Jejak Akar Kebusukan

Malam telah berganti ke fajar, dan Darma kini berada di sebuah kamar sederhana yang tersembunyi di daerah kumuh pinggiran kota. Setelah aksi brutal di pelabuhan, darah dan amarah telah menyatu dalam dirinya. Ia tahu bahwa membunuh tiga preman itu hanyalah permulaan—di balik aksi itu, terselubung sosok yang mengatur bayang-bayang kekejaman di Kota Sentral Raya.

Di ruang kecil itu, Darma duduk di depan meja kayu tua sambil menatap selembar kertas robek dan foto-foto yang pernah ia temukan di gudang pelabuhan. Foto-foto itu, yang diambil oleh salah satu preman dalam kekacauan malam itu, menampilkan ketiga pria itu bersama dengan seorang pria bermuka serius yang tampak sebagai sosok orkestra di balik kekacauan.

Dengan tangan gemetar, Darma merogoh saku jaket tactical miliknya. Ia mengeluarkan ponsel yang telah ia siapkan sejak insiden itu. Di dalamnya tersimpan nomor-nomor kontak yang ia peroleh dari dunia gelap kota—orang-orang yang biasa bekerja di bawah bayang-bayang, para “informan” yang tak peduli apakah kebenaran itu hitam atau putih.

Darma mengetik pesan singkat kepada salah satu kontak lamanya, seseorang yang dikenal dengan nama “Si Manto.” Pesan itu hanya berisi:

"Aku butuh info tentang pria bertato di foto ini. Lokasinya? Identitasnya?"

Tak lama, layar ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk:

"Bisa kupastikan: dia adalah pengurus operasional di salah satu kantor cabang BUMN. Tapi aku nggak bisa beri detail lebih karena risikonya tinggi. Cek di area Pelabuhan Timur, di sebuah gudang tua. Tapi hati-hati, Darma."

Darma mengangguk meskipun tak ada yang melihat. Informasi itu seakan menghidupkan kembali semangat dendam yang selama ini tertahan. Ia tahu bahwa di balik tiga preman itu pasti ada jaringan yang jauh lebih besar, sebuah organisasi bayangan yang menyalurkan uang kotor dan kekuasaan melalui para antek.

Setelah mengirim pesan ke beberapa kontak lainnya, Darma merencanakan langkah berikutnya. Ia mengenakan kembali kostum yang selama ini telah menjadi simbol keputusasaannya—pakaian tactical milik abangnya, trench coat Sinta, topeng tengkorak, serta senjata-senjata yang kini telah menjadi bagian dari identitas barunya. Setiap barang itu mengandung kenangan, namun sekaligus menguatkan tekadnya.

Ia melangkah keluar dari persembunyiannya, menuju titik koordinat yang diberitahukan oleh “Si Manto.” Jalanan Kota Sentral Raya di pagi hari terasa lengang, seolah dunia sendiri turut berduka atas tragedi yang telah terjadi. Darma menyelinap melalui gang-gang sempit, memanfaatkan kegelapan yang masih tersisa sebelum fajar benar-benar menyingsing.

Di sebuah warung kopi kecil yang tampak sepi, Darma duduk di pojok ruangan sambil mengamati pengunjung yang datang sesekali. Di sini, ia berharap menemukan seseorang yang tahu lebih banyak tentang operasi bayangan yang menghubungkan kantor cabang BUMN dengan jaringan kriminal.

Seorang pria paruh baya, berpakaian lusuh namun matanya tajam, duduk di meja sebelah. Darma mengulurkan tangan—bukan untuk menyapa secara hangat, melainkan sebagai isyarat bahwa ia datang dengan maksud serius.

Pria itu, yang dikenalnya sebagai “Pak Suro,” adalah salah satu informan yang pernah bekerja sebagai sopir truk dan sudah lama terjerat dalam dunia bawah. Dengan raut wajah penuh kerut dan pandangan hati-hati, ia melihat Darma dengan seksama.

“Lu cari apa, Nak?” tanya Pak Suro pelan, menyesap kopi hangatnya.

Darma menunduk sejenak, lalu berkata, “Aku butuh tahu siapa yang menyuruh tiga orang itu. Aku tahu mereka hanya anak buah. Aku ingin menemukan akar kebusukan—siapa yang ada di balik semuanya.”

