Ayo Berlibur!

"Ini terlalu banyak. Mama bilang hanya mengirim koleksi terbaru untuk musim ini, tapi rasanya seperti koleksi tiga musim dikirim sekaligus?"

Alexa tidak berniat mengomeli beberapa karyawan ibunya yang datang dengan kotak-kotak berisi pakaian koleksi terbaru Magnofy, tapi barang-barang itu terlalu banyak. Tidak hanya pakaian, ada juga tas dan sepatu, beberapa aksesoris, topi, bahkan kosmetik.

"Ini semua adalah beberapa produk yang akan dipamerkan dalam Magnofy's Fashion of The Year. Nyonya ingin semua barang yang akan ada di sana dikirimkan pada Nona Alexa."

Penjelasan itu membuat Alexa menghela napas. Kalau ada kata beberapa, itu artinya ia belum menerima seluruhnya. Apartement yang Alexa tinggali memang luas, tapi mustahil menyusun barang sebanyak itu di kamarnya.

"Aku sudah memilih beberapa pakaian, sepatu dan aksesoris untuk digunakan lebih dulu. Sisanya tolong kirim ke kediaman utama." Alena yang baru saja mengecek seluruh barang yang datang berucap tenang, mengabaikan rengutan di wajah cantik Alexa.

"Kenapa tidak mengirim semuanya ke kediaman utama? Pakaianku yang ada di sini sebagian besar masih belum pernah digunakan. Bukankah mencurigakan seorang aktris kecil sepertiku memakai baju berbeda setiap hari? Apalagi semuanya berasal dari brand ternama." Alexa kembali mengeluh, meski tahu bahwa sikapnya tidak baik.

Bukannya tidak bersyukur, tapi rasanya berlebihan. Alexa bahkan harus membeli beberapa potong pakaian normal yang bisa dipakai ke lokasi syuting. Kan, tidak lucu kalau datang ke lokasi sebagai pemeran ekstra figuran, tapi pakaian yang dikenakan lebih mahal dari bayaran aktris utamanya.

"Bibi Valisha akan mengirim lebih banyak kalau kau menyingkirkan barang-barang ini ke kediaman utama begitu saja. Mereka juga akan dimarahi kalau kau tidak memilih satu pun."

Alexa bahkan tidak bisa membantah saat yang dikatakan Alena adalah kebenaran.

"Yah, mau bagaimana lagi! Bilang pada Mama bahwa aku memilih sendiri beberapa barangnya, sisanya dikirim ke kediaman utama karena kamar di apartement ini tidak cukup untuk menampung semua itu."

"Terima kasih atas pengertian Anda, Nona."

Alexa mengabaikan tatapan berbinar dan penuh syukur yang dipancarkan karyawan Magnofy. Yah ... jelas bukan hal yang buruk memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.

"Ah, ya, kapan Bibi Valisha akan kembali dari London? Magnofy's Fashion of The Year akan dilaksanakan di Paris, kan? Apa hanya brand ambassador dari Eropa yang menjadi model?"

"Nyonya bilang akan kembali minggu ini kalau tidak ada halangan. Untuk model juga tidak hanya dari Eropa, mengingat ini adalah acara tahunan yang biasa digelar Magnofy, para brand ambassador dari berbagai negara juga akan hadir."

Alena mengangguk, acaranya masih sama besarnya seperti tahun-tahun lalu, bedanya sekarang digelar di Paris.

"Apa artinya aku tidak bisa duduk di kursi paling depan? Tahun ini sepertinya aku tidak bisa hadir, ya?" Alexa bertanya pelan setelah menyadari bahwa sangat besar kemungkinan ada yang mengenal wajahnya kalau wanita itu pergi dan duduk di kursi terdepan.

Lima orang yang berdiri di hadapan Alexa hanya bisa menunduk, tidak menjawab apa pun karena memang bukan hak mereka untuk ikut campur.

"Tanyakan itu pada Bibi VaLisha," ucap Alena mengingatkan.

***

"Haruskah kita jalan-jalan?"

Ide itu tercetus begitu saja setelah Alexa tidak berhasil menyelesaikan satu pun pekerjaannya. Wanita yang seminggu ini hanya berada di dalam apartement, keluar hanya untuk makan sebelum kembali mendekam di ruangan berisi banyak kertas berserak di lantai, akhirnya menyerah setelah kepalanya terasa ingin pecah.

"Ayo! Aku juga rasanya hampir mati," Alena yang baru keluar dari ruang kerjanya dan mendengar ide Alexa langsung mengangguk setuju. Wanita itu menghempaskan tubuh di sofa, perutnya mual dengan angka-angka yang berputar di kepalanya.

"Padahal kupikir kau terlalu menikmati pekerjaanmu sampai tidak mau makan di luar." Alexa tidak tahan untuk menyindir sejak Alena mengurung diri bersama laptop di ruang pribadinya, mengabaikan ajakan Alexa untuk sekedar mencari makanan di luar.

"Aku ingin segera menyelesaikannya. Laporan-laporan itu rasanya tidak pernah habis. Aku muak, tapi mereka terus berdatangan. Aku sempat berpikir ini adalah hukuman tambahan dari Mama." Alena menghembuskan napas panjang, menatap lukisan wajah salah satu member dari grup idola kesukaan Alexa yang tergantung di dinding.

"Kalau begitu ayo bersiap, kita ke luar. Mengelilingi kota, ke mall, nonton di bioskop, ke taman bermain atau ke mana pun, mencari udara segar." Alexa beranjak dari sofa, meregangkan sendi-sendinya terasa kaku dengan gerakan ringan. "Tapi, aku tidak bisa menyetir, tanganku sakit."

Alena mendecih, ikut berdiri, menyeret langkahnya menuju kamar. "Bilang saja sedang ingin mencari ide, tapi malas menyetir. Selalu aku yang menuruti keinginanmu, kan?"

"Memangnya kau tidak mau keluar? Apa pun alasan aku mengajakmu, intinya adalah kita pergi jalan-jalan, kan?"

Yah, memang tidak salah. Alena memasuki kamar tanpa mengatakan apa pun lagi, meninggalkan Alexa yang masih mengerutkan kening.

"Dia mengabaikanku," gumam Alexa sebal, kembali melangkah, memasuki kamarnya sendiri.

Ada empat kamar di apartement itu. Mereka membaginya menjadi dua, satu untuk kamar tidur dan satu lagi merupakan ruang kerja. Setiap orang memiliki privasi yang tidak bisa diganggu, jadi Alena dan Alexa terbiasa untuk tidak memasuki ruang kerja masing-masing tanpa izin lebih dulu.

Bukan apa-apa, tapi Alena pernah membereskan kertas-kertas yang berserak di lantai kamar Alexa, berpikir bahwa itu hanyalah sampah dan membuangnya. Mereka bertengkar hebat. Pertengkaran pertama yang diwarnai dengan aksi saling jambak dan teriakan penuh kemarahan.

Kertas-kertas itu berisi desain pakaian yang Alexa gambar susah payah. Wanita itu tertidur, kelelahan setelah berhasil menyelesaikan desainnya, tapi Alena datang dan dengan baik hati menyingkirkan semua hasil kerja keras Alexa.

"Benar-benar kenangan indah," gumam Alexa setelah kejadian tujuh tahun silam terbersit di benaknya.

Usia mereka masih delapan belas pada saat itu, usia di mana emosi mengalahkan segalanya. Alexa terkekeh pelan mengingatnya.

***

"Untuk pertama kali aku menyesali keputusanku pergi ke taman bermain." Alexa mengerang, ingin sekali menjambak rambutnya sendiri.

Alena dan Alexa memutuskan untuk pergi ke taman bermain, berniat menaiki semua wahana, berteriak dan tertawa bersama, menikmati semua makanan yang ditemui, memakai bando hewan lucu dan memakan es krim sambil menikmati langit sore sebagai penutup.

Tapi, sepertinya tidak ada satu pun rencana di benak dua wanita itu yang akan terlaksana. Taman bermain yang biasa mereka datangi tampak sangat ramai, bukan oleh pengunjung biasa, melainkan para penggemar dari dua orang yang sedang melakukan syuting.

"Dari semua taman bermain di kota ini, kenapa mereka memilih syuting di sini? Bukannya menjernihkan kepala datang ke sini, malah semakin keruh."

Alena menghela napas melihat kerumunan di hadapannya. Mereka semua tampak berebut ingin melihat dua pemeran utama, saling berhimpitan, tidak peduli meski menginjak kaki seseorang.

"Tidak ada harapan. Ayo ke tempat lain," ajak Alena akhirnya.

Alexa menurut, tidak bisa melakukan apa-apa saat sepertinya seluruh area taman bermain itu sudah disewa untuk keperluan syuting. Anehnya, entah bagaimana Alexa dan Alena masih bisa masuk ke dalam. Mungkin karena kartu khusus yang mereka punya membuat petugas tidak berani mengatakan apa pun.

"Lalu, kita mau ke mana?"

"Mau ke pantai?" tanya Alena saat tidak menemukan tempat yang cocok untuk menggantikan tujuan pertama mereka. "Suasana yang tenang sepertinya juga bagus untuk menjernihkan pikiran. Atau mau ke luar kota? Ke luar negeri?"

Kenapa destinasinya semakin jauh?

"Ke pantai terdekat saja. Kau tahu tempat yang bagus, tapi tidak terlalu ramai?"

Alena mengangguk, senyumnya melebar. "Tempat yang kita datangi saat pertama kali diam-diam mengikuti Bibi Valisha, masih ingat?"

Alexa bertepuk tangan, matanya berbinar saat membayangkan tempat yang pernah mereka kunjungi.

"Benar, kenapa tidak kepikiran ke sana! Ayo, aku tidak sabar melihat matahari terbenam."

Alena tertawa melihat antusiasme sepupunya. Mereka baru akan memasuki mobil saat sebuah suara menginterupsi.

"Alexa dan Alena, apa aku benar?"

Dua wanita itu otomatis menoleh, apalagi suara yang menyebut nama mereka terdengar cukup akrab.

"Wah, Paman tampan!" seru Alexa dan Alena bersamaan saat melihat tetangga baru mereka, Edgar, berdiri sambil tertawa sejak mendengar panggilan dua wanita itu untuknya.

Episodes
1 Hanya Seorang Figuran
2 Adegan Tambahan
3 Perebut Posisi
4 Bukan Pria Terseksi
5 Dunia yang Kotor
6 Improvisasi Dalam Akting
7 Sutradara Bilang, 'CUT'!
8 Hukuman Tengah Malam
9 Mimpi yang Mustahil
10 Paman Tampan
11 Sampai Jumpa, Paman!
12 Tetangga Baru
13 Taman Bermain Sang Putri
14 Ayo Berlibur!
15 Pangeran Gila
16 Topik Panas Sepanjang Tahun
17 Kejutan
18 Permata yang Hancur
19 Membuat Skandal
20 Kemarahan Alena
21 Skandal
22 Putri Waxton Grup
23 Rencana Bantahan
24 Pasangan Sempurna
25 Semakin Kacau
26 Menemui Si Gila
27 Lupa Tujuan
28 Memulai Kekacauan
29 Menemui Direktur
30 Skenario Dadakan
31 Hingga Badai Mereda
32 Tamu Pagi Hari
33 Hukuman Mengerikan
34 Sebuah Fakta
35 Aku Cemburu
36 Bertemu
37 Kacau
38 Obrolan Orang Dewasa
39 Dia Putriku!
40 Mimpi Buruk
41 Tamu Tak Diundang
42 Projek Baru
43 Pertemuan Rahasia
44 Gerimis
45 Bunga Anyelir
46 Pengunjung Tak Terduga
47 Mawar Kuning
48 Terima Kasih
49 Jangan Berpikir Rumit
50 Pesta yang Melelahkan
51 Bunga Meja
52 Apatis
53 Mantan Seorang Idola
54 Hari Pertama Syuting
55 Tatapan Penuh Cinta
56 Wanita Bernama Agnia
57 Syuting Pertama Selesai
58 Tanggung Jawab
59 Gagal Syuting
60 Dunia Hiburan
61 Perusak Suasana
62 Nona Larisha
63 Musuh atau Teman?
64 Tamu Dadakan
65 Salah Jadwal
66 Bertemu Keluarga
67 Tersesat
68 Gang Belakang
69 Di Balik Topeng
70 Sekarat
71 Perempuan Gila
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Hanya Seorang Figuran
2
Adegan Tambahan
3
Perebut Posisi
4
Bukan Pria Terseksi
5
Dunia yang Kotor
6
Improvisasi Dalam Akting
7
Sutradara Bilang, 'CUT'!
8
Hukuman Tengah Malam
9
Mimpi yang Mustahil
10
Paman Tampan
11
Sampai Jumpa, Paman!
12
Tetangga Baru
13
Taman Bermain Sang Putri
14
Ayo Berlibur!
15
Pangeran Gila
16
Topik Panas Sepanjang Tahun
17
Kejutan
18
Permata yang Hancur
19
Membuat Skandal
20
Kemarahan Alena
21
Skandal
22
Putri Waxton Grup
23
Rencana Bantahan
24
Pasangan Sempurna
25
Semakin Kacau
26
Menemui Si Gila
27
Lupa Tujuan
28
Memulai Kekacauan
29
Menemui Direktur
30
Skenario Dadakan
31
Hingga Badai Mereda
32
Tamu Pagi Hari
33
Hukuman Mengerikan
34
Sebuah Fakta
35
Aku Cemburu
36
Bertemu
37
Kacau
38
Obrolan Orang Dewasa
39
Dia Putriku!
40
Mimpi Buruk
41
Tamu Tak Diundang
42
Projek Baru
43
Pertemuan Rahasia
44
Gerimis
45
Bunga Anyelir
46
Pengunjung Tak Terduga
47
Mawar Kuning
48
Terima Kasih
49
Jangan Berpikir Rumit
50
Pesta yang Melelahkan
51
Bunga Meja
52
Apatis
53
Mantan Seorang Idola
54
Hari Pertama Syuting
55
Tatapan Penuh Cinta
56
Wanita Bernama Agnia
57
Syuting Pertama Selesai
58
Tanggung Jawab
59
Gagal Syuting
60
Dunia Hiburan
61
Perusak Suasana
62
Nona Larisha
63
Musuh atau Teman?
64
Tamu Dadakan
65
Salah Jadwal
66
Bertemu Keluarga
67
Tersesat
68
Gang Belakang
69
Di Balik Topeng
70
Sekarat
71
Perempuan Gila

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!