Serangan

"Tu-Tuan Muda ...."

Kulihat Catrine sangat terkejut atas lamaranku barusan, ia tak bisa langsung membalasnya dan hanya bisa menutup mulutnya dengan telapak tangan, mata indahnya juga tampak berkaca-kaca seakan air matanya bisa keluar kapan saja.

"Gimana, Catrine? Apa kamu bersedia menjadi wanitaku mulai sekarang? Aku berjanji akan membuatmu bahagia sampai kamu tua nanti," ucapku mengeluarkan lamaran lagi.

Entah apa yang merasuki ku sekarang, yang pasti hatiku ingin sekali memiliki Catrine untuk diriku sendiri. Aku merasa batinku sudah terikat erat dengan gadis itu semenjak pertama kali bertemu di kamar ini.

"Maaf, Tuan Muda? Bolehkan saya tahu alasan Tuan Muda lebih dulu? Soalnya saya belum siap dengan lamaran yang begitu mendadak ini," pinta Catrine.

"Aku tak punya alasan apapun, Catrine. Aku hanya ingin membuatmu bahagia saja," jelasku apa adanya.

Lagi pula, aku belum mau bilang menyukainya atau mencintainya untuk saat ini, setidaknya tunggu hubungan ini terjalin dulu sebelum aku memutuskan untuk melabuhkan hatiku kepada Catrine sepenuhnya.

Namun, langkah yang diambil Catrine selanjutnya benar-benar di luar dugaanku, ia tiba-tiba mendorong tubuhku hingga aku berbaring di atas ranjang, kemudian menaiki tubuhku dengan tatapan yang sangat sayu.

Glup!

Aku menelan salivaku sendiri begitu melihat penampilan cantik Catrine di bawah cahaya rembulan yang masuk ke dalam kamarku lewat jendela, belum lagi pakaian tipis yang membalut tubuhnya benar-benar membuat hasratku naik seketika.

Bisa kurasakan benda pusakaku mulai mengeras di bawah sana gara-gara ulah si gadis setengah kucing ini.

"Kalau begitu, saya ingin Tuan Muda berjanji kepada saya, bahwa Tuan Muda akan selalu bersama saya selamanya, juga saya ingin Tuan Muda selalu memberikan kepuasan pada tubuh saya mulai malam ini," pinta Catrine.

Aku langsung tersentak usai mendengarnya, tak masalah untuk janji yang pertama, tapi aku masih ragu untuk janji yang kedua. 'Kenapa pula aku harus memberikan kepuasan pada tubuh Catrine? Memangnya aku tak boleh hanya ingin memilikinya saja?' batinku bertanya-tanya.

"Tuan Muda jangan salah paham dulu, saya berani meminta seperti itu karena setiap wanita ras kucing berhak mendapatkan kepuasan bila sudah menemukan pasangannya. Dan bila Tuan Muda memang serius kepada saya, maka Tuan Muda juga harus memberikan keturunan untuk saya. Sekarang tolong Tuan Muda pikirkan baik-baik atas lamaran barusan, jangan sampai Tuan Muda menyesal nanti," ujar Catrine serius.

Aku menarik napas dalam-dalam sejenak, lalu kutatap wajah Catrine lagi untuk kesekian kalinya, dan kutemukan keseriusan yang terpancar dari wajah cantiknya itu.

Aku juga mau tak mau harus serius kalau sudah begini, langsung saja aku bangkit dari posisi tidur agar wajahku bisa berhadapan langsung dengan wajah Catrine.

"Baiklah, aku bersedia memenuhi semua keinginanmu, kuharap kamu juga akan selalu setia menemaniku mulai sekarang," pintaku.

Catrine hanya mengangguk untuk menanggapinya, matanya terpejam seketika dan bibirnya terbuka sedikit seakan menantikan sesuatu.

Dan akan naif rasanya bila aku tidak bisa memahami keinginan Catrine, aku pun langsung menciumnya tanpa ragu sama sekali.

Ciumanku dengan Catrine awalnya terasa kaku, kami hanya saling bersentuhan bibir saja tanpa ada pergerakan lain yang terjadi.

Hingga aku tak sengaja meminta sesuatu yang membuat tanganku kesemutan, barulah Catrine berubah menjadi kucing yang sangat liar dan penuh nafsu.