Pak Suro menatap Darma, seolah membaca kegundahan di dalamnya. “Kau harus hati-hati. Orang yang kau cari bukan orang biasa. Mereka punya koneksi tinggi. Tapi… ada rumor, Nak. Katanya, dia sering nongkrong di sebuah kafe dekat pelabuhan. Namanya ‘Kafe Ombak Hitam.’ Kau mungkin bisa cari tahu lebih lanjut di sana.”

Darma mengangguk perlahan. “Terima kasih, Pak Suro. Informasi ini sangat berarti.”

Setelah menyelesaikan minum kopinya dengan cepat, Darma meninggalkan warung itu. Ia merasakan jantungnya berdetak kencang—bukan hanya karena adrenalin, tetapi juga karena keyakinan bahwa hari ini adalah awal dari perburuan yang akan mengubah segalanya.

Tak lama kemudian, Darma tiba di depan sebuah kafe kecil yang terletak di sudut jalan yang kurang terlihat. Lampu neon “Kafe Ombak Hitam” menyala redup, seolah memberi isyarat kepada para pengunjung bahwa di sini, segala sesuatu bisa terjadi tanpa aturan.

Di dalam kafe itu, suasananya remang-remang dan penuh dengan bayang-bayang. Musik jazz yang pelan mengalun di latar, berpadu dengan percakapan lirih para pelanggan yang kebanyakan tampak seperti orang-orang yang tak punya harapan lagi. Darma memilih sebuah meja pojok yang jauh dari mata kamera, dan memesan segelas kopi hitam tanpa gula—sebuah pesanan yang sederhana namun penuh arti baginya.

Tak lama kemudian, seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang yang diikat rapi mendekat. Dia duduk di meja Darma dengan sikap ragu, namun mata yang menatap tajam seolah menyatakan bahwa ia tahu lebih dari yang terlihat.

“Nama saya Laila,” ucapnya pelan. “Aku dengar kau sedang mencari informasi.”

Darma menatapnya, matanya yang di balik topeng sembunyi emosi yang mendalam. “Betul,” jawabnya singkat. “Kau tahu sesuatu tentang mereka?”

Laila mengangguk perlahan. “Aku pernah bekerja untuk salah satu perusahaan yang terkait dengan jaringan itu. Tapi, aku harus sangat berhati-hati. Siapa pun yang tahu terlalu banyak bisa saja... hilang.”

Darma menyandarkan tubuhnya, mendengarkan dengan seksama. “Ceritakan, Laila. Aku butuh tahu siapa yang ada di balik pembunuhan keluargaku.”

Laila menatap sekeliling, memastikan tidak ada telinga yang mendengar. “Ada satu nama yang selalu muncul,” katanya dengan suara bergetar karena rasa takut. “Namanya Raden Wijaya. Dia bukan hanya seorang pengusaha, tapi juga memiliki hubungan erat dengan pejabat tinggi dan bahkan beberapa anggota militer.”

Darma terdiam. Raden Wijaya. Nama itu menggema di dalam pikirannya, seolah menantang untuk diungkap. “Bagaimana kau tahu?” tanyanya akhirnya.

Laila menunduk, lalu berkata, “Aku pernah mendengar dari orang dalam. Mereka bilang, Raden Wijaya adalah dalang di balik sejumlah operasi ilegal di kota ini—termasuk pengiriman barang-barang curian dan penyuapan di dalam perusahaan. Konon, dia juga yang memerintahkan para preman itu untuk menyingkirkan keluarga seseorang yang mengancam rahasianya.”

Darma menatap Laila dengan tatapan tajam, seolah mengukir kata-kata itu ke dalam jiwanya. “Kau yakin itu Raden Wijaya?”

Laila mengangguk perlahan. “Aku tidak bisa memberikan bukti, tapi banyak yang bicara. Bahkan, beberapa karyawan di perusahaan itu sempat melihat kotak-kotak uang besar yang dikirim ke sebuah rumah mewah di pusat kota—rumor bilang, itu milik Raden Wijaya.”

Di luar jendela kafe, hujan mulai turun dengan lembut, menambah kesan kesendirian dan keputusasaan. Darma merasakan kembali gelombang duka dan kemarahan. Setiap tetes hujan seolah mengingatkannya pada tetesan air mata yang pernah mengalir pada hari pemakaman keluarganya.

