Arga, Fahmi beserta Dhika telah menyelesaikan tugas mereka membantu memperbaiki pipa air yang bocor di rumah Laras.
Sudah jam setengah 10, mereka duduk beristirahat sejenak di teras rumah.
Laras sendiri tidak terlalu peduli jika mereka duduk lesehan di lantai teras meski ada kursi disana, bersyukur Bapak pergi dan Dean setia mengikuti Bapak.
Laras memperhatikan mereka dari dalam, berdiri di depan jendela dan menatap satu-persatu pemuda itu.
Mereka asik berbicara satu sama lain, tak peduli berada dimana saat ini.
“Laras, kalau ada tamu, jangan biarin mereka duduk diluar, apalagi lesehan. Bawa masuk, paling kurang sediakan air untuk mereka.”
Laras tiba-tiba teringat ucapan Ibu padanya beberapa hari yang lalu.
Larasati Fauziah
“Mungkin..”
[Berbalik.]
Beberapa saat kemudian, Laras menghampiri mereka dengan 3 gelas air putih dan sekotak kecil cemilan. Ia suguhkan diatas meja.
Kompak ketiga pemuda itu menatapnya.
Larasati Fauziah
Silahkan diminum.
[Lalu berbalik dan masuk kedalam.]
Fahmi Kurniawan
Gue kira ngga ada cemilan, coy.
[Bangkit, lalu menuju meja dan mengambil kue.]
Andhika Diaksara
Mayan, gue juga haus. Nyaris gue mikirnya ngga ada aer disini.
[2in.]
Argantara Dewangga
“???”
[3in, lalu melirik ke pintu.]
Larasati Fauziah
“...”
[Mengintip, menatap balik Arga.]
Argantara Dewangga
[Tersenyum tipis, lalu duduk di kursi.]
Larasati Fauziah
“???”
[Melirik Arga yang duduk di kursi.]
Larasati Fauziah
[Mengalihkan pandangan dan kembali masuk.]
***
Tap tap tap..
Tanasya Anggraini
Good job, semua. Kalian pada pinter-pinter deh~
Tanasya Anggraini
Nih, satu-satu, yaa.
[Membagikan satu bintang pada setiap anak.]
Tanasya Anggraini
[Tanpa sengaja menoleh.]
Argaaa!
Argantara Dewangga
Gimana belajarnya?
[Tidak menghiraukan Tasya.]
Cantika Jelita
Mayan, rata-rata mereka semua udah bisa baca.
[Bangkit dari duduknya.]
Fauza Sandria
Join, Wan, Ka.
Fahmi Kurniawan
Bang Fahmi ganteng datang, students.
[Ikut lesehan di lantai.]
“Namanya siapa, Kak?”
Fauza Sandria
Iwan, panggil Bang Iwan, ya?
“Bang Iwan?”
Fauza Sandria
Iya, kamu panggilnya Bang Iwan.
Fahmi Kurniawan
Fahmi, Zaa.
[Menatap sinis Fauza, tidak terima.]
Andhika Diaksara
Iwan cocok.
[Ikut lesehan di sebelah Fauza.]
Fahmi Kurniawan
Iyain.
[Tersenyum tipis.]
Beberapa anak-anak lain tanpa sengaja ikut melihat gadis dengan rambut merah dan dress itu.
Mereka tertawa riang dan berlari menghampirinya. Mendadak rumah belajar menjadi kosong karena anak-anak pergi keluar.
Argantara Dewangga
[Memperhatikan Laras dari pintu dengan senyuman kecil.]
“Mbak Laras!”
Anak-anak itu berkerumun di sekitar Laras. Laras berlutut menyamakan tingginya dengan mereka, juga tersenyum dengan hangat.
“Mbak, Cici udah bisa hitung 1 sampai 200!”
“Agung bisa perkalian 2, Mbak!”
“Mayang dapat 5 bintang dari Kak Uja, Mbak!”
Laras mengelus pucuk kepala mereka satu-persatu. Memberikan banyak pujian yang membuat anak-anak itu bergembira.
Larasati Fauziah
Rajin-rajin belajar, ya? Supaya bisa banggain kedua orang tua nanti.
“Mayang mau sekolah di tempat yang sama kayak Mbak.”
Larasati Fauziah
Mayang pasti bisa asalkan belajar yang raajiin. Asalkan ada usaha, apapun itu pasti Tuhan kabulkan.
Larasati Fauziah
Kalian semua juga, jangan mudah menyerah dan tetap menuntut ilmu, ya?
Anak-anak itu kompak menjawab 'Iyaa' dengan bersorak.
Setelahnya Laras meminta mereka untuk kembali kedalam rumah belajar dan kembali belajar. Lantas pergi dari sana karena telah mengantarkan Arga, Fahmi dan Dhika.
Arga tidak ada keperluan di rumah belajar, lantas kembali mengikuti gadis itu seperti hari-hari biasanya.
Argantara Dewangga
Lo terkenal disini rupanya, kayak kembang desa.
Larasati Fauziah
[Tidak menghiraukan, tersenyum sesekali pada warga yang ditemuinya.]
Comments