04

***
Larasati Fauziah
Larasati Fauziah
Pak! Ibu minta karung lagi!
Wisnu Wirayudha
Wisnu Wirayudha
Ini, disini! Kasih ke Simbok, Yan. [Memberikan karung pada Dean.]
Deandra Fikra
Deandra Fikra
Bentar, Mbak! [Berlari membawa 2 helai karung.]
Tap tap tap—
Hap-!
Deandra Fikra
Deandra Fikra
Haa! Mas Alby!!
Albyan Saputra
Albyan Saputra
[Menangkap Dean tiba-tiba.]
Albyan Saputra
Albyan Saputra
Hehe, lagian Lo lari-larian. Nanti jatoh luka lagi. [Melepaskan Dean.]
Deandra Fikra
Deandra Fikra
Mbak sama Ibu minta karung, Mas. Bantuin gih. [Memberikan karung ke Alby, lalu melengos pergi.]
Cantika Jelita
Cantika Jelita
Siapa, Al?
Albyan Saputra
Albyan Saputra
Adeknya Laras, Dean namanya. Yok cepetan. [Memimpin jalan.]
Tap tap tap..
Larasati Fauziah
Larasati Fauziah
Yan— [Berbalik, lalu terdiam.]
Larasati Fauziah
Larasati Fauziah
Mas Alby? Ngapain ke kebun, Mas?
Albyan Saputra
Albyan Saputra
Kami mau bantu-bantu juga. [Mengulurkan karung ke Laras.]
Larasati Fauziah
Larasati Fauziah
[Menerima uluran Alby, lalu membuka karung.]
Larasati Fauziah
Larasati Fauziah
Masuk sini, Bu.
Rani Sri Jaya
Rani Sri Jaya
[Berbalik.] Opo iki? Rame banget.
Albyan Saputra
Albyan Saputra
Al sama temen-temen mau bantu-bantu disini, Bu. Boleh?
Rani Sri Jaya
Rani Sri Jaya
Ya jelas boleh, silahkan. Nanti ambil bagian kalian sama Bapak.
Albyan Saputra
Albyan Saputra
Bapak dimana, Bu?
Rani Sri Jaya
Rani Sri Jaya
Tuh, lagi nangkring dibawah pohon. Paling makan jambu sama Dean.
Albyan Saputra
Albyan Saputra
Asik, duluan, Bu. [Menyusul Dean dan Wisnu.]
Argantara Dewangga
Argantara Dewangga
Yaelah, kita ditinggal ama ni bocah.
Tanasya Anggraini
Tanasya Anggraini
Terus kita ngapain dong? Panas nihh. [Mepet di Cantika.]
Cantika Jelita
Cantika Jelita
Gerah, Syaaa! [Menjauh.]
Larasati Fauziah
Larasati Fauziah
Kalian bisa duduk dan istirahat di pondok. Pasti capek, ya? Mari, saya antar. [Memimpin jalan.]
Larasati Fauziah
Larasati Fauziah
Laras tinggal bentar, Bu.
Rani Sri Jaya
Rani Sri Jaya
Iyoo, cepetan balik.
Larasati Fauziah
Larasati Fauziah
[Mengangguk pelan lalu lanjut jalan.]
Laras memimpin jalan remaja itu melewati kebunnya menuju pondok tempat biasanya ia dan Ibu beristirahat.
Setibanya, beberapa dari mereka berterima kasih pada Laras dan Laras membalas dengan senyuman lembut. Lalu pergi dari sana.
Cantika Jelita
Cantika Jelita
Sianjir, hari pertama udah ngga guna. Ngenalin program aja belum.
Fauza Sandria
Fauza Sandria
Alby bilang rame di kebun, kok yang ada cuma Laras tadi, Ibu, adeknya sama bapaknya doang?
Andhika Diaksara
Andhika Diaksara
Udah pulang kali.
Argantara Dewangga
Argantara Dewangga
[Bangkit dari duduknya.]
Fahmi Kurniawan
Fahmi Kurniawan
Mau kemana, Ga?
Argantara Dewangga
Argantara Dewangga
Jalan-jalan bentar. Gue bosen duduk terus. [Melengos pergi.]
Tanasya Anggraini
Tanasya Anggraini
Ikuuttt—
Cantika Jelita
Cantika Jelita
Big NO! Udah diem aja sana jadi beban. [Menahan lengan Tasya dan menyuruhnya duduk.]
Arga memilih berkeliling guna mengurangi rasa jenuh. Tak ada yang bisa mereka lakukan karena masih belum terbiasa.
Si (yang katanya akan menjadi) pemandu justru keluyuran meninggalkan mereka di tempat yang mereka tidak kenali.
Arga putus berharap pada teman-temannya. Tak ada satupun diantara mereka yang beres.
Beberapa saat berjalan, Arga kembali bertemu dengan gadis yang mengenakan dress putih serta rambut merah yang dikepang itu.
Gadis itu tampak menarik dari penampilannya. Rambutnya yang merah tampak seperti di semir, padahal memang asli. Arga yakin itu.
Kulitnya yang bersih seputih susu, juga aromanya yang tertinggal dimana ia melewatinya.
Aroma Lavender. Entah kenapa Arga tiba-tiba merasa menyukai aroma itu.
Laras mendengar suara langkah kaki mendekat, lantas berbalik.
Argantara Dewangga
Argantara Dewangga
Kenapa?
Laras tidak menjawab melainkan berbalik dan menatap tanah. Arga penasaran lantas memiringkan kepalanya dan ikut melihat.
Sebuah ular yang sekarat berada di hadapan gadis itu. Arga cemas sesaat jika saja ular itu mematuknya.
Arga ingin menolongnya, namun gadis itu melewati ular itu begitu saja.
Argantara Dewangga
Argantara Dewangga
Ngga dibunuh?
Larasati Fauziah
Larasati Fauziah
Kalau ngga ada ular, jagungnya bisa habis dimakan tikus atau yang lain. Biarin aja.
Argantara Dewangga
Argantara Dewangga
Kalau nanti dia matok orang?
Larasati Fauziah
Larasati Fauziah
Udah sekarat, dia bisa apa?
Arga terdiam mendengarnya.
Arga tak berpikir sama sekali berbicara dengan gadis itu. Tak menyangka dia begitu.. Dingin.
Bahkan gadis itu tak meliriknya, tak memberikan senyuman manis yang hangat seperti yang ia tunjukkan beberapa saat yang lalu.
Tiba-tiba langkah kakinya terhenti, lalu kemudian gadis itu berbalik dan menatapnya dengan tajam.
Larasati Fauziah
Larasati Fauziah
Saya menentang kalian KKN disini.
Argantara Dewangga
Argantara Dewangga
“...”
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!