Malam di pelabuhan Kota Sentral Raya terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin laut bertiup pelan, membawa bau asin yang bercampur dengan aroma besi karatan dan minyak solar. Lampu-lampu jalan yang remang menambah kesan suram di tempat ini.
Darma berjalan perlahan di antara peti kemas yang berjajar rapi. Langkahnya hampir tidak bersuara, berkat pelatihan silat yang telah ia kuasai sejak kecil. Dua cerulit tergantung di punggungnya, sementara dua shotgun terselip di pahanya.
Ia tidak terburu-buru. Ia tahu betul bahwa buruannya ada di sini. Tiga orang yang telah membantai keluarganya. Tiga iblis yang harus ia kirim ke neraka.
Hari ini, darah akan dibayar dengan darah.
Mencari Mangsa
Darma menghampiri seorang pria tua yang sedang duduk di dekat gudang pelabuhan. Tangannya gemetar saat menyalakan rokok. Dari penampilannya, jelas ia adalah seorang pekerja pelabuhan yang sudah lama di tempat ini.
Tanpa basa-basi, Darma mendekat.
"Pak, aku cari tiga orang yang sering nongkrong di sini. Mereka preman. Kau tahu di mana mereka?"
Pria itu menatap Darma dengan wajah penuh kecurigaan.
"Banyak preman di sini. Aku tak ingin terlibat, Nak."
Darma mengeluarkan selembar uang, menyelipkannya ke genggaman pria itu.
"Aku tak minta banyak. Hanya petunjuk."
Pria itu menghela napas berat, lalu menunjuk ke arah sebuah gudang tua di ujung dermaga.
"Mereka ada di sana. Setiap malam mereka membawa wanita ke tempat itu."
Darma menepuk bahu pria itu sebelum melangkah pergi.
Ia sudah menemukan sasarannya.
Para Pembunuh yang Asyik Bersantai
Gudang tua itu terlihat kumuh dan gelap. Hanya ada satu lampu neon berkedip di depan pintunya. Dari dalam, terdengar suara tawa kasar dan suara wanita yang menggoda.
Darma merapat ke dinding, mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.
Di dalam, tiga pria itu duduk santai di sofa butut, masing-masing ditemani wanita malam. Mereka tertawa, meneguk botol minuman keras, seolah tidak ada beban di dunia ini.
Darma menggenggam cerulitnya dengan erat. Dadanya naik turun, menahan luapan amarah yang nyaris tak terbendung.
Itu mereka.
Orang-orang yang telah mengambil segalanya darinya.
"Jangan terburu-buru," batinnya.
Darma tidak boleh ceroboh. Ia harus memastikan bahwa mereka tidak akan lolos.
Ia mengedarkan pandangan, mencari jalan masuk terbaik.
Satu pintu di belakang mereka terbuka, mengarah ke lorong kecil. Itu bisa menjadi jalur melarikan diri mereka jika sesuatu terjadi.
Tidak. Ia tidak akan membiarkan mereka kabur.
Ia mengambil sebuah rantai besi yang tergeletak di dekatnya, lalu menariknya dengan kuat.
Suara dentingan keras menggema di dalam gudang.
Para preman itu menoleh.
"Apa itu?" salah satu dari mereka bangkit, meraih pistol di meja.
Darma tersenyum di balik topeng tengkoraknya.
Sekarang, permainan dimulai.
Darma tidak menunggu lama.
Dalam sekejap, ia menerjang masuk, mengayunkan cerulitnya dengan cepat.
Cras!
Salah satu preman belum sempat mengangkat pistolnya ketika lehernya terbelah, darah muncrat ke mana-mana. Wanita yang bersamanya menjerit dan berlari keluar.
Dua preman lainnya langsung bereaksi. Salah satunya mengeluarkan pisau, sementara yang lain menarik pistolnya.
Darma berguling ke samping, menghindari tembakan pertama. Dengan cekatan, ia melempar cerulitnya—melesat lurus menembus dada preman yang bersenjata api.
Orang itu terbatuk, darah keluar dari mulutnya, sebelum akhirnya roboh ke lantai.
Hanya tersisa satu.
Dan dia sudah gemetar ketakutan.
"Siapa kau?! Apa yang kau inginkan?!"
Darma mencabut cerulitnya dari tubuh korban sebelumnya, lalu berjalan mendekati preman terakhir.
"Kau membunuh istri dan anakku."
Mata preman itu membesar.
"A-apa? Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!"
Darma tidak mau mendengar alasan.
Dengan cepat, ia menendang perut preman itu, membuatnya jatuh tersungkur.
Sebelum pria itu sempat bangkit, Darma menginjak tangannya dengan keras, membuatnya menjerit kesakitan.
"Kau tahu siapa aku?" suara Darma dingin, tanpa emosi.
Preman itu hanya bisa menangis, memohon ampun.
Tapi Darma tidak peduli.
Tanpa ragu, ia mengayunkan cerulitnya sekali lagi—dan dunia menjadi gelap bagi pria itu.
Gudang itu kini dipenuhi bau darah yang mengental di udara. Darma berdiri di antara mayat-mayat yang tergeletak, napasnya berat.
Ia telah menyelesaikan misinya.
Tapi anehnya…
Ia tidak merasa puas.
Tiga orang ini hanyalah pion. Mereka hanya eksekutor. Dalang sebenarnya masih di luar sana.
Wali Kota Sentral Raya.
Darma berdiri di tengah genangan darah yang mengalir di lantai gudang. Bau amis memenuhi udara, bercampur dengan aroma keringat dan ketakutan. Tiga mayat tergeletak di sekelilingnya, wajah mereka membeku dalam ekspresi ketakutan terakhir sebelum maut menjemput.
Darma menatap tangannya yang berlumuran darah. Ini bukan pertama kalinya ia melihat darah—tapi ini pertama kalinya darah itu berasal dari tangannya sendiri.
Namun, ia tidak menyesal.
Ia membungkuk, mencelupkan jarinya ke dalam darah yang masih hangat, lalu berjalan menuju dinding gudang yang kumuh.
Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia mulai menulis.
"ADHARMA."
Huruf-huruf merah itu menonjol di tembok abu-abu yang kotor, seperti luka yang menganga. Kata itu bukan sekadar nama.
Itu adalah pernyataan perang.
Darma menatap tulisan itu sejenak, sebelum membalikkan badan.
Di sudut ruangan, perempuan malam yang sebelumnya bersama para preman itu masih berlutut, tubuhnya gemetar hebat. Air mata membasahi wajahnya, dan bibirnya bergerak tanpa suara, seolah ingin berkata sesuatu tapi terlalu takut untuk melakukannya.
Darma berjalan mendekatinya.
Wanita itu tersentak dan mencoba mundur, tapi tubuhnya lemas.
"S-siapa... siapa kau...?" tanyanya dengan suara parau, ketakutan jelas terpancar di matanya.
Darma berhenti, menatapnya dengan dingin dari balik topeng tengkoraknya.
Suara baritonnya terdengar pelan, tapi mengandung ketegasan yang menggigilkan.
"Aku adalah Adharma."
Wanita itu membeku. Nafasnya tersengal, tubuhnya semakin gemetar.
Darma tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia berbalik dan berjalan keluar dari gudang, membiarkan wanita itu sendiri bersama mayat-mayat yang kini menjadi saksi kebangkitan seorang pembalas dendam.
Langkahnya mantap.
Perang baru saja dimulai.
Dan perang baru saja dimulai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments