Darma duduk di mejanya, menatap layar komputer dengan tatapan kosong. Tangannya masih berada di atas keyboard, tetapi pikirannya mengembara jauh.
Di depannya, deretan angka-angka laporan stok barang terpampang jelas. Ada sesuatu yang tidak beres.
Sudah sejak kemarin, ia merasa ada selisih aneh dalam laporan masuk dan keluar barang. Seharusnya jumlah barang yang terdata dalam sistem sesuai dengan jumlah fisik di gudang, tetapi ada kekurangan yang tidak bisa dijelaskan. Ratusan juta rupiah hilang begitu saja dalam catatan perusahaan.
Darma menghela napas panjang.
Ini bukan kali pertama ia menemukan ketidaksesuaian seperti ini. Sejak beberapa bulan terakhir, ada pola yang berulang—barang yang seharusnya ada, tetapi tidak pernah tercatat keluar. Awalnya ia berpikir itu hanya kesalahan pencatatan biasa, tetapi semakin sering terjadi, semakin jelas bahwa ini bukan sekadar kelalaian.
Ini manipulasi data.
Dan seseorang di dalam perusahaan ini terlibat.
Darma meremas jemarinya. Ia sudah bekerja di sini cukup lama untuk tahu bahwa korupsi bukan hal asing di kota ini. Tetapi ini pertama kalinya ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kecurangan itu dilakukan—bukan oleh politikus atau aparat, tetapi oleh orang-orang di sekitar yang seharusnya bekerja dengan jujur.
Lalu pertanyaan yang menghantui pikirannya pun muncul: Apakah Pak Jaya tahu? Apakah dia juga bagian dari ini?
Pikirannya kembali ke kejadian pagi tadi—tentang bagaimana Pak Jaya menatapnya dengan raut wajah yang sulit ditebak saat melihat luka di wajahnya.
Terlalu banyak hal yang tidak masuk akal di kota ini. Polisi korup. Pejabat korup. Bahkan di dalam perusahaan tempatnya bekerja, kecurangan terjadi terang-terangan.
Tangan Darma mengepal. Hingga kapan ini akan terus terjadi?
Ia bukan orang suci. Ia tahu ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa diubah begitu saja. Tetapi sebagai seseorang yang pernah kehilangan segalanya, ia juga tahu satu hal:
Keadilan tidak akan datang dengan sendirinya.
Jika dunia ini dibiarkan berjalan tanpa aturan, maka seseorang harus mengambil tindakan.
Darma menatap layar di depannya sekali lagi. Ia bisa saja mengabaikan ini, berpura-pura tidak melihat, seperti kebanyakan orang. Tetapi ia tahu, jika ia melakukan itu…
Maka ia tidak berbeda dari mereka yang membunuh keluarganya.
Darma menutup file laporan di komputernya dengan napas berat. Kepalanya penuh dengan berbagai kemungkinan, tetapi satu hal yang pasti—ini bukan sekadar kesalahan teknis.
Ia berdiri, merapikan kemejanya, lalu berjalan menuju ruang kerja Pak Jaya. Pikirannya berkecamuk. Jika atasan langsungnya ini tidak tahu apa-apa, maka ia hanya perlu memberitahunya agar masalah ini bisa diselidiki lebih dalam. Tetapi jika Pak Jaya tahu…
Darma menggeleng. Tidak. Ia harus tetap berpikir positif.
Begitu sampai di depan pintu, ia mengetuk dua kali.
“Masuk,” suara berat terdengar dari dalam.
Darma mendorong pintu dan melangkah masuk. Pak Jaya duduk di balik meja kerjanya, menumpukan tangan di dagunya. Ada setumpuk berkas di mejanya, tetapi tatapannya langsung fokus pada Darma.
“Darma.”
“Pak,” Darma menutup pintu di belakangnya. “Saya ingin membicarakan sesuatu.”
Pak Jaya mengangkat alis. “Tentang apa?”
Darma menarik napas dalam, lalu meletakkan selembar kertas di meja. Itu adalah salinan laporan stok barang.
“Ada ketidaksesuaian dalam laporan ini, Pak.”
Pak Jaya melirik kertas itu sekilas, lalu bersandar ke kursinya. “Maksudmu?”
