetar hebat karena rasa sakit yang luar biasa. Darah menetes deras ke lantai, menciptakan genangan merah yang semakin besar.

Darma akhirnya melepaskan cengkeramannya. Pak Jaya terkapar di lantai, menggeliat dalam penderitaan. Wajahnya kini bukan lagi wajah yang dikenal siapa pun—kulitnya sobek-sobek, matanya hampir tertutup oleh darah yang mengalir, dan bibirnya bergetar tanpa bisa mengeluarkan kata-kata lagi.

Darma berdiri, menatapnya dari atas.

"Rasakan, Pak Jaya," katanya dingin. "Lo mungkin gak mati hari ini. Tapi lo gak akan pernah jadi orang yang sama lagi."

Pak Jaya hanya bisa menangis dalam diam. Sakitnya tak terlukiskan.

Darma mengambil topengnya kembali dan mengenakannya. Tanpa menoleh lagi, dia berjalan keluar dari gudang, meninggalkan Pak Jaya yang kini hanya tinggal bayangan dari dirinya yang dulu.

Pagi itu, suasana di perusahaan logistik tempat Pak Jaya bekerja terasa aneh. Semua karyawan mulai berdatangan, beberapa di antaranya bertanya-tanya di mana Pak Jaya. Biasanya, pria itu selalu datang lebih awal, duduk di ruangannya dengan wajah penuh wibawa, siap memberi perintah dengan nada superiornya.

Namun, pagi ini berbeda.

Para staf yang biasa berinteraksi dengannya mulai saling berbisik. "Pak Jaya belum datang?"

"Biasanya jam segini dia udah ada di ruangan."

"Apa dia sakit?"

Ruangan Pak Jaya tetap kosong. Tidak ada tanda-tanda dirinya.

Lalu, seorang staf senior yang biasa menerima laporan darinya mencoba menghubungi ponselnya. Tidak aktif. Ini semakin aneh. Bahkan, tidak ada satu pun bawahan langsungnya yang tahu keberadaannya.

Beberapa karyawan mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Doni, yang sedang duduk di mejanya, hanya diam. Tangannya mencengkeram cangkir kopi yang sudah dingin, tatapannya kosong. Dia tahu apa yang terjadi.

Darma.

Tidak ada orang lain yang bisa melakukan ini. Tidak ada orang lain yang bisa membuat Pak Jaya menghilang tanpa jejak seperti ini.

Doni menarik napas panjang. Dia sudah mencoba berbicara dengan Darma malam itu di warung kopi, mencoba menyadarkannya, tapi pria itu sudah bukan lagi pria yang dikenalnya dulu. Mata Darma penuh dengan dendam, dengan kegelapan yang tidak bisa lagi dijangkau oleh akal sehat.

Doni berusaha menepis pikirannya dan kembali fokus pada pekerjaannya. Tapi pikirannya terus mengembara.

Apa yang dilakukan Darma pada Pak Jaya?

Apakah dia sudah membunuhnya?

Ataukah dia melakukan sesuatu yang lebih buruk?

Ketika beberapa karyawan mulai mencari ke kantor pusat, dan laporan mulai masuk tentang hilangnya Pak Jaya, Doni hanya bisa menatap kosong ke layar komputernya.

Darma sudah memulai jalannya.

Dan tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang.

Polisi tiba di gudang tua itu setelah menerima laporan dari seseorang yang tidak diketahui identitasnya. Saat mereka masuk, bau anyir darah menyengat di udara. Cahaya senter menyorot ke segala arah, menyapu setiap sudut ruangan yang gelap dan penuh debu.

Lalu, mereka menemukannya.

Pak Jaya.

Tubuhnya tergeletak di lantai dengan luka mengerikan di wajahnya. Darah masih mengalir dari luka-luka yang dalam, serpihan kaca berceceran di sekitarnya. Wajah yang dulunya penuh arogansi kini sudah tidak bisa dikenali lagi. Daging wajahnya koyak, tercabik seperti daging mentah yang dicabik oleh hewan liar.

