Kehilangan Segala nya

Langit Kota Sentral Raya telah berubah gelap pekat ketika Darma mengendarai motornya menuju rumah orang tuanya. Jalanan terasa lengang, hanya sesekali diterangi oleh lampu jalan yang redup dan kendaraan yang melintas. Angin malam menerpa wajahnya, tetapi pikirannya hanya tertuju pada satu hal—keluarganya.

Ia membayangkan Dwi yang pasti sudah bermain hingga lelah, tertidur di pangkuan ibunya. Sinta mungkin sedang berbincang dengan orang tuanya, menikmati teh hangat seperti biasa. Pemandangan yang sederhana, namun begitu berarti bagi Darma.

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, ia akhirnya sampai di depan rumah orang tuanya. Dari luar, lampu di ruang tamu masih menyala, tanda bahwa mereka belum tidur. Darma tersenyum kecil, merasa lega.

Namun, saat ia hendak mengetuk pintu, teriakan ketakutan tiba-tiba terdengar dari dalam rumah.

Darah Darma berdesir.

Itu suara Sinta.

Tanpa pikir panjang, ia langsung mendorong pintu dengan keras.

Darma menerjang masuk ke dalam rumah, napasnya memburu. Di dalam, pemandangan neraka menyambutnya.

Di tengah ruangan, Sinta berlutut dengan tangan terikat, wajahnya basah oleh air mata. Dwi Handayani, anak perempuannya yang masih kecil, gemetar di pelukan ibunya, matanya dipenuhi ketakutan yang tak seharusnya dirasakan oleh seorang anak.

Kedua orang tua Darma pun sama, terduduk lemah di sisi lain ruangan, tubuh mereka penuh luka lebam. Tiga pria berpakaian serba hitam berdiri mengelilingi mereka, masing-masing memegang senjata.

Darma ingin bergerak, ingin menerjang mereka—tapi laras pistol sudah diarahkan ke kepala Sinta.

“Jangan bergerak, atau kau akan menyaksikan mereka mati lebih cepat,” suara dingin salah satu pria menggema di ruangan.

Darma membeku. Seluruh tubuhnya bergetar oleh kemarahan dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.

Sinta menatap Darma, air matanya mengalir deras. Bibirnya bergetar, mencoba mengatakan sesuatu. “Darma…” suaranya begitu lemah.

Tapi sebelum ia bisa melanjutkan, peluru pertama ditembakkan.

DOR!

Darma menyaksikan tubuh ayahnya terhuyung ke belakang, darah menyembur dari dahinya. Ia tak sempat mengeluarkan suara, hanya sebuah helaan napas terakhir sebelum tubuhnya ambruk ke lantai.

Darma merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak.

“I-ayah…” suaranya tercekat.

Ibunya menjerit. Namun, suara jeritan itu hanya berlangsung sesaat sebelum pisau panjang menembus dadanya. Matanya membelalak, tangannya berusaha meraih sesuatu yang tak terlihat di udara, sebelum akhirnya tubuhnya terkulai, bersimbah darah.

“Sialan!!” Darma menggeram, tubuhnya gemetar penuh amarah.

Dwi menangis, wajahnya membenam di dada Sinta.

“Sabar, Pak. Masih ada dua lagi,” salah satu eksekutor terkekeh.

Darma merasakan dadanya seperti dihantam batu besar. Seluruh tubuhnya menegang saat pria bersenjata itu mengangkat pistolnya lagi—kali ini mengarah ke kepala Sinta.

Mata Sinta menatap Darma. Tidak ada lagi ketakutan di sana. Hanya kesedihan dan permintaan maaf.

“Jagalah Dwi…” bisiknya.

DOR!

Peluru menembus tengkoraknya.

Tubuh Sinta langsung lunglai ke belakang. Dwi menjerit.

“IBU!!!”

Darah mengalir deras, membasahi lantai tempat ia terduduk. Matanya masih terbuka, tapi nyawanya telah pergi.

Darma merasakan dunia runtuh di sekelilingnya. Otot-ototnya menegang, napasnya memburu. Air mata memanas di matanya, tapi kemarahan jauh lebih mendominasi.

Hanya Dwi yang tersisa.

Ia meronta di pelukan ibunya yang kini tak bernyawa. Wajahnya basah oleh air mata dan darah. “Ibu… bangun…” suaranya terdengar kecil dan putus asa.

