Darma duduk di kantin perusahaan, menyendok nasi goreng di piringnya tanpa benar-benar berniat menyantapnya. Pikirannya masih penuh dengan percakapan tegang di ruangan Pak Jaya tadi.
Di seberangnya, Doni—teman kerja sekaligus sahabatnya—mengamati dengan tatapan curiga.
"Bro, lu kenapa sih?" tanya Doni akhirnya. "Dari tadi ngelamun doang. Itu nasi goreng cuma jadi pajangan."
Darma menghela napas, lalu menaruh sendoknya. "Gue nemuin sesuatu, Don. Sesuatu yang nggak beres."
Doni menaikkan alis. "Lu ngomongin apa?"
Darma menatap sahabatnya, ragu sejenak sebelum akhirnya berbisik, "Ada selisih barang dalam laporan. Kayaknya ada manipulasi data. Bukan cuma sekali, tapi udah berkali-kali."
Doni menyandarkan tubuhnya ke kursi dan mendecak pelan. "Yaelah, Dar. Ini Kota Sentral Raya. Lu pikir perusahaan di kota ini bersih semua?"
Darma menghela napas. "Gue udah ngobrol sama Pak Jaya."
Doni langsung menatapnya tajam. "Dan?"
Darma meremas jemarinya. "Dia tahu. Bahkan kayaknya dia juga bagian dari ini."
Doni memijat pelipisnya. "Anjir, Dar. Lu sadar nggak lu lagi main api?"
"Apa gue harus diam aja, Don?"
Doni menatap sahabatnya lama. "Darma, gue tau lu orangnya lurus. Tapi di kota ini, orang lurus malah gampang patah."
Darma mengusap wajahnya. "Terus gue harus apa?"
Sebelum Doni sempat menjawab, ponsel Darma bergetar. Ia melirik layar—video call dari Sinta.
Dengan cepat, ia menjawab panggilan itu.
"Woy, bapaknya Dwi!" suara Sinta terdengar ceria.
Layar menampilkan wajah istrinya yang tersenyum manis, dengan latar belakang rumah yang sangat familiar bagi Darma—rumah orang tuanya.
Di sebelah Sinta, Dwi Handayani muncul, melambaikan tangan. "Ayahhh! Kami main ke rumah kakek dan nenek!"
Darma tersenyum, untuk sesaat melupakan semua beban pikirannya. "Wah, main apa di sana?"
"Kakek cerita-cerita soal zaman dulu!" kata Dwi semangat.
Darma merasakan dadanya sedikit hangat. Orang tuanya, meskipun sudah tua, tetap memiliki semangat seperti dulu. Ayahnya dulunya adalah seorang kritikus dan jurnalis yang vokal mengkritik pemerintahan korup. Ibunya, meski lebih banyak diam, selalu menjadi pendukung setia suaminya.
"Darma," suara berat ayahnya terdengar dari belakang layar. "Jangan terlalu stres di kantor, ya. Ingat, jangan biarkan dunia yang kotor ini membuat hatimu ikut kotor."
Darma tersenyum kecil. "Iya, Yah. Aku ingat."
Setelah beberapa menit berbicara, panggilan itu berakhir. Namun, hati Darma kini dipenuhi dengan perasaan yang lebih kompleks.
Ia punya keluarga yang harus dilindungi. Dan di saat yang sama, ia tahu bahwa keadilan harus ditegakkan.
Dan itu hanya berarti satu hal—ia harus bertindak.
Di ruang tamu rumah tua yang penuh buku dan foto-foto lama, Dwi Handayani duduk bersila di lantai, mendengarkan kakeknya, Bapak Surya, bercerita tentang masa mudanya.
“Kakek dulu sering menulis artikel tentang korupsi di kota ini,” kata Bapak Surya, matanya tajam meski sudah tua. “Tapi semakin banyak yang kutulis, semakin banyak orang yang ingin membungkamku.”
Dwi mengernyit. “Apa ada yang pernah mengancam kakek?”
Bapak Surya tersenyum tipis. “Lebih dari sekali. Tapi kakek tak pernah takut. Karena kalau kita diam, mereka yang jahat akan semakin kuat.”
Sinta, yang duduk di sofa sambil menyeduh teh, menatap mertuanya dengan hormat. “Pak, apa menurut Bapak kota ini masih bisa berubah?”
Bapak Surya menghela napas panjang. “Sulit. Tapi bukan berarti tidak mungkin.”
Dwi, yang masih polos, menatap ibunya. “Ayah bisa mengubahnya, kan, Bu?”
Sinta tersenyum, meski di dalam hatinya ada kekhawatiran yang tak terucapkan.
Saat percakapan mereka terus berlanjut, di luar rumah—di antara bayang-bayang pepohonan—seorang pria berpakaian hitam berdiri mengamati dari kejauhan.
Matanya tajam, penuh perhitungan.
Dia mengamati setiap gerakan di dalam rumah.
Lalu, perlahan, ia mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan singkat.
“Target terpantau. Menunggu perintah selanjutnya.”
Layar ponsel berpendar sebentar sebelum kembali gelap.
Di dalam rumah, keluarga Darma masih bercengkerama, tak menyadari bahwa di luar, bahaya mulai mengintai mereka.
Suasana kantor hari ini lebih hidup dari biasanya. Rekan-rekan kerja Darma tampak lebih ceria, beberapa sibuk menghitung uang di meja, sementara yang lain langsung mengatur rencana untuk malam ini—ada yang ingin makan enak, ada yang ingin membayar utang, dan ada juga yang sekadar menabung.
Darma menatap slip gajinya. Seperti biasa, tidak ada yang aneh dengan jumlahnya, tapi ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya sejak kemarin—masalah selisih barang di gudang. Namun, ia memutuskan untuk menyingkirkan kekhawatiran itu untuk sementara.
Hari ini adalah hari istimewa bagi keluarganya.
Ia memasukkan uang ke dompetnya, lalu mengambil jaket. Doni yang duduk di sebelahnya melirik.
“Mau kemana, bro?” tanyanya sambil mengunyah keripik.
“Mau beli sesuatu buat Sinta sama Dwi,” jawab Darma sambil tersenyum kecil.
Doni tertawa. “Wah, masih aja jadi suami romantis. Beli apa?”
“Dwi suka superhero, jadi gue mau beliin dia boneka pahlawan. Kalau Sinta… mungkin sesuatu yang dia suka.”
Doni mengangguk paham. “Bagus tuh. Gue ikut, ya?”
Darma mengangguk, dan mereka pun bergegas meninggalkan kantor begitu jam kerja selesai.
---
Di luar, langit mulai berubah jingga, menandakan sore telah menjelang. Darma dan Doni berjalan ke sebuah toko kecil di sudut jalan, tempat seorang pria bernama Agung berjualan berbagai macam barang, dari mainan anak-anak hingga perhiasan sederhana.
Agung adalah kenalan lama Darma—seorang pria berusia awal empat puluhan dengan perawakan tegap dan wajah yang selalu ramah. Ia dulunya seorang pengrajin, tapi kini lebih fokus berjualan barang dagangan yang didapatnya dari berbagai tempat.
Begitu melihat Darma mendekat, Agung menyunggingkan senyum. “Wah, Darma! Tumben mampir. Mau cari apa?”
Darma melihat-lihat rak di toko itu. “Boneka pahlawan. Yang model terbaru ada, nggak?”
Agung tertawa kecil, lalu berjalan ke belakang etalase. Ia mengambil sebuah boneka dengan desain gagah, mirip tokoh superhero terkenal. “Ini yang terbaru. Dwi pasti suka.”
Darma mengambil boneka itu, membolak-baliknya dengan senyum puas. “Bagus. Gue ambil ini.”
Doni, yang berdiri di belakangnya, terkekeh. “Jadi ayah idaman banget lu.”
Darma tertawa kecil, lalu melirik ke etalase lain. “Kalau untuk Sinta… dia suka apa, ya?”
Agung mengamati Darma sebentar, lalu menunjuk sebuah kalung sederhana dengan liontin kecil berbentuk bunga teratai. “Kalung ini lumayan, simpel tapi elegan.”
Darma mengambilnya dan memeriksa detailnya. “Kayaknya cocok.”
Setelah membayar, Darma menyimpan barang belanjaannya dengan hati-hati di dalam kantong kertas. Ia bisa membayangkan wajah ceria Dwi saat menerima bonekanya, juga senyum lembut Sinta saat melihat hadiah kecilnya.
Kebahagiaan keluarganya adalah segalanya bagi Darma.
Saat ia keluar dari toko bersama Doni, langit sudah semakin gelap. Namun, Darma tak menyadari—dari kejauhan, ada sepasang mata yang mengawasi pergerakannya.
Seseorang sedang mengamatinya.
Dan ia tak akan berhenti hanya dengan mengawasi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments