Pertarungan Pecah

Aku terus berjalan melewati koridor kastil dengan perasaan sangat memburu, entah kenapa andrenaline ku tiba-tiba naik seakan aku tengah berada di medan perang sungguhan.

Ada juga beragam ilmu pengetahuan tentang berpedang yang memaksa masuk ke dalam benakku, hal semacam ini pernah aku rasakan ketika memasak kemarin malam.

Sejujurnya aku tidak tahu terlalu banyak tentang ilmu berpedang, apalagi menggunakan pedang untuk membunuh seseorang. Tapi, aku merasa sangat bersemangat pada saat ini, terutama ketika ada salah satu ilmu berpedang yang ingin aku coba lakukan untuk melawan sekelompok bandit itu.

"Tunggu, kamu mau pergi kemana, Brian?" suara Mama Laura tiba-tiba terdengar tepat ketika aku baru saja membuka pintu kastil.

"Aku mau membunuh bandit-bandit itu," jawabku jujur.

Mama Laura sontak mengernyit usai mendengar jawabanku, tangannya buru-buru terulur ke depan untuk menahan langkahku. Ia sepertinya sangat khawatir aku akan melakukan hal bodoh di luar sana, makanya ia berusaha menahanku untuk tetap tinggal di sini.

"Bagaimana caramu membunuh mereka? Kamu tak mungkin akan menyerang mereka hanya dengan mengandalkan kemampuan sihir anak sekolahan, kan? Mereka tuh penjahat yang terkenal sangat kejam, belum lagi ada beberapa manusia serigala di dalam kelompok mereka," ujar Mama Laura sangat cemas.

"Aku sudah tahu kok, lantas apa masalahnya? Lagian aku tak akan membunuh mereka pakai kekuatan sihir, pedang ini saja sudah lebih dari cukup," balasku seraya menunjukan pedang di tanganku kepada Mama Laura.

"Pedang? Kamu serius ingin membunuh mereka pakai pedang?" tanya Mama Laura memastikan.

"Ya, aku hanya butuh pedang untuk melakukannya," jawabku sangat yakin.

Mama Laura sontak menggertakan giginya, tampak rasa khawatirnya semakin menjadi-jadi. Aku tahu Mama Laura tak ingin melihatku terluka, tapi aku tak bisa diam saja ketika ada orang yang mengincar wanitaku.

Langsung kupeluk saja Mama Laura untuk meyakinkannya, tak lupa juga kudekatkan bibirku di telinga Mama Laura.

"Aku akan buatkan makanan enak lagi setelah pertarungan ini berakhir, terus aku juga akan berikan pijatan nikmat agar tubuh Mama terasa lebih rileks. Jadi, Mama tunggu saja di sini ya? Biar aku yang akan membereskan orang-orang jahat itu," bisikku sembari kubelai mesra pipi Mama Laura.

Jujur saja aku memakai mode playboy untuk menaklukan hati Mama Laura, soalnya akan ribet jadinya bila wanita ini terlalu banyak ikut campur urusan pribadiku.

Benar saja, kulihat wajah Mama Laura langsung memerah bagai tomat, ia benar-benar tersipu usai mendengar ucapanku barusan.

Aku pun tak akan pernah melewatkan kesempatan ini, segera kucium saja pipi Mama Laura sebelum aku pergi meninggalkannya.

"Tolong jangan terlalu memaksakan diri, Brian. Kamu harus kembali secepatnya ke dalam kastil bila situasinya memburuk. Mama tak ingin melihatmu terluka lagi," pinta Mama Laura.

"Aku mengerti, Ma. Percayakan saja semuanya padaku," sahutku seraya berjalan menuju gerbang kastil.

Dan ternyata sudah ada banyak orang yang bersiap di sini, mereka adalah ksatria yang bertugas menjaga keamanan kastil keluarga Argus.

"Bagaimana situasinya? Apa mereka benar-benar bandit atau orang suruhan dari keluarga lain?" tanyaku kepada orang yang memimpin kelompok ksatria itu. Dia memiliki nama lengkap Leon Von Argus.

"Mereka hanya sekelompok bandit, Tuan Muda. Tapi, mereka juga mungkin orang suruhan. Karena bandit seharusnya tak akan berani menyerang sepagi ini," jelas Leon.

"Apa kau tahu asal mereka? Mungkinkah mereka berasal dari keluarga musuh kita?" tanyaku lagi.