Namun, yang paling mengerikan—dia masih hidup.

Seorang polisi segera berlutut di sampingnya, memeriksa nadinya. “Dia masih bernapas! Panggil ambulans sekarang!”

Pak Jaya menggerakkan bibirnya, mencoba mengatakan sesuatu, tapi hanya suara rintihan pelan yang keluar. Matanya kosong, seolah jiwanya telah meninggalkan tubuhnya.

Saat ambulans datang dan membawanya ke rumah sakit, para petugas hanya bisa saling berpandangan. Siapa yang melakukan ini? Apa motifnya?

Di rumah sakit, dokter dan perawat bekerja cepat. Pak Jaya langsung dibawa ke ruang operasi, mencoba menyelamatkan apa yang tersisa dari wajahnya.

Namun, meskipun tubuhnya masih bisa diselamatkan, pikirannya tidak.

Ketika dia sadar dari efek bius operasi, dia hanya menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Tidak menangis, tidak berteriak, tidak ada reaksi.

Salah satu perawat mencoba berbicara dengannya. “Pak Jaya, Anda bisa mendengar saya?”

Tidak ada jawaban.

Dokter datang dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Beberapa jam kemudian, mereka menyimpulkan satu hal: mentalnya telah hancur.

Trauma yang dialaminya begitu dalam hingga membuatnya kehilangan kepribadian. Dia hanya duduk diam, menatap ke depan tanpa emosi, tanpa ekspresi. Tidak ada lagi sosok penguasa di tempat kerja. Tidak ada lagi suara perintah dan nada superior. Yang tersisa hanyalah cangkang kosong dari seseorang yang pernah berkuasa.

Di luar kamar rumah sakit, para polisi berdiskusi.

“Siapa pun yang melakukan ini… dia bukan hanya ingin membunuhnya. Dia ingin menghancurkannya.”

Salah satu polisi menatap rekannya dengan ekspresi ngeri. “Dan dia berhasil.”

Hari-hari di rumah sakit adalah mimpi buruk bagi Pak Jaya.

Bukan hanya karena wajahnya yang hancur, tapi karena dia sadar—hidupnya sudah berakhir.

Istrinya datang pertama kali setelah operasi. Saat dia masuk ke ruangan, Pak Jaya langsung menatapnya dengan mata kosong, berharap ada sedikit harapan yang tersisa. Tapi yang dia lihat adalah ekspresi ngeri di wajah istrinya.

Sang istri menutup mulutnya, menahan muntah. “Astaga… Tuhan…”

Pak Jaya ingin berbicara, tapi suara yang keluar dari mulutnya hanya rintihan pelan. Luka di wajahnya terlalu parah, membuatnya sulit bicara. Dia mencoba mengangkat tangan, ingin menyentuh istrinya, tapi perempuan itu mundur selangkah.

“Ja-jangan sentuh aku…” suaranya bergetar.

Pak Jaya merasakan sesuatu mencengkeram dadanya—rasa sakit yang lebih menyiksa daripada semua siksaan fisik yang dia terima dari Darma.

Tak lama, anaknya masuk ke dalam ruangan. Seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun. Pak Jaya tersenyum, berharap anaknya tidak peduli dengan wujudnya sekarang.

Tapi saat anaknya melihat wajahnya—bocah itu berteriak ketakutan.

“AAAAH! MONSTER!!”

Tangis anaknya memenuhi ruangan, dan bocah itu langsung berlari ke belakang ibunya, bersembunyi di sana.

Pak Jaya terdiam.

Sakitnya menusuk lebih dalam dari belati mana pun.

Dia mencoba mengulurkan tangan. “Nak… ini Ayah…”

“Pergi! Jangan dekati aku! Ayah monster!”

Saat itulah dia menyadari—dia sudah mati.

Bukan secara fisik, tapi secara batin. Tidak ada lagi kehidupan baginya.