“Aku akan cari tahu lebih jauh,” kata Darma tegas. “Laila, kau sudah membantu. Tapi aku butuh lebih dari ini. Jika Raden Wijaya yang ada di balik semuanya, aku harus tahu seluruh detailnya. Aku butuh bukti, daftar nama, kontak… semua yang kau bisa kumpulkan.”

Laila menunduk lagi, wajahnya tampak serius. “Aku akan coba bantu, Darma. Tapi kau harus ingat, jalan ini berbahaya. Raden Wijaya tidak main-main. Dia memiliki pengaruh besar dan musuh-musuh yang siap membunuh siapa saja yang mengganggu bisnisnya.”

Darma menatap Laila dengan mata yang berkilau penuh tekad. “Aku sudah kehilangan segalanya, Laila. Aku tidak peduli lagi. Aku akan mencari sampai ke akar-akarnya. Dan jika perlu, aku akan membuat mereka semua merasakan penderitaan yang sama seperti yang telah mereka timbulkan pada keluargaku.”

Setelah percakapan itu, Darma meninggalkan kafe dengan langkah mantap. Hujan yang turun semakin deras, seolah mengiringi perjalanan balas dendamnya.

Dalam perjalanan ke titik berikutnya, Darma melintasi jalan-jalan yang lengang. Ia mengunjungi beberapa tempat yang pernah menjadi pusat aktivitas gelap, mengumpulkan potongan-potongan informasi yang ia dapatkan dari para informan.

Di sebuah gang sempit di pusat kota, ia bertemu dengan “Si Manto” lagi—orang yang dulu telah memberinya petunjuk. Kali ini, dalam sebuah lorong yang remang, Si Manto memberitahu bahwa Raden Wijaya memiliki kantor rahasia di sebuah gedung tinggi yang terletak di kawasan elit.

“Gedung itu bernama Menara Permata,” bisik Si Manto dengan suara serak, seolah takut akan terdengar oleh telinga yang salah. “Di sana, Raden Wijaya mengatur semua urusan kotor. Tapi jangan harap kau akan bisa masuk dengan mudah. Keamanan di sana ketat.”

Darma hanya mengangguk. Semua petunjuk itu kini tersusun dalam benaknya. Setiap informasi menguatkan tekadnya: ia harus menembus tirai kekuasaan yang selama ini melindungi Raden Wijaya dan rekan-rekannya.

Sambil melanjutkan perjalanan, Darma mengingat kembali setiap detik ketika keluarganya diambil darinya. Suara tawa Dwi, tatapan lembut Sinta, bahkan nasihat bijak orang tuanya—semua itu sekarang menjadi bahan bakar yang mengobarkan api balas dendam dalam dirinya.

Ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuhnya penuh dengan rintangan dan bahaya. Namun, ia juga tahu bahwa ia tidak bisa kembali ke masa lalu. Keluarganya sudah pergi, dan hidupnya kini hanya tersisa untuk membalas dendam.

Setibanya di sebuah pertemuan rahasia di salah satu sudut kota, Darma berkumpul dengan beberapa orang yang pernah menjadi bagian dari jaringan bawah tanah. Mereka, seperti dirinya, pernah dikhianati oleh sistem yang korup dan bersedia membantu dengan imbalan janji balas dendam terhadap mereka yang telah menyiksa banyak nyawa.

Di ruangan yang redup, Darma duduk bersama tokoh-tokoh yang mengenal dunia gelap itu dengan baik. Salah satu di antaranya, seorang mantan polisi bernama Hendra, berbicara dengan suara berat.

“Kau ingin Raden Wijaya? Dia bukanlah seorang penjahat kecil. Dia adalah raja di kerajaan bayang-bayang ini. Jika kau ingin mendekatinya, kau harus menyiapkan dirimu. Banyak orang telah mencoba, tapi hampir tak ada yang kembali hidup.”

Darma menatap Hendra dengan tatapan penuh tekad. “Aku sudah mencoba hidup tanpa mereka. Tapi dunia ini telah merenggut segalanya dariku. Aku tidak punya pilihan lain kecuali menghancurkan mereka semua, satu per satu.”

Percakapan itu berlangsung larut, dengan setiap orang menyampaikan informasi, peta, dan petunjuk tentang lokasi dan operasi Raden Wijaya. Darma mencatat setiap kata dengan hati-hati.

Di antara desas-desus, ada kabar bahwa suatu malam nanti akan ada pertemuan rahasia di gedung Menara Permata. Itulah kesempatan yang ditunggu-tunggu Darma.

Ia menghabiskan sisa hari itu dengan bersiap, memperkuat persenjataannya, dan memeriksa kembali semua peralatan—cerulit, shotgun, kostum tactical, dan tentu saja, liontin yang masih menggantung di lehernya. Liontin itu selalu mengingatkannya pada kasih sayang yang hilang, namun juga menjadi simbol janji yang harus ditepati.

Malam semakin larut ketika Darma akhirnya meninggalkan tempat pertemuan rahasia itu. Di perjalanan, hujan kembali turun, membasahi jalanan dan menciptakan suasana muram yang seakan menyatu dengan derita hatinya.

Di dalam mobil yang disewa dengan identitas palsu, Darma duduk sendirian, memandangi lampu-lampu kota yang berkilauan. Di balik kaca, bayang-bayang masa lalu terus menghantuinya.

Pikirannya melayang ke wajah-wajah keluarganya. Ia membayangkan Sinta yang selalu tersenyum hangat, Dwi yang riang, dan kedua orang tuanya yang penuh kebijaksanaan. Semua itu kini hanya tinggal kenangan.

Namun, di dalam hatinya, tekad itu semakin mengeras. Darma tahu bahwa setiap tetes darah yang telah ia tumpahkan harus dibalas dengan darah yang lebih banyak. Ia harus menemukan siapa dalang di balik semua ini.

Meski ia telah menghapus wajah ketiga preman itu dari dunia, pertanyaan tentang siapa yang menyuruh mereka terus menghantuinya. Informasi yang didapat dari Si Manto dan Laila hanyalah permulaan.

Darma membuka buku catatan kecil, tempat ia menuliskan setiap petunjuk, setiap nama, setiap alamat yang pernah ia dengar. Di sana tertulis ratusan nama—beberapa tidak berguna, namun ada juga yang mengarah pada Raden Wijaya.

Sambil menggelengkan kepala, Darma merasakan air mata kembali mengalir. Namun kali ini, air mata itu bukan hanya karena kesedihan, tetapi juga karena amarah yang menggebu-gebu.

“Hari ini, aku akan menemukan kebenaran. Aku akan menyusup ke dalam Menara Permata dan melihat sendiri siapa yang menyembunyikan kotoran ini,” tulisnya dengan tinta hitam, kemudian menandai satu nama dengan lingkaran merah.

Di akhir malam yang panjang itu, Darma mengunci bukunya dan menyimpan semua informasi ke dalam saku jaket tacticalnya. Ia tahu bahwa pagi esok akan menjadi awal dari babak baru—babak di mana ia akan menembus benteng kekuasaan yang selama ini melindungi Raden Wijaya.

Dengan wajah tegas yang terselip di balik bayang-bayang, ia memejamkan mata sejenak. Di antara keremangan, ia mendengar bisikan samar dari masa lalu: suara-suara yang pernah ia cintai, yang kini mengabarkan bahwa keadilan harus ditegakkan.

“Hidupku hanyalah bayang-bayang dari apa yang pernah ada. Tapi malam ini, aku mulai membangun masa depan. Aku akan menggali kebenaran hingga ke akar, dan jika perlu, aku akan menghapus semua noda kejahatan dari muka bumi.”

Darma membuka mata dengan tekad yang menyala-nyala. Ia menutup matanya kembali dan menarik napas panjang, siap untuk menghadapi bahaya yang menantinya di gedung Menara Permata.

Meski jalan di depan dipenuhi kegelapan dan bahaya, ia tahu satu hal: Darma tidak akan berhenti sampai keadilan tercapai.

Di balik segala luka dan derita, darah keluarganya telah menuliskan janji di dalam jiwanya—janji untuk terus mencari, bertanya, dan membalas dendam kepada setiap jiwa yang terlibat dalam kejahatan ini.

Perjalanan Darma masih panjang. Dan malam itu, di ruang sepi mobil sewaan, ia menatap ke arah cakrawala dengan mata penuh harapan dan amarah yang membara, menyadari bahwa setiap langkah yang diambilnya mendekatkannya kepada kebenaran yang selama ini tersembunyi.

Dunia mungkin telah hancur, tetapi dari reruntuhan itulah, Darma akan membangun kembali keadilan—meskipun harus melalui jalan penuh darah dan air mata.

Episodes
1 Hidup Yang Tenang
2 Kota Yang Sakit
3 Pagi Hari dengan luka
4 Permainan Kotor
5 Kecurigaan dan Kebahagiaan
6 Kehilangan Segala nya
7 Dendam Yang Mulai Tumbuh
8 Bayangan Dendam
9 Mencari Informasi
10 Penebusan di kota darah
11 Kepercayaan yang di uji
12 Mimpi Yang Berdarah
13 Jejak Akar Kebusukan
14 Menyusup Ke Menara Permata
15 Pertarungan Di Menara Pernata
16 Mengincar Target Berikutnya
17 Pembicaraan Di Warung Kopi
18 Malam Penyiksaan
19 Wajah Tanpa Identitas
20 Getaran Terror Di Kota Sentral Raya
21 Perburuan Di Mulai
22 Sebuah Kehangatan Sebelum membantai
23 Tempat Tinggal Baru
24 Terror Untuk Aparat Hukum
25 Sekutu Baru
26 Malam Di Rumah Rini
27 Kehangatan Rumah
28 Trik Licik Feny
29 Persiapan Adharma
30 Permainan yang mematikan
31 Cara yang Kotor dan Licik
32 Memihak Kebenaran atau Kebatilan?
33 Solusi dibalik Tali yang Tipis
34 Kecerdasan Feny
35 Pemain Baru
36 Pertemuan Di Persembunyian
37 Luka dalam permainan sebenarnya
38 Eksekusi Target Ke dua
39 Ledakan di villa
40 Berita Terbaru
41 Rencana Baru dan Kecurigaan
42 Siapa Cepat Dia Menang
43 Aksi Kejar Kejaran
44 Kekalahan Pertama Darma
45 Doni Dan Feny
46 Sebuah Blunder
47 Kehebohan Masyarakat
48 Bertahan dari Kematian
49 Kenangan Yang Menyakitkan
50 Buronan Baru
51 Duel Pemburuan
52 Kecerdasan Yang Mematikan
53 Nafas Terakhir Sang Penguasa
54 Rahasia yang terungkap
55 Akhir dari Penguasa
56 Sebuah Undangan
57 Masa Depan Baru
58 Di Balik Kebahagian Ada Ancaman Baru
59 Hukum yang harus di tegakan
60 Reaksi Sang Vigilante
61 Sisa Keluarga Damar Kusuma
62 Perasaan di malam perayaan
63 Darakala Si Pengacau
64 Mencari Informasi
65 Reaksi Kepolisian
66 Masa Lalu Darakala
67 Teringat Masa Lalu
68 Pertemuan Menegangkan
69 Perbandingan Antihero dan Superhero
70 Rencana Penyerangan
71 Kegagalan Feny
72 Mesin Pembunuh Beraksi
73 Respon Masyarakat
74 Emosi Yang Meledak
75 Siapa yang peduli ?
76 Ancaman Darakala
77 Sebuah Kecurigaan Di Rumah Sakit
78 Rahasia Natalia
79 Kebencian Adharma Semakin Dalam
80 Sebuah Ketegangan
81 Kepercayaan untuk masa depan
82 Sebuah Jebakan
83 Sebuah Bantuan yang tak terduga
84 Pembukaan pertempuran
85 Kekuatan yang Mulai Bangkit
86 Kekuasaan Yang Lebih Besar Lagi
87 Semua orang Mengkhawatirkan Sang Antihero
88 Kehangatan Berdua
89 Sebuah Konspirasi di balik kekuasaan
90 Tim Pencarian Darma
91 Sebuah Pemburuan dan Dilema
92 Sebuah Negosiasi yang beresiko
93 Dua Monster bekerja sama
94 Sebuah Perdebatan
95 Awal Penyerangan
96 Jordi Sang Pegulat
97 Skenario The Closer
98 Superhero yang lain
99 Kekacauan Di Hotel
100 Masih Satu Universe
101 Subjek Omega
102 Melarang Vigilantisme
103 Pengejaran Natalia
104 Rahasia Darakala
105 Persiapan Peledakan
106 Rencana Gila Rini
107 Ruangan yang mengerikan
108 Duo Monster Terdesak
109 Rasa Khawatir
110 Jadi Buronan Nasional
111 Kembali Bertemu
112 Perpisahan
113 Persembunyian Di hutan
114 Cerita Masa Lalu
115 Berita Mengejutkan
116 The Vault Bereaksi
117 Gerakan Pemberontak
118 Adharma Beraksi kembali
119 Jakarta Lebih memerah
120 Hal Tergila Darma
121 Superhero, Anti hero dan Villain bekerja sama
122 Pertempuran Tanpa Ampun
123 Awal Kehancuran Mikel Satria
124 Respon Semua orang
125 Adharma VS Mikel Satria
126 Akhir Pertarungan
127 Darma Sekarat
128 Introgasi The Closer Lebih Mengerikan dari Adharma
129 Seluruh Negeri Merespon
130 Sidang Mikel Satria
131 Aku Adalah Adharma...
132 Impian Natalia
133 Perpisahan di langit Fajar
134 Rencana Baru Darma
135 Pertemuan dengan Risa
136 Sebuah Tantangan Dari Khun
137 Curhatan Darma
138 Luka Yang Sama
139 Khun Berkhianat
140 Pertarungan Di Golden Loctus Club
141 Bayangan Stefani Adik Risa
142 Wei Long jadi Target pertama Darma
143 Suasana Kota Sentral Raya Tanpa Adharma
144 Pagi Hari yang Canggung
145 Pertemuan Darma dan Stefani
146 Darma Di Lumpuhkan
147 Fakta soal Stefani
148 Stefani dalam Dua Pilihan
149 Keputusan Stefani
150 Pertemuan Risa dan Stefani
151 Perpisahan Dengan Risa dan Stefani
152 Preecha
153 Darma VS The Chemist
154 Ketegangan di dalam pesawat
155 Tentara Bayaran
156 Terungkap nya Zhou
157 Motif The Warrior
158 Serang Dadakan Di Rumah Han Xun
159 Kekalahan Darma
160 Pengorbanan yang harus di balas
161 Penyiksaan yang Sangat menyakitkan
162 Tekad Darma yang sangat kuat
163 Adharma Mulai Bangkit Kembali !
164 Adharma vs Zhou
165 Kekuasaan bukan lah segala nya
166 Nyawa yang di selamatkan
167 Korupsi Level Internasional
168 Kemunculan Elite Global
169 Sebuah Langkah baru
170 Keputusan Darma
171 Adharma Akan Kembali
Episodes

Updated 171 Episodes

1
Hidup Yang Tenang
2
Kota Yang Sakit
3
Pagi Hari dengan luka
4
Permainan Kotor
5
Kecurigaan dan Kebahagiaan
6
Kehilangan Segala nya
7
Dendam Yang Mulai Tumbuh
8
Bayangan Dendam
9
Mencari Informasi
10
Penebusan di kota darah
11
Kepercayaan yang di uji
12
Mimpi Yang Berdarah
13
Jejak Akar Kebusukan
14
Menyusup Ke Menara Permata
15
Pertarungan Di Menara Pernata
16
Mengincar Target Berikutnya
17
Pembicaraan Di Warung Kopi
18
Malam Penyiksaan
19
Wajah Tanpa Identitas
20
Getaran Terror Di Kota Sentral Raya
21
Perburuan Di Mulai
22
Sebuah Kehangatan Sebelum membantai
23
Tempat Tinggal Baru
24
Terror Untuk Aparat Hukum
25
Sekutu Baru
26
Malam Di Rumah Rini
27
Kehangatan Rumah
28
Trik Licik Feny
29
Persiapan Adharma
30
Permainan yang mematikan
31
Cara yang Kotor dan Licik
32
Memihak Kebenaran atau Kebatilan?
33
Solusi dibalik Tali yang Tipis
34
Kecerdasan Feny
35
Pemain Baru
36
Pertemuan Di Persembunyian
37
Luka dalam permainan sebenarnya
38
Eksekusi Target Ke dua
39
Ledakan di villa
40
Berita Terbaru
41
Rencana Baru dan Kecurigaan
42
Siapa Cepat Dia Menang
43
Aksi Kejar Kejaran
44
Kekalahan Pertama Darma
45
Doni Dan Feny
46
Sebuah Blunder
47
Kehebohan Masyarakat
48
Bertahan dari Kematian
49
Kenangan Yang Menyakitkan
50
Buronan Baru
51
Duel Pemburuan
52
Kecerdasan Yang Mematikan
53
Nafas Terakhir Sang Penguasa
54
Rahasia yang terungkap
55
Akhir dari Penguasa
56
Sebuah Undangan
57
Masa Depan Baru
58
Di Balik Kebahagian Ada Ancaman Baru
59
Hukum yang harus di tegakan
60
Reaksi Sang Vigilante
61
Sisa Keluarga Damar Kusuma
62
Perasaan di malam perayaan
63
Darakala Si Pengacau
64
Mencari Informasi
65
Reaksi Kepolisian
66
Masa Lalu Darakala
67
Teringat Masa Lalu
68
Pertemuan Menegangkan
69
Perbandingan Antihero dan Superhero
70
Rencana Penyerangan
71
Kegagalan Feny
72
Mesin Pembunuh Beraksi
73
Respon Masyarakat
74
Emosi Yang Meledak
75
Siapa yang peduli ?
76
Ancaman Darakala
77
Sebuah Kecurigaan Di Rumah Sakit
78
Rahasia Natalia
79
Kebencian Adharma Semakin Dalam
80
Sebuah Ketegangan
81
Kepercayaan untuk masa depan
82
Sebuah Jebakan
83
Sebuah Bantuan yang tak terduga
84
Pembukaan pertempuran
85
Kekuatan yang Mulai Bangkit
86
Kekuasaan Yang Lebih Besar Lagi
87
Semua orang Mengkhawatirkan Sang Antihero
88
Kehangatan Berdua
89
Sebuah Konspirasi di balik kekuasaan
90
Tim Pencarian Darma
91
Sebuah Pemburuan dan Dilema
92
Sebuah Negosiasi yang beresiko
93
Dua Monster bekerja sama
94
Sebuah Perdebatan
95
Awal Penyerangan
96
Jordi Sang Pegulat
97
Skenario The Closer
98
Superhero yang lain
99
Kekacauan Di Hotel
100
Masih Satu Universe
101
Subjek Omega
102
Melarang Vigilantisme
103
Pengejaran Natalia
104
Rahasia Darakala
105
Persiapan Peledakan
106
Rencana Gila Rini
107
Ruangan yang mengerikan
108
Duo Monster Terdesak
109
Rasa Khawatir
110
Jadi Buronan Nasional
111
Kembali Bertemu
112
Perpisahan
113
Persembunyian Di hutan
114
Cerita Masa Lalu
115
Berita Mengejutkan
116
The Vault Bereaksi
117
Gerakan Pemberontak
118
Adharma Beraksi kembali
119
Jakarta Lebih memerah
120
Hal Tergila Darma
121
Superhero, Anti hero dan Villain bekerja sama
122
Pertempuran Tanpa Ampun
123
Awal Kehancuran Mikel Satria
124
Respon Semua orang
125
Adharma VS Mikel Satria
126
Akhir Pertarungan
127
Darma Sekarat
128
Introgasi The Closer Lebih Mengerikan dari Adharma
129
Seluruh Negeri Merespon
130
Sidang Mikel Satria
131
Aku Adalah Adharma...
132
Impian Natalia
133
Perpisahan di langit Fajar
134
Rencana Baru Darma
135
Pertemuan dengan Risa
136
Sebuah Tantangan Dari Khun
137
Curhatan Darma
138
Luka Yang Sama
139
Khun Berkhianat
140
Pertarungan Di Golden Loctus Club
141
Bayangan Stefani Adik Risa
142
Wei Long jadi Target pertama Darma
143
Suasana Kota Sentral Raya Tanpa Adharma
144
Pagi Hari yang Canggung
145
Pertemuan Darma dan Stefani
146
Darma Di Lumpuhkan
147
Fakta soal Stefani
148
Stefani dalam Dua Pilihan
149
Keputusan Stefani
150
Pertemuan Risa dan Stefani
151
Perpisahan Dengan Risa dan Stefani
152
Preecha
153
Darma VS The Chemist
154
Ketegangan di dalam pesawat
155
Tentara Bayaran
156
Terungkap nya Zhou
157
Motif The Warrior
158
Serang Dadakan Di Rumah Han Xun
159
Kekalahan Darma
160
Pengorbanan yang harus di balas
161
Penyiksaan yang Sangat menyakitkan
162
Tekad Darma yang sangat kuat
163
Adharma Mulai Bangkit Kembali !
164
Adharma vs Zhou
165
Kekuasaan bukan lah segala nya
166
Nyawa yang di selamatkan
167
Korupsi Level Internasional
168
Kemunculan Elite Global
169
Sebuah Langkah baru
170
Keputusan Darma
171
Adharma Akan Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!