Undangan

Kini sudah tengah hari, aku, Mama Laura dan Catrine sedang duduk bersama di ruang makan, kami memeilih makan bertiga saja karena ada urusan penting yang harus dibahas.

Pasalnya, mama Laura sudah mengetahui hubunganku dengan Catrine, bahkan ia juga mengaku sudah mengintipku saat sedang begituan dengan Catrine di kamar mandi. Makanya mama Laura benar-benar murka sehingga tak mau bicara denganku.

Aku sendiri tidak menutupi apapun kepada mama Laura, kuceritakan saja semuanya dengan jujur, termasuk alasanku memilih Catrine sebagai wanitaku.

Aku juga tak lupa meminta maaf dan memohon agar mama Laura mau merestui hubunganku dengan Catrine.

Sayangnya aku terlalu naif, karena mama Laura malah mengabaikan aku begitu saja, padahal aku sudah buatkan hamburger dan makanan enak lainnya, tapi masih belum bisa membuatnya bicara lagi padaku.

Aku tak paham lagi dengan gelagat ibu tiri si Brian ini, ia mungkin cemburu atau tak rela bila aku bersama wanita lain.

“Ayo dimakan makanannya, Ma. Aku sudah susah payah loh bikinnya, tak baik bila terlalu lama mengabaikan makanan,” ucapku lembut.

Mama Laura melirikku sekilas, lalu melirik makanan di atas meja. Tapi, ia sepertinya masih belum berminat sama sekali.

Suasana canggung pun terjadi lagi di meja makan, kami tak saling berbicara dan hanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

“A-Apa yang harus saya lakukan, Tuan Muda?  Nyonya jadi marah besar gara-gara ulah saya,” bisik Catrine meminta pendapatku.

“Kamu tak bersalah, Catrine. Kita melakukannya karena sama-sama mau, terlebih karena aku menginginkanmu. Tolong jangan berpikiran seperti itu lagi ya, biar aku yang akan membujuk Mama Laura nanti,” balasku dengan suara yang sama.

“Tapi, kita sudah ketahuan begituan sama Nyonya. Saya takut nyonya tak senang dan akan megusir saya nanti, karena Nyonya sebenarnya ….”

“Ehem! Kamu jangan terlalu banyak bicara, Catrine. Habiskan saja makananmu, terus pergi dari sini. Aku punya sesuatu yang harus dibicarakan berdua dengan Brian nanti,” ucap Mama Laura menyela Catrine.

“B-Baik, Nyonya.” Sahut Catrine patuh, bergegas mengahabiskan semua makanannya, lalu pergi menuruti perintah Mama Laura.

Aku hanya bisa memperhatikan saja kalau sudah begini, mau ikut campur juga takut membuat Mama Laura semakin marah.

“Saya permisi dulu kalau begitu, terima kasih atas makanannya,” ucap Catrine seraya pergi dari meja makan.

“Apa yang ingin Mama bicarakan denganku? Kenapa Catrine tak boleh mengetahuinya?” Tanyaku setelah Catrine menghilang dari garis pandang.

“Apa kamu sudah tahu kesalahanmu?” Mama  Laura bertanya balik.

Aku pun hanya menggeleng untuk menanggapinya, lagian aku sudah menjelaskan panjang lebar sebelumnya.

“Kamu akan mendatangkan malapetaka besar untuk keluarga kita! Raja Bellfast pasti akan memburu kita bila mereka tahu kamu sudah menyetubuhi Catrine! Belum lagi ada ancaman dari keluarga Luke yang bisa datang kapan saja!” Lanjut Mama Laura dengan suara penuh kemarahan.

“Kenapa Mama ketakutan kayak gitu? Aku masih bisa membunuh mereka bila mereka berani datang kesini lagi. Mama sepertinya terlalu khawatir akan situasi yang sedang kita hadapi saat ini,” ujarku sangat tenang.

Tak berlebihan aku berucap seperti itu karena aku punya tangan sakti yang bisa diandalkan. Aku setidaknya masih bisa melawan mereka meski hanya seorang diri.

“Perang! Apa kamu ingin kedua kerajaan itu berperang melawan kerajaan Narandra?” Tanya Mama Laura.

Aku sangat terkejut usai mendengarnya, aku tak pernah kepikiran ke arah sana sama sekali.

‘Oh sial, aku terlalu mengiginkan Catrine hingga lupa asal usulnya, terlebih aku tampil terlalu mencolok saat bertarung melawan kelompok bandit tadi. Bisa gawat jadinya kalau kedua kerajaan itu ingin mencetuskan perang dengan kerajaan Narandra. Masalahnya Baginda Ratu belum tentu mau membantuku, paling-paling ia akan mengorbankan aku sebagai bentuk permintaan maaf,’ pikirku sembari melihat ekspresi Mama Laura, yang masih memancarkan kemarahan.

Seketika aku pun tahu kalau wanita rubah itu sangat khawatir dengan keselamatanku.

“Kenapa kamu diam saja, Brian? Cepat jawab pertanyaan Mama,” ucap Mama Laura lagi.

“Aku tak ingin ada perang, Ma. Belum siap lebih tepatnya,” jawabku.

“Kenapa belum siap? Apa kamu pikir bisa menjadi seorang pahlawan bila sudah siap?” Cerca Mama Laura.

“Aku tidak berniat menjadi pahlawan, Ma. Aku hanya belum siap saja, terus aku juga masih perlu banyak belajar agar bisa lebih kuat lagi.”

“Tahu begitu, kenapa kamu berani menyetubuhi Catrine? Tidakkah kamu memikirkan akibatnya, atau karena kamu terlalu terbawa nafsu?”

Aku terdiam usai mendengarnya, karena semua ucapan Mama Laura memang benar adanya. Aku pun mulai sadar akan bahaya dari perbuatan yang telah aku lakukan.

Namun, aku tak mau diam begitu saja dan membiarkan Catrine jatuh ke tangan orang lain.

“Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk memperbaikinya, kupastikan keluarga kita tak akan terlibat masalah gara-gara perbuatanku. Selain itu, aku sangat serius kepada Catrine, aku ingin memilikinya sebagai wanitaku.”

Aku coba menjelaskan lagi kepada Mama Laura, berharap wanita rubah itu bisa mengerti dengan alasanku kali ini.

“Sudah kuduga kamu akan bersikap seperti itu, buah memang tak pernah bisa jatuh jauh dari pohonnya,” gumam Mama Laura, tapi masih bisa terdengar di telingaku.

Kami pun tak banyak bicara lagi setelahnya, suasananya benar-benar hening seperti di kuburan.

Pluk!

Seekor elang putih tiba-tiba hinggap tepat di tengah-tengah meja makan, ada sebuah surat yang menempel pada pungung elang itu.

“Elang punya siapa ini? Kenapa warnanya sangat putih sekali?” Tanyaku bingung sendiri.

“E-Elang suci datang ke rumah kita. Astaga, aku tak pernah menyangkanya, keluarga kita ternyata masih diberkahi!” seru Mama Laura.

Sontak kutengok Mama Laura, tapi aku malah semakin bingung karena ekspresinya tiba-tiba berubah, tak ada lagi kemarahan yang terpancar dari wajahnya saat ini.

"Elang suci? Maksudnya gimana ya, Ma?" tanyaku pada Mama Laura.

"Kamu jangan pura-pura kayak gitu, Brian. Bukankah kamu bilang ingin masuk sekolah Elliot? Nah, elang suci ini datang dari sekolah itu untuk mengantarkan surat undangan test masuk kesana," jelas Mama Laura.

'Sekolah Ellioth? Kok aku baru tahu si Brian mau masuk ke sekolah itu? Kenapa dia tidak menuliskannya di buku harian?' batinku bertanya-tanya.

"Memangnya kapan aku bilang ingin masuk ke sana, Ma? Takutnya Mama salah dengar, karena sekolah Elena seharusnya yang terbaik di kerajaan kita, kan?" tanyaku kemudian.

"Sekolah Elena memang yang terbaik untuk sekolah tingkat menengah, sedangkan sekolah Elliot merupakan yang terbaik untuk tingkat atas. Lulusan dari sekolah Elliot juga bisa memiliki kesempatan untuk menjadi ksatria sihir di kerajaan kita, dan akan memiliki reputasi tinggi di setiap kerajaan yang ada di benua Roxane."

"Singkatnya, kamu bisa mengembalikan reputasi keluarga Argus bila berhasil masuk ke sekolah Elliot dan lulus dengan nilai terbaik. Kamu juga akan memiliki hak untuk tinggal di ibukota kerajaan."

Mama Laura menjelaskan dengan mata berbinar, suaranya juga terdengar penuh semangat seakan ia telah menemukan jalan keluar dari masalah yang tengah dihadapinya saat ini.

"Berarti aku bisa menjadi orang hebat dan ksatria sihir bila berhasil lulus tes masuk ke sekolah Elliot?" tanyaku memastikan.

"Menjadi orang hebat sudah pasti, tapi kalau ksatria sihir tergantung kemampuanmu sendiri. Karena akan ada banyak orang hebat yang akan bersekolah di sana," jawab Mama Laura seraya pindah duduk ke sebelahku.

"Kamu jangan khawatir, Brian. Mama pasti akan bantu kamu untuk menguasai sihir api yang selama ini dianggap sebagai kutukan oleh orang lain. Ayo kita bungkam bersama mulut orang-orang yang sudah menghinamu, kita harus buktikan kalau penerus keluarga Argus tidaklah lemah," lanjutnya dengan suara lembut.

Aku langsung terdiam usai mendengarnya, tak tahu harus menjelaskan pakai cara apa kepada Mama Laura.

Pasalnya, aku sudah tak bisa merasakan kekuatan sihir apapun di dalam tubuh Brian, apalagi mengeluarkan sihir api seperti yang dimaksud Mama Laura. Aku hanya mempunyai tangan sakti yang akan bergerak sendiri sesuai permintaan dan imajinasiku, dan seharusnya tangan ini tak bisa dipakai untuk mengeluarkan sihir.

"Mama mau habiskan dulu makanan buatan kamu,  setelahnya kita akan latihan sihir. Ingat, kita tak bisa buang-buang waktu karena test masuk ke seklah Elliot tinggal satu bulan lagi," ujar Mama Laura, kemudian makan dengan begitu lahapnya.

"Baik, Ma. Mohon bimbingannya kalau begitu," sahutku setuju sembari tersenyum manis kepada wanita rubah itu.

Lagi pula, aku bisa apa sekarang? Aku tak mungkin membuat Mama Laura dan Catrine kecewa, makanya aku harus bisa melakukan yang terbaik agar bisa masuk ke sekolah Elliot.

Semoga saja tangan sakti ini bisa aku andalkan untuk melakukan semua itu, karena aku tak ingin membuat kecewa orang-orang yang sudah menaruh harapan besar kepadaku. Kalau tidak, sia-sia saja aku dihidupkan kembali di dunia lain bila tak bisa memberikan perubahan apapun.

...

Episodes
1 Hidup Kembali
2 Buku Harian
3 Ibu Tiri
4 Tak Marah
5 Wanita Kucing
6 Hidangan Berbeda
7 Jadilah Wanitaku
8 Serangan
9 Pertarungan Pecah
10 Undangan
11 Latihan
12 Sihir Pemikat
13 Tamu Penting
14 Masalah Serius
15 Akan Tanggung Jawab
16 Suku Kanibal
17 Ritual Sesat
18 Ingin Jadi Yang Pertama
19 Masalah Kota River
20 Obat Sihir
21 Kami Akan Pindah
22 Penagih Hutang
23 Biar Gelisah Sendiri
24 Kembali Ke Lunar
25 Sepertinya Hamil
26 Mau Gimana Lagi?
27 Perang Masa Lalu
28 5 Goblin Dari Dunia Lain
29 Ritual Darah
30 Pulang Ke Benua Gelap
31 Serigala Merah
32 Putri Harus Pulang
33 Percaya Laura
34 Malam Terbaik
35 Berangkat ke Ibu kota
36 Hantu Kota Rain
37 Teman Lama
38 Tangan Kanan Raja Iblis
39 Hutan Jura
40 Obat Penambah Daya Tarung?
41 Hewan Mitos
42 Tinju Saitama
43 Jadi Dewa Pelindung?
44 Permintaan Rasti
45 Mainnya Kasar
46 Tiba Di Ibukota
47 Keributan
48 Taruhan Dengan Anna
49 Amukan Aluna
50 Wanita Kucing Lagi?
51 Namanya Clarisa
52 Hak Bangsawan
53 Musuh Bebuyutan
54 Tes Pertama
55 Maunya Kencan
56 Jadi Tukang Pijat
57 Tamu VIP
58 Satu Syarat
59 Alasan Maria
60 Dasar Penjahat
61 Beda Poin
62 Tes Lari
63 Aluna Menang
64 Syarat
65 Guild Petualang
66 Sihir Tingkat Dewa
67 Terlalu Polos
68 Ingin Jadi Pacar
69 Pergi Kencan
70 Kafe Lilian
71 Serangan Tak Terduga
72 Ular Paling Berbahaya
73 Dari Benua Heaven
74 Dua Misteri
75 Malah Begini?
76 Mimpi Buruk
77 Sebelum Duel
78 Jirah Hitam
79 Kemunculan Demon
80 Tak Akan Menggunakannya Lagi
81 Tawaran Kepala Sekolah
82 Hadiah Untuk Pemenang
83 Permintaan Elmar
84 Sebesar Pepaya
85 Berkah Dewi
86 Wanita Kelima
87 Pedang Cahaya
88 Kafe Lilian Lagi
89 Wanita Berjirah Putih
90 Tunggu Saja
91 Keluarga Baru
92 Perpisahan
93 Ada Yang Salah
94 Serangan Sekte Sesat
95 Dunia Khayalan
96 Bertemu Laura
97 Tantangan
98 Teman Baru
99 Potong Lidahmu
100 Menculik Eliza
101 Tawaran Yumina
102 Identitas Ketua Sekte
103 Rencana Kepsek Sejak Awal
104 Panasnya Yumina
105 Tawaran Kerja Sama
106 Antara Aluna dan Yumina
107 Cerita Yumina
108 Main Cepat Bertiga
109 Devon Von Argus
110 Datang Ke Kamar
111 Berburu
112 Keturunan Lain
113 Empat Raja Hewan
114 Tertangkap Basah
115 Isi Hati Isabel
116 Sesuai Gaya Pada Buku
117 Dungeon Kematian
118 Bos Kalajengking
119 Oasis
120 Segarnya Oasis & Isabel
121 Ratu Vampire, Marie Roses.
122 TAMAT S1
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Hidup Kembali
2
Buku Harian
3
Ibu Tiri
4
Tak Marah
5
Wanita Kucing
6
Hidangan Berbeda
7
Jadilah Wanitaku
8
Serangan
9
Pertarungan Pecah
10
Undangan
11
Latihan
12
Sihir Pemikat
13
Tamu Penting
14
Masalah Serius
15
Akan Tanggung Jawab
16
Suku Kanibal
17
Ritual Sesat
18
Ingin Jadi Yang Pertama
19
Masalah Kota River
20
Obat Sihir
21
Kami Akan Pindah
22
Penagih Hutang
23
Biar Gelisah Sendiri
24
Kembali Ke Lunar
25
Sepertinya Hamil
26
Mau Gimana Lagi?
27
Perang Masa Lalu
28
5 Goblin Dari Dunia Lain
29
Ritual Darah
30
Pulang Ke Benua Gelap
31
Serigala Merah
32
Putri Harus Pulang
33
Percaya Laura
34
Malam Terbaik
35
Berangkat ke Ibu kota
36
Hantu Kota Rain
37
Teman Lama
38
Tangan Kanan Raja Iblis
39
Hutan Jura
40
Obat Penambah Daya Tarung?
41
Hewan Mitos
42
Tinju Saitama
43
Jadi Dewa Pelindung?
44
Permintaan Rasti
45
Mainnya Kasar
46
Tiba Di Ibukota
47
Keributan
48
Taruhan Dengan Anna
49
Amukan Aluna
50
Wanita Kucing Lagi?
51
Namanya Clarisa
52
Hak Bangsawan
53
Musuh Bebuyutan
54
Tes Pertama
55
Maunya Kencan
56
Jadi Tukang Pijat
57
Tamu VIP
58
Satu Syarat
59
Alasan Maria
60
Dasar Penjahat
61
Beda Poin
62
Tes Lari
63
Aluna Menang
64
Syarat
65
Guild Petualang
66
Sihir Tingkat Dewa
67
Terlalu Polos
68
Ingin Jadi Pacar
69
Pergi Kencan
70
Kafe Lilian
71
Serangan Tak Terduga
72
Ular Paling Berbahaya
73
Dari Benua Heaven
74
Dua Misteri
75
Malah Begini?
76
Mimpi Buruk
77
Sebelum Duel
78
Jirah Hitam
79
Kemunculan Demon
80
Tak Akan Menggunakannya Lagi
81
Tawaran Kepala Sekolah
82
Hadiah Untuk Pemenang
83
Permintaan Elmar
84
Sebesar Pepaya
85
Berkah Dewi
86
Wanita Kelima
87
Pedang Cahaya
88
Kafe Lilian Lagi
89
Wanita Berjirah Putih
90
Tunggu Saja
91
Keluarga Baru
92
Perpisahan
93
Ada Yang Salah
94
Serangan Sekte Sesat
95
Dunia Khayalan
96
Bertemu Laura
97
Tantangan
98
Teman Baru
99
Potong Lidahmu
100
Menculik Eliza
101
Tawaran Yumina
102
Identitas Ketua Sekte
103
Rencana Kepsek Sejak Awal
104
Panasnya Yumina
105
Tawaran Kerja Sama
106
Antara Aluna dan Yumina
107
Cerita Yumina
108
Main Cepat Bertiga
109
Devon Von Argus
110
Datang Ke Kamar
111
Berburu
112
Keturunan Lain
113
Empat Raja Hewan
114
Tertangkap Basah
115
Isi Hati Isabel
116
Sesuai Gaya Pada Buku
117
Dungeon Kematian
118
Bos Kalajengking
119
Oasis
120
Segarnya Oasis & Isabel
121
Ratu Vampire, Marie Roses.
122
TAMAT S1

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!