Wanita itu telah berkali-kali berteriak dari lantai bawah, berharap sang anak akan terbangun oleh panggilannya, namun usahanya sia-sia sejak 30 menit yang lalu.
Gadis dengan rambut dikuncir kuda itu berdecak sebal lantas bangkit dari kursi tempatnya duduk dan pergi menuju tangga.
Intan Permata Mutiara
Kebo! Tidur aja kerjanya. Kapan kaya kalau gini terus?
[Berkacak pinggang, cemberut.]
Argantara Dewangga
Udah kaya, jangan nambah pusing, Lo.
[Menenteng handuk di pundak, turun dari tangga dan melewati sang adik.]
Argantara Dewangga
Morning, Ma.
Tania Mahadewi
Kamu ini, udah mau jam tujuh masih aja mikir buat tidur. Sana mandi!
Wanita itu terlalu sibuk dengan bekal putranya hingga tak memperhatikan raut datar sang anak.
Pemuda bernama Arga itu melengos pergi ke kamar mandi. Tak lama setelahnya pergi, seorang pria dengan setelan rapi duduk di meja makan.
Tania Mahadewi
Ini punya Papa, ini punya Arga. Lalu ini punya Intan. Awas, jangan sampe ketuker.
Ting'
Sontak ketiganya menoleh pada arah pintu depan. Ada yang membunyikan bel rumah.
Argantara Dewangga
Suruh mereka nunggu, Dek!
[Menyahut dari kamar mandi.]
Intan Permata Mutiara
Ish, dasar beban. Pasti Lo yang terakhir! Gue taruhan 50 ribu!
[Bangkit lagi dari kursi dan melengos pergi.]
Argantara Dewangga
100 ribu kalau gue kalah!
[Sahur dari kamar mandi.]
Intan Permata Mutiara
Kets, dong! Lo udah janji!
[Sahut dari depan, lalu membuka pintu.]
Argantara Dewangga
Curang!
Tania dan Raga bersitatap satu sama lain, lantas tersenyum tipis seraya geleng-geleng kepala.
Di depan, Intan menyambut beberapa pemuda yang datang dan melengos masuk begitu saja sebelum ia izinkan.
Intan Permata Mutiara
Sama aja.
[Roll eyes, lalu kembali ke belakang.]
Setibanya di meja makan, Intan mendapati kursinya telah diduduki oleh seseorang yang dengan tidak tahu malu juga ikut sarapan bersama Mama dan Papanya.
Tak ingin memperpanjang masalah, Intan memilih duduk di sisi bangku yang lain. Meski ia harus berhadapan dengan Fahmi sekarang.
Gadis itu berusaha sekuat mungkin menahan senyumnya, meski begitu ia sadar tak akan begitu berpengaruh. Pipinya memerah, Intan dapat merasakan panas di pipi dan telinganya dan itu pasti memerah!
Fahmi tak melepas pandangannya dari Intan. Intan mengelak.
Ceklek'
Argantara Dewangga
Masih pagi, Wan.
[Menggantung handuk di leher.]
Arga melihat sekitarnya. Menatap satu-persatu dari temannya yang datang.
Argantara Dewangga
Alby mana?
Andhika Diaksara
Udah duluan.
Argantara Dewangga
Katanya mau barengan.
Andhika Diaksara
Ngga tau tuh. Kepepet pulang kampung. Katanya ketemuan disana aja nanti.
Argantara Dewangga
Lo tau jalannya?
Andhika Diaksara
[Geleng kepala.]
Argantara Dewangga
[Tepuk jidat.]
Fahmi Kurniawan
Kan di share lock sama si Alby. Easy itu, selama kita ngga buta map.
Andhika Diaksara
Daerah pedesaan pake google map? Nyasar ke hutan iya kali.
Fahmi Kurniawan
Eits, tenang aja. Google gue udah up to date alias update. Sans.
Argantara Dewangga
Fauza, Cantika gimana?
Andhika Diaksara
Jemput katanya.
Fahmi Kurniawan
Tasya ngga Lo tanyain?
Intan Permata Mutiara
Heh! Ngga usah sebut nama babi jelek itu lagi! Jijik gue liat dia godain Arga mulu!
Fahmi Kurniawan
Iyain. Arga Lo ganteng, gue mah apaan? Hidup aja udah bersyukur.
[Memegang dada dramatis.]
Comments