Malam hari begitu tenang. Tak jauh berbeda dengan siang tadi. Suara jangkrik dan beberapa hewan malam jelas sekali terdengar.
Memekakkan namun juga menenangkan.
Pandangan Arga melayang pada langit-langit kamar yang kosong. Teringat akan ucapan Laras tadi siang saat di kebun.
Hari pertamanya, mereka tidak diterima kedatangannya oleh gadis itu. Entah apa sebabnya.
Ctuk'
Arga tersadar dari lamunannya saat Cantika menjentikkan jarinya didepan mata lelaki itu.
Cantika Jelita
Ngapain bengong?
Argantara Dewangga
[Bangkit, duduk di bibir ranjang.]
Argantara Dewangga
Can, menurut Lo ada yang ngga terima kedatangan kita di desa ini?
Cantika Jelita
Tiba-tiba banget? Kenapa? Ada yang bilang?
Argantara Dewangga
Laras.
Cantika Jelita
Laras?
Argantara Dewangga
Gue ketemu dia di kebun pas jalan sendirian tadi. Dia sendiri yang bilang ngga mau kita KKN disini.
Cantika Jelita
Alasannya? Dia ada kasih tau ke Lo?
Argantara Dewangga
[Menggeleng pelan.]
Cantika Jelita
Haish, hari pertama juga.
Tak ingin pusing, Arga memilih mengganti topik mereka.
Argantara Dewangga
Gimana sama program kita? Alby udah kasih tahu ke warga?
Cantika Jelita
[Bergidik bahu.]
Dia ngga bisa diandelin.
Argantara Dewangga
Dimana Alby sekarang? Gue harus tanyain soal ini ke dia.
[Bangkit dari ranjang, berdiri.]
Cantika Jelita
Entahlah, sama Laras, maybe.
[Roll eyes.]
Keduanya berjalan beriringan menuju pintu keluar. Mereka mendapati Fahmi, Dhika, Tasya, Fauza, Alby dan Laras duduk di teras rumah pak Kades.
Tepat didepan rumah tempat mereka akan menginap.
Tatapan Arga langsung bertemu dengan Laras, gadis itu tersenyum manis padanya. Lalu sesaat membuang muka.
Argantara Dewangga
“Apaan dia?”
[Menautkan alis.]
Wajahnya tersenyum, namun Arga sadari tatapan gadis itu begitu membenci mereka. Bahkan saat ia menatap Alby, Arga yakin itu tatapan yang sama.
Argantara Dewangga
“Kasian Alby malah kesemsem sama dia.”
[Duduk di sebelah Pak Kades.]
Argantara Dewangga
Malam, Pak.
Pak Kades [Djoko]
[Membalas dengan senyuman.]
Pak Kades [Djoko]
Ada yang ingin kamu tanyakan?
Seolah tahu, Pak Kades malah menanyakan itu pada Arga. Arga terdiam sejenak hingga kembali membuka suara, tatapannya tertuju pada Laras yang memeluk lututnya sendiri dan duduk di sebelah Alby. Tanpa tersenyum.
Argantara Dewangga
Kedatangan kami disini diterima baik oleh masyarakat atau tidak, Pak?
Pak Kades diam sejenak, lalu kembali menatap pemuda itu.
Pak Kades [Djoko]
Kamu bicara soal Laras?
Argantara Dewangga
[Mengangguk pelan.]
Pak Kades [Djoko]
[Beralih duduk bersandar pada kursi.]
Pak Kades [Djoko]
Ingat peraturan desa yang Bapak sampaikan pada kalian tadi siang?
Argantara Dewangga
[Mengangguk.]
Ingat, Pak.
Pak Kades [Djoko]
Sebutkan.
Argantara Dewangga
'Jangan mengganggu gadis-gadis desa, bahkan mendekati mereka pun tidak boleh.'
Pak Kades [Djoko]
Kamu tahu kenapa Bapak suruh mematuhi aturan seperti itu?
Pak Kades [Djoko]
Yang bahkan asing sekali bagi kalian yang berada di kota-kota besar?
Angin malam berhembus dengan tenang. Laras bergeser sedikit demi sedikit menjauhi Alby, namun Alby tetep kukuh duduk di dekatnya.
Semuanya tak lepas dari pandangan Arga dan Pak Kades, lantas mereka menatap langit berbintang pada malam itu.
Pak Kades [Djoko]
Kalau kalian bisa melakukan itu dan bikin Laras percaya, Bapak yakin Laras sendiri yang akan mengatakannya pada kalian.
Pak Kades [Djoko]
Kamu harus sabar, lanjutkan saja program kerja kalian disini. Jangan hiraukan Laras.
Pak Kades [Djoko]
Asalkan ingat satu peraturan tidak tertulis itu, maka kalian bisa tetap KKN disini.
Arga masih tidak begitu mengerti, namun ia menganggukkan kepalanya seolah paham. Meski sedikit, intinya gadis desa ini tak boleh disentuh atau mereka akan diusir.
Itu satu-satunya yang dapat ditangkap oleh Arga.
Atensinya masih tak luput dari Laras yang tiba-tiba saja bangkit dan pamit kepada Alby, lalu menghampiri Pak Kades untuk pamit.
Lagi, tatapan mereka bertemu.
Larasati Fauziah
[Mengalihkan pandangan.]
Laras harus pulang, Pak. Selamat malam.
Comments