Istrinya menenangkan anak mereka, lalu menatap Pak Jaya dengan mata penuh kebencian. “Kau tahu? Mungkin ini balasan yang pantas untukmu.”

Pak Jaya terkejut. “A-apa maksudmu…”

Sang istri hanya menggeleng, air mata jatuh di pipinya. “Aku sudah lama tahu tentang korupsimu. Aku tahu semua yang kau lakukan selama ini. Aku diam… karena aku takut. Tapi sekarang, kau bukan siapa-siapa lagi. Aku tak mau hidup dengan seseorang yang bahkan anaknya sendiri takut padanya.”

Pak Jaya ingin berteriak, ingin marah, ingin memohon—tapi tidak ada gunanya.

Istrinya menghela napas panjang. “Mulai hari ini, aku akan mengajukan cerai.”

Mata Pak Jaya melebar.

“Jangan… aku masih punya kau… aku masih punya anak kita…”

Tapi istrinya tidak menoleh lagi. Dia menggandeng anak mereka dan keluar dari ruangan, meninggalkan Pak Jaya sendirian.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Pak Jaya benar-benar sendiri.

Malam itu, dia bangun dari tempat tidurnya di rumah sakit. Langkahnya pelan, tertatih karena tubuhnya masih lemah.

Dia berjalan ke jendela kamarnya, menatap keluar.

Dari lantai keempat rumah sakit itu, dia bisa melihat kota yang dulu dia kendalikan dengan arogansi. Kota yang dulu memberi dia kekuasaan dan kemewahan.

Tapi sekarang, semua itu tidak ada artinya.

Darma telah menghancurkannya.

Bukan hanya wajahnya. Bukan hanya tubuhnya. Tapi juga jiwanya.

Pak Jaya menatap tangannya yang gemetar. Tidak ada lagi yang tersisa untuknya. Tidak ada keluarga. Tidak ada kekuasaan. Tidak ada alasan untuk hidup.

Angin malam terasa dingin saat dia membuka jendela.

Lalu, tanpa ragu…

Dia melompat.

Tubuh Pak Jaya menghantam tanah dengan suara keras, tulang-tulangnya remuk, darah menyebar di sekelilingnya. Para perawat yang sedang bertugas menjerit melihat tubuh yang kini tidak berbentuk itu.

Seorang polisi yang berjaga di rumah sakit berlari mendekat, tapi terlambat.

Pak Jaya telah mengakhiri segalanya dengan cara yang paling mengenaskan.

Di samping mayatnya yang hancur, angin malam berhembus pelan, seolah mengirimkan pesan ke seluruh kota:

Darma telah memulai sesuatu.

Dan ini baru permulaan.

