Malam Penyiksaan

Darma berdiri di depan cermin di dalam kamar sempitnya. Pakaian tactical yang dulu peninggalan kakaknya sudah melekat di tubuhnya. Trench coat hitam yang dulu sering dipakai Sinta saat hujan kini menutupi tubuhnya, menyembunyikan senjata yang ia bawa. Dua cerulit tersilang di punggungnya, sementara dua shotgun terselip di pahanya.

Dia meraih liontin yang awalnya ia beli untuk Sinta dan menggenggamnya erat. Matanya menatap refleksi dirinya sendiri. Sosok yang ia lihat kini bukan lagi Guntur Darma, bukan lagi pria pekerja keras yang rajin dan ulet. Yang ada di hadapannya adalah Adharma—seseorang yang telah kehilangan segalanya dan hanya punya satu tujuan: memburu setiap sampah yang telah merusak hidupnya.

Darma mengambil napas dalam, lalu berjalan keluar. Malam ini, dia akan menangkap Pak Jaya.

Di luar, motor hitamnya sudah menunggu. Darma menyalakan mesin, suara knalpotnya bergemuruh pelan di dalam gang sempit. Dia menarik gas dan melesat menuju kediaman Pak Jaya.

Dari informasi yang ia dapatkan, Pak Jaya tidak langsung pulang ke rumah setelah kerja. Biasanya, dia akan mampir ke sebuah tempat hiburan malam di pinggiran kota, tempat para pebisnis kotor dan pejabat korup menghabiskan waktu mereka dengan minuman dan wanita.

Darma sudah merencanakan semuanya. Dia tidak akan membunuh Pak Jaya di tempat umum. Dia butuh informasi—tentang Raden Wijaya, tentang siapa yang lebih berkuasa di atasnya, tentang jaringan kejahatan yang mengendalikan Kota Sentral Raya.

Karena ini bukan sekadar balas dendam. Ini adalah awal dari pembersihan.

Darma mengeratkan genggamannya pada setang motor. Matanya tajam, penuh kebencian yang tak terbendung.

Malam ini, satu babak baru akan dimulai.

Darma mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, melewati jalanan yang semakin sepi di bawah lampu jalan yang temaram. Kota Sentral Raya masih berdenyut dalam kesunyian malam, tetapi di sudut-sudut gelapnya, kejahatan terus beraksi tanpa henti.

Saat melewati sebuah gang sempit, Darma mendengar suara bentakan dan suara benda dipukul. Ia memperlambat laju motornya, menoleh ke arah sumber suara.

Di dalam gang itu, seorang pria tua sedang dikelilingi oleh tiga orang preman bertubuh kekar. Bajunya lusuh, wajahnya penuh luka lebam, dan ia terhuyung, tampak kesakitan. Salah satu preman menarik kerah bajunya, sementara yang lain menodongkan pisau ke arahnya.

"Mana duitnya, hah?! Lo pikir bisa kabur gitu aja tanpa bayar utang?" bentak salah satu preman, menonjok perut pria tua itu hingga ia terjatuh ke tanah, mengerang kesakitan.

Darma diam sejenak, menatap pemandangan itu. Dulu, dia mungkin akan langsung menolong tanpa berpikir panjang. Tapi sekarang, dia bukan lagi pria baik yang hanya ingin membantu tanpa sebab.

Dia mematikan mesin motornya, turun perlahan, lalu berjalan ke arah gang dengan langkah santai.

"Ada yang seru di sini?" tanyanya dengan suara tenang, tetapi dingin.

Para preman menoleh. Salah satu dari mereka menyipitkan mata, menatap Darma dari atas ke bawah, menilai sosok misterius yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

"Urusan orang lain, jangan ikut campur, Bangsat!" bentak preman yang memegang pisau.

Darma hanya tersenyum tipis di balik topengnya. "Oh, tapi gue gak suka liat tiga orang ngehajar satu orang tua."