"Tuan Muda ... Apa ini Tuan Muda? ... Ah ... Ah ... Rasanya sungguh nikmat sekali," desahan Catrine terdengar begitu menggairahkan.

Aku belum tahu betul dengan kejadian yang sebenarnya, kuteruskan saja mencumbu bibir Catrine dengan begitu liarnya, sesekali kumainkan lidahku di lidahnya yang membuatnya semakin bergelinjang hebat tak karuan.

"Tuan Muda ... Ah ... Saya sudah tak bisa menahannya lagi ... Ini bisa keluar sekarang ... Ahhh ...." Catrine tiba-tiba melolong keenakan, tubuhnya gemetar hebat sembari memeluk kepalaku dan ada cairan yang keluar banyak dari ranah kewanitaannya.

"Ini ... Apa yang terjadi? Kenapa kamu sudah keluar, Catrine?" tanyaku kebingungan, kutarik tanganku dari ranah kewanitaan Catrine tanpa sadar. Dan ternyata tanganku sudah benar-benar basah gara-gara cairan cinta dari lubang Catrine.

'Astaga, jangan bilang aku sudah membuat Catrine meraih puncak pelepasan hanya dengan memakai jemariku? Kok bisa sih?' batinku bertanya-tanya lagi. Sejujurnya aku tak paham dengan ulah tangan kanan yang selalu bergerak sendiri ini.

Namun, aku tidak banyak berpikir lagi setelahnya, karena benda pusakaku sudah mengeras tak terkendali di bawah sana. Langsung saja aku keluarkan benda pusakaku dari dalam celana hingga bentuknya menjulang menantang di depan mata Catrine.

"T-Tuan Muda, bukankah senjata punya Tuan Muda terlalu besar? Saya takut senjata ini tidak muat di lubang saya," ucap Catrine sangat gugup, tapi tangannya segera meraih benda pusaka itu untuk memainkannya.

"Uh ... Terus gerakan seperti itu, Catrine." pintaku sembari mengerang keenakan saat tangan Catrine mengocok-ngocok batang benda pusaka ku.

"Saya juga bisa melakukan ini, Tuan Muda. Semoga Tuan Muda menyukainya," Catrine tiba-tiba memasukan kepala benda pusaka ke dalam mulutnya sembari tangannya terus mengocok batangnya.

Kurasakan kenikmatan luar biasa dari permainan gadis setengah kucing itu, benda pusakaku benar-benar dimanjakan hingga aku hanya bisa merem melek, terutama saat lidah Catrine menjilati lubang benda pusaka itu. Rasanya sungguh enak sekali sampai-sampai sendi lututku terasa mau copot.

Cukup lama juga Catrine bermain-main dengan cara seperti itu, tapi aku belum merasakan tanda-tanda mau keluar sama sekali.

Dulu aku tak bisa bertahan lama bila Anggie yang melakukannya, paling lama juga sekitar lima menit.

Namun kini aku belum bisa merasakannya sama sekali, kupikir mungkin karena aku belum terangsang sepenuhnya.

"Maaf, Catrine. Aku ingin bermain agak kasar," ucapku, lalu kutekan sepenuhnya benda pusaka itu ke dalam mulut Catrine. Terus kupompa pelan-pelan hingga kurasakan kepala benda pusaka masuk sangat dalam di tenggorokan Catrine.

Kurasakan tangan Catrine memeluk kuat-kuat pinggulku, ia sepertinya ingin memberikan yang terbaik untuk memuaskan gairahku yang sudah terlanjur meledak-ledak ini.

"Catrine, aku ... Aku akan keluar sekarang ...." Kupercepat saja goyangan pinggulku di mulut Catrine hingga kepala benda pusaka ku berkedut-kedut tanda akan menyemburkan cairan cinta.

Srooot!

Srooot!

Srooot!

Cairan cintaku akhirnya keluar di dalam mulut gadis setengah kucing itu, tubuhku lemas seketika usai merasakan kenikmatan yang sudah lama sekali tidak pernah aku rasakan.

"T-Tuan Muda nakal banget, kenapa calon anak kita dibuang-buang begitu saja? Padahal saya ingin merasakannya di bawah sini," protes Catrine usai menelan semua cairan cintaku. Kini ia merebahkan tubuhnya di sampingku dengan napas tersengal-sengal.

Aku tengok Catrine di sebelahku, lagi-lagi aku terkagum dengan kecantikan gadis yang satu ini. Kemudian kucium saja keningnya dengan mesra tanpa mengucapkan apapun.

Untung saja Catrine mengerti maksud hatiku, yang belum mau menyetubuhinya malam ini, karena aku sudah sangat puas hanya dengan permainan mulutnya saja.

"Saya sangat menyukai Tuan Muda, terima kasih sudah memilih saya," ucap Catrine lirih, matanya perlahan terpejam.

Aku tidak menanggapi ucapan Catrine, hanya mengusap-usap rambutnya dengan lembut untuk membalasnya.

Pasalnya, aku tak mau berucap sayang atau cinta begitu saja, sebab aku lebih senang menjalin hubungan tanpa terikat status apapun.

Entah apa yang akan terjadi antara aku dan Catrine nanti, yang pasti aku hanya ingin membuatnya bahagia hingga maut datang menjemput kami.

Aku pun tertidur tak lama kemudian, kupeluk Catrine layaknya guling selama aku tidur malam ini.

Rasanya sungguh nyaman sekali ketika bisa tidur bersama seorang wanita, terlebih wanita ini sangat cantik seperti tokoh favoritku pada Anime yang pernah aku tonton di dunia sana.

Singkatnya, aku dan Catrine tertidur sangat lelap hingga pagi, kami benar-benar kelelahan setelah mendapatkan pelepasan masing-masing, terlebih ada hujan yang mengguyur sejak kami memejamkan mata sehingga tidur kami pun semakin nyenyak.

Meski aku masih tidak mengerti dengan gelagat aneh yang selalu ditunjukan tangan kananku baru-baru ini, tapi aku tidak terlalu peduli asalkan tidak merugikan orang lain.

Teng! Teng! Teng!

Suara lonceng tiba-tiba menggema sangat keras dari arah gerbang kastil, sontak membuatku terbangun dari tidur karena suaranya terdengar sangat keras.

Aku segera duduk di atas ranjang sembari mengucek mataku yang masih terasa ngantuk, tak lupa juga kuregangkan tubuhku biar lebih rileks lagi.

"Bangun, Catrine. Sudah pagi sekarang," ucapku lembut sembari mencium kening Catrine untuk membangunkannya.

Catrine membuka matanya perlahan, tampak sedang mengumpulkan nyawa sehabis tidur nyenyak.

"Selamat pagi, Tuan Muda. Aduh, saya mohon maaf karena tidur terlalu lama," ucapnya masih setengah sadar.

"Tak apa, Catrine. Aku malah senang melihatnya," balasku sembari kucium lagi keningnya.

Sumpah, aku merasa gemas sekali saat melihat Catrine masih setengah sadar seperti itu, belum lagi telinga kucing dan ekornya gerak-gerak sendiri tanda ia senang atas perlakuanku.

Teng! Teng! Teng!

Teng! Teng! Teng!

Suara lonceng terdengar semakin keras dan panjang pada saat ini, sontak membuatku merasa tidak nyaman.

"GAWAT! INI SANGAT GAWAT, TUAN MUDA." Catrine tiba-tiba berteriak seraya bangkit dari tidurnya.

"Apa masalahnya?" tanyaku berusaha menenangkan Catrine.

"M-Mereka datang, Tuan Muda. Sudah pasti mereka yang berani datang menyerang kastil ini," jawab Catrine panik.

"Mereka?" ulangku penasaran.

Glup!

Catrine menelan salivanya sendiri, tubuhnya gemetar tak karuan seakan ada malaikat pencabut nyawa yang akan mendatanginya.

Aku spontan membawa Catrine ke dalam pelukanku untuk membuatnya tenang, lalu kutanyakan lagi masalahnya dengan hati-hati, "Tenanglah, Catrine. Jelaskan dulu semuanya perlahan, biar kita cari jalan keluarnya bersama-sama, oke?" pintaku.

Catrine mendongak kepalanya ke arah wajahku dengan air mata berlinang, mulutnya tampak bergetar ketika memberiku jawaban, "M-Meraka kelompok bandit kejam dari keluarga majikan saya sebelumnya, mereka sudah pasti ingin menangkap saya di kastil ini. T-Tuan Muda, apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya takut mereka ...."

"Aku pasti akan melindungimu pakai segala cara, kamu cukup percayakan saja semuanya padaku," ucapku menyela ucapan yang hendak lolos dari mulut Catrine.

Aku lalu beranjak dari atas ranjang masih dengan pakaian tidurku, terus kuambil sebuah pedang yang tergantung di tembok kamar ini tanpa banyak berpikir.

'Aku ingin melindungi Cartrine. Aku harus bisa membunuh semua bandit itu,' pikirku seraya berjalan cepat menuju gerbang kastil, tangan kananku pun kembali merasakan kesemutan luar biasa selama aku berjalan seakan ada kekuatan besar yang sudah masuk ke dalam tubuhku.

....

Episodes
1 Hidup Kembali
2 Buku Harian
3 Ibu Tiri
4 Tak Marah
5 Wanita Kucing
6 Hidangan Berbeda
7 Jadilah Wanitaku
8 Serangan
9 Pertarungan Pecah
10 Undangan
11 Latihan
12 Sihir Pemikat
13 Tamu Penting
14 Masalah Serius
15 Akan Tanggung Jawab
16 Suku Kanibal
17 Ritual Sesat
18 Ingin Jadi Yang Pertama
19 Masalah Kota River
20 Obat Sihir
21 Kami Akan Pindah
22 Penagih Hutang
23 Biar Gelisah Sendiri
24 Kembali Ke Lunar
25 Sepertinya Hamil
26 Mau Gimana Lagi?
27 Perang Masa Lalu
28 5 Goblin Dari Dunia Lain
29 Ritual Darah
30 Pulang Ke Benua Gelap
31 Serigala Merah
32 Putri Harus Pulang
33 Percaya Laura
34 Malam Terbaik
35 Berangkat ke Ibu kota
36 Hantu Kota Rain
37 Teman Lama
38 Tangan Kanan Raja Iblis
39 Hutan Jura
40 Obat Penambah Daya Tarung?
41 Hewan Mitos
42 Tinju Saitama
43 Jadi Dewa Pelindung?
44 Permintaan Rasti
45 Mainnya Kasar
46 Tiba Di Ibukota
47 Keributan
48 Taruhan Dengan Anna
49 Amukan Aluna
50 Wanita Kucing Lagi?
51 Namanya Clarisa
52 Hak Bangsawan
53 Musuh Bebuyutan
54 Tes Pertama
55 Maunya Kencan
56 Jadi Tukang Pijat
57 Tamu VIP
58 Satu Syarat
59 Alasan Maria
60 Dasar Penjahat
61 Beda Poin
62 Tes Lari
63 Aluna Menang
64 Syarat
65 Guild Petualang
66 Sihir Tingkat Dewa
67 Terlalu Polos
68 Ingin Jadi Pacar
69 Pergi Kencan
70 Kafe Lilian
71 Serangan Tak Terduga
72 Ular Paling Berbahaya
73 Dari Benua Heaven
74 Dua Misteri
75 Malah Begini?
76 Mimpi Buruk
77 Sebelum Duel
78 Jirah Hitam
79 Kemunculan Demon
80 Tak Akan Menggunakannya Lagi
81 Tawaran Kepala Sekolah
82 Hadiah Untuk Pemenang
83 Permintaan Elmar
84 Sebesar Pepaya
85 Berkah Dewi
86 Wanita Kelima
87 Pedang Cahaya
88 Kafe Lilian Lagi
89 Wanita Berjirah Putih
90 Tunggu Saja
91 Keluarga Baru
92 Perpisahan
93 Ada Yang Salah
94 Serangan Sekte Sesat
95 Dunia Khayalan
96 Bertemu Laura
97 Tantangan
98 Teman Baru
99 Potong Lidahmu
100 Menculik Eliza
101 Tawaran Yumina
102 Identitas Ketua Sekte
103 Rencana Kepsek Sejak Awal
104 Panasnya Yumina
105 Tawaran Kerja Sama
106 Antara Aluna dan Yumina
107 Cerita Yumina
108 Main Cepat Bertiga
109 Devon Von Argus
110 Datang Ke Kamar
111 Berburu
112 Keturunan Lain
113 Empat Raja Hewan
114 Tertangkap Basah
115 Isi Hati Isabel
116 Sesuai Gaya Pada Buku
117 Dungeon Kematian
118 Bos Kalajengking
119 Oasis
120 Segarnya Oasis & Isabel
121 Ratu Vampire, Marie Roses.
122 TAMAT S1
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Hidup Kembali
2
Buku Harian
3
Ibu Tiri
4
Tak Marah
5
Wanita Kucing
6
Hidangan Berbeda
7
Jadilah Wanitaku
8
Serangan
9
Pertarungan Pecah
10
Undangan
11
Latihan
12
Sihir Pemikat
13
Tamu Penting
14
Masalah Serius
15
Akan Tanggung Jawab
16
Suku Kanibal
17
Ritual Sesat
18
Ingin Jadi Yang Pertama
19
Masalah Kota River
20
Obat Sihir
21
Kami Akan Pindah
22
Penagih Hutang
23
Biar Gelisah Sendiri
24
Kembali Ke Lunar
25
Sepertinya Hamil
26
Mau Gimana Lagi?
27
Perang Masa Lalu
28
5 Goblin Dari Dunia Lain
29
Ritual Darah
30
Pulang Ke Benua Gelap
31
Serigala Merah
32
Putri Harus Pulang
33
Percaya Laura
34
Malam Terbaik
35
Berangkat ke Ibu kota
36
Hantu Kota Rain
37
Teman Lama
38
Tangan Kanan Raja Iblis
39
Hutan Jura
40
Obat Penambah Daya Tarung?
41
Hewan Mitos
42
Tinju Saitama
43
Jadi Dewa Pelindung?
44
Permintaan Rasti
45
Mainnya Kasar
46
Tiba Di Ibukota
47
Keributan
48
Taruhan Dengan Anna
49
Amukan Aluna
50
Wanita Kucing Lagi?
51
Namanya Clarisa
52
Hak Bangsawan
53
Musuh Bebuyutan
54
Tes Pertama
55
Maunya Kencan
56
Jadi Tukang Pijat
57
Tamu VIP
58
Satu Syarat
59
Alasan Maria
60
Dasar Penjahat
61
Beda Poin
62
Tes Lari
63
Aluna Menang
64
Syarat
65
Guild Petualang
66
Sihir Tingkat Dewa
67
Terlalu Polos
68
Ingin Jadi Pacar
69
Pergi Kencan
70
Kafe Lilian
71
Serangan Tak Terduga
72
Ular Paling Berbahaya
73
Dari Benua Heaven
74
Dua Misteri
75
Malah Begini?
76
Mimpi Buruk
77
Sebelum Duel
78
Jirah Hitam
79
Kemunculan Demon
80
Tak Akan Menggunakannya Lagi
81
Tawaran Kepala Sekolah
82
Hadiah Untuk Pemenang
83
Permintaan Elmar
84
Sebesar Pepaya
85
Berkah Dewi
86
Wanita Kelima
87
Pedang Cahaya
88
Kafe Lilian Lagi
89
Wanita Berjirah Putih
90
Tunggu Saja
91
Keluarga Baru
92
Perpisahan
93
Ada Yang Salah
94
Serangan Sekte Sesat
95
Dunia Khayalan
96
Bertemu Laura
97
Tantangan
98
Teman Baru
99
Potong Lidahmu
100
Menculik Eliza
101
Tawaran Yumina
102
Identitas Ketua Sekte
103
Rencana Kepsek Sejak Awal
104
Panasnya Yumina
105
Tawaran Kerja Sama
106
Antara Aluna dan Yumina
107
Cerita Yumina
108
Main Cepat Bertiga
109
Devon Von Argus
110
Datang Ke Kamar
111
Berburu
112
Keturunan Lain
113
Empat Raja Hewan
114
Tertangkap Basah
115
Isi Hati Isabel
116
Sesuai Gaya Pada Buku
117
Dungeon Kematian
118
Bos Kalajengking
119
Oasis
120
Segarnya Oasis & Isabel
121
Ratu Vampire, Marie Roses.
122
TAMAT S1

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!