Episodes
1 Hidup Yang Tenang
2 Kota Yang Sakit
3 Pagi Hari dengan luka
4 Permainan Kotor
5 Kecurigaan dan Kebahagiaan
6 Kehilangan Segala nya
7 Dendam Yang Mulai Tumbuh
8 Bayangan Dendam
9 Mencari Informasi
10 Penebusan di kota darah
11 Kepercayaan yang di uji
12 Mimpi Yang Berdarah
13 Jejak Akar Kebusukan
14 Menyusup Ke Menara Permata
15 Pertarungan Di Menara Pernata
16 Mengincar Target Berikutnya
17 Pembicaraan Di Warung Kopi
18 Malam Penyiksaan
19 Wajah Tanpa Identitas
20 Getaran Terror Di Kota Sentral Raya
21 Perburuan Di Mulai
22 Sebuah Kehangatan Sebelum membantai
23 Tempat Tinggal Baru
24 Terror Untuk Aparat Hukum
25 Sekutu Baru
26 Malam Di Rumah Rini
27 Kehangatan Rumah
28 Trik Licik Feny
29 Persiapan Adharma
30 Permainan yang mematikan
31 Cara yang Kotor dan Licik
32 Memihak Kebenaran atau Kebatilan?
33 Solusi dibalik Tali yang Tipis
34 Kecerdasan Feny
35 Pemain Baru
36 Pertemuan Di Persembunyian
37 Luka dalam permainan sebenarnya
38 Eksekusi Target Ke dua
39 Ledakan di villa
40 Berita Terbaru
41 Rencana Baru dan Kecurigaan
42 Siapa Cepat Dia Menang
43 Aksi Kejar Kejaran
44 Kekalahan Pertama Darma
45 Doni Dan Feny
46 Sebuah Blunder
47 Kehebohan Masyarakat
48 Bertahan dari Kematian
49 Kenangan Yang Menyakitkan
50 Buronan Baru
51 Duel Pemburuan
52 Kecerdasan Yang Mematikan
53 Nafas Terakhir Sang Penguasa
54 Rahasia yang terungkap
55 Akhir dari Penguasa
56 Sebuah Undangan
57 Masa Depan Baru
58 Di Balik Kebahagian Ada Ancaman Baru
59 Hukum yang harus di tegakan
60 Reaksi Sang Vigilante
61 Sisa Keluarga Damar Kusuma
62 Perasaan di malam perayaan
63 Darakala Si Pengacau
64 Mencari Informasi
65 Reaksi Kepolisian
66 Masa Lalu Darakala
67 Teringat Masa Lalu
68 Pertemuan Menegangkan
69 Perbandingan Antihero dan Superhero
70 Rencana Penyerangan
71 Kegagalan Feny
72 Mesin Pembunuh Beraksi
73 Respon Masyarakat
74 Emosi Yang Meledak
75 Siapa yang peduli ?
76 Ancaman Darakala
77 Sebuah Kecurigaan Di Rumah Sakit
78 Rahasia Natalia
79 Kebencian Adharma Semakin Dalam
80 Sebuah Ketegangan
81 Kepercayaan untuk masa depan
82 Sebuah Jebakan
83 Sebuah Bantuan yang tak terduga
84 Pembukaan pertempuran
85 Kekuatan yang Mulai Bangkit
86 Kekuasaan Yang Lebih Besar Lagi
87 Semua orang Mengkhawatirkan Sang Antihero
88 Kehangatan Berdua
89 Sebuah Konspirasi di balik kekuasaan
90 Tim Pencarian Darma
91 Sebuah Pemburuan dan Dilema
92 Sebuah Negosiasi yang beresiko
93 Dua Monster bekerja sama
94 Sebuah Perdebatan
95 Awal Penyerangan
96 Jordi Sang Pegulat
97 Skenario The Closer
98 Superhero yang lain
99 Kekacauan Di Hotel
100 Masih Satu Universe
101 Subjek Omega
102 Melarang Vigilantisme
103 Pengejaran Natalia
104 Rahasia Darakala
105 Persiapan Peledakan
106 Rencana Gila Rini
107 Ruangan yang mengerikan
108 Duo Monster Terdesak
109 Rasa Khawatir
110 Jadi Buronan Nasional
111 Kembali Bertemu
112 Perpisahan
113 Persembunyian Di hutan
114 Cerita Masa Lalu
115 Berita Mengejutkan
116 The Vault Bereaksi
117 Gerakan Pemberontak
118 Adharma Beraksi kembali
119 Jakarta Lebih memerah
120 Hal Tergila Darma
121 Superhero, Anti hero dan Villain bekerja sama
122 Pertempuran Tanpa Ampun
123 Awal Kehancuran Mikel Satria
124 Respon Semua orang
125 Adharma VS Mikel Satria
126 Akhir Pertarungan
127 Darma Sekarat
128 Introgasi The Closer Lebih Mengerikan dari Adharma
129 Seluruh Negeri Merespon
130 Sidang Mikel Satria
131 Aku Adalah Adharma...
132 Impian Natalia
133 Perpisahan di langit Fajar
134 Rencana Baru Darma
135 Pertemuan dengan Risa
136 Sebuah Tantangan Dari Khun
137 Curhatan Darma
138 Luka Yang Sama
139 Khun Berkhianat
140 Pertarungan Di Golden Loctus Club
141 Bayangan Stefani Adik Risa
142 Wei Long jadi Target pertama Darma
143 Suasana Kota Sentral Raya Tanpa Adharma
144 Pagi Hari yang Canggung
145 Pertemuan Darma dan Stefani
146 Darma Di Lumpuhkan
147 Fakta soal Stefani
148 Stefani dalam Dua Pilihan
149 Keputusan Stefani
150 Pertemuan Risa dan Stefani
151 Perpisahan Dengan Risa dan Stefani
152 Preecha
153 Darma VS The Chemist
154 Ketegangan di dalam pesawat
155 Tentara Bayaran
156 Terungkap nya Zhou
157 Motif The Warrior
158 Serang Dadakan Di Rumah Han Xun
159 Kekalahan Darma
160 Pengorbanan yang harus di balas
161 Penyiksaan yang Sangat menyakitkan
162 Tekad Darma yang sangat kuat
163 Adharma Mulai Bangkit Kembali !
164 Adharma vs Zhou
165 Kekuasaan bukan lah segala nya
166 Nyawa yang di selamatkan
167 Korupsi Level Internasional
168 Kemunculan Elite Global
169 Sebuah Langkah baru
170 Keputusan Darma
171 Adharma Akan Kembali
Episodes

