Desa Tamansari. Disana mereka turun dari mobil pick up yang mereka tumpangi setelah perjalanan selama 30 menit lebih lamanya.
Beberapa ada yang meregangkan badan mereka karena pegal, ada juga yang sibuk mencari internet sejak tadi, ada juga yang masih manja ada juga yang risih karena si manja.
Seseorang yang terlihat tidak asing berjalan mendekati mereka bersama seorang gadis dengan dress putih bercorak dedaunan hijau kecil. Lengan baju yang panjangnya se sikut dengan rambutnya kemerahan yang dikepang dan ditaruh di sebelah kanan depan.
Dia tersenyum dengan hangat kepada pendatang baru di desa.
Di belakangnya juga ada bapak-bapak dengan pakaian coklat khas bergaris, juga mengenakan blangkon bewarna senada dengan bajunya. Dia juga tersenyum pada mereka.
Pak Kades [Djoko]
Selamat datang, Saya sudah dengar dari Alby bahwa kalian akan KKN disini.
Pak Kades [Djoko]
Selamat datang di Desa Tamansari, Saya Djoko selaku Kepala Desa ingin secara langsung menyambut kedatangan kalian.
Mereka semua memberi salam dengan hormat. Setelahnya ketujuh remaja itu ditambah dengan Alby dan seorang gadis di sebelahnya mengikut langkah Pak Kades menuju balai desa.
Sepanjang perjalanan mereka disuguhkan dengan banyaknya pematang sawah hingga jauh ke ujung sana. Diujungnya terdapat sebuah perbukitan yang terlihat bewarna biru karena kontras.
Di sisi lain mereka juga melihat padang rerumputan yang luas, beberapa ekor sapi dan kambing mencari makan disana.
Ada juga Ayam yang menjaga keluarganya, berjalan terkadang juga berlari menghindari kejaran dari kucing dan anjing yang iseng dan penasaran pada sekelompok bulu berjalan itu.
Jam 9 tepat mereka tiba disana, namun udara masih terasa sangat segar dan sejuk.
Fahmi Kurniawan
Psstt..
Albyan Saputra
Hm?
[Menoleh.]
Fahmi Kurniawan
Cewek di sebelah Lo, kenalin ke gue dong.
Albyan Saputra
Big No. Dia udah ada yang punya, Lo ngga bakalan ada kesempatan.
Fahmi Kurniawan
Beuh, mentang si anak kades. Songong lu yew.
Beberapa saat berjalan mereka tiba di balai desa. Sebuah bangunan yang terlihat sederhana namun berkesan terletak disana.
Mereka dibawa masuk oleh Djoko, namun gadis yang mengiringi mereka berjalan bersama Alby tiba-tiba bersuara.
Larasati Fauziah
Laras mau balik dulu, Pak. Laras udah ada janji sama Ibu bantuin manen jagung di kebun, Pak.
Pak Kades [Djoko]
Nggih, ngga papa. Kamu lanjut aja.
Larasati Fauziah
Permisi, semua.
[Permisi dengan sopan lalu melenggang pergi.]
Fahmi Kurniawan
Namanya Laras.
[Bisik ke Arga.]
Argantara Dewangga
Gue juga tau.
[Memandangi punggung Laras yang mulai menjauh.]
Atensi mereka fokus pada gadis yang mulai menghilang itu. Aroma segar yang keluar dari tubuhnya benar-benar menenangkan.
Seperti aroma bunga yang jarang ditemui di kota-kota besar tempat mereka berada karena banyak yang kurang menyukainya.
Aroma lavender.
Cantika Jelita
Gue jarang ketemu anak di kota pake parfum aroma itu. Ngga nyangka ternyata wangi juga.
Fauza Sandria
Kita coba beli di olshop? Minta anter kesini. Pasti ngga jauh beda.
Albyan Saputra
Beda, lah. Beda banget.
Albyan Saputra
Laras tuh bisa racik parfum sendiri, ngga ada yang jual.
Albyan Saputra
Lo bisa minta aja ke dia langsung, rumahnya ngga jauh dari sini.
Fauza Sandria
Tapi katanya mau ke kebun jagung, ya?
Albyan Saputra
Nanti kita kesana buat bantuin, sekalian ngenalin program kita. Banyak yang kerja di kebunnya.
Cantika Jelita
Dia yang punya?
Albyan Saputra
Almarhum bapaknya yang punya. Yaa, bisa dibilang punya dia sih sekarang.
Fahmi Kurniawan
Wah, kaya dong.
Pak Kades [Djoko]
Udah, ayo masuk. Kita bicara sebentar baru nanti kalian bisa susul Laras ke kebun.
Pak Kades [Djoko]
Bapak mau menyampaikan beberapa aturan desa pada kalian supaya masyarakat bisa menerima kalian disini.
Albyan Saputra
Desa gue warganya terlalu parnoan, maklum aja, yaa.
[Bisik pelan, masuk kedalam.]
Sisanya mengikuti Alby dari belakang memikirkan bangunan itu.
Comments