Salah satu preman mendengus marah dan berjalan ke arahnya dengan langkah kasar. "Gue kasih lo kesempatan buat pergi, sebelum lo yang gue hajar!"

Darma tidak menjawab. Dalam satu gerakan cepat, dia menghunus satu cerulit dari punggungnya dan menebas perut preman itu dengan gerakan mulus.

Darah menyembur ke udara. Preman itu memekik, matanya membelalak sebelum tubuhnya roboh ke tanah.

Dua preman lainnya terkejut, tetapi tak sempat bereaksi sebelum Darma berputar dan melempar cerulitnya ke salah satu dari mereka. Senjata itu menancap di dada preman itu, menembus jantungnya dalam sekejap.

Tersisa satu orang. Preman terakhir kini berdiri gemetar, tangannya masih memegang pisau, tetapi tubuhnya bergetar ketakutan.

Darma berjalan mendekat dengan langkah perlahan. "Lo masih mau lanjut?" tanyanya dengan suara rendah.

Preman itu langsung menjatuhkan pisaunya dan berlari ketakutan, meninggalkan dua rekannya yang sudah tewas.

Darma tidak mengejarnya. Dia menoleh ke pria tua yang masih terduduk lemas di tanah.

"Bapak gak apa-apa?"

Pria tua itu mengangguk pelan, masih syok dengan apa yang baru saja terjadi. Darma menoleh sekali lagi ke mayat para preman, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengambil cerulitnya yang masih berlumuran darah, mengibaskan sedikit, lalu berbalik pergi menuju motornya.

Ia punya urusan yang lebih besar untuk diselesaikan malam ini.

Darma akhirnya tiba di sebuah tempat hiburan malam, sebuah klub eksklusif yang dipenuhi suara dentuman musik dan lampu neon yang berkedip-kedip. Tempat ini adalah salah satu titik kumpul para pejabat kotor, mafia, dan penjahat kelas atas di Kota Sentral Raya. Jika ada informasi soal Pak Jaya, maka tempat ini adalah salah satu sumber terbaik untuk mencarinya.

Ia berjalan melewati lorong masuk, melewati dua penjaga berbadan kekar yang menatapnya curiga. Dengan pakaian hitam, trench coat panjang, dan topeng tengkoraknya, dia jelas bukan pelanggan biasa.

"Hei! Lo siapa?" salah satu penjaga mengulurkan tangan, menghentikannya.

Darma menatap pria itu dalam diam. Tanpa peringatan, dia bergerak cepat—tangannya meraih kepala penjaga itu dan membenturkan ke dinding dengan keras. Darah menetes dari dahinya sebelum tubuhnya ambruk tak sadarkan diri.

Penjaga kedua terkejut dan langsung merogoh pistol di pinggangnya, tetapi sebelum dia sempat menarik pelatuk, Darma sudah menendang perutnya dengan kuat, membuatnya terlempar ke belakang dan membentur pintu.

Dengan satu gerakan, Darma menarik salah satu shotgun dari pahanya dan menembak lutut penjaga itu. Pria itu menjerit kesakitan, jatuh berlutut sambil memegang kakinya yang berdarah.

Darma menunduk, menekan moncong senjatanya ke kepala pria itu. "Pak Jaya... sering ke sini?"

Pria itu menggertakkan giginya, menatap Darma dengan marah. "Gue gak tau—AAARGH!"

Darma menarik pelatuknya, menembak bahu pria itu. "Jawab sebelum gue kirim lo ke neraka."

Pria itu terbatuk, darah mengalir dari bibirnya. "Pak... Pak Jaya sering nongkrong di ruang VIP atas... Tolong, jangan bunuh gue..."

Darma tidak menjawab. Ia hanya menurunkan shotgun-nya dan beranjak pergi, meninggalkan pria yang meringkuk kesakitan di lantai.

Kini, tujuannya jelas—ruang VIP di lantai atas. Dia mulai menaiki tangga dengan langkah pasti. Targetnya semakin dekat.

Darma berjalan perlahan melewati lorong-lorong gelap klub malam itu. Musik berdentum keras, suara tawa dan obrolan menggema di sepanjang ruangan, tetapi pikirannya tetap fokus pada satu hal—Pak Jaya.

Di lantai dua, di balik pintu berlapis emas dengan label "VIP Room," Darma akhirnya menemukan sasarannya. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, dia bisa melihat Pak Jaya duduk di sofa mewah, dikelilingi dua wanita muda yang tertawa genit sambil menuangkan minuman ke gelasnya. Pak Jaya tampak santai, mengenakan kemeja mahal dengan beberapa kancing terbuka, menikmati malam seolah hidupnya tak ada beban.

Darma mengepalkan tangannya. Bajingan ini masih bisa bersenang-senang setelah semua yang terjadi.

Tanpa ragu, dia mendorong pintu dengan keras. Pintu terbanting ke dalam, membuat semua orang di ruangan itu terkejut.

Darma tidak membuang waktu setelah menemukan Pak Jaya. Dengan gerakan cepat, dia mengayunkan cerulitnya, menebas udara dan mengenai lampu ruangan, membuat seisi tempat hiburan itu gelap seketika. Suasana berubah menjadi kacau—wanita-wanita berteriak, pengunjung panik, dan para bodyguard Pak Jaya mencoba meraba-raba dalam kegelapan.

Dalam kekacauan itu, Darma bergerak seperti bayangan. Dia menendang seorang penjaga hingga jatuh pingsan, lalu dengan cekatan mencekik Pak Jaya dari belakang menggunakan lengan kuatnya.

"Ngghh!!" Pak Jaya meronta, tapi Darma lebih kuat.

Dalam hitungan detik, Darma membungkam mulutnya dengan kain, lalu menyeretnya keluar melalui pintu belakang sebelum ada yang sadar apa yang terjadi.

Pak Jaya tersentak saat tersadar. Kepalanya masih berdenyut, tubuhnya terasa kaku karena diikat erat di kursi besi berkarat. Matanya bergerak liar, mencoba memahami di mana dia berada. Gudang tua itu berbau kayu lapuk dan karat, dengan cahaya redup dari satu bohlam gantung yang berkedip lemah.

Di depannya, sosok bertopeng berdiri diam.

Namun, dalam sekejap, sosok itu mengangkat tangannya dan melepas topeng tengkorak yang menutupi wajahnya.

Pak Jaya terkejut. "D-Darma...?"

Wajah yang dulu dikenalnya sebagai karyawan yang rajin kini tampak berbeda. Wajah itu penuh luka. Bekas jahitan, sayatan, dan lebam yang terlihat mengerikan. Mata Darma tidak lagi seperti dulu—kini yang ada hanyalah kehampaan dan kebencian yang membara.

Pak Jaya menelan ludah. "Apa yang terjadi sama lo...?"

Darma tidak menjawab. Dia hanya menatap tajam, lalu berjalan perlahan ke arah meja besi kecil di dekatnya. Di atasnya, ada berbagai alat yang memantulkan cahaya—pisau bedah, tang, palu, bahkan batang besi yang ujungnya tajam.

Pak Jaya mulai berkeringat. "L-lo gak perlu gini, Darma... Gue bisa kasih lo uang! Berapa pun yang lo mau!"

Darma mengambil satu alat dari meja itu—sebuah tang. Dia memainkannya di tangannya, lalu berjongkok di depan Pak Jaya.

"Aku gak butuh uang."

Pak Jaya mencoba bergerak, tapi ikatannya terlalu kuat. "Kalau ini soal Raden Wijaya, gue gak bisa kasih tau apa-apa!"

Darma hanya menghela napas pelan, lalu dengan cepat menjepit tang itu di jari kelingking Pak Jaya.

"AARGHHH!!"

Teriakan Pak Jaya menggema di gudang tua itu. Darma menarik napas dalam-dalam, menikmati ketakutan di mata orang yang dulu pernah memandangnya rendah.

"Tahu gak, Pak Jaya..." Darma berbisik. "Gue dulu juga berteriak kayak gini. Waktu keluarga gue dibantai di depan mata gue... Tapi gak ada yang peduli."

Pak Jaya megap-megap, keringatnya bercucuran. "T-tolong, Darma... Gue cuma bawahan! Gue cuma ngikut perintah!"

Darma menggenggam tang lebih erat. "Siapa yang lebih tinggi dari Raden Wijaya?"

Pak Jaya menggigit bibirnya. Dia menggeleng cepat. "Gue... gue gak bisa bilang!"

Darma menarik napas, lalu dengan kejam, dia menjepit satu jari lagi—kali ini, jari tengah.

"KRAK!"

Pak Jaya menjerit lebih keras. Napasnya tersengal-sengal, matanya mulai berair.

Darma berdiri, berjalan memutar di belakangnya. "Lo tahu, Pak Jaya? Gue bisa bikin ini lebih lama. Gue bisa potong satu per satu, dari jari, telinga, atau mungkin gue bisa coba tusuk bola mata lo?"

Pak Jaya menangis. "TOLONG!! GUE PUNYA ANAK! ISTRI! JANGAN LAKUIN INI!!"

Darma berhenti sejenak.

"Anak?"

Suara Darma kini lebih dingin. Dia kembali berjongkok, menatap mata Pak Jaya yang penuh ketakutan.

"Gue juga punya anak, Pak Jaya. Dwi Handayani namanya. Umurnya enam tahun."

Pak Jaya terisak, kepalanya menggeleng cepat. "S-sumpah, Darma... Gue gak ada hubungannya sama itu! Gue cuma bawahan!"

Darma menghela napas, lalu mengambil pisau kecil dari meja. Dia menyentuh pipi Pak Jaya dengan ujungnya.

"Lo masih belum jawab pertanyaan gue," katanya lembut.

Pak Jaya menggigit bibirnya, tubuhnya gemetar hebat.

"O-oke... OKE!!" teriaknya. "Gue bakal kasih tau! Tapi tolong... tolong jangan sakitin gue lagi!"

Darma menarik pisau itu pelan. "Siapa?"

Pak Jaya menelan ludah. Napasnya tersengal. "Wali Kota... Wali Kota Sentral Raya... Dia dalangnya."

Darma menatapnya lekat-lekat, memastikan kebohongan tidak tercium dalam kata-kata itu.

Pak Jaya menangis. "Tolong, Darma... Gue udah jawab semuanya..."

Darma menggenggam liontin di lehernya—liontin yang seharusnya untuk Sinta. Kemarahannya membuncah lagi.

Dia menatap Pak Jaya.

Keputusan sudah dibuat.

Episodes
1 Hidup Yang Tenang
2 Kota Yang Sakit
3 Pagi Hari dengan luka
4 Permainan Kotor
5 Kecurigaan dan Kebahagiaan
6 Kehilangan Segala nya
7 Dendam Yang Mulai Tumbuh
8 Bayangan Dendam
9 Mencari Informasi
10 Penebusan di kota darah
11 Kepercayaan yang di uji
12 Mimpi Yang Berdarah
13 Jejak Akar Kebusukan
14 Menyusup Ke Menara Permata
15 Pertarungan Di Menara Pernata
16 Mengincar Target Berikutnya
17 Pembicaraan Di Warung Kopi
18 Malam Penyiksaan
19 Wajah Tanpa Identitas
20 Getaran Terror Di Kota Sentral Raya
21 Perburuan Di Mulai
22 Sebuah Kehangatan Sebelum membantai
23 Tempat Tinggal Baru
24 Terror Untuk Aparat Hukum
25 Sekutu Baru
26 Malam Di Rumah Rini
27 Kehangatan Rumah
28 Trik Licik Feny
29 Persiapan Adharma
30 Permainan yang mematikan
31 Cara yang Kotor dan Licik
32 Memihak Kebenaran atau Kebatilan?
33 Solusi dibalik Tali yang Tipis
34 Kecerdasan Feny
35 Pemain Baru
36 Pertemuan Di Persembunyian
37 Luka dalam permainan sebenarnya
38 Eksekusi Target Ke dua
39 Ledakan di villa
40 Berita Terbaru
41 Rencana Baru dan Kecurigaan
42 Siapa Cepat Dia Menang
43 Aksi Kejar Kejaran
44 Kekalahan Pertama Darma
45 Doni Dan Feny
46 Sebuah Blunder
47 Kehebohan Masyarakat
48 Bertahan dari Kematian
49 Kenangan Yang Menyakitkan
50 Buronan Baru
51 Duel Pemburuan
52 Kecerdasan Yang Mematikan
53 Nafas Terakhir Sang Penguasa
54 Rahasia yang terungkap
55 Akhir dari Penguasa
56 Sebuah Undangan
57 Masa Depan Baru
58 Di Balik Kebahagian Ada Ancaman Baru
59 Hukum yang harus di tegakan
60 Reaksi Sang Vigilante
61 Sisa Keluarga Damar Kusuma
62 Perasaan di malam perayaan
63 Darakala Si Pengacau
64 Mencari Informasi
65 Reaksi Kepolisian
66 Masa Lalu Darakala
67 Teringat Masa Lalu
68 Pertemuan Menegangkan
69 Perbandingan Antihero dan Superhero
70 Rencana Penyerangan
71 Kegagalan Feny
72 Mesin Pembunuh Beraksi
73 Respon Masyarakat
74 Emosi Yang Meledak
75 Siapa yang peduli ?
76 Ancaman Darakala
77 Sebuah Kecurigaan Di Rumah Sakit
78 Rahasia Natalia
79 Kebencian Adharma Semakin Dalam
80 Sebuah Ketegangan
81 Kepercayaan untuk masa depan
82 Sebuah Jebakan
83 Sebuah Bantuan yang tak terduga
84 Pembukaan pertempuran
85 Kekuatan yang Mulai Bangkit
86 Kekuasaan Yang Lebih Besar Lagi
87 Semua orang Mengkhawatirkan Sang Antihero