“Saya sudah memeriksa data masuk dan keluar selama beberapa bulan terakhir. Ada pola yang berulang. Barang hilang, tetapi tidak ada catatan bahwa barang itu keluar dari gudang secara resmi. Ini bukan kesalahan input biasa.”
Pak Jaya menghela napas panjang. Ia menyilangkan tangannya di dada, lalu menatap Darma dalam-dalam. “Darma… kau sudah bekerja di sini cukup lama. Aku yakin kau tahu bahwa tidak semua hal di dunia bisnis bisa berjalan seratus persen bersih.”
Dahi Darma mengernyit. “Maksud Bapak?”
Pak Jaya menghela napas. “Dengar, aku tahu kau orang jujur. Itu salah satu alasan kenapa aku mempertahankanmu di sini. Tapi ada banyak hal yang lebih besar daripada sekadar angka di laporan keuangan.”
Darma merasakan dadanya menghangat—bukan karena emosi positif, tetapi kemarahan yang mulai merayap naik.
“Jadi Bapak tahu?”
Pak Jaya tidak langsung menjawab. Ia berdiri dari kursinya, berjalan ke arah jendela kantornya yang besar, menatap keluar. Dari sana, pemandangan Kota Sentral Raya terlihat jelas—kota yang penuh dengan kepalsuan dan kebusukan yang tersembunyi di balik gedung-gedung megah.
“Kau tahu sendiri seperti apa kota ini, Darma,” katanya pelan. “Semua orang harus tahu bagaimana cara bertahan hidup.”
Darma mengepalkan tangan. “Bertahan hidup? Dengan cara menutup mata terhadap pencurian? Dengan cara membiarkan manipulasi ini terus terjadi?”
Pak Jaya berbalik, menatapnya dengan ekspresi yang lebih serius. “Aku tidak menyuruhmu untuk menutup mata, tetapi aku menyarankanmu untuk tidak ikut campur.”
Darma terdiam.
Ada sesuatu dalam nada suara Pak Jaya yang membuatnya merasakan firasat buruk.
“Bapak… benar-benar terlibat dalam ini?” suara Darma bergetar, bukan karena takut, tetapi karena amarah yang ia tahan.
Pak Jaya menatapnya lama sebelum akhirnya berbicara, “Aku tidak mengatakan ya. Tapi aku juga tidak bisa mengatakan tidak.”
Jantung Darma berdegup lebih cepat.
“Kenapa, Pak?” Darma melangkah maju. “Kenapa membiarkan hal ini terjadi?”
Pak Jaya menghela napas, lalu berjalan kembali ke kursinya. “Darma, dengarkan aku baik-baik. Ini bukan masalah yang bisa kau selesaikan hanya dengan melapor ke polisi atau mengajukan komplain ke atasan. Kau pikir siapa yang mengendalikan perusahaan ini?”
Darma terdiam.
Pak Jaya menatapnya tajam. “Ini lebih besar dari yang kau bayangkan. Orang-orang yang mengatur ini punya koneksi dengan orang-orang berkuasa. Kau paham maksudku?”
Darma mulai mengerti. Ini bukan sekadar permainan kecil. Ada orang di balik layar yang jauh lebih kuat daripada sekadar atasan di perusahaan ini.
“Jadi…” suara Darma lebih pelan sekarang, tetapi penuh tekanan. “Bapak memilih untuk ikut bermain di dalamnya?”
Pak Jaya menatapnya tanpa ekspresi. “Aku memilih untuk tetap hidup.”
Darma mengepalkan tangannya lebih erat. “Dan bagaimana dengan aku? Haruskah aku juga ikut diam?”
Pak Jaya menghela napas panjang. “Aku akan memberimu satu kesempatan, Darma. Lupakan ini. Fokus saja pada pekerjaanmu.”
Darma tertawa kecil, tetapi itu bukan tawa bahagia. “Bapak tahu saya tidak akan melakukan itu.”
Pak Jaya menggeleng pelan. “Sayang sekali, Darma. Kau memang selalu terlalu idealis.”
Mereka saling menatap dalam diam, ketegangan memenuhi ruangan itu.
Darma tahu, mulai detik ini, ia telah memasuki permainan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments