Permata yang Hancur

"Mama?"

Alexa cukup terkejut melihat kehadiran ibunya di dapur. Bahkan lampunya tidak dihidupkan. Valisha duduk di depan meja konter di bawah penerangan yang redup, sebotol wiski berada di hadapannya.

Alexa yang terbangun tengah malam dan menemukan botol minumnya kosong, mengunjungi dapur, berniat mengisi ulang tempat minumnya. Tidak menyangka bahwa akan menemukan ibunya di tempat yang sama.

"Ehm, siapa?" Valisha bertanya pelan, suaranya terdengar berat.

"Mama mabuk?" Alexa berjalan mendekat, menatap pada botol wiski yang isinya tinggal sedikit. Wanita itu menghela napas. Setelah tidak pernah mengatakan apa pun selama satu minggu sejak kedatangannya, ibunya malah meneguk berseloki alkohol tengah malam.

Alexa jelas tidak mengerti apa yang terjadi. Sejak tidak sengaja bertemu tetangga apartementnya, Valisha langsung membawa Alexa pulang ke kediaman utama dan mendiamkannya. Alexa tidak berani menanyakan apa pun karena ibunya terlihat marah.

"Kenapa Mama belum tidur dan malah minum sendirian di sini?" Alexa meraih gelas, mengisinya dengan air putih sebelum menyodorkannya pada wanita yang masih memicing menatapnya.

"Minum air putih dulu," ucap Alexa lembut sembari mendudukkan diri di samping Valisha.

"Kau!" Valisha tiba-tiba berseru, jari telunjuknya teracung ke wajah Alexa. "Kau siapa?" tanyanya lagi setelah dua kali cegukan.

Alexa menghela napas. "Namaku Alexa Waxton Beverly," ucapnya memperkenalkan diri.

Kadang-kadang Alexa memang menemui ibunya berada dalam kondisi seperti ini, meneguk wiski sendirian tengah malam di bawah cahaya redup. Setiap kali melihat Valisha mabuk, yang bisa dilakukan wanita itu hanyalah duduk di sisinya, menemani wanita yang terlihat rapuh, seolah bisa hancur kapan saja.

"Namamu bagus," ucap Valisha seraya terkekeh. "Perkenalkan, aku Vallen!" ujarnya dengan tangan terulur.

Alexa meraih uluran tangan itu, terasa lembut dan hangat seperti biasa. "Namamu juga sangat bagus," ucapnya sembari tersenyum.

Valisha meletakkan sisi kepalanya di meja, menatap wajah putih Alexa yang mengingatkannya dengan seseorang. "Kenapa kau mirip denganku?" tanyanya, wajahnya terlihat bingung.

"Pasti karena Ibuku sangat menyukai Vallen, makanya aku mirip denganmu." Alexa menjawab seperti biasa. Bukan lagi hal mengejutkan saat Valisha menanyakan siapa namanya dan kenapa Alexa terlihat mirip dengannya saat wanita itu mabuk.

Lalu seperti biasa juga, Valisha akan terdiam. Alexa hanya harus menunggu sampai ibunya terlelap setelah memandangi wajah Alexa tanpa mengatakan apa pun.

Hanya napas berat Valisha yang terdengar di tengah keheningan. Netra coklat madu itu tidak berhenti menatap wajah putih Alexa.

"Jangan mirip denganku."

Alexa mengerjap, kaget dengan kalimat yang dikatakan Valisha dengan lirih dan penuh kesedihan. Padahal biasanya wanita itu hanya akan diam saja sambil menatap Alexa. Ini pertama kali Valisha mengatakan hal lain. Jangan mirip dengannya?

"Kenapa? Aku menyukai Vallen. Aku akan tumbuh menjadi orang yang sangat hebat seperti Vallen juga." Alexa tersenyum lembut, sedikit goyah saat melihat tatapan sedih ibunya. Sebenarnya kenapa? Sampai sekarang Alexa tidak paham alasan Valisha sering melamun sambil menatap wajah Alexa, ditambah matanya selalu dipenuhi kesedihan.

"Aku tidak hebat," lirih Valisha, setetes cairan bening jatuh dari sudut matanya, membuat Alexa langsung beringsut lebih dekat. "Kalau aku hebat, mana mungkin ada kau."

Alexa merasa jantungnya berhenti berdetak. Matanya terasa memanas. Wanita itu menggigit bibir, menahan agar air matanya tidak jatuh.

"Kalau saja aku tidak pergi ...." Valisha menutup mata, membiarkan air matanya luruh. "Seandainya aku tidak menghampirinya. Jika saja aku tidak jatuh cinta sedalam itu padanya dan dengan bodohnya mempercayai bahwa dia juga mencintaiku."

Alexa langsung memeluk ibunya. Air matanya tidak bisa lagi dibendung. Pertama kali seumur hidupnya Alexa melihat ibunya sangat hancur seperti ini. Kalimat-kalimat yang belum pernah wanita itu dengar sebelumnya membuat Alexa mengeratkan pelukan.

"Maaf."

"Maaf."

Satu kata itu terucap bersamaan dari bibir Alexa dan Valisha.

"Maafkan aku karena mengikuti hawa nafsu, bertindak bodoh, percaya bahwa cinta akan selalu jadi pemenang. Kalau saja aku tidak mempercayainya ... hanya karena dia teman kakakku. Seandainya aku tidak pernah percaya pada siapa pun, kau pasti tidak akan hidup dalam cemooh." Valisha menangis keras, memeluk wanita yang merupakan putri kandungnya. "Kau pasti menderita karena hidup sebagai putriku, sebagai anak dari wanita yang tidak pernah menikah."

Alexa menggigit bibir, menahan suaranya agar tidak terisak semakin keras. Kalimat 'hanya karena dia teman kakakku' yang diucap ibunya membuat wanita itu mengingat kejadian seminggu lalu, saat Valisha tidak sengaja bertemu Edgar dan menjadi sangat diam setelahnya.

Tidak perlu teori lebih banyak, Alexa sudah sangat mengerti apa maksudnya. Orang bodoh pun akan langsung bisa menebak. Tapi, kenapa harus Edgar dari jutaan laki-laki yang ada di dunia ini? Kenapa harus sosok yang Alexa suka dan kagumi yang telah menghancurkan ibunya?

"Maaf," ucap Alexa lirih. "Kalau saja Mama tidak memilikiku. Seandainya tidak ada aku ... hidup Mama pasti lebih baik. Maaf sudah menghancurkan masa depan Mama. Maaf karena Mama harus menjadi ibuku."

Dua puluh lima tahun lalu, Valisha yang masih berusia enam belas sudah melahirkan Alexa. Usia yang harusnya dihabiskan bersama teman, bermain, belajar dan menyusun masa depan, Valisha malah harus menerima kecaman dan hinaan karena melahirkan tanpa suami.

Saat tahu bahwa ibunya memilih melahirkan saat bisa saja Valisha menggugurkan kandungannya membuat perasaan bersalah Alexa semakin menjadi. Alexa nyaris tidak pernah mengeluh dengan kesibukan ibunya hingga mereka jarang bertemu. Sejak kecil, entah bagaimana Alexa selalu merasa bahwa lebih baik bagi ibunya untuk tidak terlalu sering melihat wajahnya.

"Terima kasih sudah menjadi Mamanya Alexa. Terima kasih karena selalu menjadi tameng paling hebat yang selalu melindungiku. Terima kasih juga untuk tidak menyerah atas hidup Mama dan melihat bagaimana aku tumbuh dewasa."

Kehangatan dari kata demi kata yang diucapkan Alexa membuat Valisha terenyuh. Perlahan kesadaran wanita itu mulai menghilang, kepalanya terkulai di lengan Alexa.

"Terima kasih karena sudah menjadi putriku," ucap Valisha teramat pelan sebelum matanya tertutup, jatuh tertidur. Sisa-sisa air mata masih meninggalkan jejak di pipi putih wanita itu.

Alexa menarik napas panjang, berusaha menghentikan tangisannya sendiri. Beberapa menit setelahnya hanya terdengar helaan napas teratur dari dua wanita yang masih saling memeluk.

"Bantu aku membawa Mama ke kamarnya," Alexa berbisik lirih, membuat seseorang yang sejak tadi berdiri tidak jauh di balik bayangan akhirnya muncul.

"Wajahmu jelek sekali," ucap seorang wanita yang mengenakan piyama biru, matanya juga terlihat basah.

"Penampilanmu tidak lebih baik dariku," ucap Alexa sembari mendelik tajam. "Lagipula, kalau tahu kami sedang terlibat obrolan serius harusnya kau segera pergi, Alena."

Alena yang juga terbangun karena haus dan tidak menemukan air putih di kamarnya, pergi ke dapur dengan perasaan jengkel, sudah memiliki rencana akan memecat pelayan yang bertanggung jawab atas kamarnya karena tidak menyediakan air minum, tapi malah harus melihat Alexa dan Valisha di dapur.

"Tadinya memang mau pergi, tapi saat Bibi Valisha bilang untuk jangan mirip dengannya, aku jadi penasaran."

Alexa menghela napas. Secara tidak langsung Alena memberitahu bahwa ia mendengar obrolan mereka sejak awal. Dua wanita itu saling menatap dalam keheningan sebelum Alexa membuang muka lebih dulu.

"Terima kasih karena sudah lahir," ucap Alena sembari tersenyum.

Episodes
1 Hanya Seorang Figuran
2 Adegan Tambahan
3 Perebut Posisi
4 Bukan Pria Terseksi
5 Dunia yang Kotor
6 Improvisasi Dalam Akting
7 Sutradara Bilang, 'CUT'!
8 Hukuman Tengah Malam
9 Mimpi yang Mustahil
10 Paman Tampan
11 Sampai Jumpa, Paman!
12 Tetangga Baru
13 Taman Bermain Sang Putri
14 Ayo Berlibur!
15 Pangeran Gila
16 Topik Panas Sepanjang Tahun
17 Kejutan
18 Permata yang Hancur
19 Membuat Skandal
20 Kemarahan Alena
21 Skandal
22 Putri Waxton Grup
23 Rencana Bantahan
24 Pasangan Sempurna
25 Semakin Kacau
26 Menemui Si Gila
27 Lupa Tujuan
28 Memulai Kekacauan
29 Menemui Direktur
30 Skenario Dadakan
31 Hingga Badai Mereda
32 Tamu Pagi Hari
33 Hukuman Mengerikan
34 Sebuah Fakta
35 Aku Cemburu
36 Bertemu
37 Kacau
38 Obrolan Orang Dewasa
39 Dia Putriku!
40 Mimpi Buruk
41 Tamu Tak Diundang
42 Projek Baru
43 Pertemuan Rahasia
44 Gerimis
45 Bunga Anyelir
46 Pengunjung Tak Terduga
47 Mawar Kuning
48 Terima Kasih
49 Jangan Berpikir Rumit
50 Pesta yang Melelahkan
51 Bunga Meja
52 Apatis
53 Mantan Seorang Idola
54 Hari Pertama Syuting
55 Tatapan Penuh Cinta
56 Wanita Bernama Agnia
57 Syuting Pertama Selesai
58 Tanggung Jawab
59 Gagal Syuting
60 Dunia Hiburan
61 Perusak Suasana
62 Nona Larisha
63 Musuh atau Teman?
64 Tamu Dadakan
65 Salah Jadwal
66 Bertemu Keluarga
67 Tersesat
68 Gang Belakang
69 Di Balik Topeng
70 Sekarat
71 Perempuan Gila
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Hanya Seorang Figuran
2
Adegan Tambahan
3
Perebut Posisi
4
Bukan Pria Terseksi
5
Dunia yang Kotor
6
Improvisasi Dalam Akting
7
Sutradara Bilang, 'CUT'!
8
Hukuman Tengah Malam
9
Mimpi yang Mustahil
10
Paman Tampan
11
Sampai Jumpa, Paman!
12
Tetangga Baru
13
Taman Bermain Sang Putri
14
Ayo Berlibur!
15
Pangeran Gila
16
Topik Panas Sepanjang Tahun
17
Kejutan
18
Permata yang Hancur
19
Membuat Skandal
20
Kemarahan Alena
21
Skandal
22
Putri Waxton Grup
23
Rencana Bantahan
24
Pasangan Sempurna
25
Semakin Kacau
26
Menemui Si Gila
27
Lupa Tujuan
28
Memulai Kekacauan
29
Menemui Direktur
30
Skenario Dadakan
31
Hingga Badai Mereda
32
Tamu Pagi Hari
33
Hukuman Mengerikan
34
Sebuah Fakta
35
Aku Cemburu
36
Bertemu
37
Kacau
38
Obrolan Orang Dewasa
39
Dia Putriku!
40
Mimpi Buruk
41
Tamu Tak Diundang
42
Projek Baru
43
Pertemuan Rahasia
44
Gerimis
45
Bunga Anyelir
46
Pengunjung Tak Terduga
47
Mawar Kuning
48
Terima Kasih
49
Jangan Berpikir Rumit
50
Pesta yang Melelahkan
51
Bunga Meja
52
Apatis
53
Mantan Seorang Idola
54
Hari Pertama Syuting
55
Tatapan Penuh Cinta
56
Wanita Bernama Agnia
57
Syuting Pertama Selesai
58
Tanggung Jawab
59
Gagal Syuting
60
Dunia Hiburan
61
Perusak Suasana
62
Nona Larisha
63
Musuh atau Teman?
64
Tamu Dadakan
65
Salah Jadwal
66
Bertemu Keluarga
67
Tersesat
68
Gang Belakang
69
Di Balik Topeng
70
Sekarat
71
Perempuan Gila

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!