Updated 171 Episodes

1
Hidup Yang Tenang
2
Kota Yang Sakit
3
Pagi Hari dengan luka
4
Permainan Kotor
5
Kecurigaan dan Kebahagiaan
6
Kehilangan Segala nya
7
Dendam Yang Mulai Tumbuh
8
Bayangan Dendam
9
Mencari Informasi
10
Penebusan di kota darah
11
Kepercayaan yang di uji
12
Mimpi Yang Berdarah
13
Jejak Akar Kebusukan
14
Menyusup Ke Menara Permata
15
Pertarungan Di Menara Pernata
16
Mengincar Target Berikutnya
17
Pembicaraan Di Warung Kopi
18
Malam Penyiksaan
19
Wajah Tanpa Identitas
20
Getaran Terror Di Kota Sentral Raya
21
Perburuan Di Mulai
22
Sebuah Kehangatan Sebelum membantai
23
Tempat Tinggal Baru
24
Terror Untuk Aparat Hukum
25
Sekutu Baru
26
Malam Di Rumah Rini
27
Kehangatan Rumah
28
Trik Licik Feny
29
Persiapan Adharma
30
Permainan yang mematikan
31
Cara yang Kotor dan Licik
32
Memihak Kebenaran atau Kebatilan?
33
Solusi dibalik Tali yang Tipis
34
Kecerdasan Feny
35
Pemain Baru
36
Pertemuan Di Persembunyian
37
Luka dalam permainan sebenarnya
38
Eksekusi Target Ke dua
39
Ledakan di villa
40
Berita Terbaru
41
Rencana Baru dan Kecurigaan
42
Siapa Cepat Dia Menang
43
Aksi Kejar Kejaran
44
Kekalahan Pertama Darma
45
Doni Dan Feny
46
Sebuah Blunder
47
Kehebohan Masyarakat
48
Bertahan dari Kematian
49
Kenangan Yang Menyakitkan
50
Buronan Baru
51
Duel Pemburuan
52
Kecerdasan Yang Mematikan
53
Nafas Terakhir Sang Penguasa
54
Rahasia yang terungkap
55
Akhir dari Penguasa
56
Sebuah Undangan
57
Masa Depan Baru
58
Di Balik Kebahagian Ada Ancaman Baru
59
Hukum yang harus di tegakan
60
Reaksi Sang Vigilante
61
Sisa Keluarga Damar Kusuma
62
Perasaan di malam perayaan
63
Darakala Si Pengacau
64
Mencari Informasi
65
Reaksi Kepolisian
66
Masa Lalu Darakala
67
Teringat Masa Lalu
68
Pertemuan Menegangkan
69
Perbandingan Antihero dan Superhero
70
Rencana Penyerangan
71
Kegagalan Feny
72
Mesin Pembunuh Beraksi
73
Respon Masyarakat
74
Emosi Yang Meledak
75
Siapa yang peduli ?
76
Ancaman Darakala
77
Sebuah Kecurigaan Di Rumah Sakit
78
Rahasia Natalia
79
Kebencian Adharma Semakin Dalam
80
Sebuah Ketegangan
81
Kepercayaan untuk masa depan
82
Sebuah Jebakan
83
Sebuah Bantuan yang tak terduga
84
Pembukaan pertempuran
85
Kekuatan yang Mulai Bangkit
86
Kekuasaan Yang Lebih Besar Lagi
87
Semua orang Mengkhawatirkan Sang Antihero
88
Kehangatan Berdua
89
Sebuah Konspirasi di balik kekuasaan
90
Tim Pencarian Darma
91
Sebuah Pemburuan dan Dilema
92
Sebuah Negosiasi yang beresiko
93
Dua Monster bekerja sama
94
Sebuah Perdebatan
95
Awal Penyerangan
96
Jordi Sang Pegulat
97
Skenario The Closer
98
Superhero yang lain
99
Kekacauan Di Hotel
100
Masih Satu Universe
101
Subjek Omega
102
Melarang Vigilantisme
103
Pengejaran Natalia
104
Rahasia Darakala
105
Persiapan Peledakan
106
Rencana Gila Rini
107
Ruangan yang mengerikan
108
Duo Monster Terdesak
109
Rasa Khawatir
110
Jadi Buronan Nasional
111
Kembali Bertemu
112
Perpisahan
113
Persembunyian Di hutan
114
Cerita Masa Lalu
115
Berita Mengejutkan
116
The Vault Bereaksi
117
Gerakan Pemberontak
118
Adharma Beraksi kembali
119
Jakarta Lebih memerah
120
Hal Tergila Darma
121
Superhero, Anti hero dan Villain bekerja sama
122
Pertempuran Tanpa Ampun
123
Awal Kehancuran Mikel Satria
124
Respon Semua orang
125
Adharma VS Mikel Satria
126
Akhir Pertarungan
127
Darma Sekarat
128
Introgasi The Closer Lebih Mengerikan dari Adharma
129
Seluruh Negeri Merespon
130
Sidang Mikel Satria
131
Aku Adalah Adharma...
132
Impian Natalia
133
Perpisahan di langit Fajar
134
Rencana Baru Darma
135
Pertemuan dengan Risa
136
Sebuah Tantangan Dari Khun
137
Curhatan Darma
138
Luka Yang Sama
139
Khun Berkhianat
140
Pertarungan Di Golden Loctus Club
141
Bayangan Stefani Adik Risa
142
Wei Long jadi Target pertama Darma
143
Suasana Kota Sentral Raya Tanpa Adharma
144
Pagi Hari yang Canggung
145
Pertemuan Darma dan Stefani
146
Darma Di Lumpuhkan
147
Fakta soal Stefani
148
Stefani dalam Dua Pilihan
149
Keputusan Stefani
150
Pertemuan Risa dan Stefani
151
Perpisahan Dengan Risa dan Stefani
152
Preecha
153
Darma VS The Chemist
154
Ketegangan di dalam pesawat
155
Tentara Bayaran
156
Terungkap nya Zhou
157
Motif The Warrior
158
Serang Dadakan Di Rumah Han Xun
159
Kekalahan Darma
160
Pengorbanan yang harus di balas
161
Penyiksaan yang Sangat menyakitkan
162
Tekad Darma yang sangat kuat
163
Adharma Mulai Bangkit Kembali !
164
Adharma vs Zhou
165
Kekuasaan bukan lah segala nya
166
Nyawa yang di selamatkan
167
Korupsi Level Internasional
168
Kemunculan Elite Global
169
Sebuah Langkah baru
170
Keputusan Darma
171
Adharma Akan Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!