Kejutan

"Jadi, Mama sudah di rumah?" Alexa terduduk lemas di sebuah bangku, ponsel di telinga kirinya sedang terhubung pada ibunya. "Padahal aku sudah berlari dengan kekuatan penuh dari mall."

"Ya kan, salahmu sendiri telepon dan pesan Mama diabaikan?"

Jawaban dari wanita di seberang membuat Alexa merengut. Bukannya sengaja mengabaikan. Tadi kan, ia sibuk mengobrol dengan Paman tampan.

"Ya sudah, aku pulang sekarang. Mama di rumah utama, kan? Tidak ke apartementku?" Alexa bertanya, khawatir ibunya malah pergi ke apartement dan harus menunggu di luar sampai Alexa datang.

"Iya, di rumah. Kau ke sana bersama Alena juga, kan, Lexa?"

Alexa segera mengangguk meski tahu ibunya tidak bisa melihat. "Aku meninggalkan Alena untuk memarkirkan mobil dan berlari ke dalam bandara duluan. Tuh, anaknya baru datang!"

Alexa melambai, berusaha tersenyum saat melihat keringat membanjir di dahi wanita yang baru saja sampai.

"Di mana Bibi Valisha?" tanya Alena setelah sampai di hadapan Alexa. Napasnya terengah. "Kita tidak terlambat, kan? Seharusnya sih, tidak."

Alexa menyodorkan ponsel yang masih terhubung dengan Valisha, membiarkan Alena mengerutkan kening sembari menerima ponsel.

"Bibi Valisha?" sapa Alena langsung, tahu bahwa orang yang sedang terhubung di seberang telepon adalah Valisha. "Bibi di mana? Apa pesawatnya terlambat?"

Terdengar dengkusan Valisha di seberang. "Pesawatnya sudah lepas landas lagi, bosan menunggu kalian tidak datang-datang."

Hah? Alena melirik pada Alexa. Wanita itu malah meletakkan kepala di sandaran kursi, mengabaikan tatapan Alena.

"Bibi sudah sampai sejak empat jam lalu dan sudah di rumah. Kalian, sih, punya ponsel, tapi tidak berguna. Harusnya dibuang saja kalau tidak dihidupkan notifikasinya."

Ugh! Omelan wanita di seberang membuat Alena meringis. "Bibi mengubah jadwal keberangkatan dari sana?" tanyanya.

"Hm, saat kalian sibuk entah apa, Bibi ingin cepat-cepat pulang karena rindu. Tapi, sepertinya hanya Bibi yang merindukan kalian, anak-anak?"

"Maaf," ucap Alena pelan. "Aku juga merindukan Bibi Valisha. Ya sudah, kami akan segera pulang. Di rumah utama, kan?"

Alena mematikan panggilan setelah mendapat jawaban Valisha dan menyerahkan kembali ponsel pada si empunya.

"Ayo pulang, Bibi bilang harus makan malam bersama."

Alexa merengut. "Jalan kaki? Tidak ada kendaraan dari sini ke tempat parkir?"

***

"TADI MAMA BILANG PULANG KE RUMAH UTAMA?!" Alexa tidak tahan selain berteriak gemas. Pasalnya setelah ia dan Alena akhirnya sampai ke kediaman utama, Serra justru mengatakan bahwa Valisha tidak pulang ke sana melainkan menunggu di apartement mereka.

"Tadi sempat mampir, sih, sebentar. Hanya mengantar koper dan barang-barang saja, setelah itu langsung pergi lagi, katanya mau melihat seperti apa rumah kalian kalau dikunjungi secara mendadak."

Penjelasan yang diucap dengan senyum anggun oleh Serra membuat Alena dan Alexa menepuk dahi.

"Belum terlalu lama, kok. Kalau kalian bergerak cepat, mungkin masih bisa mencegah Valisha membuka apartement kalian dan melihat kekacauan di dalamnya." Serra terkekeh lucu, menikmati wajah pias dua putrinya. Yah, bukan hanya Serra yang memiliki dua putri. Bagi Alena dan Alexa, mereka juga mempunyai dua ibu.

Kalau Serra menggunakan cara yang lembut sambil tersenyum ketika memarahi dua wanita itu, maka Valisha adalah kebalikannya. Alena dan Alexa harus menyiapkan telinga untuk mendengar semua omelan yang akan dilontar Valisha.

"Keadaan rumah tadi bagaimana, ya?" Alena mengingat-ingat, netranya tampak berkaca saat tumbukan piring kotor terbayang di benaknya. "Bekas makan malam kemarin belum dicuci," ucapnya lemah.

"Sepertinya aku melihat sarang laba-laba di bawah meja tadi. Astaga, kapan terakhir kali kita bersih-bersih rumah?" Alexa siap menangis, membayangkan ibunya menempelkan jari telunjuk pada meja dan perabotan di sana, penuh debu dan tidak terawat. "Kita akan selamat, kan?" tanyanya tidak yakin.

"Sejak awal kalau kalian memang tidak sanggup merawat apartement sekecil itu, harusnya bawa setidaknya dua pelayan. Pasti Valisha akan mengatakan hal itu, kan?" Serra tertawa anggun, merasa seru hanya dengan membayangkan putri-putrinya jongkok di dekat tembok sambil mengangkat kedua tangan, mendengar omelan Valisha.

"Sejak kapan Bibi Valisha ke apartement?" tanya Alena cepat, berharap masih bisa membeli waktu hingga bisa mengejar Valisha.

"Sekitar dua puluh menit lalu. Tadi ia ke sini hanya mengantar barang-barangnya saja dan langsung pergi."

Alena mengerutkan kening. "Tapi, Bibi bilang sudah mendarat sejak empat jam lalu. Jarak dari bandara ke sini, kan, tidak sejauh itu, tapi kenapa bisa baru sampai?"

Serra kembali tertawa mendengar nada tajam putrinya, apalagi melihat wajah bingung Alexa. "Valisha bilang sempat melihat mobil kalian saat taksinya keluar dari bandara."

"Kita dikerjai, kan?" Alexa nyaris kembali ingin menangis, tapi wajah lelahnya segera berubah menjadi keterkejutan saat Alena menarik paksa lengannya.

"Masih ada kesempatan mencegah Bibi Valisha masuk!" ujar Alena seraya menarik paksa Alexa. "Dah, Ma, sampai nanti!" Alena berpamitan tanpa melepaskan tangan Alexa, sedikit berlari menghampiri mobil.

***

Wanita bersurai hitam panjang tersenyum lebar saat menempelkan kartu persegi berwarna hitam dan memasuki lobi apartement putri-putrinya. Valisha yakin dua wanita itu sedang dalam perjalanan menyusulnya ke sini.

"Alena pasti menggunakan bakatnya sebagai pembalap untuk mengejar waktu." Valisha bergumam, kekehannya terdengar saat wanita itu memasuki lift dan menekan tombol bertuliskan angka 14.

Netra coklat madu wanita itu melirik arloji di pergelangan tangan. Senyumnya semakin lebar. Sebenarnya ia tidak berniat memasuki kediaman Alena dan Alexa, apalagi sampai melakukan inspeksi dadakan. Valisha hanya senang mengerjai dua gadis itu.

Rencana Valisha adalah menunggu putri-putrinya di depan pintu apartement sembari bersedekap. Ia yakin Alena dan Alexa akan berlari, lalu keluar dari lift dengan wajah pucat pasi. Membayangkannya saja sudah menyenangkan!

Ting! Bunyi khas itu menyadarkan Valisha bahwa ia sudah sampai pada lantai yang dituju. Wanita yang baru genap berusia empat puluh satu tahun itu segera mengangguk ramah pada dua penjaga di depan lift.

"Selamat datang, Nyonya." Salah satu penjaga menyapa dengan sopan. "Maaf sebelumnya, tapi Nona Alexa dan Nona Alena sedang tidak ada di rumah."

"Aku tahu," ucap Valisha sembari tersenyum. "Mereka masih di perjalanan, sebentar lagi juga datang."

"Baiklah kalau begitu. Sekali lagi selamat datang kembali ke Moskow, Nyonya Valisha."

Valisha mengangguk tanpa melepas senyum ramahnya. Wanita itu kembali berjalan setelah membungkuk sekali lagi pada dua penjaga di depan lift.

"Hmm ... mereka tinggal di 1401 atau 1402, ya?" Valisha melihat kartu cadangan di tangannya. Bibirnya membulat setelah melihat angka 1401 tertera di sana.

"Baiklah, sekarang waktunya menunggu--" Valisha terhenyak, langkahnya mendadak terhenti saat melihat seseorang berdiri di hadapannya.

Edgar yang juga baru datang beberapa saat lalu dan akan memasuki apartement, menghentikan langkah saat mendengar suara lift terbuka. Ia pikir dua wanita yang ditemuinya tadi sudah pulang. Edgar berniat menyapa sebentar, berbasa-basi menanyakan ke mana dua wanita itu akhirnya pergi untuk mencari udara segar. Tapi, seseorang yang keluar dari lift, menyapa dan tersenyum pada penjaga adalah wanita yang tidak pernah lagi dilihatnya sejak sangat lama.

"Vallen?" Edgar memanggil, suaranya bergetar.

Valisha mundur selangkah, jantungnya terasa terjun bebas saat melihat wajah yang tidak pernah ingin dilihatnya lagi. Kenapa laki-laki itu ada di sini, di lantai yang sama dengan Alexa?

"Vallen, ini aku. Kau ke mana saja?" Edgar melangkah maju, kembali memanggil dengan suara tercekat. Ia merindukan wanita di hadapannya. Seseorang yang menggenggam hatinya sejak sangat lama.

"Saya bukan Vallen. Anda sepertinya salah orang." Valisha menelan ludah pahit. Meski ia menyangkal, gemetar di suaranya tidak bisa berbohong. Kenapa mereka harus bertemu di sini dari semua tempat?

Valisha hanya ingin mengerjai putrinya, memberi kejutan menyebalkan untuk Alexa dan Alena, tapi kenapa justru ia yang mendapat kejutan?

"Kau pikir aku lupa wajahmu? Dua puluh lima tahun lebih aku mencari keberadaanmu, tapi tidak pernah kutemukan. Sebenarnya kau ke mana saja? Aku menunggumu." Edgar kembali berjalan mendekat, perasaan rindu yang membuncah di dadanya membuat pria itu tidak memikirkan hal lain. Ia hanya ingin memeluk kekasihnya meski hanya sebentar. "Aku merindukanmu--"

"MAMA!"

Panggilan keras itu membuat Edgar berhenti melangkah, menoleh pada seorang wanita yang baru saja keluar dari arah pintu darurat.

Alexa merasa napasnya akan habis. Ia berlari seperti orang gila dari lantai satu hingga empat belas, tidak bisa lagi menunggu lift yang tidak turun-turun. Tidak sia-sia hobinya berolahraga selama ini, Alexa datang tepat waktu. Keringat membanjir di kening wanita itu. Alena yang tidak memiliki stamina sebanyak Alexa memilih menunggu lift dengan sabar.

"Haah ... syukurlah Mama belum masuk!" ujar Alexa seraya menghela napas lega. "Maksudku, selamat datang, Ma!" Alexa tertawa kecil, menghampiri ibunya dengan senyum lebar.

Wanita itu terlalu lelah untuk memperhatikan situasi tidak menyenangkan di sekitar Valisha dan Edgar. Alexa langsung masuk ke dalam pelukan ibunya tanpa basa-basi. "Aku kangen Mama!" serunya sembari mengeratkan pelukan.

"Mama?"

Suara yang saran akan keterkejutan itu menyadarkan Alexa. Wanita itu menoleh pada Edgar. Eh , sejak kapan tetangga barunya itu ada di sana?

"Halo, Paman!" sapa Alexa, cerah seperti biasa. "Perkenalkan, ini Mamaku."

Wanita bersurai panjang itu tersenyum, ada kebanggaan di binarnya saat memperkenalkan Valisha sebagai ibunya.

Sekarang tidak hanya Valisha yang mendapat kejutan dengan kehadiran tiba-tiba seseorang dari masa lalunya.

Padahal Edgar sudah menyiapkan banyak kata, melatih berbagai kalimat, berniat menjelaskan apa saja saat bertemu lagi dengan wanita yang dicintainya. Ia hanya ingin mengatakan rindu, tapi ada seorang gadis yang memanggil wanitanya dengan sebutan Mama.

'Apa kau meninggalkanku dan menikah dengan pria lain?' Edgar membatin kecewa.

Terpopuler

Comments

Anawahyu Fajrin

Anawahyu Fajrin

jangan bilang....

2024-12-24

1

lihat semua
Episodes
1 Hanya Seorang Figuran
2 Adegan Tambahan
3 Perebut Posisi
4 Bukan Pria Terseksi
5 Dunia yang Kotor
6 Improvisasi Dalam Akting
7 Sutradara Bilang, 'CUT'!
8 Hukuman Tengah Malam
9 Mimpi yang Mustahil
10 Paman Tampan
11 Sampai Jumpa, Paman!
12 Tetangga Baru
13 Taman Bermain Sang Putri
14 Ayo Berlibur!
15 Pangeran Gila
16 Topik Panas Sepanjang Tahun
17 Kejutan
18 Permata yang Hancur
19 Membuat Skandal
20 Kemarahan Alena
21 Skandal
22 Putri Waxton Grup
23 Rencana Bantahan
24 Pasangan Sempurna
25 Semakin Kacau
26 Menemui Si Gila
27 Lupa Tujuan
28 Memulai Kekacauan
29 Menemui Direktur
30 Skenario Dadakan
31 Hingga Badai Mereda
32 Tamu Pagi Hari
33 Hukuman Mengerikan
34 Sebuah Fakta
35 Aku Cemburu
36 Bertemu
37 Kacau
38 Obrolan Orang Dewasa
39 Dia Putriku!
40 Mimpi Buruk
41 Tamu Tak Diundang
42 Projek Baru
43 Pertemuan Rahasia
44 Gerimis
45 Bunga Anyelir
46 Pengunjung Tak Terduga
47 Mawar Kuning
48 Terima Kasih
49 Jangan Berpikir Rumit
50 Pesta yang Melelahkan
51 Bunga Meja
52 Apatis
53 Mantan Seorang Idola
54 Hari Pertama Syuting
55 Tatapan Penuh Cinta
56 Wanita Bernama Agnia
57 Syuting Pertama Selesai
58 Tanggung Jawab
59 Gagal Syuting
60 Dunia Hiburan
61 Perusak Suasana
62 Nona Larisha
63 Musuh atau Teman?
64 Tamu Dadakan
65 Salah Jadwal
66 Bertemu Keluarga
67 Tersesat
68 Gang Belakang
69 Di Balik Topeng
70 Sekarat
71 Perempuan Gila
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Hanya Seorang Figuran
2
Adegan Tambahan
3
Perebut Posisi
4
Bukan Pria Terseksi
5
Dunia yang Kotor
6
Improvisasi Dalam Akting
7
Sutradara Bilang, 'CUT'!
8
Hukuman Tengah Malam
9
Mimpi yang Mustahil
10
Paman Tampan
11
Sampai Jumpa, Paman!
12
Tetangga Baru
13
Taman Bermain Sang Putri
14
Ayo Berlibur!
15
Pangeran Gila
16
Topik Panas Sepanjang Tahun
17
Kejutan
18
Permata yang Hancur
19
Membuat Skandal
20
Kemarahan Alena
21
Skandal
22
Putri Waxton Grup
23
Rencana Bantahan
24
Pasangan Sempurna
25
Semakin Kacau
26
Menemui Si Gila
27
Lupa Tujuan
28
Memulai Kekacauan
29
Menemui Direktur
30
Skenario Dadakan
31
Hingga Badai Mereda
32
Tamu Pagi Hari
33
Hukuman Mengerikan
34
Sebuah Fakta
35
Aku Cemburu
36
Bertemu
37
Kacau
38
Obrolan Orang Dewasa
39
Dia Putriku!
40
Mimpi Buruk
41
Tamu Tak Diundang
42
Projek Baru
43
Pertemuan Rahasia
44
Gerimis
45
Bunga Anyelir
46
Pengunjung Tak Terduga
47
Mawar Kuning
48
Terima Kasih
49
Jangan Berpikir Rumit
50
Pesta yang Melelahkan
51
Bunga Meja
52
Apatis
53
Mantan Seorang Idola
54
Hari Pertama Syuting
55
Tatapan Penuh Cinta
56
Wanita Bernama Agnia
57
Syuting Pertama Selesai
58
Tanggung Jawab
59
Gagal Syuting
60
Dunia Hiburan
61
Perusak Suasana
62
Nona Larisha
63
Musuh atau Teman?
64
Tamu Dadakan
65
Salah Jadwal
66
Bertemu Keluarga
67
Tersesat
68
Gang Belakang
69
Di Balik Topeng
70
Sekarat
71
Perempuan Gila

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!