Darma menguatkan diri. “Tolong… jangan… biarkan dia pergi… biarkan dia hidup…”

Para pembunuh itu hanya tertawa.

“Perintahnya jelas. Tak ada yang boleh tersisa.”

Pistol itu beralih ke Dwi.

“JANGAN!!!”

DOR!

Peluru menembus tubuh kecil itu.

Dwi terjatuh dari pangkuan ibunya. Tangannya yang mungil masih terangkat ke udara, seolah meminta perlindungan. Matanya kehilangan sinarnya.

Darma merasakan jiwanya hancur.

Kakinya lemas, tubuhnya jatuh berlutut. Seluruh keluarganya telah tiada.

Rumah yang selama ini penuh dengan tawa kini hanya dipenuhi dengan genangan darah dan bau mesiu.

Para pembunuh itu menatap Darma yang kini tak lagi bergerak. Salah satu dari mereka menyeringai.

“Sudah selesai. Tapi kurasa kita belum selesai dengan yang satu ini.”

Pistol itu kini diarahkan ke kepala Darma.

Gelap.

Pistol itu masih menempel di kening Darma. Jemari pembunuh itu sedikit menekan pelatuknya.

Darma tidak bergerak. Tidak ada lagi rasa takut di dalam dirinya. Jika ini adalah akhirnya, maka biarlah berakhir sekarang juga.

Namun—

Tidak ada letusan.

Sebaliknya, suara desingan ban di jalanan terdengar di luar rumah. Salah satu pria berpakaian hitam itu mendekat ke eksekutor utama dan berbisik, wajahnya tegang.

“Kita harus pergi. Sekarang.”

Eksekutor itu menatap Darma selama beberapa detik. Bibirnya melengkung ke atas, membentuk senyum merendahkan.

“Kau seharusnya ikut mati bersama mereka.”

Lalu, tanpa peringatan, mereka berlari keluar. Dalam hitungan detik, suara deru mesin mobil meraung, menghilang di kejauhan.

Darma tetap diam.

Ia tidak mengejar. Tidak berteriak. Tidak melakukan apa pun.

Hanya diam.

Seperti seseorang yang jiwanya telah menguap dari tubuhnya.

Sisa-Sisa Kehidupan yang Hilang

Rumah itu, yang sebelumnya penuh dengan suara tawa dan kehangatan, kini dipenuhi aroma mesiu, darah, dan kematian.

Darma perlahan berjalan ke tengah ruangan. Langkahnya berat, seolah ada rantai besi yang menahannya.

Matanya jatuh pada tubuh ayahnya. Pria tua itu tergeletak dengan mata terbuka, tatapannya kosong menatap langit-langit. Di dahinya, lubang peluru menganga, darah merembes di ubin rumah mereka yang dulu bersih.

Lalu ibunya. Tertelungkup dengan luka menganga di dadanya. Bibirnya sedikit terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu yang tak pernah sempat terucap.

Sinta... istrinya...

Darah masih menetes dari luka di kepalanya. Wajah yang selama ini selalu tersenyum padanya kini membeku dalam ketakutan terakhirnya. Rambutnya yang dulu lembut kini kusut dan basah oleh darahnya sendiri.

Tapi yang paling menghancurkan Darma adalah Dwi.

Anak kecil itu terbaring dengan mata setengah terbuka. Tangannya yang mungil terulur, seakan ingin meraih sesuatu yang tidak akan pernah datang.

Ia masih mengenakan baju tidurnya yang bergambar tokoh kartun kesayangannya. Piyama yang seharusnya bersih itu kini bernoda darah.

Darma berlutut di samping tubuh putrinya. Tangannya gemetar saat ia menyentuh pipi kecil itu—yang kini dingin seperti es.

Ia tidak bisa menangis. Matanya terasa kering.

Kenyataan belum sepenuhnya masuk ke dalam pikirannya.

Ini tidak nyata.

Pasti hanya mimpi buruk.

Ia ingin bangun.

Ia ingin mendengar suara tawa Dwi lagi.

Ia ingin mendengar Sinta memarahinya karena lupa menaruh handuk di tempatnya.

Ia ingin mencium tangan ibunya sebelum berangkat kerja.

Ia ingin melihat ayahnya duduk di kursi tua di teras rumah, membaca koran seperti biasa.

Tapi tidak ada lagi suara. Tidak ada lagi tawa. Tidak ada lagi kehidupan di dalam rumah ini.

Hanya dirinya yang tersisa.

Darma menunduk, meraih tubuh kecil Dwi, mendekapnya erat di dadanya.

Tubuh mungil itu terasa begitu ringan, begitu rapuh.

Dalam pelukannya, ia bisa mencium bau samar sampo anak-anak yang biasa dipakai Dwi—tercampur dengan bau anyir darah.

Dan saat itulah—

Tangisnya pecah.

Ia meraung.

Suara kesedihan, keputusasaan, dan kemarahan membuncah keluar dari dadanya.

Ia mengguncang tubuh Dwi dengan lembut, seakan berharap anaknya akan membuka mata dan berkata, “Ayah, aku hanya bercanda.”

Tapi Dwi tidak akan pernah membuka matanya lagi.

Tangannya terangkat ke kepala, mencengkram rambutnya sendiri, tubuhnya bergetar hebat.

Mengapa mereka?

Mengapa bukan dirinya saja?

Darma menghantam lantai dengan tinjunya. Sekali. Dua kali.

Darah mulai keluar dari buku-buku jarinya, tapi ia tidak peduli.

Ia menatap ke langit-langit dengan mata memerah, berteriak dengan suara yang merobek udara malam.

Jeritan seorang pria yang kehilangan segalanya.

Darma masih berlutut di lantai yang dingin. Tangannya gemetar saat mengusap pipi putrinya yang mulai pucat. Suara raungannya sudah mereda, berganti dengan isakan lemah yang nyaris tanpa suara.

Lalu, matanya jatuh pada sebuah kantong plastik yang tergeletak di lantai, tak jauh dari tubuh Sinta. Kantong itu robek, sebagian isinya terjatuh ke lantai.

Boneka superhero.

Sebuah boneka yang baru ia beli untuk Dwi tadi sore. Boneka itu masih dalam keadaan baru, dengan warna-warna cerah yang tampak kontras dengan genangan darah di sekitarnya.

Darma meraih boneka itu dengan tangan bergetar. Ia memeluknya erat.

Kemudian, matanya beralih ke benda lain yang terjatuh di dekat tangan Sinta—liontin perak yang baru saja ia beli untuk istrinya.

Ia mengulurkan tangan, mengambil liontin itu dengan hati-hati. Ketika ia membukanya, ada sepasang foto kecil di dalamnya—satu foto dirinya, dan satu lagi foto Sinta.

Liontin itu seharusnya menjadi hadiah kecil untuk menunjukkan betapa ia mencintai istrinya.

Dan boneka itu seharusnya membuat Dwi tersenyum bahagia saat menerimanya.

Tapi sekarang... dua hadiah itu hanya menjadi simbol kejam dari apa yang telah hilang darinya.

Darma mencengkeram liontin itu dengan erat, bahunya bergetar hebat. Ia menekan boneka itu ke dadanya, mencoba menahan kesedihan yang semakin dalam menusuk jiwanya.

Air matanya jatuh semakin deras.

Suara sirene akhirnya terdengar di kejauhan.

Lampu-lampu merah dan biru berkedip-kedip di luar jendela. Polisi datang.

Beberapa petugas masuk dengan tergesa-gesa, langsung menodongkan senjata mereka.

Tapi yang mereka temukan hanyalah seorang pria yang tersungkur di tengah genangan darah, memeluk boneka superhero dan liontin perak, tenggelam dalam kesedihan yang tak bisa diukur dengan kata-kata.

Seorang polisi perlahan mendekat, sebelum akhirnya berbicara dengan suara pelan.

“Pak… kami harus membawa mereka…”

Darma tidak menjawab. Ia bahkan tidak bergerak.

Saat petugas mulai mengevakuasi mayat keluarganya, Darma hanya duduk di sana—menyaksikan, tanpa bisa berbuat apa-apa.

Ia kehilangan segalanya.

Episodes
1 Hidup Yang Tenang
2 Kota Yang Sakit
3 Pagi Hari dengan luka
4 Permainan Kotor
5 Kecurigaan dan Kebahagiaan
6 Kehilangan Segala nya
7 Dendam Yang Mulai Tumbuh
8 Bayangan Dendam
9 Mencari Informasi
10 Penebusan di kota darah
11 Kepercayaan yang di uji
12 Mimpi Yang Berdarah
13 Jejak Akar Kebusukan
14 Menyusup Ke Menara Permata
15 Pertarungan Di Menara Pernata
16 Mengincar Target Berikutnya
17 Pembicaraan Di Warung Kopi
18 Malam Penyiksaan
19 Wajah Tanpa Identitas
20 Getaran Terror Di Kota Sentral Raya
21 Perburuan Di Mulai
22 Sebuah Kehangatan Sebelum membantai
23 Tempat Tinggal Baru
24 Terror Untuk Aparat Hukum
25 Sekutu Baru
26 Malam Di Rumah Rini
27 Kehangatan Rumah
28 Trik Licik Feny
29 Persiapan Adharma
30 Permainan yang mematikan
31 Cara yang Kotor dan Licik
32 Memihak Kebenaran atau Kebatilan?
33 Solusi dibalik Tali yang Tipis
34 Kecerdasan Feny
35 Pemain Baru
36 Pertemuan Di Persembunyian
37 Luka dalam permainan sebenarnya
38 Eksekusi Target Ke dua
39 Ledakan di villa
40 Berita Terbaru
41 Rencana Baru dan Kecurigaan
42 Siapa Cepat Dia Menang
43 Aksi Kejar Kejaran
44 Kekalahan Pertama Darma
45 Doni Dan Feny
46 Sebuah Blunder
47 Kehebohan Masyarakat
48 Bertahan dari Kematian
49 Kenangan Yang Menyakitkan
50 Buronan Baru
51 Duel Pemburuan
52 Kecerdasan Yang Mematikan
53 Nafas Terakhir Sang Penguasa
54 Rahasia yang terungkap
55 Akhir dari Penguasa
56 Sebuah Undangan
57 Masa Depan Baru
58 Di Balik Kebahagian Ada Ancaman Baru
59 Hukum yang harus di tegakan
60 Reaksi Sang Vigilante
61 Sisa Keluarga Damar Kusuma
62 Perasaan di malam perayaan
63 Darakala Si Pengacau
64 Mencari Informasi
65 Reaksi Kepolisian
66 Masa Lalu Darakala
67 Teringat Masa Lalu
68 Pertemuan Menegangkan
69 Perbandingan Antihero dan Superhero
70 Rencana Penyerangan
71 Kegagalan Feny
72 Mesin Pembunuh Beraksi
73 Respon Masyarakat
74 Emosi Yang Meledak
75 Siapa yang peduli ?
76 Ancaman Darakala
77 Sebuah Kecurigaan Di Rumah Sakit
78 Rahasia Natalia
79 Kebencian Adharma Semakin Dalam
80 Sebuah Ketegangan
81 Kepercayaan untuk masa depan
82 Sebuah Jebakan
83 Sebuah Bantuan yang tak terduga
84 Pembukaan pertempuran
85 Kekuatan yang Mulai Bangkit
86 Kekuasaan Yang Lebih Besar Lagi
87 Semua orang Mengkhawatirkan Sang Antihero
88 Kehangatan Berdua
89 Sebuah Konspirasi di balik kekuasaan
90 Tim Pencarian Darma
91 Sebuah Pemburuan dan Dilema
92 Sebuah Negosiasi yang beresiko
93 Dua Monster bekerja sama
94 Sebuah Perdebatan
95 Awal Penyerangan
96 Jordi Sang Pegulat
97 Skenario The Closer
98 Superhero yang lain
99 Kekacauan Di Hotel
100 Masih Satu Universe
101 Subjek Omega
102 Melarang Vigilantisme
103 Pengejaran Natalia
104 Rahasia Darakala
105 Persiapan Peledakan
106 Rencana Gila Rini
107 Ruangan yang mengerikan
108 Duo Monster Terdesak
109 Rasa Khawatir
110 Jadi Buronan Nasional
111 Kembali Bertemu
112 Perpisahan
113 Persembunyian Di hutan
114 Cerita Masa Lalu
115 Berita Mengejutkan
116 The Vault Bereaksi
117 Gerakan Pemberontak
118 Adharma Beraksi kembali
119 Jakarta Lebih memerah
120 Hal Tergila Darma
121 Superhero, Anti hero dan Villain bekerja sama
122 Pertempuran Tanpa Ampun
123 Awal Kehancuran Mikel Satria
124 Respon Semua orang
125 Adharma VS Mikel Satria
126 Akhir Pertarungan
127 Darma Sekarat
128 Introgasi The Closer Lebih Mengerikan dari Adharma
129 Seluruh Negeri Merespon
130 Sidang Mikel Satria
131 Aku Adalah Adharma...
132 Impian Natalia
133 Perpisahan di langit Fajar
134 Rencana Baru Darma
135 Pertemuan dengan Risa
136 Sebuah Tantangan Dari Khun
137 Curhatan Darma
138 Luka Yang Sama
139 Khun Berkhianat
140 Pertarungan Di Golden Loctus Club
141 Bayangan Stefani Adik Risa
142 Wei Long jadi Target pertama Darma
143 Suasana Kota Sentral Raya Tanpa Adharma
144 Pagi Hari yang Canggung
145 Pertemuan Darma dan Stefani
146 Darma Di Lumpuhkan
147 Fakta soal Stefani
148 Stefani dalam Dua Pilihan
149 Keputusan Stefani
150 Pertemuan Risa dan Stefani
151 Perpisahan Dengan Risa dan Stefani
152 Preecha
153 Darma VS The Chemist
154 Ketegangan di dalam pesawat
155 Tentara Bayaran
156 Terungkap nya Zhou
157 Motif The Warrior
158 Serang Dadakan Di Rumah Han Xun
159 Kekalahan Darma
160 Pengorbanan yang harus di balas
161 Penyiksaan yang Sangat menyakitkan
162 Tekad Darma yang sangat kuat
163 Adharma Mulai Bangkit Kembali !
164 Adharma vs Zhou
165 Kekuasaan bukan lah segala nya
166 Nyawa yang di selamatkan
167 Korupsi Level Internasional
168 Kemunculan Elite Global
169 Sebuah Langkah baru
170 Keputusan Darma
171 Adharma Akan Kembali
Episodes

