Bukan Pria Terseksi

“Aku baru mampir dari ruang ganti Raymond untuk memberikan makan siangnya. Kau tahu ia sedang apa? Sedang mengganti baju! Demi Tuhan, tubuhnya benar-benar sempurna. Semua otot di lengan, perut dan dadanya membuat air liurku menetes!”

“Ingat suami dan anakmu di rumah!”

“Kalau tidak ingat, aku mungkin sudah tebar pesona padanya! Benar-benar deh, aktor kita satu itu … tidak ada yang bisa menandingi keseksiannya!”

Alexa mendengus mendengar obrolan dua staff wanita di belakangnya. Wanita itu meletakkan sendok, mendadak nafsu makannya hilang. Ia datang ke lokasi syuting sejak pukul tujuh pagi, tapi hingga lima jam berlalu belum ada tanda-tanda bagiannya akan dimulai.

Setelah mengutuk semua isi kontrak yang mewajibkannya datang sejak matahari baru saja terbit, Alexa juga harus tebal telinga mendengar berbagai pujian yang dilayangkan para staff untuk sang aktor utama.

“Jangan bertingkah seperti anak kecil dan habiskan makananmu.” Alena meletakkan kembali sendok ke genggaman wanita yang menatapnya dengan aura permusuhan.

“Kau butuh energi untuk membiarkan bibir dan tubuhmu diperawani untuk keperluan syuting.” Alena kembali berucap, tidak peduli kata-katanya membuat bola mata Alexa nyaris keluar dari tempatnya.

“Apa maksudmu bibir? Skenarionya adalah kami bertemu di bar, saling menggoda dan berakhir di hotel. Kami hanya akan sedikit bersentuhan. Aku yakin di filmnya, adegan ini akan keluar selama lima belas sampai tiga puluh detik saja. Mereka tidak mungkin membuat sedetail itu.” Alexa menggeleng, memilih melanjutkan makan siangnya.

Alena yang sejak dulu firasatnya tidak pernah salah hanya mengendikkan bahu. Alexa mungkin lupa bahwa ia sedang berada di sebuah projek di bawah besutan sutradara ternama. Dan Zayn Miller terkenal sebagai orang yang memperhatikan setiap detail kecil sehingga semua adegan dalam karyanya selalu sempurna.

Jangankan untuk sebuah adegan, Zayn terkenal sebagai sutradara yang bahkan memperhatikan letak vas bunga atau lukisan di dinding. Seseorang yang terkenal dengan hasil kerja sempurna, mungkin Alexa akan terkejut. Yah … yang penting kan, Alena sudah memberitahu, jadi ia tidak salah lagi!

“Ekspresi wajahmu mencurigakan,” ucap Alexa seraya menuding wajah wanita di sisinya dengan garpu.

“Aku hanya tidak sabar melihat bagaimana kau merelakan keperawanan bibirmu, hahaha!” Alena tertawa seperti robot, membuat aktris asuhannya melotot tidak terima.

“Sekarang aku mengerti kenapa dia mendapat julukan sebagai pria terseksi di dunia!”

Seruan salah satu staff membuat Alexa yang ingin mendebat Alena lebih jauh, jadi menoleh ke arah yang dilihat orang-orang. Pria itu, aktor dengan ketampanan tidak manusiawi, berjalan ke arah wanita yang akan menjadi lawan mainnya beberapa jam ke depan.

Alexa kembali pada makan siangnya, sambil meyakinkan diri bahwa Raymond tidak mungkin menghampirinya.

Wanita itu menghela napas saat mendengar jeritan tertahan para staff wanita di sekitarnya, juga langkah tegas yang perlahan semakin mendekat.

‘Tolong jangan ke sini,’ batin wanita itu penuh harap. Ia tidak mau bertemu pria itu di luar kamera, khawatir tidak bisa menjaga ekspresi wajahnya sendiri dan menunjukkan permusuhan dengan sangat kentara.

“Selamat siang, Nona Alexa.”

Sialan! Alexa mengumpat dalam hati, mendongak melihat pria yang sedang tersenyum di hadapannya. Bagi Alexa, penampilan pria itu terlalu berlebihan, kalau tidak mengingat Raymond sedang memerankan seorang Tuan Muda yang penampilannya selalu sempurna.

“Selamat siang, Tuan Raymond.”

‘Akhirnya kau menyadari bahwa sekarang sudah siang? Aku di sini sudah sejak pagi sekali, menunggumu menyelesaikan adegan lain, dasar tidak berperasaan!’

Alexa tersenyum kecil, menahan diri agar tidak mengerutkan kening ketika pria yang selalu dimakinya diam-diam, langsung duduk di kursi di hadapannya tanpa mengatakan apa-apa.

‘Dia bahkan tidak meminta pendapatku dan seenak jidat duduk di sana? Yang seperti ini bagaimana bisa mendapat atensi dari orang-orang? Mereka pasti dibutakan dengan wajah sok tampannya!’

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Raymond?” Alexa bertanya sopan, hampir menarik tangan Alena saat manajernya itu malah berdiri dan menjauh beberapa langkah.

Satu alis pria itu terangkat melihat pergerakan Alena. “Manajermu benar-benar orang yang pengertian,” ucapnya, memuji bagaimana wanita itu dengan sigap langsung menjauh sebelum Raymond mengatakan apa-apa.

“Ia terlalu pengertian,” balas Alexa cukup keras, sengaja menyindir sepupu yang entah bagaimana ia tahu sekarang sedang mengejeknya.

“Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan terkait adegan kita hari ini,” ucap Raymond pelan, tubuhnya maju hingga menyentuh meja kecil di tengah mereka.

“Apa itu?” Alexa merasa tidak nyaman atas tatapan orang-orang di sekitar. Di mata mereka, jarak antara Alexa dan sang aktor cukup dekat, apalagi Raymond bicara sambil berbisik.

“Saya bisa melakukan adegan apa saja, kecuali menautkan bibir.”

Hah? Alexa hampir menganga dengan tidak elit begitu mendengar kalimat yang dilontar Raymond. Menautkan bibir? Kenapa memakai bahasa halus yang malah aneh didengar?

“Menautkan bibir yang Anda maksud sama dengan yang ada di otak saya, kan?” Alexa bertanya untuk meyakinkan diri, mana tahu arti yang diucap pria itu dan yang ada di kepala Alexa berbeda. “Maksud Anda berciu–”

“Iya, itu maksud saya!” ujar Raymond cepat, memotong perkataan wanita di depannya. “Tidak perlu disebutkan segamblang itu,” ucapnya lagi, wajah hingga telinganya memerah sempurna.

Apa ia malu? Alexa menatap pria yang kini menggaruk kepala, terlihat kikuk. Perlahan senyum wanita itu mengembang lebar.

“Baiklah, saya mengerti. Anda tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu,” ucap Alexa lembut, penuh pengertian.

“Apa kau tidak menganggapku aneh?” tanya Raymond penasaran, pasalnya semua orang akan bertanya kenapa ia tidak pernah mau melakukan adegan itu. Raymond sendiri sudah sangat lelah menjelaskannya pada setiap sutradara, produser, hingga lawan mainnya.

“Kenapa aneh?” Alexa mengendikkan bahu. “Tubuh itu ‘kan milik Anda. Jadi, hanya Anda yang bisa menentukan sampai batas mana orang-orang boleh menyentuhnya.”

Alexa tersenyum simpul, merasa bangga dengan kata-katanya sendiri. Wanita itu melirik penuh kemenangan pada Alena, hampir saja memeletkan lidah kalau tidak ingat sedang berada di depan umum.

Wanita itu tidak menyadari bahwa pria di hadapannya sedang menatap dengan binar berbeda. Raymond tersenyum kecil, langsung menunduk ketika netra coklat Alexa bertubrukan dengannya, telinga pria itu kembali memerah.

“Anda hanya ingin mengatakan itu saja?” Alexa kembali bertanya dengan nada sopan. Hanya Alena yang tahu bahwa Alexa baru saja mengusir Raymond secara halus.

“Ah, ya!” Raymond tergagap, berdeham sebelum kembali menatap tegas wanita yang selalu memasang senyum ramah. “Saya memang hanya ingin menyampaikan itu. Tolong maafkan ketidaksopanan saya karena mengganggu waktu istirahat Nona Alexa,” ucap pria itu seraya berdiri.

“Kalau begitu, sampai bertemu di lokasi!” Raymond mengatakan salam terakhirnya sebelum pergi, meninggalkan Alexa yang melambai riang di belakang.

“Kau dengar sendiri, kan, Nona Manajer?” Alexa menyeringai saat Alena kembali duduk di sisinya.

“Permisi, Nona Alexa.”

Panggilan itu membuat Alena juga ikut menoleh, keningnya berkerut melihat beberapa staff wanita datang, mengerumuni tempat mereka duduk.

“Ada yang bisa saya bantu?” Alexa kembali memasang senyum sosial, sudah bisa menebak kenapa para wanita itu tiba-tiba berkumpul di sekitarnya.

“Apa kami boleh tahu apa yang Anda dan Raymond bicarakan?” tanya salah satu staff.

“Itu bukan urusan kalian!” Alena langsung menengahi, merasa pertanyaan itu tidak layak dilontarkan seorang staff.

“Ah, maafkan kami, Nona Manajer. Tapi, ini pertama kali kami melihat Raymond memiliki ekspresi seperti itu.”

Alis Alexa saling bertaut. “Ekspresi apa?”

“Ekspresi imut!”

“Apa?” Alexa tiba-tiba merasa dunia di sekitarnya menjadi gelap, telinganya mendadak berdenging mendengar kata mengerikan yang diucap untuk menggambarkan ekspresi wajah Raymond. Imut dari mana?!

“Wajah hingga telinganya memerah setelah mendengar Anda bicara, Nona Alexa. Lalu, ia juga menatap Anda dengan pandangan malu-malu. Aku hampir mimisan melihat ekspresi yang belum pernah ditampilkan Raymond di televisi. Ia benar-benar sangat imut!”

“Benar!” Staff lain menyahut. “Kupikir ia hanya bisa menjadi pacar yang tampan, berkarisma, seksi dan panas, tapi ternyata bisa menjadi imut dan lembut juga!”

“Kurasa kalau kamera menangkap ekspresi wajahnya tadi, Raymond tidak hanya akan mendapat gelar Pria Terseksi, melainkan Pria Terimut di Dunia juga! Apa bahasanya? Emm … such a baby!”

“Ya ampun!”

Dasar gila! Tidak ada yang bisa Alexa lakukan selain mengumpat di dalam hati. Pria paling imut di dunia katanya? Benar-benar, mereka semua buta!

Terpopuler

Comments

dee zahira

dee zahira

alurnya lain. agak berat tapi masih enak kak

2025-02-05

0

lihat semua
Episodes
1 Hanya Seorang Figuran
2 Adegan Tambahan
3 Perebut Posisi
4 Bukan Pria Terseksi
5 Dunia yang Kotor
6 Improvisasi Dalam Akting
7 Sutradara Bilang, 'CUT'!
8 Hukuman Tengah Malam
9 Mimpi yang Mustahil
10 Paman Tampan
11 Sampai Jumpa, Paman!
12 Tetangga Baru
13 Taman Bermain Sang Putri
14 Ayo Berlibur!
15 Pangeran Gila
16 Topik Panas Sepanjang Tahun
17 Kejutan
18 Permata yang Hancur
19 Membuat Skandal
20 Kemarahan Alena
21 Skandal
22 Putri Waxton Grup
23 Rencana Bantahan
24 Pasangan Sempurna
25 Semakin Kacau
26 Menemui Si Gila
27 Lupa Tujuan
28 Memulai Kekacauan
29 Menemui Direktur
30 Skenario Dadakan
31 Hingga Badai Mereda
32 Tamu Pagi Hari
33 Hukuman Mengerikan
34 Sebuah Fakta
35 Aku Cemburu
36 Bertemu
37 Kacau
38 Obrolan Orang Dewasa
39 Dia Putriku!
40 Mimpi Buruk
41 Tamu Tak Diundang
42 Projek Baru
43 Pertemuan Rahasia
44 Gerimis
45 Bunga Anyelir
46 Pengunjung Tak Terduga
47 Mawar Kuning
48 Terima Kasih
49 Jangan Berpikir Rumit
50 Pesta yang Melelahkan
51 Bunga Meja
52 Apatis
53 Mantan Seorang Idola
54 Hari Pertama Syuting
55 Tatapan Penuh Cinta
56 Wanita Bernama Agnia
57 Syuting Pertama Selesai
58 Tanggung Jawab
59 Gagal Syuting
60 Dunia Hiburan
61 Perusak Suasana
62 Nona Larisha
63 Musuh atau Teman?
64 Tamu Dadakan
65 Salah Jadwal
66 Bertemu Keluarga
67 Tersesat
68 Gang Belakang
69 Di Balik Topeng
70 Sekarat
71 Perempuan Gila
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Hanya Seorang Figuran
2
Adegan Tambahan
3
Perebut Posisi
4
Bukan Pria Terseksi
5
Dunia yang Kotor
6
Improvisasi Dalam Akting
7
Sutradara Bilang, 'CUT'!
8
Hukuman Tengah Malam
9
Mimpi yang Mustahil
10
Paman Tampan
11
Sampai Jumpa, Paman!
12
Tetangga Baru
13
Taman Bermain Sang Putri
14
Ayo Berlibur!
15
Pangeran Gila
16
Topik Panas Sepanjang Tahun
17
Kejutan
18
Permata yang Hancur
19
Membuat Skandal
20
Kemarahan Alena
21
Skandal
22
Putri Waxton Grup
23
Rencana Bantahan
24
Pasangan Sempurna
25
Semakin Kacau
26
Menemui Si Gila
27
Lupa Tujuan
28
Memulai Kekacauan
29
Menemui Direktur
30
Skenario Dadakan
31
Hingga Badai Mereda
32
Tamu Pagi Hari
33
Hukuman Mengerikan
34
Sebuah Fakta
35
Aku Cemburu
36
Bertemu
37
Kacau
38
Obrolan Orang Dewasa
39
Dia Putriku!
40
Mimpi Buruk
41
Tamu Tak Diundang
42
Projek Baru
43
Pertemuan Rahasia
44
Gerimis
45
Bunga Anyelir
46
Pengunjung Tak Terduga
47
Mawar Kuning
48
Terima Kasih
49
Jangan Berpikir Rumit
50
Pesta yang Melelahkan
51
Bunga Meja
52
Apatis
53
Mantan Seorang Idola
54
Hari Pertama Syuting
55
Tatapan Penuh Cinta
56
Wanita Bernama Agnia
57
Syuting Pertama Selesai
58
Tanggung Jawab
59
Gagal Syuting
60
Dunia Hiburan
61
Perusak Suasana
62
Nona Larisha
63
Musuh atau Teman?
64
Tamu Dadakan
65
Salah Jadwal
66
Bertemu Keluarga
67
Tersesat
68
Gang Belakang
69
Di Balik Topeng
70
Sekarat
71
Perempuan Gila

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!