88 Kehangatan Berdua
89 Sebuah Konspirasi di balik kekuasaan
90 Tim Pencarian Darma
91 Sebuah Pemburuan dan Dilema
92 Sebuah Negosiasi yang beresiko
93 Dua Monster bekerja sama
94 Sebuah Perdebatan
95 Awal Penyerangan
96 Jordi Sang Pegulat
97 Skenario The Closer
98 Superhero yang lain
99 Kekacauan Di Hotel
100 Masih Satu Universe
101 Subjek Omega
102 Melarang Vigilantisme
103 Pengejaran Natalia
104 Rahasia Darakala
105 Persiapan Peledakan
106 Rencana Gila Rini
107 Ruangan yang mengerikan
108 Duo Monster Terdesak
109 Rasa Khawatir
110 Jadi Buronan Nasional
111 Kembali Bertemu
112 Perpisahan
113 Persembunyian Di hutan
114 Cerita Masa Lalu
115 Berita Mengejutkan
116 The Vault Bereaksi
117 Gerakan Pemberontak
118 Adharma Beraksi kembali
119 Jakarta Lebih memerah
120 Hal Tergila Darma
121 Superhero, Anti hero dan Villain bekerja sama
122 Pertempuran Tanpa Ampun
123 Awal Kehancuran Mikel Satria
124 Respon Semua orang
125 Adharma VS Mikel Satria
126 Akhir Pertarungan
127 Darma Sekarat
128 Introgasi The Closer Lebih Mengerikan dari Adharma
129 Seluruh Negeri Merespon
130 Sidang Mikel Satria
131 Aku Adalah Adharma...
132 Impian Natalia
133 Perpisahan di langit Fajar
134 Rencana Baru Darma
135 Pertemuan dengan Risa
136 Sebuah Tantangan Dari Khun
137 Curhatan Darma
138 Luka Yang Sama
139 Khun Berkhianat
140 Pertarungan Di Golden Loctus Club
141 Bayangan Stefani Adik Risa
142 Wei Long jadi Target pertama Darma
143 Suasana Kota Sentral Raya Tanpa Adharma
144 Pagi Hari yang Canggung
145 Pertemuan Darma dan Stefani
146 Darma Di Lumpuhkan
147 Fakta soal Stefani
148 Stefani dalam Dua Pilihan
149 Keputusan Stefani
150 Pertemuan Risa dan Stefani
151 Perpisahan Dengan Risa dan Stefani
152 Preecha
153 Darma VS The Chemist
154 Ketegangan di dalam pesawat
155 Tentara Bayaran
156 Terungkap nya Zhou
157 Motif The Warrior
158 Serang Dadakan Di Rumah Han Xun
159 Kekalahan Darma
160 Pengorbanan yang harus di balas
161 Penyiksaan yang Sangat menyakitkan
162 Tekad Darma yang sangat kuat
163 Adharma Mulai Bangkit Kembali !
164 Adharma vs Zhou
165 Kekuasaan bukan lah segala nya
166 Nyawa yang di selamatkan
167 Korupsi Level Internasional
168 Kemunculan Elite Global
169 Sebuah Langkah baru
170 Keputusan Darma
171 Adharma Akan Kembali
Episodes

Updated 171 Episodes

1
Hidup Yang Tenang
2
Kota Yang Sakit
3
Pagi Hari dengan luka
4
Permainan Kotor
5
Kecurigaan dan Kebahagiaan
6
Kehilangan Segala nya
7
Dendam Yang Mulai Tumbuh
8
Bayangan Dendam
9
Mencari Informasi
10
Penebusan di kota darah
11
Kepercayaan yang di uji
12
Mimpi Yang Berdarah
13
Jejak Akar Kebusukan
14
Menyusup Ke Menara Permata
15
Pertarungan Di Menara Pernata
16
Mengincar Target Berikutnya
17
Pembicaraan Di Warung Kopi
18
Malam Penyiksaan
19
Wajah Tanpa Identitas
20
Getaran Terror Di Kota Sentral Raya
21
Perburuan Di Mulai
22
Sebuah Kehangatan Sebelum membantai
23
Tempat Tinggal Baru
24
Terror Untuk Aparat Hukum
25
Sekutu Baru
26
Malam Di Rumah Rini
27
Kehangatan Rumah
28
Trik Licik Feny
29
Persiapan Adharma
30
Permainan yang mematikan
31
Cara yang Kotor dan Licik
32
Memihak Kebenaran atau Kebatilan?
33
Solusi dibalik Tali yang Tipis
34
Kecerdasan Feny
35
Pemain Baru
36
Pertemuan Di Persembunyian
37
Luka dalam permainan sebenarnya
38
Eksekusi Target Ke dua
39
Ledakan di villa
40
Berita Terbaru
41
Rencana Baru dan Kecurigaan
42
Siapa Cepat Dia Menang
43
Aksi Kejar Kejaran
44
Kekalahan Pertama Darma
45
Doni Dan Feny
46
Sebuah Blunder
47
Kehebohan Masyarakat
48
Bertahan dari Kematian
49
Kenangan Yang Menyakitkan
50
Buronan Baru
51
Duel Pemburuan
52
Kecerdasan Yang Mematikan
53
Nafas Terakhir Sang Penguasa
54
Rahasia yang terungkap
55
Akhir dari Penguasa
56
Sebuah Undangan
57
Masa Depan Baru
58
Di Balik Kebahagian Ada Ancaman Baru
59
Hukum yang harus di tegakan
60
Reaksi Sang Vigilante
61
Sisa Keluarga Damar Kusuma
62
Perasaan di malam perayaan
63
Darakala Si Pengacau
64
Mencari Informasi
65
Reaksi Kepolisian
66
Masa Lalu Darakala
67
Teringat Masa Lalu
68
Pertemuan Menegangkan
69
Perbandingan Antihero dan Superhero
70
Rencana Penyerangan
71
Kegagalan Feny
72
Mesin Pembunuh Beraksi
73
Respon Masyarakat
74
Emosi Yang Meledak
75
Siapa yang peduli ?
76
Ancaman Darakala
77
Sebuah Kecurigaan Di Rumah Sakit
78
Rahasia Natalia
79
Kebencian Adharma Semakin Dalam
80
Sebuah Ketegangan
81
Kepercayaan untuk masa depan
82
Sebuah Jebakan
83
Sebuah Bantuan yang tak terduga
84
Pembukaan pertempuran
85
Kekuatan yang Mulai Bangkit
86
Kekuasaan Yang Lebih Besar Lagi
87
Semua orang Mengkhawatirkan Sang Antihero
88
Kehangatan Berdua
89
Sebuah Konspirasi di balik kekuasaan
90
Tim Pencarian Darma
91
Sebuah Pemburuan dan Dilema
92
Sebuah Negosiasi yang beresiko
93
Dua Monster bekerja sama
94
Sebuah Perdebatan
95
Awal Penyerangan
96
Jordi Sang Pegulat
97
Skenario The Closer
98
Superhero yang lain
99
Kekacauan Di Hotel
100
Masih Satu Universe
101
Subjek Omega
102
Melarang Vigilantisme
103
Pengejaran Natalia
104
Rahasia Darakala
105
Persiapan Peledakan
106
Rencana Gila Rini
107
Ruangan yang mengerikan
108
Duo Monster Terdesak
109
Rasa Khawatir
110
Jadi Buronan Nasional
111
Kembali Bertemu
112
Perpisahan
113
Persembunyian Di hutan
114
Cerita Masa Lalu
115
Berita Mengejutkan
116
The Vault Bereaksi
117
Gerakan Pemberontak
118
Adharma Beraksi kembali
119
Jakarta Lebih memerah
120
Hal Tergila Darma
121
Superhero, Anti hero dan Villain bekerja sama
122
Pertempuran Tanpa Ampun
123
Awal Kehancuran Mikel Satria
124
Respon Semua orang
125
Adharma VS Mikel Satria
126
Akhir Pertarungan
127
Darma Sekarat
128
Introgasi The Closer Lebih Mengerikan dari Adharma
129
Seluruh Negeri Merespon
130
Sidang Mikel Satria
131
Aku Adalah Adharma...
132
Impian Natalia
133
Perpisahan di langit Fajar
134
Rencana Baru Darma
135
Pertemuan dengan Risa
136
Sebuah Tantangan Dari Khun
137
Curhatan Darma
138
Luka Yang Sama
139
Khun Berkhianat
140
Pertarungan Di Golden Loctus Club
141
Bayangan Stefani Adik Risa
142
Wei Long jadi Target pertama Darma
143
Suasana Kota Sentral Raya Tanpa Adharma
144
Pagi Hari yang Canggung
145
Pertemuan Darma dan Stefani
146
Darma Di Lumpuhkan
147
Fakta soal Stefani
148
Stefani dalam Dua Pilihan
149
Keputusan Stefani
150
Pertemuan Risa dan Stefani
151
Perpisahan Dengan Risa dan Stefani
152
Preecha
153
Darma VS The Chemist
154
Ketegangan di dalam pesawat
155
Tentara Bayaran
156
Terungkap nya Zhou
157
Motif The Warrior
158
Serang Dadakan Di Rumah Han Xun
159
Kekalahan Darma
160
Pengorbanan yang harus di balas
161
Penyiksaan yang Sangat menyakitkan
162
Tekad Darma yang sangat kuat
163
Adharma Mulai Bangkit Kembali !
164
Adharma vs Zhou
165
Kekuasaan bukan lah segala nya
166
Nyawa yang di selamatkan
167
Korupsi Level Internasional
168
Kemunculan Elite Global
169
Sebuah Langkah baru
170
Keputusan Darma
171
Adharma Akan Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!