Paman Tampan

"Papa belum ke perusahaan?" Alena yang baru saja sampai di ruang makan cukup terkejut melihat pria paruh baya yang sedang duduk sambil membaca koran pagi.

Pria bersurai hitam dengan beberapa uban mulai terlihat itu melipat korannya, menatap putrinya yang tampak santai dengan kaos putih lengan panjang dan celana jins.

"Papa ingin libur hari ini. Di mana Alexa?" Vincent mengerutkan kening saat satu anak gadisnya tidak menampilkan diri.

"Selamat pagi, Paman!" Wanita yang baru saja ditanyakan muncul, tersenyum lebar seraya melambai riang. Alexa duduk di kursi tepat di sebelah Alena.

"Nah, kalau sudah kumpul semua, ayo mulai sarapannya! Kita akan melanjutkan obrolannya nanti." Serra bertepuk tangan sekali, membuat Vincent yang ingin mengatakan sesuatu pada anak-anak perempuannya jadi terhenti.

Aturan nomor satu di meja makan, tidak boleh mengobrol apalagi sambil pegang ponsel. Alexa sudah sangat terbiasa dengan keheningan yang terjadi, hanya terdengar dentingan pisau dan piring di ruangan itu.

Seharusnya dentingan sendok pun tidak boleh terdengar, itu yang diajarkan Marie kepada Alena dan Alexa. Meski tentu saja tidak semua orang bisa melakukan segalanya dengan sempurna. Diam-diam Alexa mengulum senyum, merasakan helaan napas panjang dari pengasuh yang berdiri tidak jauh.

Alena tidak pernah bisa menggunakan pisau dengan benar, setidaknya menurut Marie. Kalau orang asing melihat cara wanita itu duduk dan makan, mereka akan bilang bahwa Alena sangat elegan, seperti putri bangsawan, tapi nyatanya wanita itu selalu mendapat nilai rendah di pelajaran tata kramanya.

Alexa sendiri tidak mengerti apa yang salah dari tidak bisa menggunakan pisau dengan benar. Wanita itu hanya mengerti bahwa ketika mereka di rumah, tugasnya-lah dalam membantu Alena memotong makanannya.

Alexa mendekatkan piringnya pada Alena, membuat wanita yang masih berjuang untuk memotong sandwich itu segera menoleh, tersenyum kikuk sebelum memberikan piringnya pada Alexa dan mengambil piring yang Alexa sodorkan.

Kalau sedang di luar, mereka tidak pernah menggunakan pisau dan garpu untuk makan sandwich, biasanya langsung dipegang dengan tangan dan memasukkannya ke mulut tanpa repot memenuhi tata krama di meja makan.

"Permisi, Tuan, Nyonya."

Vincent menoleh, menatap tajam pada seorang pria yang datang menginterupsi.

"Maaf atas ketidaksopanan saya, tapi ada yang datang dan meminta izin untuk bertemu. Beliau bilang sudah ada janji dengan Tuan hari ini," ucap pelayan itu seraya menunduk, suaranya terdengar bergetar.

Vincent mengerutkan kening, seingatnya hari ini jadwalnya kosong. Apa ia salah?

"Siapa namanya?"

"Edgar Emilio Grissham, Tuan."

"Ah, benar, aku punya janji dengannya." Vincent menghela napas, padahal hari ini harusnya ia berkumpul dan mengobrol dengan keluarga kecilnya, apalagi saat dua anak perempuannya juga pulang.

"Selesaikan dulu sarapannya," ucap Serra, tangannya mengusap lembut tangan suaminya, menenangkan. "Siapkan minum dan camilan untuk tamu kita," perintahnya pada pelayan di sudut ruangan.

"Grissham? Kenapa nama belakangnya sama dengan si jelek--maksudku Tuan Raymond?" Alexa tidak tahan untuk bertanya sejak mendegar nama yang tidak asing. Meski lebih dikenal sebagai Raymond Devano, tapi nama lengkap lawan mainnya itu adalah Raymond Grissham Devano, tapi karena terlalu panjang, jadi hanya diambil dua kata untuk nama panggungnya.

Semua orang di ruangan itu langsung menoleh, memberikan tatapan seolah Alexa adalah makhluk luar angkasa.

"Kau benar-benar tidak tahu atau pura-pura bodoh?"

"Alena," panggil Serra pelan saat mendengar kata 'bodoh' keluar dari mulut putrinya, di meja makan dan di depan orang tua.

"Maaf."

'Haa ... aku ingin kembali ke apartement.' Alena membatin sedih, merindukan tempat di mana ia bisa bebas mengatakan dan melakukan apa saja.

"Memangnya dia siapa?" Alexa kembali bertanya, menahan diri untuk tidak menertawakan penderitaan Alena.

Di antara mereka hanya Alexa yang memiliki kemampuan akting luar biasa. Wanita itu bisa tersenyum lembut, berkata sopan dan bersikap anggun sepanjang hari meski tidak menyukainya.

Berbeda dengan Alena yang kadang tidak tahan dan kelepasan, membuatnya ditegur dengan senyuman oleh Serra.

"Pertama, Bibi tidak tahu kenapa kau mengatakan pria setampan Raymond itu jelek, tapi Edgar Emilio Grissham adalah ayahnya. Bukankah kau yang berkecimpung di dunia entertain harusnya lebih tahu? Semua orang pasti ingin menarik perhatian pemuda itu, kan?"

"Keluarga Grissham juga tidak asing lagi di dunia bisnis. Mereka selalu menguasai pasar internasional dengan berbagai produk kecantikan dan brand fashion mereka. Hingga sekarang masih menjadi nomor satu dan merupakan saingan berat perusahaan Valisha." Vincent ikut menjelaskan, tersenyum kecil ketika mengingat api yang berkobar di mata adiknya melihat prestasi perusahaan saingannya.

Alexa membulatkan bibir. Sekarang bertambah satu lagi alasan ia tidak bisa akur atau menyukai aktor sok tampan itu. Perusahaan orang tua mereka bersaing ketat, tentu saja tidak ada alasan bagi dua pewarisnya untuk menjadi dekat.

"Baiklah, aku akan langsung ke ruang tamu." Vincent meletakkan pisau dan garpunya di sisi piring, mengambil sapu tangan yang terletak di sebelah kanan piring dan mengelap mulutnya dengan gerakan teratur.

'Butuh pengalaman selama puluhan tahun untuk memiliki gerakan sempurna seperti itu,' batin Alena dan Alexa bersamaan. Netra dua wanita itu mengikuti gerak Vincent sampai pria paruh baya itu keluar dari ruang makan setelah mengecup singkat kening Serra.

"Apa aku boleh melihatnya? Aku ingin tahu seperti apa ayah dari seseorang yang mendapat julukan sebagai pria terseksi," ucap Alexa seraya meletakkan peralatan makannya juga.

"Aku juga mau lihat!" Alena berujar cepat, dentingan pisau dan garpunya saat wanita itu meletakkan dengan sedikit asal terdengar cukup keras, membuat netranya langsung membulat sempurna.

"Haah ... ya sudah sana, tapi jangan mengganggu obrolan mereka," ucap Serra setelah menghela napas panjang, tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk memperbaiki sikap kasar putrinya.

Alena terkekeh pelan, menggaruk kepala, sedikit kikuk. Apalagi setelah menerima tatapan setajam pisau dari pengasuh sekaligus gurunya.

Dua wanita itu meninggalkan ruang makan setelah berjanji tidak akan membuat keributan.

"Sebenarnya aku masih lapar, sandwich tidak membuat perutku terganjal sama sekali." Alena berbisik, bibirnya merengut dengan jatah makan pagi yang tidak sesuai porsinya.

"Sepertinya kita terlalu lama tinggal di Indonesia," ucap Alexa seraya mengusap perutnya sendiri, membenarkan perkataan Alena tentang betapa tidak mengganjalnya sepotong sandwich. Mereka pernah belajar di Indonesia selama dua tahun, dan kebiasaan yang didapat di negara itu masih dibawa hingga kini.

Terdengar suara dua orang yang tengah mengobrol. Alena dan Alexa menghentikan langkahnya, menatap pada dua pria yang sedang bicara dengan ekspresi serius.

Tapi, bukan raut serius di wajah Vincent dan tamunya yang membuat Alena dan Alexa terdiam dengan mulut menganga. Dua wanita itu saling menatap sebelum kembali melihat tamu yang datang mengganggu waktu sarapan mereka.

"Kenapa ...." Alexa tidak bisa melanjutkan perkataannya, tangannya diletakkan di dada, merasakan detak jantungnya yang menggila.

"Kenapa ayah si Raymond itu terlihat jauh lebih tampan dan seksi? Mereka benar ayah dan anak? Kenapa tidak mirip?"

Alena selalu merasa ayahnya yang paling tampan, tapi pria yang duduk di hadapan ayahnya itu jauh lebih memesona.

"Apa ini yang disebut Hot Daddy, seperti di novel-novel yang kau baca?"

"Benar! Pesonanya tidak bisa ditampik."

Tamu yang datang di pagi hari itu sangat panas, mengalahkan sinar matahari di luar.

Terpopuler

Comments

dee zahira

dee zahira

kayak baca sastra 😁

2025-02-05

0

lihat semua
Episodes
1 Hanya Seorang Figuran
2 Adegan Tambahan
3 Perebut Posisi
4 Bukan Pria Terseksi
5 Dunia yang Kotor
6 Improvisasi Dalam Akting
7 Sutradara Bilang, 'CUT'!
8 Hukuman Tengah Malam
9 Mimpi yang Mustahil
10 Paman Tampan
11 Sampai Jumpa, Paman!
12 Tetangga Baru
13 Taman Bermain Sang Putri
14 Ayo Berlibur!
15 Pangeran Gila
16 Topik Panas Sepanjang Tahun
17 Kejutan
18 Permata yang Hancur
19 Membuat Skandal
20 Kemarahan Alena
21 Skandal
22 Putri Waxton Grup
23 Rencana Bantahan
24 Pasangan Sempurna
25 Semakin Kacau
26 Menemui Si Gila
27 Lupa Tujuan
28 Memulai Kekacauan
29 Menemui Direktur
30 Skenario Dadakan
31 Hingga Badai Mereda
32 Tamu Pagi Hari
33 Hukuman Mengerikan
34 Sebuah Fakta
35 Aku Cemburu
36 Bertemu
37 Kacau
38 Obrolan Orang Dewasa
39 Dia Putriku!
40 Mimpi Buruk
41 Tamu Tak Diundang
42 Projek Baru
43 Pertemuan Rahasia
44 Gerimis
45 Bunga Anyelir
46 Pengunjung Tak Terduga
47 Mawar Kuning
48 Terima Kasih
49 Jangan Berpikir Rumit
50 Pesta yang Melelahkan
51 Bunga Meja
52 Apatis
53 Mantan Seorang Idola
54 Hari Pertama Syuting
55 Tatapan Penuh Cinta
56 Wanita Bernama Agnia
57 Syuting Pertama Selesai
58 Tanggung Jawab
59 Gagal Syuting
60 Dunia Hiburan
61 Perusak Suasana
62 Nona Larisha
63 Musuh atau Teman?
64 Tamu Dadakan
65 Salah Jadwal
66 Bertemu Keluarga
67 Tersesat
68 Gang Belakang
69 Di Balik Topeng
70 Sekarat
71 Perempuan Gila
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Hanya Seorang Figuran
2
Adegan Tambahan
3
Perebut Posisi
4
Bukan Pria Terseksi
5
Dunia yang Kotor
6
Improvisasi Dalam Akting
7
Sutradara Bilang, 'CUT'!
8
Hukuman Tengah Malam
9
Mimpi yang Mustahil
10
Paman Tampan
11
Sampai Jumpa, Paman!
12
Tetangga Baru
13
Taman Bermain Sang Putri
14
Ayo Berlibur!
15
Pangeran Gila
16
Topik Panas Sepanjang Tahun
17
Kejutan
18
Permata yang Hancur
19
Membuat Skandal
20
Kemarahan Alena
21
Skandal
22
Putri Waxton Grup
23
Rencana Bantahan
24
Pasangan Sempurna
25
Semakin Kacau
26
Menemui Si Gila
27
Lupa Tujuan
28
Memulai Kekacauan
29
Menemui Direktur
30
Skenario Dadakan
31
Hingga Badai Mereda
32
Tamu Pagi Hari
33
Hukuman Mengerikan
34
Sebuah Fakta
35
Aku Cemburu
36
Bertemu
37
Kacau
38
Obrolan Orang Dewasa
39
Dia Putriku!
40
Mimpi Buruk
41
Tamu Tak Diundang
42
Projek Baru
43
Pertemuan Rahasia
44
Gerimis
45
Bunga Anyelir
46
Pengunjung Tak Terduga
47
Mawar Kuning
48
Terima Kasih
49
Jangan Berpikir Rumit
50
Pesta yang Melelahkan
51
Bunga Meja
52
Apatis
53
Mantan Seorang Idola
54
Hari Pertama Syuting
55
Tatapan Penuh Cinta
56
Wanita Bernama Agnia
57
Syuting Pertama Selesai
58
Tanggung Jawab
59
Gagal Syuting
60
Dunia Hiburan
61
Perusak Suasana
62
Nona Larisha
63
Musuh atau Teman?
64
Tamu Dadakan
65
Salah Jadwal
66
Bertemu Keluarga
67
Tersesat
68
Gang Belakang
69
Di Balik Topeng
70
Sekarat
71
Perempuan Gila

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!