Updated 171 Episodes

1
Hidup Yang Tenang
2
Kota Yang Sakit
3
Pagi Hari dengan luka
4
Permainan Kotor
5
Kecurigaan dan Kebahagiaan
6
Kehilangan Segala nya
7
Dendam Yang Mulai Tumbuh
8
Bayangan Dendam
9
Mencari Informasi
10
Penebusan di kota darah
11
Kepercayaan yang di uji
12
Mimpi Yang Berdarah
13
Jejak Akar Kebusukan
14
Menyusup Ke Menara Permata
15
Pertarungan Di Menara Pernata
16
Mengincar Target Berikutnya
17
Pembicaraan Di Warung Kopi
18
Malam Penyiksaan
19
Wajah Tanpa Identitas
20
Getaran Terror Di Kota Sentral Raya
21
Perburuan Di Mulai
22
Sebuah Kehangatan Sebelum membantai
23
Tempat Tinggal Baru
24
Terror Untuk Aparat Hukum
25
Sekutu Baru
26
Malam Di Rumah Rini
27
Kehangatan Rumah
28
Trik Licik Feny
29
Persiapan Adharma
30
Permainan yang mematikan
31
Cara yang Kotor dan Licik
32
Memihak Kebenaran atau Kebatilan?
33
Solusi dibalik Tali yang Tipis
34
Kecerdasan Feny
35
Pemain Baru
36
Pertemuan Di Persembunyian
37
Luka dalam permainan sebenarnya
38
Eksekusi Target Ke dua
39
Ledakan di villa
40
Berita Terbaru
41
Rencana Baru dan Kecurigaan
42
Siapa Cepat Dia Menang
43
Aksi Kejar Kejaran
44
Kekalahan Pertama Darma
45
Doni Dan Feny
46
Sebuah Blunder
47
Kehebohan Masyarakat
48
Bertahan dari Kematian
49
Kenangan Yang Menyakitkan
50
Buronan Baru
51
Duel Pemburuan
52
Kecerdasan Yang Mematikan
53
Nafas Terakhir Sang Penguasa
54
Rahasia yang terungkap
55
Akhir dari Penguasa
56
Sebuah Undangan
57
Masa Depan Baru
58
Di Balik Kebahagian Ada Ancaman Baru
59
Hukum yang harus di tegakan
60
Reaksi Sang Vigilante
61
Sisa Keluarga Damar Kusuma
62
Perasaan di malam perayaan
63
Darakala Si Pengacau
64
Mencari Informasi
65
Reaksi Kepolisian
66
Masa Lalu Darakala
67
Teringat Masa Lalu
68
Pertemuan Menegangkan
69
Perbandingan Antihero dan Superhero
70
Rencana Penyerangan
71
Kegagalan Feny
72
Mesin Pembunuh Beraksi
73
Respon Masyarakat
74
Emosi Yang Meledak
75
Siapa yang peduli ?
76
Ancaman Darakala
77
Sebuah Kecurigaan Di Rumah Sakit
78
Rahasia Natalia
79
Kebencian Adharma Semakin Dalam
80
Sebuah Ketegangan
81
Kepercayaan untuk masa depan
82
Sebuah Jebakan
83
Sebuah Bantuan yang tak terduga
84
Pembukaan pertempuran
85
Kekuatan yang Mulai Bangkit
86
Kekuasaan Yang Lebih Besar Lagi
87
Semua orang Mengkhawatirkan Sang Antihero
88
Kehangatan Berdua
89
Sebuah Konspirasi di balik kekuasaan
90
Tim Pencarian Darma
91
Sebuah Pemburuan dan Dilema
92
Sebuah Negosiasi yang beresiko
93
Dua Monster bekerja sama
94
Sebuah Perdebatan
95
Awal Penyerangan
96
Jordi Sang Pegulat
97
Skenario The Closer
98
Superhero yang lain
99
Kekacauan Di Hotel
100
Masih Satu Universe
101
Subjek Omega
102
Melarang Vigilantisme
103
Pengejaran Natalia
104
Rahasia Darakala
105
Persiapan Peledakan
106
Rencana Gila Rini
107
Ruangan yang mengerikan
108
Duo Monster Terdesak
109
Rasa Khawatir
110
Jadi Buronan Nasional
111
Kembali Bertemu
112
Perpisahan
113
Persembunyian Di hutan
114
Cerita Masa Lalu
115
Berita Mengejutkan
116
The Vault Bereaksi
117
Gerakan Pemberontak
118
Adharma Beraksi kembali
119
Jakarta Lebih memerah
120
Hal Tergila Darma
121
Superhero, Anti hero dan Villain bekerja sama
122
Pertempuran Tanpa Ampun
123
Awal Kehancuran Mikel Satria
124
Respon Semua orang
125
Adharma VS Mikel Satria
126
Akhir Pertarungan
127
Darma Sekarat
128
Introgasi The Closer Lebih Mengerikan dari Adharma
129
Seluruh Negeri Merespon
130
Sidang Mikel Satria
131
Aku Adalah Adharma...
132
Impian Natalia
133
Perpisahan di langit Fajar
134
Rencana Baru Darma
135
Pertemuan dengan Risa
136
Sebuah Tantangan Dari Khun
137
Curhatan Darma
138
Luka Yang Sama
139
Khun Berkhianat
140
Pertarungan Di Golden Loctus Club
141
Bayangan Stefani Adik Risa
142
Wei Long jadi Target pertama Darma
143
Suasana Kota Sentral Raya Tanpa Adharma
144
Pagi Hari yang Canggung
145
Pertemuan Darma dan Stefani
146
Darma Di Lumpuhkan
147
Fakta soal Stefani
148
Stefani dalam Dua Pilihan
149
Keputusan Stefani
150
Pertemuan Risa dan Stefani
151
Perpisahan Dengan Risa dan Stefani
152
Preecha
153
Darma VS The Chemist
154
Ketegangan di dalam pesawat
155
Tentara Bayaran
156
Terungkap nya Zhou
157
Motif The Warrior
158
Serang Dadakan Di Rumah Han Xun
159
Kekalahan Darma
160
Pengorbanan yang harus di balas
161
Penyiksaan yang Sangat menyakitkan
162
Tekad Darma yang sangat kuat
163
Adharma Mulai Bangkit Kembali !
164
Adharma vs Zhou
165
Kekuasaan bukan lah segala nya
166
Nyawa yang di selamatkan
167
Korupsi Level Internasional
168
Kemunculan Elite Global
169
Sebuah Langkah baru
170
Keputusan Darma
171
Adharma Akan Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!