"Bukan, Tuan Muda. Saya yakin mereka berasal dari wilayah perbatasan kerajaan Herald yang sengaja datang kesini untuk mencari masalah," jawab Leon.

Aku langsung memikirkan sesuatu usai mendengarnya, karena kerajaan Herald ini merupakan kerajaan terdekat dari kerajaan Narandra sekaligus tempat Brian sekolah selama akhir-akhir ini.

Aku pun menebak bahwa orang yang sudah mengirim bandit itu mungkin saja berasal dari keluarga bangsawan yang sudah membeli Catrine sebagai budak, atau kata lainnya keluarga majikan Catrine.

"Kira-kira apa yang akan terjadi bila semua bandit itu mati di tanah kita?" tanyaku memastikan.

"Tidak akan terjadi apa-apa, Tuan Muda. Justru ini hal yang sangat bagus untuk mengangkat kembali reputasi keluarga Argus di mata Baginda Ratu. Sejujurnya saya sudah sangat menantikan momen seperti ini," ujar Leon.

"Bagus, mari kita bantai mereka kalau begitu," tanggapku seraya berjalan keluar gerbang kastil. Sedangkan Leon bergegas menyiapkan semua ksatria untuk maju ke medan pertempuran.

Jumlah kami memang hanya ada dua puluh orang, tapi kami yakin bisa membunuh semua bandit itu dengan mengandalkan kemampuan kami.

Singkatnya, kami sudah berada di luar kastil dalam barisan yang sangat rapi. Aku dan Leon berdiri di barisan paling depan, sedangkan ksatria lainnya berdiri di barisan belakang dengan senjata di tangan masing-masing.

Tak lama kemudian, kulihat sekelompok orang datang sembari tertawa sangat puas. Mereka sepertinya tidak memiliki beban apapun seakan tidak menganggap keberadaan kami.

Ada juga lima manusia serigala yang memiliki penampilan sangat menyeramkan dengan tubuh jangkung dan otot kekar, kelimanya benar-benar terlihat sangat buas dan haus darah.

Aku dan Leon berjalan menghampiri mereka secara perlahan, aku berniat memberikan sapaan ramah lebih dulu sekaligus menanyakan maksud kedatangan mereka. Dan bila memang benar mereka mengincar Catrine, maka aku akan langsung menebas kepala mereka tanpa ragu sama sekali.

"Hehehe, sepertinya keluarga Argus sudah bersiap menyambut kedatangan kita, tapi sayangnya mereka terlalu meremehkan kita. Masa mereka hanya menyiapkan dua puluh tumbal untuk kita yang sudah sangat lapar ini," ucap salah satu manusia serigala.

"Aku tak peduli dengan rasa laparmu, yang terpenting kita harus berhasil menangkap wanita kucing itu. Jangan sampai master mengamuk lagi karena dia tidak bisa melampiaskan gairahnya," sahut pimpinan bandit.

"Iya-iya, aku mengerti. Ya sudah, kita bantai dulu orang-orang dari keluarga Argus, lalu cari keberadaan wanita kucing itu," ujar manusia serigala sembari mempercepat langkah kakinya.

Aku menarik napas dalam-dalam agar tidak merasa gugup, kuperhatikan wajah kelompok bandit itu satu demi satu sembari menghunus pedangku ke arah mereka.

'Aku ingin menghabisi mereka, tolong berikan aku kekuatan untuk melakukannya,' ucapku di dalam hati, kini aku tak perlu ragu karena sudah tahu maksud kedatangan mereka.

Kemudian kubayangkan sosok Alucard dari game Mobile Legend di dalam kepalaku, tangan kananku pun kesemutan seketika dan tubuhku tiba-tiba melompat ke arah kelompok bandit itu begitu saja.

"Tuan Muda ...."

Leon berteriak dari belakang, tapi aku tidak peduli sama sekali. Kini aku hanya perlu fokus bertarung dengan semua kekuatan yang aku miliki untuk membunuh semua bandit ini.

Bam!

Aku menghantamkan bilah pedang ke tanah tepat di depan bandit yang berlari paling depan, membuat tanah di sekitarnya berguncang cukup keras sehingga mereka kehilangan keseimbangan.

Seeet!

Lalu aku melakukan gerakan memutar dengan pedang terlulur ke depan, kepala dari beberapa bandit pun ikut menghilang ketika aku melakukan gerakan tersebut.

"Ini gerakan terakhir," teriakku sembari menarik pedangku ke atas, lalu kutebaskan lagi ke depan sekuat tenaga.

