Kemarahan Alena

"Aduh, kepalaku!" Alexa mengeluh, keningnya mengernyit saat rasa sakit langsung menghantam kepalanya. Wanita itu mengerjap pelan, membiasakan pandangannya dengan keadaan sekitar.

Beberapa poster di dinding dan boneka-boneka di sekitarnya membuat wanita itu menghela napas lega saat tahu bahwa ia berada di kamar yang sudah ditempatinya setahun terakhir.

Alexa baru akan kembali memejamkan mata ketika sekelebat ingatan mampir di kepalanya. Netra coklat itu kembali terbuka lebar, menatap sekali lagi kamarnya, wajah panik wanita itu semakin kental saat menyadari bahwa pakaian yang sedang dikenakannya berbeda dari yang kemarin.

Piyama biru berkarakter alpaka melekat di tubuh Alexa.

"Bagaimana aku berakhir di sini?" Alexa yang hanya ingat tentang obrolan tidak pentingnya dengan bartender mengerutkan kening semakin dalam. Apa ia mabuk? Lalu, siapa yang membawanya pulang?

"Sudah bangun, Tuan Putri?"

"Uwaaah!"

Kehadiran tiba-tiba seseorang di kamarnya membuat Alexa berteriak, bersamaan dengan ingatan tentang kehadiran seseorang yang semalam juga mengagetkannya. Alexa ingat sosok yang duduk di sampingnya, memeluk pinggangnya sambil mengatakan omong kosong tentang skandal.

Netra coklat Alexa menatap wanita yang bersandar di pintu, menatapnya seolah Alexa telah melakukan tujuh dosa besar sekaligus.

"A-aku ...." Alexa tergagap, apalagi setelah melihat wajah galak Alena. "Bagaimana aku berakhir di sini?" tanyanya dengan suara teramat pelan.

"Kenapa tidak kau tanyakan pada kekasihmu?"

A-apa?! Kekasih apa? Kenapa tiba-tiba menggunakan nada ketus? Alexa ingin menangis melihat tatapan setajam belati yang dilayangkan Alena. Benar-benar menakutkan.

"Sudahlah, lebih baik sekarang kau bangun dan mandi. Kita bicara setelah sarapan," putus Alena setelah menghela napas melihat wajah pucat sepupunya. Wanita itu segera berlalu, meninggalkan Alexa yang langsung cegukan sepeninggalnya.

"Aku pasti sudah melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan," Alexa meradang, menarik salah satu boneka dan menggigitnya untuk meredam agar teriakannya tidak keluar.

Bagaimana cara memutar waktu, ya?

***

Makan pagi yang diliputi keheningan. Alexa merasa tercekik dengan suasana mencekam di sekitarnya. Sepertinya ia memang melakukan sesuatu hingga Alena benar-benar marah.

'Apa yang sudah kulakukan setelah tidak sadarkan diri, ya?' Alexa membatin sembari memaksa mengunyah makanannya. Ia tidak ingat apa yang terjadi setelah Raymond memperingatkannya untuk tidak menyalahkan pemuda itu kalau benar-benar ada skandal.

Melihat situasi di mana Alexa berakhir di kamarnya sendiri, bukannya di hotel atau kediaman Raymond, menunjukkan bahwa pemuda itu membawanya ke sini. Tapi, bagaimana mereka bisa masuk? Alexa yang biasanya tidak lagi sadarkan diri setelah mabuk, rasanya mustahil memasukkan sandi ... ugh!

Alexa menyadari bahwa bukan hanya ponsel yang ia tinggalkan kemarin, wanita itu juga tidak memiliki akses untuk masuk ke gedung apartement karena kartunya selalu ada di Alena. Jadi, bagaimana?

"Bereskan semua ini, setelah itu temui aku di ruang tengah."

Alexa segera mengangguk saat Alena memberi perintah untuk membereskan bekas makan mereka. Wanita itu segera membawa piring-piring kotor ke wastafel, mencucinya dengan hati-hati sebelum meninggalkan dapur.

Alexa menarik dan menghembuskan napas panjang beberapa kali, menenangkan detak jantungnya yang terasa akan berhenti. Wanita itu menatap Alena yang tengah duduk si sofa dengan tangan bersedekap. Kaki kanannya menyilang angkuh, posisi tubuhnya yang tegak membuat keberadaan Alena terasa lebih menakutkan dari apa pun.

"Duduk," perintah Alena sembari menunjuk sofa kosong di hadapannya.

Alexa menurut, duduk di sofa sembari berdoa agar masih diberi umur panjang untuk menghadapi hari esok.

"Kau tahu di mana salahmu?"

Pertanyaan yang dilayangkan Alena membuat Alexa langsung menatap dengan mata berbinar. Setidaknya meski masih tajam, Alena tidak lagi menggunakan nada yang ketus dan tajam seperti tadi.

"Ehm ... sepertinya aku tahu. Maaf karena sudah menyusahkan, tapi sungguh, aku dan orang itu benar-benar tidak sengaja bertemu. Maksudku ... kalau ada berita-berita tidak menyenangkan, itu semua hanya akal-akalan media saja."

"Rupanya kau tidak tahu," Alena mendengkus tidak percaya.

"Y--ya? Tidak tahu apa?" Alexa bertanya gugup, pasalnya ekspresi wajah Alena tampak siap akan menerkamnya.

"Kau tidak tahu di mana letak kesalahanmu, Alexa. Kau pikir aku peduli dengan hubunganmu dan Raymond? Tidak. Dan tidak akan ada yang peduli."

Kalimat tajam dan dingin yang dilontar Alena membuat Alexa menelan ludah. Alexa belum pernah mendengar nada seperti itu dari Alena sepanjang hidupnya.

Alena menghela napas, memijat kening saat wanita yang tengah dimarahinya terlihat sebentar lagi akan menangis.

"Kau mengilang, Alexa." Alena berucap lemah. "Kau pergi tanpa memberi kabar, tidak meninggalkan pesan, tanpa ponsel dan kunci apartement. Aku mencarimu seperti orang gila, takut kau melakukan tindakan bodoh. Aku tidak menemukan kau di mana pun. Lalu saat aku hampir mengatakan pada Papa dan Tante Valisha bahwa kau menghilang, aku mendapat telepon."

Alexa meremat jemarinya, kepalanya menunduk dalam, perasaan bersalah menggerogoti saat menyadari bahwa kelakuannya kemarin menyebabkan orang terdekatnya kesulitan.

"Raymond mendapat nomorku dari sutradara. Ia menelepon setelah membawamu ke sini, ke apartemet Paman Edgar lebih tepatnya." Netra gelap Alena menyorot tajam wanita yang menunduk di hadapannya. "Padahal ada aku, tapi kau memilih bar sebagai tempat bersembunyi. Memangnya tidak bisa pergi padaku dan kita jalan-jalan bersama? Kan, bukan hanya kau yang terkejut dengan kenyataan."

Perkataan Alena membuat Alexa langsung menutup wajah, satu demi satu tetes air matanya mengalir, wanita itu akhirnya menangis setelah menahannya sejak kemarin.

"Maaf," ucap Alexa lirih, suara seraknya nyaris tidak terdengar.

Kemarin Alexa tidak sempat memikirkan konsekuensi lain. Ia hanya belum siap menghadapi ibunya, jadi Alexa pergi sejak pagi tanpa memberitahu siapa pun.

"Masalah tidak akan selesai hanya dengan membiarkan atau menghindarinya, Alexa. Kau kan, bukan anak kecil yang tidak memahami itu. Kalau pun belum siap menghadapi Tante Valisha, pergi tanpa memberi kabar itu jelas bukan tindakan orang dewasa. Kalau memang kau pikir sendirian bisa membuat pikiranmu lebih tenang, aku juga tidak akan mengganggu, kok! Aku pasti akan membiarkanmu sendirian. Masalahnya adalah kau menghilang begitu saja, bagaimana aku bisa berpikir dengan jernih?"

Isakan Alexa semakin terdengar. Ia benar-benar menyadari kesalahan besar yang sudah dilakukannya.

"A--aku ... aku benar-benar menyesal. Tolong maafkan aku!" Alexa tergugu, melihat raut kecewa wanita di hadapannya membuat tangisnya semakin tak terbendung.

"Aku juga terkejut dengan kenyataan tentang Bibi Valisha dan Paman Edgar," ucap Alena lemah. "Semalam aku bahkan tidak berani menatap wajahnya. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa."

Kenyataan kalau Alexa adalah anak kandung Edgar mungkin belum bisa dipastikan benar tanpa melakukan tes DNA, tapi Alena tidak yakin Alexa akan menerima dengan mudah kalau hasil tesnya positif. Alena pun mungkin sulit menghadapi Edgar lagi. Hanya asumsi sementara saja sudah berhasil membuat Alexa melarikan diri dari rumah, apalagi kalau yang menyatakan adalah medis secara langsung?

"Lalu, untuk skandal ... aku tidak tahu bagaimana cara menghentikannya."

Episodes
1 Hanya Seorang Figuran
2 Adegan Tambahan
3 Perebut Posisi
4 Bukan Pria Terseksi
5 Dunia yang Kotor
6 Improvisasi Dalam Akting
7 Sutradara Bilang, 'CUT'!
8 Hukuman Tengah Malam
9 Mimpi yang Mustahil
10 Paman Tampan
11 Sampai Jumpa, Paman!
12 Tetangga Baru
13 Taman Bermain Sang Putri
14 Ayo Berlibur!
15 Pangeran Gila
16 Topik Panas Sepanjang Tahun
17 Kejutan
18 Permata yang Hancur
19 Membuat Skandal
20 Kemarahan Alena
21 Skandal
22 Putri Waxton Grup
23 Rencana Bantahan
24 Pasangan Sempurna
25 Semakin Kacau
26 Menemui Si Gila
27 Lupa Tujuan
28 Memulai Kekacauan
29 Menemui Direktur
30 Skenario Dadakan
31 Hingga Badai Mereda
32 Tamu Pagi Hari
33 Hukuman Mengerikan
34 Sebuah Fakta
35 Aku Cemburu
36 Bertemu
37 Kacau
38 Obrolan Orang Dewasa
39 Dia Putriku!
40 Mimpi Buruk
41 Tamu Tak Diundang
42 Projek Baru
43 Pertemuan Rahasia
44 Gerimis
45 Bunga Anyelir
46 Pengunjung Tak Terduga
47 Mawar Kuning
48 Terima Kasih
49 Jangan Berpikir Rumit
50 Pesta yang Melelahkan
51 Bunga Meja
52 Apatis
53 Mantan Seorang Idola
54 Hari Pertama Syuting
55 Tatapan Penuh Cinta
56 Wanita Bernama Agnia
57 Syuting Pertama Selesai
58 Tanggung Jawab
59 Gagal Syuting
60 Dunia Hiburan
61 Perusak Suasana
62 Nona Larisha
63 Musuh atau Teman?
64 Tamu Dadakan
65 Salah Jadwal
66 Bertemu Keluarga
67 Tersesat
68 Gang Belakang
69 Di Balik Topeng
70 Sekarat
71 Perempuan Gila
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Hanya Seorang Figuran
2
Adegan Tambahan
3
Perebut Posisi
4
Bukan Pria Terseksi
5
Dunia yang Kotor
6
Improvisasi Dalam Akting
7
Sutradara Bilang, 'CUT'!
8
Hukuman Tengah Malam
9
Mimpi yang Mustahil
10
Paman Tampan
11
Sampai Jumpa, Paman!
12
Tetangga Baru
13
Taman Bermain Sang Putri
14
Ayo Berlibur!
15
Pangeran Gila
16
Topik Panas Sepanjang Tahun
17
Kejutan
18
Permata yang Hancur
19
Membuat Skandal
20
Kemarahan Alena
21
Skandal
22
Putri Waxton Grup
23
Rencana Bantahan
24
Pasangan Sempurna
25
Semakin Kacau
26
Menemui Si Gila
27
Lupa Tujuan
28
Memulai Kekacauan
29
Menemui Direktur
30
Skenario Dadakan
31
Hingga Badai Mereda
32
Tamu Pagi Hari
33
Hukuman Mengerikan
34
Sebuah Fakta
35
Aku Cemburu
36
Bertemu
37
Kacau
38
Obrolan Orang Dewasa
39
Dia Putriku!
40
Mimpi Buruk
41
Tamu Tak Diundang
42
Projek Baru
43
Pertemuan Rahasia
44
Gerimis
45
Bunga Anyelir
46
Pengunjung Tak Terduga
47
Mawar Kuning
48
Terima Kasih
49
Jangan Berpikir Rumit
50
Pesta yang Melelahkan
51
Bunga Meja
52
Apatis
53
Mantan Seorang Idola
54
Hari Pertama Syuting
55
Tatapan Penuh Cinta
56
Wanita Bernama Agnia
57
Syuting Pertama Selesai
58
Tanggung Jawab
59
Gagal Syuting
60
Dunia Hiburan
61
Perusak Suasana
62
Nona Larisha
63
Musuh atau Teman?
64
Tamu Dadakan
65
Salah Jadwal
66
Bertemu Keluarga
67
Tersesat
68
Gang Belakang
69
Di Balik Topeng
70
Sekarat
71
Perempuan Gila

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!