Entah ini hanya ilusiku saja atau memang benar-benar sudah terjadi, aku seperti sudah melihat sebuah efek khusus sama seperti ketika Alucard mengeluarkan skill ultimatenya.

"ARGHHH!"

"ARGHHH!"

"ARGHHH!"

Kudengar suara kesakitan dari kelompok bandit itu, beberapa dari mereka bahkan sudah tidak bernyawa lagi.

"Auuuu!!!" Kelima manusia serigala melolong sangat keras, mereka mungkin berniat memanggil bantuan dari manusia serigala lain.

Sat!

Set!

Sat!

Set!

Aku jelas tak akan pernah diam usai melihat langkah yang diambil kelima manusia serigala itu, bergegaslah aku menyerang mereka menggunakan serangan cepat layaknya Lancelot.

"Fiuh! Darah manusia serigala ini sungguh menjijikan sekali, pakaian tidurku jadi bersimbah darah sekarang," gerutuku usai memotong kepala manusia serigala itu.

Aku lalu mengalihkan pandangan kepada bandit yang tersisa sembari memikirkan cara yang tepat untuk menghabisi mereka sekaligus.

"K-Kau ... Siapa kau? Kenapa kau bisa memiliki kekuatan sebesar itu?!" tanya seorang bandit sangat gugup, kakinya beringsut mundur perlahan karena takut akan kemampuanku.

"Aku pemilik kastil ini, namaku Brian Von Argus," jawabku lantang.

"A-Apa kau tahu yang sudah kau lakukan barusan? Kau sudah membunuh orang-orang dari keluarga Luke di kerajaan Herald! Apa kau tidak takut mereka akan datang balas dendam kesini?" ancam bandit itu.

Aku langsung tersenyum puas usai mendengarnya, tak kusanga akan mudah sekali mendapatkan informasi dari mulut orang-orang ini. Tapi, aku berniat mencari informasi lebih jauh lagi, makanya aku segera bertanya balik kepada mereka, "Apakah keluarga Luke sangat kuat? Seberapa banyak pasukan yang mereka miliki?"

"Tentu saja mereka sangat kuat! Ada lebih dari seribu bandit yang selalu setia kepada keluarga Luke, belum lagi mereka memiliki pasukan manusia serigala dan ksatria sihir. Hahaha, keluarga Argus pasti akan langsung musnah dari dunia ini bila Tuan sudah mengerahkan semua pasukannya. Kuyakin kalian hanya bisa menangis hingga mati," sahut bandit itu dengan gelak tawa puas.

"Jadi, cepat berikan saja wanita kucing itu sekarang, jangan sampai kalian ...."

Seeet!

Aku menyela ucapan bandit itu dengan tebasan pedang ala Benedetta, kemudian aku gunakan skill ultimatenya untuk membunuh semua bandit yang tersisa.

"Keluarga Luke ya? Hmm, aku sepertinya harus mendatangi mereka lebih dulu," gumamku sembari berjalan kembali ke arah pintu kastil.

"Bakar semua mayat itu, Leon. Aku tak ingin ada mayat di kastil ini," titahku kepada Leon, yang masih mematung di tempat dengan mulut terbuka lebar.

"Leon?" panggilku, karena pria itu tidak segera menanggapi perintahku.

"S-Siap, Tuan Muda. Kami akan melakukannya sekarang," sahut Leon, bergegas mengeksekusi perintahku.

Aku tak ingin tinggal terlalu lama di tempat ini, segera saja masuk kembali ke dalam kastil dengan wajah tenang.

"Brian ...." Mama Laura buru-buru menyambutku dengan pelukan hangat, dada montoknya menempel tepat di depan wajahku hingga membuatku kesulitan bernafas.

"Semuanya sudah beres, Ma. Aku mau mandi dulu sekarang, soalnya tak nyaman sama noda darah pada pakaianku," ujarku melepaskan diri dari pelukan Mama Laura.

Namun, aku tidak bisa lanjut berjalan, karena Catrine tiba-tiba datang dari arah depan dan langsung memelukku begitu saja.

"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya menyesal telah melibatkan Tuan Muda dalam masalah saya," ucapnya getir.

"Aku sendiri yang sudah melibatkan diri ke dalam masalahmu, jadi kamu tak usah minta maaf kayak gitu. Selain itu, aku sudah bilang berkali-kali, bahwa aku sangat menginginkanmu sebagai wanitaku. Jadi, berhentilah meminta maaf dan hadapi semuanya bersamaku," ucapku tegas.

"Saya mengerti, Tuan Muda. Maaf ...." balas Catrine sembari menundukan kepalanya.

Aku senyum-senyum sendiri ketika melihat gelagat Catrine yang tampak begitu menggemaskan ini, segera kubawa saja ia kembali ke kamarku dengan gaya pengantin baru.

"Aku akan ngasih hukuman buat kamu, karena kamu selalu meminta maaf. Sekarang aku ingin mandi, dan kamu harus membersihkan badanku hingga benar-benar bersih. Ingat, punyaku akan semakin besar bila terkena air, dan kuharap lubangmu bisa menahannya nanti, hehehe." bisikku di telinga Catrine, aku berniat memberikan kepuasan untuk wanita kucing yang sangat cantik ini di dalam kamar mandi.

"S-Saya akan melakukan yang terbaik kalau begitu," balas Catrine malu-malu.

Aku tidak banyak bersuara lagi setelahnya, bergegas saja pergi ke dalam kamarku secepat kilat. Sungguh aneh sekali rasanya karena gairahku tiba-tiba naik setelah aku membantai semua bandit itu.

Aku kini hanya ingin segera menembakan cairan cintaku di dalam rahim Catrine sebanyak-banyaknya.

...

Episodes
1 Hidup Kembali
2 Buku Harian
3 Ibu Tiri
4 Tak Marah
5 Wanita Kucing
6 Hidangan Berbeda
7 Jadilah Wanitaku
8 Serangan
9 Pertarungan Pecah
10 Undangan
11 Latihan
12 Sihir Pemikat
13 Tamu Penting
14 Masalah Serius
15 Akan Tanggung Jawab
16 Suku Kanibal
17 Ritual Sesat
18 Ingin Jadi Yang Pertama
19 Masalah Kota River
20 Obat Sihir
21 Kami Akan Pindah
22 Penagih Hutang
23 Biar Gelisah Sendiri
24 Kembali Ke Lunar
25 Sepertinya Hamil
26 Mau Gimana Lagi?
27 Perang Masa Lalu
28 5 Goblin Dari Dunia Lain
29 Ritual Darah
30 Pulang Ke Benua Gelap
31 Serigala Merah
32 Putri Harus Pulang
33 Percaya Laura
34 Malam Terbaik
35 Berangkat ke Ibu kota
36 Hantu Kota Rain
37 Teman Lama
38 Tangan Kanan Raja Iblis
39 Hutan Jura
40 Obat Penambah Daya Tarung?
41 Hewan Mitos
42 Tinju Saitama
43 Jadi Dewa Pelindung?
44 Permintaan Rasti
45 Mainnya Kasar
46 Tiba Di Ibukota
47 Keributan
48 Taruhan Dengan Anna
49 Amukan Aluna
50 Wanita Kucing Lagi?
51 Namanya Clarisa
52 Hak Bangsawan
53 Musuh Bebuyutan
54 Tes Pertama
55 Maunya Kencan
56 Jadi Tukang Pijat
57 Tamu VIP
58 Satu Syarat
59 Alasan Maria
60 Dasar Penjahat
61 Beda Poin
62 Tes Lari
63 Aluna Menang
64 Syarat
65 Guild Petualang
66 Sihir Tingkat Dewa
67 Terlalu Polos
68 Ingin Jadi Pacar
69 Pergi Kencan
70 Kafe Lilian
71 Serangan Tak Terduga
72 Ular Paling Berbahaya
73 Dari Benua Heaven
74 Dua Misteri
75 Malah Begini?
76 Mimpi Buruk
77 Sebelum Duel
78 Jirah Hitam
79 Kemunculan Demon
80 Tak Akan Menggunakannya Lagi
81 Tawaran Kepala Sekolah
82 Hadiah Untuk Pemenang
83 Permintaan Elmar
84 Sebesar Pepaya
85 Berkah Dewi
86 Wanita Kelima
87 Pedang Cahaya
88 Kafe Lilian Lagi
89 Wanita Berjirah Putih
90 Tunggu Saja
91 Keluarga Baru
92 Perpisahan
93 Ada Yang Salah
94 Serangan Sekte Sesat
95 Dunia Khayalan
96 Bertemu Laura
97 Tantangan
98 Teman Baru
99 Potong Lidahmu
100 Menculik Eliza
101 Tawaran Yumina
102 Identitas Ketua Sekte
103 Rencana Kepsek Sejak Awal
104 Panasnya Yumina
105 Tawaran Kerja Sama
106 Antara Aluna dan Yumina
107 Cerita Yumina
108 Main Cepat Bertiga
109 Devon Von Argus
110 Datang Ke Kamar
111 Berburu
112 Keturunan Lain
113 Empat Raja Hewan
114 Tertangkap Basah
115 Isi Hati Isabel
116 Sesuai Gaya Pada Buku
117 Dungeon Kematian
118 Bos Kalajengking
119 Oasis
120 Segarnya Oasis & Isabel
121 Ratu Vampire, Marie Roses.
122 TAMAT S1
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Hidup Kembali
2
Buku Harian
3
Ibu Tiri
4
Tak Marah
5
Wanita Kucing
6
Hidangan Berbeda
7
Jadilah Wanitaku
8
Serangan
9
Pertarungan Pecah
10
Undangan
11
Latihan
12
Sihir Pemikat
13
Tamu Penting
14
Masalah Serius
15
Akan Tanggung Jawab
16
Suku Kanibal
17
Ritual Sesat
18
Ingin Jadi Yang Pertama
19
Masalah Kota River
20
Obat Sihir
21
Kami Akan Pindah
22
Penagih Hutang
23
Biar Gelisah Sendiri
24
Kembali Ke Lunar
25
Sepertinya Hamil
26
Mau Gimana Lagi?
27
Perang Masa Lalu
28
5 Goblin Dari Dunia Lain
29
Ritual Darah
30
Pulang Ke Benua Gelap
31
Serigala Merah
32
Putri Harus Pulang
33
Percaya Laura
34
Malam Terbaik
35
Berangkat ke Ibu kota
36
Hantu Kota Rain
37
Teman Lama
38
Tangan Kanan Raja Iblis
39
Hutan Jura
40
Obat Penambah Daya Tarung?
41
Hewan Mitos
42
Tinju Saitama
43
Jadi Dewa Pelindung?
44
Permintaan Rasti
45
Mainnya Kasar
46
Tiba Di Ibukota
47
Keributan
48
Taruhan Dengan Anna
49
Amukan Aluna
50
Wanita Kucing Lagi?
51
Namanya Clarisa
52
Hak Bangsawan
53
Musuh Bebuyutan
54
Tes Pertama
55
Maunya Kencan
56
Jadi Tukang Pijat
57
Tamu VIP
58
Satu Syarat
59
Alasan Maria
60
Dasar Penjahat
61
Beda Poin
62
Tes Lari
63
Aluna Menang
64
Syarat
65
Guild Petualang
66
Sihir Tingkat Dewa
67
Terlalu Polos
68
Ingin Jadi Pacar
69
Pergi Kencan
70
Kafe Lilian
71
Serangan Tak Terduga
72
Ular Paling Berbahaya
73
Dari Benua Heaven
74
Dua Misteri
75
Malah Begini?
76
Mimpi Buruk
77
Sebelum Duel
78
Jirah Hitam
79
Kemunculan Demon
80
Tak Akan Menggunakannya Lagi
81
Tawaran Kepala Sekolah
82
Hadiah Untuk Pemenang
83
Permintaan Elmar
84
Sebesar Pepaya
85
Berkah Dewi
86
Wanita Kelima
87
Pedang Cahaya
88
Kafe Lilian Lagi
89
Wanita Berjirah Putih
90
Tunggu Saja
91
Keluarga Baru
92
Perpisahan
93
Ada Yang Salah
94
Serangan Sekte Sesat
95
Dunia Khayalan
96
Bertemu Laura
97
Tantangan
98
Teman Baru
99
Potong Lidahmu
100
Menculik Eliza
101
Tawaran Yumina
102
Identitas Ketua Sekte
103
Rencana Kepsek Sejak Awal
104
Panasnya Yumina
105
Tawaran Kerja Sama
106
Antara Aluna dan Yumina
107
Cerita Yumina
108
Main Cepat Bertiga
109
Devon Von Argus
110
Datang Ke Kamar
111
Berburu
112
Keturunan Lain
113
Empat Raja Hewan
114
Tertangkap Basah
115
Isi Hati Isabel
116
Sesuai Gaya Pada Buku
117
Dungeon Kematian
118
Bos Kalajengking
119
Oasis
120
Segarnya Oasis & Isabel
121
Ratu Vampire, Marie Roses.
122
TAMAT S1

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!